
Xin Zhan terpaku, diam menatap ke arah Xin Chen. Meski mereka sedang berbicara tenang seperti biasa, dirinya dapat melihat tangan adiknya sedikit bergetar. Takut. Hanya itu yang dapat ditangkapnya.
Ketakutan Xin Chen semakin nyata saat akhirnya suara Naga Kegelapan berada amat dekat menuju arah mereka. Bunyi-bunyi dari api yang membakar mayat mulai terdengar dari kejauhan, membakar sepanjang jalan medan perang. Beberapa dari tumpukan mayat itu adalah mereka yang sekarat dan sedang berjuang untuk hidup. Namun ketika api biru menyambar tubuh mereka hingga tak bersisa, tak ada hal lain yang terdengar selain jeritan putus asa.
Kengerian itu bukan hanya mengenai mayat yang tergeletak di tanah, mereka yang masih hidup pun ikut tersambar kobaran Api Keabadian milik Naga Kegelapan. Tanpa ampun. Hingga hanya beberapa dari manusia yang tersisa dari jarak lima ratus meter. Xin Chen tidak tahu tindakan apa yang diambil Jenderal perang dari Kekaisaran Shang. Atau mungkin jenderal telah mengirimkan satu utusan untuk mengabari mereka namun lelaki itu tewas sebelum menyampaikan berita kepada mereka.
Benar saja. Di antara kobaran api yang menyala dengan garangnya, terlihat siluet seseorang prajurit dengan zirah lengkap yang sangat amat tebal. Tangan kirinya terangkat ke atas memegang sebuah gulungan yang dilindungi sepenuhnya dari panasnya api.
Langkah sosok itu terseok-seok dan melemah sebelum Xin Chen hendak berdiri menyelamatkannya.
Xin Zhan buru-buru menahan adiknya.
"Dia sudah tidak bisa diselamatkan. Dibanding itu, kalau kau keluar sekarang api naga itu akan langsung menyerang ke tempat ini."
Xin Chen mengurungkan niatnya. Benar kata Xin Zhan, jasad laki-laki itu kemungkinan sudah melebur bersama suhu api yang sempat membakarnya di perjalanan. Jika sampai Xin Chen ketahuan oleh Naga Kegelapan, maka api yang disemburkan akan langsung membakar kertas gulungan di tangan penyampai pesan tersebut.
"Kita tidak bisa terus-terusan bersembunyi."
__ADS_1
"Aku tahu." Xin Zhan menoleh. "Tapi yang lebih penting dari itu, bagaimana caranya agar kita bisa bertahan sebelum menemukan cara untuk mengembalikan kesadaran ayah."
"Musuh kita ada dua. Naga Kegelapan dan Ayah-"
"Aku akan menghadapi Ayah." Xin Zhan memotong sebelum Xin Chen menyelesaikan kalimatnya, membuat adiknya tercenung beberapa lama sebelum mengeluarkan reaksi. "Kekuatan ayah mungkin ... Dua kali lipat lebih besar dari Naga Kegelapan. Hanya perkiraan ku."
"Kau meremehkan ku?"
Xin Chen memejamkan mata sambil membuang napas panjang, tak bermaksud seperti apa yang kakaknya pikirkan. "Aku hanya tak ingin kau mati, lawan kita sangat amat sulit. Satu-satunya harapan hanyalah mendapatkan bantuan. Paling tidaknya, untuk menyegel Naga Kegelapan. Lalu mengembalikan kesadaran Ayah. Terdengar mudah, tapi lihatlah keadaan kita sekarang ...."
Pikirannya mulai carut marut.
Xin Zhan tak membiarkan Xin Chen berbicara. Dia melanjutkan, tatapannya tertunduk. "Saat kehilanganmu aku baru menyadari kau alasan kenapa aku ingin bertambah kuat. Ayah mungkin tak begitu menyayangi ku karena baginya aku sudah memiliki segalanya. Tapi, setidaknya aku bisa menyayangi adikku yang selalu ketakutan."
"Berhenti bicara seperti itu."
Xin Chen justru ingin marah pada kakaknya. Pemuda itu meminta maaf seperti dia tak akan pernah mengucapkan kata maaf lagi esok harinya. Xin Chen tak ingin kehilangan siapa pun lagi. Dia mengepalkan tangan erat, mengambil keputusan berat yang merupakan satu-satunya pilihan yang mereka punya.
__ADS_1
"Bertarung lah dengan Ayah. Aku tahu kakak lebih hebat, bahkan sejak kecil pun ... Asal kau tahu, saat kau tak ada di sana. Ayah selalu memujimu. Kau hebat, kau jenius, kau sangat tekun. Bagimu ayah tak menyayangimu, karena yang kau lihat seperti itu."
"Bagaimana aku bisa tahu ayah benar-benar menyayangiku jika dia tidak mengatakannya secara langsung?"
Xin Chen menunjuk ke arah selatan dengan mata yang terus menatap Xin Zhan. "Tanyakan pada Ayah langsung. Pastikan kau harus kembali dan mengatakan padaku apa jawaban ayah."
Diam sesaat, Xin Chen tersenyum walaupun memaksanya terasa berat. Begitu pun dengan Xin Zhan. "Aku jauh lebih mengkhawatirkan mu, Chen. Naga itu ... Bukan lawannya manusia seperti kita."
"Kalau begitu jangan sebut aku manusia agar aku bisa mengalahkannya."
Xin Zhan tertawa lebar. Dia mengambil sebuah tombak dan menancapkan di tanah. Di atas tombak itu terdapat sebuah bendera yang telah berlumuran darah, berkibar pelan oleh terpaan angin.
"Saat maut akan menjemput kita. Ingat tombak ini dan segera kembali ke sini. Setidaknya jika salah satu dari kita mati, salah satunya lagi akan pulang untuk menggendong mayatnya ke rumah. Ibu menunggu kita kembali ..." Ucapan Xin Zhan terhenti. Mereka tak punya waktu lebih banyak lagi.
"Pergilah."
Xin Chen mengepalkan sebelah tangannya lagi dan lagi. Lalu berbalik badan. Angin kencang membawa hawa panas dari Api Keabadian milik Naga Kegelapan, keduanya berpisah menuju dua arah mata angin yang berbeda. Melawan ketidakmungkinan yang akan merenggut nyawa keduanya.
__ADS_1
Saat Xin Chen sudah pergi bertarung melawan Naga Kegelapan. Xin Zhan dikejutkan oleh satu hawa kehadiran yang seketika membuat kakinya terasa berat. Baru saja Xin Zhan berpikir untuk mengelak, tapi belum sepersekian detik satu serangan berhasil menghantamnya beruntun.