Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 118 - Pergilah


__ADS_3

Halaman perumahan jauh lebih padat dari sebelumnya. Sebelum mereka menyingkir ketika melihat seseorang datang membawa tabib muda. Penampilannya serba putih dengan sebuah penutup mata dan rambut sepinggang. Pemuda dari Kekaisaran Wei yang merupakan tabib itu menjadi pusat perhatian banyak orang.


Baru hendak menapakkan kaki ke tangga pintu, Xin Chen dikagetkan oleh sebuah tamparan yang langsung menyerbu pipinya. sialnya dia sedang memakai tubuh manusia, tamparan itu mengenai persis muka dan menimbulkan rasa panas.


Wanita itu Ren Su. Bola matanya melotot kuat, murka membakar habis kesabaran wanita itu.


"Ke mana saja kau?!"


Xin Chen tak mempedulikannya, dia terus menuntun Luo Li hingga mereka tiba di kamar Ren Yuan yang hanya diisi oleh keluarga dan sanak saudara. Hanya mereka yang benar-benar penting diizinkan masuk. Dan identitas Luo Li mulai dipertanyakan oleh semua orang.


"Chen'er ...?"


"Cepat berikan obatnya."


Luo Li mengangguk. Dia segera mendekat tapi Xin Zhan menahan, tak percaya dengan siapa pun pemuda dengan wajah asing ini.


"Apa yang kau lakukan, Chen?"


"Aku mendapatkan satu-satunya pilihan yang kita punya untuk menyelamatkan ibu."


"Menyelamatkan apanya lagi? Kau mau memperburuk keadaan."


"Kau sendiri yang bilang ibu sudah tidak ada, 'kan? Apa bedanya jika memberinya obat. Terlepas berhasil atau tidak. Cepat Luo Li, berikan saja. Jika terjadi masalah silakan lakukan apa saja."


Luo Li memegang pergelangan tangan Ren Yuan, memeriksa setiap denyut. Memastikan beberapa hal sampai dua menit hingga dia menemukan satu titik untuk memasukkan obat tersebut. Luo Li telah menyuntikkan. Tapi tak terjadi apa-apa.


"Apa kubilang."


Xin Zhan ingin sekali menumbuk wajah adiknya, pergi dan kembali seenaknya. Meski dia tahu, adiknya itu selalu mengusahakan yang terbaik. Pikiran mereka berbeda.


"Apa kubilang apa?" kesal Xin Chen. Emosinya dalam satu hari ini sudah tak karuan, dan Xin Zhan pandai sekali membuatnya kalang kabut.


"Penyebarannya berhenti."

__ADS_1


Xin Chen bisa melihatnya. Mata biru itu melihat jelas sinar sebuah benda serupa kristal yang bersarang di dalam tubuh Ren Yuan mulai melemah. Cairan itu menghentikan penyebaran selama beberapa menit.


"Kristal Merah itu mati untuk sementara," imbuh Luo Li. "Dia akan bangkit lagi, lebih ganas. Seperti yang sudah-sudah, obat seperti ini tak akan mempan jika sudah digunakan dua kali."


"Ibumu hanya mempunyai waktu tiga bulan."


Xin Zhan dan Xin Fai tak percaya. Apakah itu artinya Ren Yuan selamat? Tapi mereka tak mendengar detak jantung Ren Yuan. Wanita itu masih terbaring kaku di atas ranjangnya.


Tapi perlahan wajah Ren Yuan yang begitu pucat mulai berubah.


"Butuh waktu dua hari lebih untuknya agar bisa bangun. Virus di dalam tubuhnya tak betul-betul hilang, mereka hanya mati untuk sementara." Luo Li menambahkan sedikit, "Dan ... Jangan biarkan dia terpapar matahari terlalu sering."


Semua orang saling menatap. Belum menangkap seluruh perkataan Luo Li. Dan keadaan yang begitu cepat berubah. Ye Long berteriak di halaman depan.


"Apa yang kalian lihat?! Tidak ada apa-apa di sini, kembali ke rumah sendiri!"


Xin Chen membatin melihat Naga Hitam itu, 'Paling takut perhiasannya ketahuan. Semoga saja tidak ada yang memeriksa kamarku.'


Xin Fai berkata setengah berbisik, "Temui aku setelah ini. Aku ingin tahu dari mana kalian menemukan obat ini," ucapnya. Xin Chen dan Luo Li mengangguk.


Luo Li merasa tak enak dilihat kerabat dan saudara klan Xin yang terus melihatnya. Dia memang tak bisa melihat, tapi sadar jika semua orang sedang menatapnya. Meski begitu dia tak bisa menolak permintaan Xin Fai.


Beberapa menit berlalu hingga keadaan kembali stabil, Xin Zhan sendiri sedang berbicara dengan orang-orang di depan rumah. Situasi mulai tenang, kini Xin Chen, Xin Fai dan Luo Li sedang duduk di halaman belakang rumah, di sebuah kursi yang mengelilingi sebuah meja batu.


Hening sejak beberapa menit lalu belum juga usai, tak ada yang membuka percakapan. Xin Fai masih terdiam, antara masih belum bisa mencerna semua yang terjadi dan tak tahu harus memulai dari mana.


Xin Chen diam, menunggu ayahnya atau Luo Li bicara. Tapi tampaknya keduanya enggan. Dia menghembuskan napas perlahan.


"Dia orang yang hari itu ku bilang bahwa aku telah berjanji padanya, untuk pergi ke Kekaisaran Wei."


Xin Fai mengangkat wajahnya, kedua tangan masih menangkap wajahnya. Dia tampak berpikir keras.


"Aku sempat meragukan keputusanmu," jujurnya setengah berbisik. Senyum pahit menghiasi wajahnya. "Aku kira aku akan kehilangannya hari ini, Chen'er. Kau yang paling tahu, aku akan gila jika ibumu pergi meninggalkan ku."

__ADS_1


Xin Chen tahu hal itu. Tanpa Xin Fai menjelaskannya. Karena lelaki itu juga tak pandai menjelaskan bagaimana perasaannya. Dia bisa saja bersikap tenang, tapi di dalam hatinya laki-laki itu hancur tiap kali keadaan Ren Yuan memburuk.


"Setelah hari ini, ayah tetap akan melarang ku pergi?"


Terjadi jeda sebentar.


Kemudian Xin Fai menatap Luo Li, mencermati penampilan pemuda dalam balutan jubah putih disertai penutup mata dengan warna senada. Wajahnya terlihat bersih, gerakannya sopan dan kaku. Xin Fai tahu benar bagaimana perangai orang Kekaisaran Wei, dia bahkan sempat bertemu beberapa dari mereka. Tapi Luo Li tampak jauh berbeda dari orang-orang yang pernah ditemuinya.


"Jujur saja. Aku yakin kau tak akan memberikan obat itu dengan percuma. Aku pernah mendengar kabar tentang obat yang kau berikan pada istriku, tak menyangka kau menjadi satu-satunya orang beruntung yang dapat memilikinya." Dia meneruskan dengan nada getir, "Dan tak menyangka akan keajaiban obat itu sampai ke sini untuk menyembuhkan istriku."


"Benar adanya, Tuan." Luo Li mengangguk. "Saya membutuhkan bantuan Putra Kedua anda, Tuan Muda Xin Chen untuk beberapa misi sulit di tempat kami."


"Aku boleh tahu apa misi itu?"


Ketakutan di wajah Luo Li seakan-akan memberikan peringatan bahaya bagi Xin Fai, tapi dia tak bisa buru-buru mengambil kesimpulan.


"Antara misi yang rahasia ... Atau misi yang berbahaya?"


"Keduanya, Tuan."


Jawaban Luo Li membuat Xin Fai ragu. Dia menatap Xin Chen. Wajahnya tak pernah keberatan. Untuk membantu orang lain, putranya itu tak akan berpikir dua kali. Kadang itu menjadi menyebalkan. Ketika dirinya menjadi seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya siang malam. Ditambah lagi tipikal anaknya ini memang senang sekali bermain-main dengan maut.


Berulang kali Xin Fai mengusap wajahnya. Mereka terus berbincang sampai tiba di satu titik.


Xin Chen sudah membuktikan bahwa dirinya benar. Jika masih ada harapan untuk keselamatan Ren Yuan, maka Kekaisaran Wei adalah satu-satunya tempat di mana harapan itu berada.


"Pergilah. Untuk yang entah ke berapa kalinya. Jaga dirimu, Chen."


Persetujuan Xin Fai membuat hati Xin Chen lebih lega.


"Tapi tinggallah di sini sampai pengangkatan Pilar Kekaisaran baru. Kau harus ada di sana."


Luo Li dan Xin Chen mengangguk bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2