Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 27 - Pahlawan yang Berguguran


__ADS_3

Ibarat arus ombak dari dua sisi yang berlawanan, menerjang satu sama lain dengan ganas. Lalu pusaran manusia saling berhamburan diiringi suara gesekan pedang yang tidak ada hentinya. Keringat bercampur darah berjatuhan dari wajah mereka. Meski nyawa sudah di ambang sekarat, tangan-tangan mereka masih mampu menjangkau musuh dan membunuhnya dengan keji.


Para manusia kelaparan yang tengah berjuang untuk memenangkan perang akhirnya mulai berjatuhan. Satu demi satu jenderal terbunuh oleh Li Baixuan. Prajurit yang melihat keganasan Li Baixuan yang sama sekali tak terkendali mulai mundur ketakutan. Perisai di tangan kiri mereka jatuh ke tanah, bayang-bayang tubuh besar Li Baixuan menutupi wajah mereka.


Tiga kepala melayang dalam satu kali tebasannya. Laki-laki itu menginjak tumpukan mayat yang telah dibunuhnya. Mata menjalari ke segala arah dengan intens. Lalu dia menemukan seorang laki-laki yang familiar baginya.


Bai Huang. Orang itu adalah mantan Pilar Kekaisaran yang dulunya disegani. Entah sebab apa, dia turun dari jabatannya dan beralih bergabung dengan Empat Unit Pengintai. Riak muka Bai Huang perlahan berubah ketika menyadari satu tatapan tengah mengarah kepadanya. Dia menengok tepat ke arah Li Baixuan dan benar saja. Tepat di saat yang sama, laki-laki bernama Li Baixuan itu sudah melompat ke arahnya.


Bai Huang mengangkat pedang ke arah Li Baixuan.


"Aku melihat mangsa yang menarik."


Lalu laki-laki itu menjilati bilah tajam pedangnya yang telah dilumuri darah. "Setelah dibuang oleh Kekaisaran yang kau elu-elukan kau tidak ada bedanya dengan anji-ng jalanan. Sangat kelaparan, menyedihkan."


Bai Huang beralih memegang pedang dengan kedua tangan. Kedua alis tebalnya bersatu, tak tahan hatinya menerima penghinaan tersebut.


"Mungkin bagimu aku telah dibuang oleh mereka."


Kilat cahaya di bola mata Bai Huang menampakkan keberanian yang besar. Sebagai seorang petarung yang pernah berjuang habis-habisan untuk Kekaisaran Shang dan berdiri di barisan terdepan melindungi rakyat. Sehebat apa pun Li Baixuan, tak kan gentar jiwanya dibuat orang itu.


"Tapi bagi seseorang, aku bukanlah alat yang dipergunakan untuk melindungi orang-orang." Cengkramannya semakin erat memegang pedang, setitik peluh jatuh dari ujung hidungnya.


"Aku adalah keluarga baginya. Karena itu, aku berada di sini. Aku menginginkan keluarga ku untuk kembali dan melindungi semua orang di Kekaisaran ini."


Setapak langkah kaki Bai Huang menandakan pertarungan di antaranya sudah dimulai.


"Mati atau tidak aku hari ini, aku yakin di luar sana ribuan manusia sedang berjuang melakukan hal yang sama denganku."


"Apa pentingnya orang seperti itu?" Li Baixuan tak mampu mengerti pemikiran Bai Huang. Apakah baginya seorang pemimpin sebegitu penting seperti yang dia katakan tadi.


Li Baixuan tak pernah merasakannya. Ketika dia hampir mati karena menelan terlalu banyak pil penambah kekuatan, orang-orang berdatangan untuk menengoknya. Atau dia menghilang dalam satu misi mematikan. Rasanya saat dirinya kembali tidak ada yang sungkan untuk menyambutnya. Mereka melakukan segala sesuatu untuk formalitas. Semua orang menghormatinya. Tapi apakah semua orang benar-benar mencintainya?


Lelaki itu tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba menyergap hatinya.


"Orang seperti Pedang Iblis, dia bahkan menganggap seorang budak sebagai keluarga. Tidak peduli status sosial yang melekat dalam nadinya. Dia tak pernah berkata dirinya kuat, tapi semua orang menaruh hormat besar padanya. Kau tidak tahu berapa banyak masyarakat yang terus memanggil-manggil namanya di luar sana?"


Sekilas mata Li Baixuan sarat akan kemarahan. "Jika kau mengatakan orang sepertinya telah membuang ku, aku anggap itu sebagai penghinaan. Bertarung lah denganku."


Yang Bai Huang dengar terakhir kali adalah bunyi tapak kaki Li Baixuan. Mata Bai Huang membuka lebar seketika, dilihatnya sebuah pusaran angin datang menerjang dari depannya. Jika dia masuk ke dalam, Bai Huang yakin seratus kali tebasan pedang akan membuatnya terbunuh.


Mengambil langkah mundur, Bai Huang justru salah langkah. Dia tak mengerti mengapa dalam sekejap mata sosok Li Baixuan telah berdiri di belakangnya.


"Penghinaan, katamu?"


Li Baixuan berhasil mencengkram leher Bai Huang hingga laki-laki itu terjingkat, napasnya terhenti sejenak.


"Kau mengoceh-oceh soal Pedang Iblis itu di depan mukaku, kau kira itu bukan penghinaan untukku?"


Bai Huang kian pucat menjadi-jadi. Darah tak lagi mengalir ke otaknya. Lalu terdengar bunyi retakan yang berasal dari tulang lehernya yang dipatahkan oleh Li Baixuan. Tak ada jeritan keluar dari mulut Bai Huang.


Tebasan lurus menyerang Li Baixuan, Bai Huang berhasil melepaskan diri sejenak dari musuhnya berkat serangan tadi. Dipegangnya leher sambil terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Lalu mengangkat wajah menatapi Li Baixuan dalam-dalam.

__ADS_1


"Seorang pemimpin yang disegani selamanya akan dikenang. Dan pemimpin busuk yang mengandalkan ketakutan orang-orang untuk berkuasa akan membusuk namanya beserta mayat."


Li Baixuan mengeraskan ketegangan otot-ototnya, menyalurkan amarah di kepalan tangan kirinya. Tampak kedua bola matanya merah menyalang.


Dengan berapi-api Li Baixuan menerjang, mengangkat pedang setinggi-tinggi dan langsung membuat Bai Huang terpukul mundur dengan pedang terlempar jauh dari tangan.


Terdengar teriakan Li Baixuan menggelegar. Sementara Bai Huang mengambil satu pedang yang tertancap lurus di tanah. Pedang itu pasti milik prajurit yang telah tiada. Dia kembali dalam posisi berdiri.


Dalam sekejap mata, bilah tajam pedang telah datang mengincar lehernya. Bai Huang mengelak dan menyerang balik, langkahnya mundur beberapa kali. Li Baixuan terus saja maju dan menyabetkan pedang hingga tak tersisa sedetik pun untuk Bai Huang menarik napas.


Sampai detik itu, Bai Huang merasa tubuhnya telah berada di ambang batas. Tak mampu lagi laki-laki itu menandingi kecepatan bertarung Li Baixuan.


Satu pukulan kuat berhasil mengenai kepala Bai Huang telak. Laki-laki itu terhempas jauh, kepala menghantam bebatuan besar hingga berdarah. Li Baixuan mengejarnya cepat, tapi Bai Huang sudah lebih dulu bangun sebelum kedatangannya.


Dengan sisa-sisa kesadarannya yang dia punya, Bai Huang menahan serangan yang masuk. Tapi apa daya, puluhan sayatan dalam telah berhasil memutilasi tubuhnya hidup-hidup. Hingga tulang tengkoraknya terobek dan memperlihatkan tulang pucat di dalamnya. Laki-laki itu tetap berdiri tegak. Mati bukan pilihan untuknya. Selagi satu jarinya masih bisa digerakkan, laki-laki itu terus bertarung.


Duel maut itu semakin terlihat tak seimbang. Tak ada yang mau melihatnya lebih jauh, terutama prajurit Kekaisaran Shang. Melihat sosok yang begitu mereka segani sebagai seorang Pilar Kekaisaran terduduk bersimbah darah penuh luka sayat.


Kepala Bai Huang tertunduk. Dia duduk dengan lutut ditekuk. Pedangnya telah hancur. Seluruh mukanya penuh oleh darah.


Salah seorang prajurit hendak maju menyelamatkan Bai Huang, matanya mulai panas melihat pahlawannya terbunuh dengan amat menyakitkan. Tapi temannya menahan dadanya seraya berkata.


"Tidak ada yang bisa kau perbuat untuknya. Setidaknya, biarkan dia mati tanpa menanggung malu. Kedatanganmu ke sana hanya akan membuatnya terlihat semakin menyedihkan."


Bai Huang terpekur, kesadarannya mulai menipis. Kepalanya menunduk pelan berkali-kali. Meski demikian dia dapat mendengar ucapan Li Baixuan samar-samar.


"Bagaimana jika aku katakan bahwa orang yang sedang kau perjuangkan itu justru akan-"


Kesadaran Bai Huang hilang.


Dalam satu tarikan pedang, tubuh Bai Huang terbelah begitu tajam. Nyawanya habis. Seorang pahlawan kembali gugur. Tubuh Bai Huang yang tadinya begitu kokoh jatuh terkulai ke dua sisi berbeda. Lalu Li Baixuan pergi, meninggalkan jasad lawannya tanpa pernah menengok ke belakang sama sekali.


*


Saat itu di pertengahan siang yang kelabu, hujan kembali datang mengguyur tanah berperang. Mengikuti angin yang bertiup kering membawa asap-asap kebakaran yang sebelumnya disebabkan oleh Huo Rong. Bendera-bendera perang tercecer bersama senjata dan mayat-mayat. Nyaris tak ada tanah untuk menapak lagi.


Namun di antara mayat-mayat itu masih terlihat beberapa orang yang hidup, meringkuk meminta pengampunan nyawa. Mereka dapat melihat sesosok yang amat tidak asing tapi tak tahu siapakah dia.


Saat kemunculannya, ada hawa tak biasa yang datang. Angin berhembus mengibarkan jubah hitamnya yang dihiasi lambang Bulan Darah. Matanya dalam dan kelam, meski sinar indah di dalamnya laksana permata biru yang berkaca-kaca. Suara tapak kaki yang basah akibat hujan menggerayangi telinga mereka. Orang itu berjalan ke arah dua prajurit yang sekarat di tengah-tengah mayat.


Baik tangan maupun kaki mereka sama-sama tak bisa digerakkan lagi. Namun mulut mereka masih bisa bergerak, tergagu-gagu sambil bergetar hebat.


"A-ampuni nyawa kami, kami mohon ..."


Sebuah tangan terjulur pada keduanya, dengan mata yang berkaca-kaca kedua prajurit itu bertanya keheranan. "Apa ..."


"Kalian adalah rekan-rekan ku. Nyawa kalian berharga. Maka dari itu, bangkitlah dan menangkan perang ini. Jangan lupakan keluargamu yang tengah cemas menanti kepulangan mu."


"A-Anda!? Tuan Muda Xin Kedua?!?" Karena terlalu terkejutnya ketika mengenali wajah itu, salah satu dari prajurit tersebut lantas berdiri. Tak peduli lagi dengan betis kakinya yang nyaris terlepas dia langsung bersujud penuh hormat.


Satu yang lain tak kalah terkejutnya dan tanpa berkata-kata lagi segera melakukan hal yang sama. "Andai kami tahu Anda bersama kami, tak akan sudi tubuh ini untuk berhenti bertarung untukmu. Tuan Muda Xin Kedua, mohon maafkan kelancangan saya."

__ADS_1


"Tidak perlu melakukan itu. Tegakkan kepalamu. Aku hanya mencari ke mana Satu Terkuat pergi-"


Xin Chen tiba-tiba memegang dadanya kesakitan. membuat dua prajurit dari Kekaisaran Shang khawatir.


"Anda tidak apa-apa, Tuanku?" Lantas laki-laki itu menggerakkan tangannya yang gemetar menahan sakit, mengeluarkan sebuah tanaman herbal yang dilapisi kain coklat. "Ini pemberian istriku, dapat menumbuhkan segala jenis penyakit."


Alis Xin Chen saling bertemu. Meski demikian dia tetap menerima pemberian itu sambil mengucapkan terima kasih. Cepat-cepat, Xin Chen pergi sambil menahan sesuatu yang berusaha keluar dari dalam tubuhnya.


"NAGA DEKIL!"


Itu ucapan yang keluar dari mulutnya saat keluar dari tubuh Xin Chen. Roh Dewa Perang benar-benar murka, naik pitamnya menghadapi sesosok mahluk yang ternyata bersembunyi di ruang bawah sadar Xin Chen.


Ye Long. Naga itu sama sekali tak bisa keluar dari sana. Padahal dia ingin sekali turun ke Medan perang tapi Xin Chen hanya membiarkannya keluar di awal-awal perang saja.


Roh Dewa Perang menatap Xin Chen yang saat ini memasang wajah mengerikan.


"Apanya? Kenapa kau marah begitu. Kalau ada masalah kita bicarakan dari hati ke hati, atau dari otak ke otak. Pakai sedikit akalmu itu, membiarkan aku satu kandang dengan kadal gosong tadi. Pikirmu Roh Dewa Perang sepertiku rendahan sepertinya?"


Ucapannya tertahan begitu saja. Roh Dewa Perang menatap sekelilingnya yang penuh dengan hawa negatif. Di matanya, seluruh tempat ini tak ada beda dengan pemakaman massal yang menyimpan begitu banyak kekuatan roh.


Roh Dewa Perang menyengir selebar-lebarnya hingga Xin Chen memicing, tahu arti wajah roh tersebut.


Tapi Xin Chen tak bisa menghentikan Roh Dewa Perang yang telah melayang jauh. Mengumpulkan semua energi roh dalam jumlah tak kira-kira. Kurang lebih dua ratus ribu nyawa atau bahkan lebih telah mengambang di atas udara. Dan itu hanya dapat dilihat oleh dirinya dan pengguna roh.


Roh Dewa Perang menyerap semua kekuatan itu dalam tangannya.


Xin Chen tak menduga semua energi hitam di tempat ini habis tak bersisa hanya dalam hitungan detik. Roh Dewa Perang sama sekali tak bisa diremehkan. Tak terhitung sudah berapa banyak kekuatan yang telah dimiliki roh itu sekarang, bahkan jika mau kini pun Roh Dewa Perang dapat bertarung seimbang melawan Xin Chen.


"Apa-apaan tatapan itu?"


"Aku tak membenarkan mu melakukan hal itu."


"Siapa tahu kita memerlukan kekuatan ini ke depannya. Lagipula jika aku benar-benar mengkhianati mu seharusnya sudah ku lakukan dari dulu saat aku mengambil alih tubuhmu."


Tapi meski sudah mengatakan demikian, Roh Dewa Perang masih berbahaya. Xin Chen tahu Roh Dewa Perang bisa saja sewaktu-waktu mengambil kesempatan untuk membunuhnya. Dengan itu, tidak ada yang bisa menghentikannya untuk menghancurkan manusia. Mungkin oleh sebab ini pula, orang-orang Kekaisaran Qing menganggap kekuatan ini sebagai musibah.


Tujuan Roh Dewa Perang keluar sebenarnya bukan untuk menyerap kekuatan dari manusia-manusia yang telah tewas. Melainkan untuk membalaskan dendamnya akan tanduknya yang telah patah. Cukup membalikkan telapak tangannya, kekuatan berupa asap hitam bergerak cepat. Menyebar ke segala sisi layaknya kabut malam.


Lalu saat Roh Dewa Perang membuka matanya, dia langsung berbalik ke satu titik. Di depan sana, dia dapat melihat sosok yang sedang dicari-carinya, Li Baixuan.


"Kini saatnya tiba untuk membunuhmu."


Roh Dewa Perang hendak terbang ke arah tersebut, dia dapat mendengar suara kertas yang terbuka dari arah belakang. Kitab Pengendali Roh mengeluarkan cahaya yang seketika menarik tubuhnya ke dalamnya.


Roh Dewa Perang mengumpat setengah mati. Dia benar-benar ingin membunuh Xin Chen detik itu juga.


Xin Chen tahu membiarkan Roh Dewa Perang berkeliaran hanya akan menambah masalah baginya. Saat kekuatan Roh Dewa Perang kembali menyatu dalam dirinya, Xin Chen yang saat itu tengah melayang di udara terjatuh. Tak ada seorang pun di sekitarnya selain mayat. Mencoba berdiri beberapa kali pun, tubuhnya seolah mati rasa.


'Sebenarnya berapa ratus ribu roh yang telah masuk ke dalam kitab ini?'


Tetesan darah hitam mengalir dari kedua sudut bibirnya. Untuk sekian lamanya, baru kali ini Xin Chen kembali merasakan sakit yang tak ada penawarnya. Kekuatan ini bisa saja membuatnya terbunuh.

__ADS_1


Pupil mata Xin Chen mengecil, dia dapat melihat bayangan sesosok naga di atas langit. Tubuh itu seperti tak ada daya lagi, jatuh begitu saja dan menghantam bumi. Angin kencang datang disertai goa bumi yang dahsyat. Xin Chen berjalan melawan arus angin. Tak mampu berkata-kata lagi, dia tak tahu apakah Shui masih bertahan atau tidak.


Li Baixuan menghajar naga itu habis-habisan.


__ADS_2