Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 71 - Pertemuan Tak Diduga


__ADS_3

Ye Long sempat berhenti di beberapa sungai untuk meminum air, membiarkan Xin Zhan merawat lukanya sendiri


Tawa samar terdengar dari mulut Xin Zhan saat Ye Long sudah pergi jauh darinya,pergi berburu.


"Aku pasti sudah gila."


Xin Zhan menopang sebelah tangan di atas keningnya lalu berbaring di atas bebatuan tepi sungai. Pandangannya hampa.


Semua hal yang belasan tahun ini dipegangnya, kehormatan, harga diri, etika dan aturan. Semua itu hancur dalam dua malam berdarah yang membuatnya seperti lupa diri menjadi sosok iblis yang haus darah.


"Berapa banyak lagi yang harus ku bunuh agar semua ini selesai?"


"Membunuh mereka tak akan membuat tubuhmu menjadi iblis." Ye Long tiba-tiba datang membawa burung hutan yang ditemukannya. Dia membakar burung itu dengan api yang sangat lemah. Jika tidak, burung itu akan hangus menjadi arang.


"Tapi membuat jiwaku menjadi iblis."


"Lalu apa yang kau harapkan melawan sekawanan iblis dengan menjadi manusia lemah? Sejajarkan dirimu dengan mereka, jika kau ingin menang dan melindungi apa yang kau inginkan."


Sinar matahari di atasnya membuat mata Xin Zhan menyipit. Lalu tiba-tiba bayangan dari samping membuatnya terkejut bukan main.


"A-anda-!?"


Kedua pemuda dengan penampilan disamarkan itu terkejut bukan main seperti baru melihat setan di siang bolong.


Lan Zhuxian dan Lao Zi, keduanya baru saja melarikan diri dari Kota Fanlu dan berniat pergi ke Lembah Para Dewa sendirian. Padahal Lan An telah melarang Lan Zhuxian untuk pergi ke sana, tapi dia tak bsia menepati janji itu. Hatinya tak bisa tenang dan selalu teringat akan keselamatan Xin Chen.


"Jadi ... Ah ...," Lao Zi kehabisan kata-kata, membuat Xin Zhan yang tak mengenal keduanya karena menggunakan caping bambu hanya bisa bertanya balik.


"Kalian siapa?"


"Aku, Lan Zhuxian. Dan dia Lao Zi, kami sama-sama anggota inti Empat Unit Pengintai."


Xin Zhan tak begitu terkejut, dia bisa menebak ke mana dua orang itu hendak pergi. Tapi andai dia bisa mengatakan bahwa Empat Unit Pengintai sesungguhnya yang mereka sebutkan itu kini sedang bergerak di belakang panggung untuk menghabisi seluruh Kekaisaran.


"Bagaimana dengan Tuan Muda Xin Kedua?" tanya Lao Zi langsung ke intinya. Xin Zhan membuang muka, ketenangan di wajahnya sedikit terusik. "Aku meninggalkannya."


Keduanya terkejut tak mampu berkata-kata selain diam menunggu penjelasan lain dari Xin Zhan.


"Aku terluka parah dan tak memungkinkan untuk bertarung sementara waktu. Xin Chen menyuruhku pergi untuk mencari seorang ahli obat bernama Yan She yang bisa mengembalikan ingatan ayah dan menyelamatkan Shui si Naga Air. Tapi apa yang kulakukan di sini hanyalah membiarkan laki-laki itu tewas dan pembunuhnya kabur dengan mudahnya."


Kekecewaan muncul di wajahnya sekarang. Xin Zhan membuang napas, menghadapi wajah kedua pemuda yang sama-sama tercenggang mendengar ceritanya.


"Saya mengerti." Lan Zhuxian mengangguk. "Apa ada yang bisa kami bantu?"


"Membantu Xin Chen di Lembah Para Dewa hanya akan membuat kalian mati. Suhu di sana sudah melampau batas wajar."


"Kalau begitu apa yang bisa kami lakukan untuk membantu anda? Wajah Tuan Muda Xin Zhan tampak rumit, apakah ada masalah?"


Xin Zhan tak menjawab langsung. Tapi Ye Long langsung bercelutuk dengan mulut penuh makanan.


"Kami akan pergi ke tempat Qin Yujin dan mengambil kepalanya untuk mengakhiri perang ini!"


Sontak dua pemuda itu tertegun lagi. Lalu berbalik menatap Xin Zhan seolah-olah menunggu pemuda itu membenarkan perkataan naga tengil itu.

__ADS_1


"Tidak semudah itu. Untuk menemukan Yan She saja kita kewalahan."


"Lalu kami akan membantu Tuan Muda agar bisa melakukannya!"


Lao Zi mengeratkan pegangannya pada tali tas yang beratnya mengalahkan berat badannya sendiri, memang di dalam benda itu mereka menyimpan banyak persediaan untuk menghadapi situasi perang dan terdapat juga makanan.


Pikiran Xin Zhan trlalu carut marut untuk diajak mengobrol lebih jauh, dia mengiyakan tanpa berbicara selain anggukan pasrah. Lalu kedua pemuda itu duduk dan mulai bercerita bagaimana mereka bisa tiba di tempat itu. Masih daerah perbatasan yang paling jarang diawasi oleh penjaga. Sekiranya itu adalah kawasan yang paling aman jika ingin melakukan perjalanan tanpa kendala. Tak disangka-sangka mereka akan bertemu Xin Zhan yang baru saja kembali dari markas di pinggir Kekaisaran Qing.


Markas selanjutnya yang akan didatanginya terletak di bagian desa SangXu. Hanya pedesaan kecil setahunya, tampaknya penduduk di desa itu telah lama pindah dari sana karena serangan siluman buas yang turun dari bukit-bukit dan beberapa hama yang membuat hasil panen gagal. Dari peta yang Xin Zhan dapat, terdapat jalur tempuh tercepat yahg bisa mereka lalui. Apalagi dengan bantuan Ye Long, tentu perjalanan akan lebih cepat.


"Kita hanya punya waktu satu hari . Kalian sanggup?"


"Sanggup!"


"Berdoa saja Xin Chen masih bisa bertahan sebelum kita kembali."


***


Ye Long mengeluarkan cahaya biru, ketika itu malam telah datang membawa gelap ke desa SangXu. Desa itu tak beda jauh dari kabar yang pernah di dengar. Rumah-rumah reot yang tak lagi dihuni dan nyaris roboh ketika badai datang. Penerangan mereka hanya berasal dari api biru milik Ye Long


Menyusuri jalan setapak yang becek. Mereka tiba di sebuah jalan yang mengantarkan mereka pada sebuah rumah berukuran lebih besar dan sedikit megah dari yang lainnya. Jika bukan rumah bangsawan, mungkin saja rumah pimpinan desa. Usia bangunan itu juga tak baru lagi, sudah dihinggapi tanaman liar.


Beberapa tempat masih terurus itu artinya desa ini masih dihuni, walau dari luar terlihat menyeramkan selayaknya desa yang ditinggalkan. Tampaknya musuh mereka memang pandai mencari tempat persembunyian untuk mengoperasikan organisasi. Terbukti sekarang, setelah berjalan agak jauh mereka dapat melihat sumber-sumber kehidupan yang cukup hingar bingar. Di samping rumah megah itu berdiri sambungan yang tak kalah megahnya. Berjejeran membentuk sebuah asrama lantai dua.


Entah apa tujuan mereka membangun persembunyian di sana. Tapi Xin Zhan sempat menyadari sebelum bisa mencapai desa ini, hutan-hutan yang mengelilingi tempat ini dipenuhi siluman buas. Tampaknya kehadiran siluman itu memang disengaja. Andai mereka menempuh perjalanan dari darat pastinya sekarang akan kerepotan melawan puluhan Siluman buas.


Langkah Xin Zhan terhenti sejenak. Menyadari kehadiran lawan di depannya yang memunculkan diri, seolah tau akan kedatangan tamu di malam yang sunyi itu.


Sebelum pria itu menyadari kehadiran Lan Zhuxian dan Lao Zi, Xin Zhan menyuruh mereka semua untuk berpencar dan mencari target. Entah Fu Qinshan atau Qin Yujin.


"Sepertinya kau sudah menungguku. Apakah terlalu lama sampai kau kebosanan?"


Lelaki itu tergelak.


"Namaku Hu Xingye. Aku tak akan berlama-lama, tugasku hanya menghentikan mu."


Seketika dalam kecepatan tinggi pertarungan di tengah malam dimulai, keduanya saling beradu senjata sengit.


Bunga api memercik saat aduan pedang semakin berat, Xin Zhan dan lawannya mundur lima meter ke belakang.


"Tuan tidak perlu repot-repot datang untuk menyingkirkan mu. Dengan kekuatanku saja sudah cukup untuk membunuh tikus kotor ini." Ucapnya melanjutkan.


"Kau bisa mati dengan hormat di tanganku, tidak perlu menyesal setelah ini."


Tidak disangka Xin Zhan malah melemparkan pedang sembarang arah membuat Hu Xingye terdiam membisu beberapa saat, dahinya berkerut-kerut keheranan mencoba menebak apa yang akan terjadi.


Walaupun pedang itu telah jatuh dan menancap ke tanah tidak ada apapun yang terjadi. Wajah kebingungan Hu Xingye menjadi sedikit cerah saat dia bisa menebak pasti alasan Xin Zhan melakukannya.


"Aih, sudah mau menyerah saja? Atau kau begitu percaya diri dengan kekuatanmu dan ingin bertarung tanpa pedang?"


Tidak ada jawaban. Angin berhembus panas bercampur amis membuat paru-paru terasa sesak. Hu Xingye menunggu agak lama dan mulai tidak sabar melihatnya.


"Kau hanya membuang-buang waktuku saja!"

__ADS_1


"Kau belum melihat pertunjukan sebenarnya. Sudah mau mengakhiri ini begitu saja?" Setelah sekian lama membisu akhirnya pemuda itu berbicara tenang, kekuatan yang sedari tadi memancar dari tubuhnya menjadi semakin kuat bahkan mulai berdampak pada pendekar seperti Hu Xingye. Lelaki itu bisa merasakan pundaknya amat berat mendapat tekanan sebesar itu.


Hu Xingye baru saja menyadari energi asing yang sedari tadi memancar dari tubuh Xin Zhan adalah kekuatan yang sama seperti kekuatan cahaya salah seorang pendekar terkenal dari Kekaisaran Shang. Dia menelan ludah kasar kian menyadari apa yang hendak menyambutnya setelah ini.


Pedang milik Xin Zhan yang semula menancap di tanah menghilang. Sampai sebuah pedang lainnya keluar dari tempat lain dan melesat tajam menancap di jantung Hu Xingye dalam waktu kurang dari sedetik. Xin Zhan merubah kekuatan cahaya menjadi bentuk tertentu untuk mengelabuhi lawannya. Dan dengan Kitab Tujuh Kunci yang dia miliki sekarang, Xin Zhan mampu mengubah pedangnya menjadi kekuatan cahaya dan memunculkannya di tempat berbeda untuk serangan kejutan.


Mulut Hu Xingye terbuka sebentar melihat kekuatan ini, dia menyadari kesalahannya mencari masalah dengan sosok yang telah memiliki gelar sebagai Pilar Pertama Kekaisaran Shang saat ini. Pria itu berniat lari menggunakan Langkah Kilat tercepatnya dan melaporkan ini kepada atasan.


Namun sayangnya Xin Zhan tidak membiarkannya pergi begitu saja. "Ada yang ingin ku tanyakan. Bisa kau menunggu sebentar lagi?"


"Menunggu sebentar lagi yang ada nyawaku yang melayang!" seru Hu Xingye tidak memedulikan Xin Zhan yang tengah mengejar sama cepatnya. Lelaki itu mengumpat dalam hati setelah sebelumnya meremehkan Xin Zhan, sedikit rasa malu mulai datang saat mengingat kembali kata-kata ledekan yang dia lontarkan tadi pada Xin Zhan.


"Kau ketakutan sekali seperti melihat setan. Kalau begitu antar kan aku pada laki-laki itu.


"


Hu Xingye ingin mengumpat serapah lagi, Xin Zhan bukan hanya hantu melainkan lebih mengerikan dari hantu. Jantung pria itu semakin kencang berdetak saat langkahnya berhasil terkejar oleh musuh.


Tidak ada pilihan lain dia menghadap belakang mencoba melakukan perlawanan untuk mengecoh.


Di waktu hampir bersamaan Xin Zhan juga melakukan serangan brutal, Hu Xingye menyambutnya dan menangkis begitu mudah.


"Salah. Seharusnya kau melihat di belakangmu."


Tanpa sadar Hu Xingye menuruti perkataan itu dan ketika dia berhasil melihat ke belakang sebuah jurus aneh lainnya muncul.


"Kitab Tujuh Kunci - Pedang Cahaya."


Teknik itu adalah satu-satunya teknik yang Xin Zhan ciptakan setelah bertahun-tahun mempelajari Kitab Tujuh Kunci, dan dengan kejeniusan itu memungkinkannya untuk menciptakan lebih banyak teknik gabungan yang lebih hebat dari jurus-jurus yang ada dalam kitab itu.


Hu Xingye tersentak kaget dan refleks menangkis sebuah pedang yang muncul dari ruang hampa


Pedang Xin Zhan seolah mengejarnya, lebih cepat dari lari laki-laki itu sendiri.


Hu Xingye bisa menyadari pergerakan di sekitarnya, dia menangkis serangan yang datang namun serangan lainnya bersusulan datang mengepung pria itu. Dia tak bisa menebak apakah Xin Zhan memiliki racun di pedangnya, dia merasakan sensasi aneh pada tubuhnya sendiri.


Hujan mulai deras membasahi bumi, tetesan darah itu bagaikan racun yang membakar kulitnya. Hu Xingye tidak menemukan tempat pelarian untuk berteduh dari hujan ini, dia merasakan kesakitan luar biasa saat derasnya hujan ini menyentuh permukaan kulitnya tanpa henti. Racun itu menyebar ke seluruh tubuhnya akibat hujan. Masuk ke tempat lain yang terluka. Membuatnya kesakitan tak tanggung-tanggung.


Tak lama Hu Xingye yang menjerit-jerit kesetanan, lelaki itu meronta tanpa henti oleh racun yang menggerogoti tubuhnya. Makin menyakitkan. Layak nya pembunuhan yang dilakukan dengan menyayat kulitnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya yang tersisa dari tubuhnya hanya sebuah kerangka bersimbah darah.


Jeritan Hu Xingye semakin keras terdengar hingga mengundang banyak pendekar dlain di tempat tersebut. Laki-laki itu berguling-guling mencoba menghilangkan rasa sakit yang menderanya sejak tadi.


"Matilah dengan tenang."


Tak lama setelahnya pengaruh racun itu berakhir dengan tubuh Hu Xingye jatuh terkapar tak bernyawa, pria itu telah meninggal beberapa saat lalu dengan cara yang sangat mengerikan.


Xin Zhan menutup mata lama-lama. Merasakan sakit kepala. Tak menyangka hari ini dia akan menggunakan teknik kotor yang sempat dikatainya sebagai cara seorang pecundang.


"Sepertinya dari dulu aku memang sudah pecundang."


Xin Zhan menurunkan pedangnya sembari melihat ke belakang di mana para musuh lainnya yang sudah berdatangan menatapnya sangat gemetaran, terbayangkan sudah bagaimana kematian yang akan mereka dapatkan jika harus mati di tangan pemuda itu.


Xin Zhan berhenti sejenak mengeluarkan kekuatan yang menguras tenaganya sedari tadi, fisiknya juga menerima beban yang berat saat menggunakan Kitab Tujuh Kunci khususnya teknik yang diciptakan sendiri, masih belum sempurna seperti jurus lain yang lebih menghemat kekuatannya. Dan lagi saat melihat jasad Hu Xingye dia teringat pada jalan yang kini telah diambilnya, menjadi pecundang. Itu tak begitu mengerikan. Tapi bagaimana jika justru dirinya berbelok ke arah yang salah?

__ADS_1


"Apa aku masih berdiri di jalan yang benar?" gumamnya pelan, sesaat dia mengingat fakta bahwa mungkin dirinya sudah jauh dri jalan yang selama ini ditempuhnya. Jalan menjadi seorang pendekar masih amat panjang dan dia khawatir dirinya malah terperosok ke jalan yang sesat. Xin Zhan menengadah mencari jawaban di atas langit yang muram. Rasa marah, dendam dan ambisi yang begitu kuat yang datang entah dari mana, terasa tak akan pernah padam malah akan semakin menyala saat dia membunuh banyak manusia. Menginginkan lebih banyak darah dan korban.


__ADS_2