Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 64 - Yan She


__ADS_3

"Kakak Zhan. Kau tidak bisa bertarung dengan tubuh seperti itu. Sembuhkan lukamu. Aku tak yakin setelah ini keberuntungan masih berpihak padamu jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang mengancam nyawamu."


"Pergilah bersama Ye Long untuk sementara dengan itu ayah tak akan mengejarmu. Rawat luka itu. Lalu kembali ke sini minimal jika bekas tusukan di jantungmu itu telah membaik."


"Apa-?" Xin Zhan mendadak tercekat. Tiba-tiba sekali, Xin Chen memaksanya. Wajahnya seolah-olah tak mau menerima penentangan.


"Tubuhmu rusak parah. Sulit sembuh. Segera cari obat untuk organ dalammu. Jika kau biarkan dan memaksa bertarung, organ tubuhmu bisa membusuk. Aku tak ingin itu terjadi padamu. Ku mohon pikirkan ini. Dan pergilah, aku akan bertahan. Sampai kau kembali."


Xin Zhan ingin menolak. Bagaimana bisa Xin Chen mengambil keputusan itu di tengah-tengah situasi genting yang mereka hadapi. Lalu ketika Xin Zhan menurunkan egonya dan berpikir bahwa dirinya yang sekarang hanya akan merepotkan Xin Chen, dia berusaha maklum. Meski dengan resiko adiknya akan berada dalam bahaya.


Tapi lebih menyakitkan jika sewaktu-waktu Xin Chen berada dalam bahaya karena menyelamatkannya. Xin Zhan tersenyum kaku, sedih tergambar di wajahnya.


"Aku mengerti." Berat hatinya mengatakan itu.


"Ye Long akan membawamu-"


"Xin Chen!"


Teriakan Huo Rong terdengar keras. Meski dia juga sekarat, siluman itu berusaha datang secepat mungkin. Wajahnya benar-benar buruk, membawa kabar yang mungkin akan membuat keduanya terkejut.


"Shui sekarat. Kau harus menolongnya atau dia akan mati."


Semua masalah berbenturan begitu cepat hingga Xin Chen tak mampu menyelesaikannya satu per satu. Dia tak memiliki waktu banyak lagi.


"Bagaimana ini?"


Kata yang begitu frustrasi terdengar darinya. Xin Chen membuang napas kasar.


"Xin Zhan, datanglah ke tempat Yan She. Dia adalah sepuh ahli obat paling hebat, umurnya sudah 200 tahun dari terakhir kali aku melihatnya. Hanya dia yang bisa menyelamatkan Shui ..."


Lalu pandangan Huo Rong tertuju pada Xin Fai.


"Dan juga mengembalikan Ayah kalian yang telah kehilangan ingatannya. Dia bukan kehilangan ingatan, hanya saja sesuatu menyegel ingatan itu dan sulit dihilangkan. Butuh kemampuan yang setara dengan segel yang dbuat oleh pembuatnya. Dan satu-satunya yang dapat menyelamatkan kalian hanyalah Yan She."


"Di mana dia?" Xin Zhan langsung menyergah, jika satu-satunya cara yang miliki hanyalah dari Yan She. Dia akan mencari laki-laki itu, sejauh apa pun harus mencari.


"Pergilah ke selatan, kau hanya perlu melewati dua lembah. Terdapat sebuah pemukiman yang telah ditinggalkan. Di dekat sungai JuanQi. Entah mungkin telah dijadikan kamp-kamp sekelompok penjahat. Kau harus menemukan sosok bernama Yan She. Bawa dia ke sini, tentunya dia masih ingat denganku."


Lalu Huo Rong melanjutkan. "Jangan sampai Shui tewas. Ini akan menjadi bencana. Sudah berapa banyak Siluman Penguasa Bumi dibunuh."


" Ye Long."


"Rrrghh!"


Ye Long merungut kesal. Dia baru bisa keluar saat Xin Chen yang menghendakinya. Dan kadang tubuh nya tiba-tiba tersedot dan kembali masuk. Tak bisa bertarung bersama padahal dia benar-benar ingin merasakan pertempuran itu.


"Kau tidak memberikan ku makan."


"Kakak Zhan akan memberikan kau makan yang banyak. Antara kan dia ke selatan, di dekat sungai JuanQi. Temukan seorang ahli obat bernama Yan She dan bawa dia di sini. Selagi itu aku akan menahan mereka berdua."


"Kau yakin?"


Xin Zhan memastikan dengan ragu.


"Tentu saja."


"Aku masih bisa bertarung. Jangan meremehkan kekuatan Salamander Api."


"Tapi kekuatan mu sudah disedot habis oleh Naga Kegelapan. Dan yang kau lihat di sana, Roh Dewa Perang sedang menghadapi Naga Kegelapan sekaligus Dewi Api."


"Aku akan merebut kembali kekuatan itu. Tak peduli konsekuensinya."


**


Cukup jauh perjalanan yang ditempuh. Meninggalkan Lembah Para Dewa, situasi yang jauh berbeda dari tanah yang dilanda perang membuat Xin Zhan merasa asing. Ini semua karena permintaan Xin Chen untuk meninggalkan Lembah Para Dewa dan mencari sosok bernama Yan She. Satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan Shui dan mengembalikan ingatan Xin Fai. Sebelum pergi Huo Rong sempat berkata bahwa lelaki itu adalah ahli obat dari kekaisaran Qing yang mengelana jauh ke berbagai tempat.


Dan dia adalah salah satu manusia yang sama seperti Li Baixuan, berumur panjang.


Setelah melewati dua lembah akhirnya mereka tiba di salah satu hutan. Ye Long terus mengomel perihal perutnya yang kelaparan, lalu ketika dia turun. Naga itu langsung mengejar buruannya tanpa memperhatikan bahaya di sekitar.


Tubuh Xin Zhan yang masih belum stabil tak bisa mengejar Ye Long. Naga itu sangat liar berlari.


Lalu tak dia sadari sekawanan penjahat sedang mengendap-endap ke arahnya. Xin Zhan tersentak.


"Pakaiannya memiliki harga jual yang tinggi. Keberuntungan macam apa yang tiba-tiba datang ini."

__ADS_1


Gelap. Pandangan Xin Zhan tertutup oleh kain yang menutup wajah. Tubuhnya di gotong, lalu seseorang mengenai lehernya hingga Xin Zhan pingsan tak sadarkan diri.


***


Malam turun dengan cepat, bau rusa yang dibakar di atas api tercium kuat di kamp besar tersebut. Di antara pesta makan itu Xin zhan diikat, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk di sana. Pandangannya turun ke bawah dan sedari tadi tampak tertidur. Tak ada yang berinisiatif memeriksa keadaannya dan mereka terlalu sibuk dengan makanan sendiri.


Mata Xin zhan terbuka saat mendengar keributan dari arah belakangnya, empat pria dewasa tengah menyeret sesuatu yang berukuran besar. Semua orang saling pandang saat seekor binatang menakjubkan hadir di tengah-tengah mereka. Mahkluk itu tak sadarkan diri saat kerumunan manusia menodongkan senjata ke arahnya dengan waspada, takut sewaktu-waktu siluman itu terbangun dan menyerang mereka.


Nyala merah dari api unggun membuat wujud itu semakin jelas terlihat, rata-rata dari mereka tak percaya dengan siluman yang jelas-jelas tertidur di dekat mereka. Naga dengan seluruh tubuh berwarna hitam, lekuk tulang sayapnya berkilap oleh cahaya api.


"Kami mendapatkannya di penginapan dekat sini, aku sebenarnya tak menyangka bahwa dugaanku benar. Memang aura siluman satu ini sangat berbahaya.


"Ikat dia dan jangan sampai dia melepaskan diri. Terlebih lagi dengan mulutnya. Balut dengan semua kain yang kalian punya!" titah laki-laki yang tampaknya memiliki kuasa lebih besar darpada orang sebelumnya.


Di tempat lain Xin zhan hanya bisa menatap Ye Long. Benar dugaannya, naga itu ditangkap sama sepertinya.


Dan yang lebih mengejutkannya mereka di bawa ke tempat yang sama. Andai dia bisa menyelamatkan naga itu pasti akan dilakukannya tanpa ragu. Tapi di sini ada hal lebih penting yang harus dilakukannya. Xin Zhan harus membuka ikataan di tangannya agar bisa menyelamatkan Ye Long. Tapi begitu ramainya orang di kamp ini membuatnya tak mungkin untuk melarikan diri.


Para pendekar di depannya sibuk mengikat seluruh tubuh Ye Long, ekornya diikat pada tiang kayu besar. Berjaga-jaga karena bisa saja ekor itu membunuh nyawa teman mereka. Selain itu mulutnya dibalut ketat oleh kain dan ranting pohon tebal yang sedikit berduri.


Ye Long tiba-tiba bergerak, tanpa membuka matanya lalu menyemburkan api biru yang seketika membuat para pendekar itu mundur ketakutan. Kekuatan yang naga itu miliki adalah kekuatan langka yang nyaris tak pernah ditemukan. Hanya beberapa dari mereka yang tahu akan hal itu dan segera memasang siaga tingkat tinggi. Takut sewaktu-waktu naga itu membakar kamp mereka dengan api keabadian itu.


"Lepaskan naga itu. Apa yang kalian inginkan? Aku akan memberikan sejumlah uang, lepaskan kami. Kami harus mencari dengan seseorang, ini benar-benar misi yang penting."


Tapi memerintah orang tersebut tak beda halnya dengan berbicara pada batu, mereka membuang muka tak peduli dan terus melanjutkan penyergapan Ye Long yang sempat tertunda.


Naga itu berdesis. Dia meraung marah. Semakin tak terkendali. Kesadarannya bahkan belum kembali. Naga itu masih tertidur.


Tiang besar yang sebelumnya dipergunakan uuntuk mengikat ekor naga itu tiba-tiba saja roboh dan menghantam ke permukaan tanah. Salah satu telat menyadari dan berakhir dengan tubuhnya tertimpa batang kayu tersebut, laki-laki itu pingsan di tempat sementara kawannya mulai merasa panik saat terdengar geraman sangar yang memekakkan gendang telinga.


"Dia menyerang!'


"Cepat selesaikan ikatan talinya-" perintah ketua mereka, dia mundur lalu menghadang cakaran Ye Long yang nyaris menembus kepalanya. Kain dan ranting di mulut Ye Long terlepas sebelum mereka selesai mengikatnya, Naga Hitam itu mengamuk hebat. Dia menyemburkan napas api, membuat sekitarnya kacau oleh bara Api Keabadian.


"Rarrghh! Irama Kematian tiba-tiba terdengar di mimpiku!" Naga itu membuka mata, dia memimpikan Xin Chen yang kini sedang berada di Lembah Para Dewa sendirian bertarung melawan Naga Kegelapan dan Pedang Iblis.


Berada jauh dri Xin Chen terasa asing bagi Ye Long. Dia gelisah tak main-main. Ketakutan jika majikannya berada dalam bahaya.


"Heh? Seekor naga ternyata bisa bermimpi?"


Jebakan itu ternyata membuat Ye Long sampai di tempat ini. Namun ada satu hal yang membuatnya heran tak main-main. Apa yang sedang dilakukan majikannya itu, dia bisa saja lari dan menghabisi orang-orang ini dengan mudah. Tampaknya memang kelompok manusia berbaju seragam ini bukan kawan mereka.


Naga itu membakar para manusia yang hendak menyerangnya, ekor Ye Long menghantam salah satu pria dewasa. Sayang kekuatannya cukup kuat hingga dapat membalikkan serangan. Manusia-manusia di tempat ini tampaknya dua-tiga tingkat lebih kuat dari yang sering dilihatnya.


Terdengar bisik kecil yang anehnya terdengar jelas di telinga Ye Long, dia tak sempat melihat karena kelompok manusia terus mengepung dari berbagai sisi. Hanya saja Ye long menyadari mereka tak memiliki niat serius untuk membunuhnya. Hal itu cukup menguntungkan, Ye Long bisa bergerak dengan bebas.


Saat dia dapat menoleh ke belakang tak di dapatinya Xin zhan di mana pun. Hanya bekas tali temali yang terbuang di atas tanah. Ye Long menggeram kesal saat dari arah kamp terdalam manusia lain berdatangan.


Rombongan bertambah dua kali lipat dan dia nyaris kehilangan kekuatan untuk membakar mereka satu per satu. Dalam jangka waktu yang agak lama tersebut, sebuah jaring besar menutup pandangan Ye Long. Lalu tombak yang terbuat dari besi dan mata runcing menancap di sayapnya, membuat naga itu melonjak kesakitan di tempat.


"Bunuh dia dan ambil permatanya! Kita harus pergi dari sini sebelum pemiliknya mengetahui keberadaannya saat ini!"


Saat kelompok aliran hitam itu disibukkan oleh kehadiran naga hitam, mereka nyaris tak peduli lagi dengan keadaan sandera.


Banyak yang langsung menyerbu ke arah Ye Long, bahkan dari arah kamp semuanya berdatangan.


Xin zhan mengawasi sekitarnya, setelah berhasil melepaskan diri Xin Zhan tiba-tiba dikejutkan oleh dua orang pendekar dengan seragam lengkap layaknya penjaga.


Mereka berbincang tanpa sadar Xin Zhan sedang bersembunyi dengan menyatukan punggungnya rapat ke dinding.


"Penjualan Pil Bunga Matahari semakin meningkat. Tapi si kakek tua itu berontak habis-habisan kemarin. Kata dia, efek samping dari pil itu bisa menyebabkan kematian. Hei, siapa peduli siapa yang mati? Yang penting keuntungan tetap masuk. Kita akan kaya dengan pil itu."


"Hahaha kau tidak pantas menyebutnya kakek. Umurnya sudah kelewat tua. Lebih cocok dipanggil buyut pula. Berada di sebelahnya saja aku sudha mencium bau tanah."


"Hahaha sialan. Ini sudah malam jangan membuatku tertawa."


Xin Zhan tercenung. Mereka membicarakan seseorang, yang memiliki kemampuan dalam obat-obatan dan dikatakan berumur sangat panjang.


Dan selain itu, seharusnya mereka sudah melewati sungai JuanQi dan berdekatan dengan lokasi yang dikatakan Huo Rong. Tapi dia tak menemukan sebuah rumah di mana Yan She tinggal. Tapi kamp-kamp penjahat, memang ada di tempat ini.


"Apakah mungkin penjahat ini sudah menghancurkan rumah ahli obat Yan She?"


Matanya tertuju pada bangunan kecil di mana aroma obat-obatan tercium amat pekat. Sekali lagi matanya tertuju pada Ye Long seraya berkata, "Kualihkan padamu, Ye Long."


Di tempat di mana Xin Zhan disandera, beberapa orang baru menyadari kepergiannya.

__ADS_1


Sosok tersebut menghilang begitu saja dari tempat, salah satu pendekar melihat hal itu dengan tatapan percaya tak percaya, dia berusaha menunjuk ke tempat di mana sandera mereka duduk semula. Namun tak ada yang mau mendengarnya, prioritas mereka saat ini adalah untuk menumbangkan naga hitam tersebut.


Dengan kaki terseret-seret Xin Zhan memasuki bangunan tersebut. Meyakinkan hatinyaz mengikuti jalur berdarah seperti Xin Fai bukanlah hal mudah baginya. Namun inilah satu-satunya cara agar dia bisa hidup di kamp berbahaya yang bsia saja merenggut nyawa. Karena posisinya sekarang, Xin Zhan harus kembali. Xin Chen menaruh harapan besar. Karena kemenangan mereka ada di tangannya. Dengan itu membawa Yan She adalah tugas yang harus dia selesaikan. Meski dengan 'tangan kotor.'


Bangunan utama yang dikelilingi paviliun ditumbuhi oleh bunga-bunga liar yang diciprati oleh darah, dua penjaga yang berdiri di sana meregang nyawa tanpa tahu siapa yang baru saja membunuh mereka, terdengar suara-suara bisik dari dalam. Tampaknya orang yang tinggal di tempat itu sedang terlibat percakapan serius, suara mereka terlalu kecil hingga Xin zhan pun tak dapat mendengarnya dengan jelas.


Percakapan ketiga orang berusia lanjut itu seketika berhenti saat jeritan para pengawal membuyarkan perhatian. Orang di luar melihat mayat para penjaga yang telah bersimbah darah. Satu dari mereka hendak keluar dan mendadak langkahnya terhenti tepat sebelum pedang tajam menembus batang tenggorokannya.


Dua yang lain berdiri terkejut, tak menyangka tempat mereka yang seharusnya diawasi dengan ketat dimasuki oleh penyusup. Tanpa berbasa-basi dua orang tersebut menyerang Xin zhan dalam waktu nyaris bersamaan. Pertarungan sengit di ruangan sempit itu membatasi gerak mereka, bunyi dentingan pedang beruntun menjelaskan betapa gesitnya tiga orang yang menjadi lawannya.


Meski pun salah satu dari mereka sudah menginjak delapan puluh tahun tapi tenaganya bisa disetarakan dengan kekuatan anak muda. Pakaian mereka tak melambangkan bahwa mereka merupakan pendekar, lebih seperti ahli obat yang dibekali ilmu berpedang.


Tiang rumah ditebas miring, atap rumah berderak saat salah satu penyangga di buat hancur. Satu dari mereka menebas ke segala arah dan menghancurkan seisi ruangan. Temannya yang lain menyerang fokus di satu titik di mana dia bisa melihat Xin zhan memunculkan diri.


"Cih, aku tidak tahu teknik apa yang kau gunakan. Tapi jujur saja sangat menyebalkan."


"Lebih menyebalkan lagi bertarung melawan tiga kakek bau tanah."


Laki-laki tua itu tertohok, alisnya menyatu membentuk keriputan dalam yang berlapis-lapis. Riak wajahnya begitu kesal, tangannya memotong pilar di sebelahnya dengan pedang. Kayu itu terbelah dengan mudah. "Mulutmu-!"


Dia menahan kata-katanya dan refleks menghadang tebasan pedang yang datang tiba-tiba, detik itu dia bisa melihat dengan jelas musuh yang kini mereka hadapi. Umurnya saja bahkan belum menyentuh kepala dua. Namun kekuatan dan teknik bertarungnya mampu menyaingi mereka bertiga.


"Kau-? Siapa kau sebenarnya dan apa masalahmu sampai mengganggu kami?"


"Orang-orang kalian menangkapku. Dan kebetulan aku sedang mencari sesuatu di sini. Mungkin seseorang yang menciptakan Pil Bunga Matahari?"


Jawaban itu jelas-jelas memancing kemarahan sang kakek tua, dia menebaskan pedang di sebelah kiri, kelihatan lebih serius dari sebelumnya.


"Berarti kau jelas-jelas mencari mati. kau datang sendirian ke sini? Sombong sekali. Jelas saja, kau hanya anak muda yang tak paham apa-apa. Tahu apa kau soal pertarungan? Tidak ada."


Laki-laki itu mengangkat pedang dengan kedua tangan, sebelum sempat mengenai musuh keseimbangannya tiba-tiba saja goyah menyebabkan tubuhnya jatuh ke samping. Dia tak bisa merasakan apa pun detik itu selain darah yang terus merembes di tempatnya terbaring.


Saat mencoba melihat sepasang kakinya telah terpotong sampai ke lutut, dua menggeleng dan merangkak. Sebelum sempat membuka mulut tebasan lainnya membuat kepalanya terpenggal.


Dua laki-laki yang tersisa mundur saat Xin zhan datang ke arah mereka, bayangannya menghilang di tengah ruangan yang temaram oleh cahaya lilin. Angin dari luar masuk membuat api di lilin bergoyang, pandangan mereka menjadi buram saat lilin itu mati terhembus angin badai.


Keduanya saling berdiri memunggungi dengan kuda-kuda siaga, sekelebat pergerakan terdengar dari arah kiri dan benar saja bayangan seseorang muncul di tengah kegelapan. Satu dari mereka mencoba menghalaunya namun bayangan itu menghilang begitu saja, detik itu dia menyadari bahwa tikaman dalam menembus lehernya dari arah berkebalikan. Pedang yang tertanam di lehernya dicabut, membuat kepala itu jatuh menggelinding sementara tubuhnya masih berdiri tegap. Tak butuh waktu lama tubuh itu ikut ambruk dan satu-satunya yang tertinggal dari mereka baru menyadarinya.


"Apa-apaan ini ..." Ekspresi wajahnya berubah takut, pedang di tangannya jatuh saat sosok itu datang memunculkan diri. Ketakutannya semakin menjadi saat sesuatu terlihat menyala di wajah yang ditutupi bayangan gelap itu. "Kau siapa ...,"


"Kau tak mau menjawab di mana orang yang membuat pil bunga matahari berada? Atau seseorang bernama Yan She? Aku butuh orang itu, aku hanya punya waktu tiga hari mencarinya atau adikku akan berada dalam bahaya."


"Aku tidak tahu... Aku tidak tahu, aku bersumpah ...." Lalu dia bergidik ngeri.


Laki-laki itu terlalu takut untuk menjawab sementara sosok itu tak peduli dengan jawabannya dan meneruskan berbicara.


Xin Zhan tersenyum. "Apa aku harus menjadi seperti adikku dan membunuhmu dengan keji baru kau mau membuka mulut?"


Pria tua itu meringsut ke belakang, mencoba berbalik badan dan melarikan diri dari hawa memataikan yang membekuk jantungnya itu.


"Aku hitung sampai tiga. Pedang ini langsung mengambil nyawamu. Tanpa sedikitpun kehormatan."


"Hei, hei, Santai. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kau butuh apa? Uang? Ambillah semua yang ku punya, jangan bunuh aku!"


"Bukan uang, aku tidak butuh itu. Orang bernama Yan She, di mana dia sekarang?"


Matanya membesar saat pedang tajam terangkat hendak menusuknya yang terduduk di lantai. "Tu-tunggu! Tunggu!"


"Mau mengulur waktu lagi? Aku tak punya waktu. Kau paham tentang itu."


Laki-laki itu terus bersikeras untuk hidup, dia berpikir dengan panik. Matanya bergerak liar mencoba mencari cara untuk melarikan diri. Sayangnya saat ini posisinya serba terpojok, tidak ada celah untuk kabur. Xin zhan bisa saja membunuhnya saat berusaha lari.


"Tidak ada lagi yang harus diperbincangkan. Matilah, penjaga neraka bisa mati kebosanan menunggu kau terus."


"A-aku tidak mau mati! Aku harus hidup abadi, ka-kau tahu? Keabadian ... Hidup selamanya, aku berhasil hidup sampai delapan puluh tahun dan ingin terus hidup sampai tiga ratus tahun. Aku akan terus bertambah kuat, kau pasti akan membutuhkanku suatu saat nanti. Dan pil bunga matahari bisa menambah umurmu. Pil yang memiliki kualitas terbaik. Dan peluang untuk efek sampingnya semakin kecil. Kau mau, aku akan membagimu."


"Aku tidak menginginkan itu," gumam Xin zhan. Dia mencengkram gagang pedangnya yang dia dapat dari penjaga paviliun tepat di depan bola mata laki-laki itu.


"Ingin selamat, kan?" Ucapnya melanjutkan. "Nyawa diganti dengan informasi. Sepakat?"


Laki-laki itu kontan berseru cepat. Mau tak mau karena tatapan mata Xin Zhan menjadi lebih menakutkan.


"Sepakat!"


***

__ADS_1


__ADS_2