
Kaisar Qin menurunkan alisnya. Air mukanya tetap damai seperti biasanya. Penolakan dua putra klan Xin seketika membuat tempat itu hening.
Xin Fai menyadari kelancangan kedua putranya menimbulkan keributan di tengah acara. Dia bangun dari duduknya, menjelaskan dengan jelas dan singkat. "Mereka masih begitu muda dan belum pandai mengontrol emosi. Mohon Yang Mulia untuk tidak dibawa ke hati. Mereka akan menjumpai Yang Mulia usai acara ini."
Acara kembali dilanjutkan sebagaimana semestinya. Ada satu sesi acara di mana para pahlawan yang turun dalam perang disebutkan dan mendapatkan penghargaan langsung dari Kaisar Qin. Tak hanya Xin Chen dan Xin Zhan. Shui, Huo Rong, Unit Satu yang hadir, Fu Yu, dan masih banyak lagi. Kaisar Qin tak lupa membahas tentang pengangkatan Pilar Kekaisaran baru, satu-satunya hal yang sedikit menarik untuk Xin Chen simak. Selebihnya semua berjalan dengan baik hingga akhirnya mereka tiba di penghujung acara.
Setengah jam menunggu Kaisar Qin, akhirnya kini mereka dapat berbicara bertatap muka. Xin Zhan dan Xin Chen telah menunggu di ruangan yang dipersiapkan. Tak begitu luas dan bisa dipastikan obrolan yang mereka perbincangkan tak akan terdengar siapa pun di luar sana. Hanya ada meja kecil dengan alas serupa kain yang dijalin dengan benang emas. Seorang wanita pelayan datang, menuangkan minuman hangat untuk mereka berdua sembari menunggu Kaisar Qin.
Masih menunggu beberapa lama lagi sampai Kaisar Qin selesai dengan acara dan segala urusannya. Xin Zhan sudah memasang tampang tak enak. Adiknya sendiri masih netral seperti biasa. Dia mencoba memahami konflik ini dari dua sisi berbeda.
"Maaf membuat kalian menunggu."
"Langsung pada intinya saja." Xin Zhan tak tahan lagi berlama-lama.
Kaisar Qin memejamkan mata, menarik napas begitu pelan. Terucap kalimat darinya, "Aku memahami perasaanmu sebagai seorang anak. Melihat ayahmu akan dibunuh oleh atasannya, meski dia mempertaruhkan nyawa dalam pekerjaannya. Sulit menerima hal itu."
"Lalu mengapa tetap Anda lakukan? Karena berpikir kami akan mati di sana dan tak perlu susah payah memikirkan bagaimana perasaan kami?" marah Xin Zhan. Pemuda itu tak peduli siapa Yang Mulia siapa musuhnya. Saat dia tenang, maka hal sebesar apa pun tak akan mengguncangkan emosinya. Lain cerita jika menyangkut urusan keluarganya.
"Kakak Zhan," sahut Xin Chen. Memperingati kakaknya itu agar tak terlalu kelewatan. Xin Fai sempat meminta Xin Chen untuk menahan kakaknya. Sementara laki-laki itu punya urusan penting dengan petinggi Kekaisaran.
"Semua ini tentang campur tangan lain Kekaisaran ini," tutur Kaisar Qin, mengangkat lengan jubahnya sedikit dan meraih cangkir minuman. Dia meminum sedikit sebelum memulai percakapannya.
__ADS_1
"Saat terjadi krisis di tanah kita, semua masyarakat ketakutan. Isu-isu muncul dan menghadirkan spekulasi negatif. Kalian tahu, selama kalian berperang, kadang muncul berita bahwa kedua putra klan Xin telah tewas dibunuh Pedang Iblis?"
Kaisar Qin merangkai kalimat sejenak, agar dua orang di depannya mengerti situasi yang dia alami saat itu.
"Keresahan menimbulkan banyak polemik. Kekaisaran kita krisis. Kami berunding panjang, bahkan rapat dilakukan tiga hari karena tidak mencapai kesepakatan. Suaraku saja tak cukup untuk menghentikan rencana mereka menghapuskan nama Pedang Iblis yang dianggap telah menjadi bahaya besar bagi Kekaisaran ini." Kaisar Qin berbicara sambil menggeleng kecil, "Tak mungkin aku membunuh seseorang yang pernah menyelamatkan hidupku. Aku berhutang nyawa padanya. Keputusan ini adalah perhitungan dari banyak suara. Maafkan aku tak bisa menghentikan ini semua terjadi," sesalnya.
"Tapi aku bangga melihat kalian dapat mengatasi situasi mematikan ini. Sendirian di Lembah Para Dewa menghadapi Naga Kegelapan dan Pedang Iblis. Aku mempersiapkan acara terbaik untuk pengangkatan kalian sebagai pilar baru."
"Heh, Pilar baru?" Xin Zhan hampir tertawa. "Setelah kau mengangkat para sampah dengan balutan jubah sutra itu sebagai pahlawan? Pahlawan yang takut berperang. Menyedihkan."
Kaisar Qin merenung sebentar. Tampaknya mulut pedas Xin Zhan tak akan berhenti sebelum dia benar-benar puas dengan jawabannya.
Xin Chen akhirnya berbicara. "Mengertilah Kak Zhan." Saat Xin Zhan menengoknya, Xin Chen merasa ngeri. Tatapan mata itu kelewat galak.
"Saat ini orang-orang elit itu sedang berusaha mendominasi. Krisis di Kekaisaran Shang dapat ditopang dengan harta-harta mereka. Dana yang mereka keluarkan untuk menstabilkan kekaisaran ini menjadi alasan mengapa mereka mempunyai pengaruh kuat. Dan mereka yabg sudah mendapatkan posisi tertinggi dalam Kekaisaran memiliki hak untuk menentukan masa depan Kekaisaran ini," jelasnya.
Kaisar Qin sedikit terpana.
Tanpa dirinya menjelaskan panjang lebar. Xin Chen menjelaskan keseluruhan masalah yang dialami kekaisaran ini sekaligus alasan mengapa keputusan itu diambil. Xin Zhan masih tak percaya sebenarnya, tapi menyadari adiknya itu lebih bisa berpikir jernih di situasi seperti ini, Xin Zhan memilih untuk mengikutinya.
Helaan napas panjang terdengar. Xin Zhan mengiyakannya. Mengatakan bahwa permasalahannya selesai walau masih dengan berat hati.
__ADS_1
Sebelum mereka pamit, Kaisar Qin berbicara pelan. "Orang-orang itu bersukacita di acara ini walaupun sebenarnya mereka sedang ketakutan atas posisi mereka saat ini."
Lelaki itu bangkit, "terlalu banyak permainan politik di tempat ini. Aku hanya ingin berpesan. Hentikan mereka, karena aku tak bisa melakukannya. Itu hanya akaan mengotori namaku dan menghancurkan martabat ku."
Pesan terakhir itu Kaisar Qin katakan begitu kecil. Namun yang membuat Xin Chen terkejut adalah lelaki yang begitu dimuliakan di Kekaisaran Shang itu sampai menundukkan kepala. Dia tak sempat menolak. Keduanya masih terkejut sampai pengawal datang dan mengikuti Kaisar Qin beranjak dari sana.
"Terlalu banyak permainan politik ..."
Xin Zhan kini merasa bersalah atas dugaan buruknya terhadap Kaisar Qin. Lelaki itu diterpa banyak persoalan. Salah ambil satu keputusan saja dirinya yang dipersalahkan. Padahal ada campur tangan di dalamnya.
"Kita harus membantu Kaisar Qin." Xin Zhan masih terus berbicara. Tak menyadari adiknya justru teralihkan ke hal lain, dia melihat Shui dan Huo Rong telah datang sambil merepet-repet. Berjam-jam menunggu Xin Chen selesai berbincang. Mereka berdua sampai digigit nyamuk.
"Ha, baru selesai jadi orang penting dadakan? Bicara saja satu abad." Shui memukul lengannya, digigit nyamuk lagi.
"Kebetulan ada Kak Zhan di sini, aku ingin memberitahu sesuatu."
Xin Zhan menatap ke depan dan samping bergantian. Tampaknya Huo Rong dan Shui juga tak tahu menahu perihal apa yang hendak Xin Chen sampaikan hingga wajahnya begitu serius.
Keempatnya berjalan ke rumah, penjaga bilang ayah mereka akan pulang saat subuh. Ada beberapa pekerjaan yang membuatnya harus tetap tinggal di istana.
Di kamar Xin Chen yang sudah dirapikan oleh Ren Yuan, keempatnya duduk saling berhadapan.
__ADS_1
"Aku akan ke Kekaisaran Wei dalam waktu dekat ini."