Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 89 - Genderang Perang Bertabuh


__ADS_3

Genangan air berkumpul di atas langit dengan sangat menakjubkan, mereka berasal dari lautan yang membentuk satu aliran tenang melewati udara. Dan bersatu pada satu titik di mana seekor Siluman Penguasa Bumi tergeletak. Keajaiban di tanah Lembah Para Dewa kembali terjadi, ombak besar jatuh ke permukaan dan menyapu api Keabadian yang seharusnya tak akan padam sebelum pemiliknya musnah.


Geraman Shui mulai terdengar. Kulitnya tumbuh berganti dengan pelindung air yang amat tebal dan kuat. Saat itu Shui memasuki perubahan tahap akhir, kekuatan elemen airnya melingkupi satu tempat luas sekaligus. Tsunami datang menyapu seluruh daratan, amukan sang pemilik kekuatan Air seketika menarik perhatian Naga Kegelapan.


Naga Kegelapan mengeluarkan suara gema, menantang Shui yang tampak berbeda dari sebelumnya. Mata biru langitnya menyala terang, yang biasanya tampak tenang sekarang sudah sebelas dua belas dengan wajah Huo Rong.


Napas air dari rongga pernapasan naga itu menggetarkan tanah di sekitar. Huo Rong menjerit.


"Woi, cicak air! Kau tidak lihat ada dua orang memprihatinkan yang habis terkena ingusmu itu?!"


Shui yang ukurannya raksasa nyaris tak bisa melihat jelas siapa di bawahnya.


"Hah? Hei kadal api ini, kenapa tubuhmu serupa tuyul? Kecil sekali. Bagus untuk diinjak kau ya."


Mata birunya teralihkan pada sesosok gadis cantik yang tengah menengadah, menatap takjub padanya. Wajar saja, tak sembarangan orang bisa melihat Siluman Penguasa Bumi dari dekat.


"Jadi, kau yang menyelamatkan ku?"


Fu Hua terkesiap, suaranya menyusul, "Aku hanyalah pembawa obatnya. Obat Yan She lah yang menyelamatkanmu."


"Aku mengerti."


Naga Kegelapan berhasil menghempas Roh Dewa Perang jauh, dia sekarang bergerak menuju Shui yang tampaknya benar-benar ingin memerangi naga yang sudah membuatnya sekarat tersebut. Lebih tepatnya pembalasan dendam. Meski saat ini, bagian tubuhnya yang telah rusak kembali beregenerasi membentuk wujud utuh.


"Hey, cicak. Kau yakin bisa mengalahkan cicak satu lagi itu sendirian?"


"Pertama, berhenti memanggilku cicak. Kedua siapa juga cicak satu lagi itu, sial," geramnya. Dia melanjutkan dengan kesal. "Dan yang penting yakin sajalah. Mati tinggal tanam. Lagian memang aku bisa berharap pertolongan mu?"


"Cih, kau tidak tahu aku sudah lebih mempelajari banyak hal daripada mu. Irama Kematian, wujud manusia, dan masih ada satu lagi ...."


Huo Rong menyombongkan dirinya lebih dulu sambil membusungkan dada. Setidaknya ada yang bisa dia sombongkan dari sosok Shui yang tampak lebih sangar itu.


"Aku sedang sibuk, setan. Bicara dengan batu sana."


Huo Rong meledak-ledak dikatai setan, "KURANG AJAR, AKU HANYA INGIN MEMBERITAHU SATU ILMU LAGI YANG MUNGKIN BISA MEMBANTUMU, CICAK!"


"JANGAN TERIAK JUGA!"


Fu Hua yang berada di tengah-tengah mereka sampai kebingungan. Tampaknya kadal dan cicak memang tidak mudah akur.


"Tuan Huo Rong benar, Naga Air. Mungkin rencananya bisa membantumu mengalahkan Naga Kegelapan."


Shui bergeming. Naga Kegelapan sudah tak jauh lagi. Sementara Huo Rong langsung menjelaskan tanpa banyak basa-basi.


"Kita menyatukan kekuatan. Meski permata silumanku sudah tidak ada dan seluruh kekuatan ku sudah diserap. Tapi api dalam diriku masih bisa berkobar. Jika kekuatan mu dan kekuatan ku bersatu, maka dua kekuatan kita dapat menghancurkan Naga Kegelapan sekaligus."

__ADS_1


Shui terkejut sebentar, "Maksudmu, dua Siluman Penguasa Bumi dalam satu tubuh? Sepertinya aku pernah mendengar kabar tentang teknik ini, ratusan tahun lalu. Kau pasti pelakunya?"


"Aku sudah mempelajari segala hal dan menemukan cara untuk melakukannya."


"Cepat lakukan! Kita tidak punya waktu lagi!" Shui berteriak, sambil sesekali melihat ke depan di mana Naga Kegelapan sudah membuka lebar-lebar mulutnya untuk menyemburkan Api Keabadian.


Huo Rong berlari cepat di atas tubuh panjang Naga Air, hingga dia tiba pada kepala naga itu. Huo Rong merobek pergelangan tangan dan merapalkan sesuatu tergesa-gesa.


Di bawah sana, Fu Hua berlari sejauh mungkin. Dia tahu tanah di mana para siluman raksasa itu akan berperang akan membawa kemalangan untuk nyawanya.


Matanya melihat ke belakang, cahaya biru milik Naga Kegelapan yang menghabisi Shui dan Huo Rong memantul di mata safirnya. Fu Hua hampir tak percaya, Huo Rong mungkin saja gagal sebelum Naga Kegelapan menghanguskan mereka.


Dua detik terdiam. Api Keabadian mulai padam di tempat Shui seharusnya tapi tak ada tanda-tanda dari sana.


Harapan Fu Hua kembali hancur ketika melihat sebagian tubuh Shui, seperti akan tumbang. Mereka gagal.


Naga Kegelapan membuka mulut untuk serangan kedua, kekuatan hebatnya memancing gemuruh petir yang mulai menyengat tubuhnya. Itu justru membuat Naga Kegelapan semakin kuat. Tapi dari belakang, Ye Long datang dan langsung menghantamkan tubuhnya pada Naga Kegelapan. Disertai suara lengkingan khasnya.


Suara ledakan luar biasa membuat tanah bergetar. Sampai-sampai Xin Chen teralihkan dan melihat satu hal aneh.


Siluman Penguasa Bumi dalam wujud baru. Api dan Air.


Mata siluman itu berbeda warna. Percikan api muncul disirip-siripnya yang berubah menjadi lebih tajam. Naga Air yang seharusnya tak memiliki sayap kini memiliki sayap merah berapi, begitu kokoh dan lebar. Cakar yang dimilikinya jauh lebih panjang. Membuat wujud Shui yang dulunya hanya seperti naga pada umumnya, berubah menjadi naga tempur yang tubuhnya jauh lebih menyeramkan dari Naga Kegelapan.


Roh Dewa Perang dari kejauhan tercengang. Sebetulnya dia menganggur karena Naga Kegelapan menyerang Shui dan Huo Rong. tapi karena Dewi Api tiba-tiba menyerangnya dia jadi punya urusan lagi.


"Hmm... Kekuatan api dan air? Saling bertolak belakang. Api dipadamkan oleh air, memang mereka mau menyiram Naga Kegelapan dengan air hangat? Seperti raja saja mandi pakai air hangat."


"Cih, asik sendiri kau ya? Hadapi aku!" Dewi Api berang.


"Daripada kau, sok asik. Biarkan aku duduk sebentar, lebih seru menonton pertarungan para siluman itu daripada kita bertengkar tidak jelas. Lagian kita hanya tokoh sampingan."


"Sial kau benar." Dewi Api melepaskan kekuatannya, mendecih sebal dan turun ke tanah. Duduk bersila di sana sambil menatap dari kejauhan pertempuran di depan, Roh Dewa Perang juga bersamanya. Tampaknya keduanya terlalu kelelahan.


Di matanya kini tampak Xin Chen yang mengalihkan mantra Yan She kepada Xin Zhan dan mulai bergerak mengejar pertarungan para siluman. Di tangannya, sebuah pedang menyala terang. Sebuah pedang yang memicu peperangan ini.


Dewi Api tersenyum tak percaya, "Seharusnya aku percaya akan insting Huo Rong. Orang itu bukanlah manusia sembarangan. Kekuatan yang ada di tangannya bukanlah miliknya sendiri. Dia menggunakannya untuk manusia lainnya."


"Hm? Sepertinya kau berubah pikiran."


"Aku hanya ragu," ungkap Dewi Api. "Hati manusia adalah kekuatan paling menakutkan di dunia ini. Mereka berperang karena kebencian, keserakahan, ketidakadilan dan keinginan untuk membela teman-temannya. Semuanya berasal dari hati mereka sendiri."


"Tapi tampaknya manusia itu tidak sedang mempertaruhkan nyawa untuk para manusia saja. Dia bertarung untuk Siluman Penguasa Bumi. Dan demi keselamatan dunia ini. Aku sempat meragukannya dan menguji kerapuhan hatinya dengan membuat salah satu rekannya tiada." Tanpa peduli tanggapan Roh Dewa Perang dia tetap bercerita, "Dia hancur saat itu. Tapi jiwanya tetap menyatu kembali. Nyawa rekan-rekannya membuat hati itu semakin kuat."


"Heh. Kau bercerita seperti manusia yang sedang jatuh cinta saja."

__ADS_1


"Sepertinya iya."


Roh Dewa Perang terkejut.


"Jika dia meminta kekuatan api ini untuk bisa menyelesaikan misinya, aku akan senang hati memberikannya. Sudahlah, aku harus memperbaiki sesuatu." Dewi Api bergerak hendak pergi menuju arena pertempuran.


Sementara Roh Dewa Perang nyaris tak percaya ketika akhirnya Dewi Api memilih untuk memihak mereka.


"Kita semakin dekat dengan kemenangan."


***


A/N: Hai, udah lama gak bertukar sapa!


Apa kabar frenss


Semoga baik2 aja, ya!


Jadi, gmna dengan bulan September ini? Di sini hujan teruss (pusing mikirin jemuran wkwk)


Author sedang berusaha buat menamatkan dua cerita sih sebenarnya. Entah knp tiap mau Hiatus atau berhenti nulis selalu aja dibayangin sm novel2 yg belum tamat. Nyiksa pake banget. Selama apa pun author tidak muncul pasti bakal balik lagi karena dia ga sanggup dibayang-bayangi oleh wajah mengerikan Xin Chen. Eh bukan, dibayangi oleh janjinya untuk menamatkan buku2nya.


Jujur, menamatkan satu buku bukan perkara mudah wkwk. Ditambah lagi dengan banyaknya komen negatif. Rasanya mau mundur.


Karya sampah. Kebanyakan bacot. Alur gak jelas. Mendingan berhenti nulis aja. Sumpah serapah dengan kata2 kebun binatang dan bahasa kotor itu memang bisa membunuh keinginan menulis. Yang tadinya lagi semangat dan mencoba ngecek komentar pembaca, kali aja makin semangat krn ada yang masih nungguin. Malah dapat kata2 menyakitkan.


Wlpn udh bertahun-tahun menjadi penulis, sakitny masih sama. Tapi author anggap itu sebagai kritikan. Artinya ada yang salah dalam buku ini dan harus diperbaiki agar komentar negatif itu berkurang. Iya author tahu banyak yg kecewa sm buku ini. Author juga kecewa sama diri sendiri.


Author bisa lebih baik dari ini. Membuat karya yang jauh lebih bagus dengan persiapan matang dan waktu yang luang. Tapi author jg pnya banyak masalah di real life.. mgkin ad yg belum tahu kali ya,


Awal mula Kak Vi menulis di platform ini cuma karena gabut. Iya, gabut doang.


Dan juga waktu itu author nulis sambilan menunggu update-an cerita penulis idola author: Shujinkouron


Ga ada keinginan jd penulis profesional, tapi kebetulan waktu itu banyak pembaca yg menunggu karya author dan skrg di sinilah Kak Vi yg sekarang. Keadaan udh berubah, dan dia malah menjerit pengen punya waktu gabut lagi. Terteqan bossqu wkkw


Tapi untungnya di antara komentar menyakitkan itu masih ada orang-orang baik yang memberikan dukungan. yg awalnya udh mau nangis malah jadi full senyum. Satu2ny alasanku menulis ya para pembaca author tersayang ๐Ÿ’—. Makasih tetap membaca dan mendukung, dan terima kasih paling banyak atas komentar dukungannya๐Ÿฅบ


Maap yak author suka bikin kesel, jadi ikutan kesel juga kalian :D


Wlpn bnyk yg gak puas sm cerita ini, author tetap berpegang sama satu prinsip:


"Tidak ada karya yang sempurna. Yang ada hanyalah karya yang tamat."


//Sedikit tambahan, insyaallah setiap Sabtu atau Minggu author update lebih banyak. Bisa 2-4chapter tergantung kondisi. Anggap aja, crazy update tiap hari libur. Doakan lancar sampai tamat yaaa

__ADS_1


Lope satu kabupaten ๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ˜™


__ADS_2