Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 240 - Enam Tuan Rumah XII


__ADS_3

Pikiran Xin Chen buntu. Dia tak sempat berpikir cara memenangkan pertarungan semenjak empat jam yang lalu. Hanya fokus membaca kekuatan musuh dan tidak ada satu petunjuk pun didapat.


"Jangan berpikir."


Satu jawaban itu adalah jawaban terakhir yang muncul. Xin Chen mulai mengambil ancang-ancang, dia tak peduli musuh akan menganggapnya bodoh karena melakukan hal yang sama. Menggunakan kekuatan roh dan Api Keabadian dengan boros untuk menyerang.


Tapak kakinya meninggalkan debu di tanah, Xin Chen bergerak sangat cepat. Serigala Merah terpukau, sejak tadi Xin Chen tak menunjukkan kecepatan tertinggi yang bisa dilakukannya. Kini Serigala Merah sendiri tak bisa mengikuti kecepatan tersebut.


Dia terpaksa fokus, mengaktifkan kekuatan matanya. Senyum terbit di wajah Serigala Merah. Saat matanya terpejam sekilas terlihat sekelebatan kejadian di masa depan. Xin Chen muncul di balik badannya.


"Di sana!"


Kekuatan besar yang Xin Chen keluarkan digunakan untuk menyerang titik vital Serigala Merah, tepat di jantung.


"Manusia sehebat apa pun pasti akan mati jika jantungnya tak berdetak, pemikiran yang cerdik, tapi sekali lagi, aku tahu apa yang akan kau lakukan."


Serigala Merah menghindar tepat waktu.


"Kau tak akan pernah mengenaiku."


Pedang Api Keabadian tiba-tiba muncul di tangan Xin Chen, menampakkan kilauan mengerikan yang terpantul sampai ke mata Serigala Merah. Benda itu menghantam topeng serigala hingga retak hancur, begitu cepat terjadi dan kekuatan di dalam pedang tersebut mulai membakar Serigala Merah dalam waktu singkat. Hingga bilah panas dan tajam pedang Xin Chen menembus kedua bola mata Serigala Merah.


Tusukan dalam menembus mata dan batang hidungnya, topeng Serigala Merah jatuh berhamburan di tanah.


"Ba-bagaimana bisa?!"


Terhenyak dalam beberapa saat, Serigala Merah berusaha menyembunyikan wajah.


Xin Chen sama terkejutnya dengan Serigala Merah, tak menyangka apa yang dilihatnya sekarang di luar dugaannya.


Sejak empat jam yang lalu dia hanya melawan seorang bocah yang mungkin baru berusia 17 tahun. Lebih muda darinya. Tapi tak bisa dibohongi kekuatan sosok itu sangat mengerikan. Bukan itu saja, caranya berpikir dan pengalaman bertarung sama seperti seorang lelaki tua yang telah menghadapi ribuan pertarungan.


Xin Chen memilih tak peduli, dia mengumpulkan kekuatan roh tahap ketiga. Roh-roh tersebut berkumpul di atas Serigala Merah dan bercampur dengan kekuatan Api Keabadian.


Saat Xin Chen menurunkan tangannya, gabungan kekuatan tersebut jatuh menimpa Serigala Merah dan ledakan berskala besar terjadi.


Pepohonan bergerak liar diserbu angin kencang, Api Biru membakar daun-daun hingga menyisakan abu. Bahkan hingga satu menit angin masih bergerak kencang, sisa retak di bumi telah mencapai ratusan meter ke dalam tanah. Lubang raksasa tercipta di tempat Wan Xuiyang terbaring sekarat.


Xin Chen mendekat, melihat pemuda itu masih bernapas meski hanya sepenggal.


"Kau mengalahkanku, ini adalah kekalahan pertama dan terakhirku." Tawa pahit terdengar dari mulutnya yang penuh oleh darah, wajah putih bersih pemuda berusia 17 tahun itu pias. Dia tahu ajalnya sudah dekat.

__ADS_1


"Kau membuat fungsi mataku tak berjalan seperti yang seharusnya, jarang sekali menemukan musuh yang bukan hanya mengandalkan kekuatan sepertimu. Pikiranmu, kekuatanmu ... Dan tujuanmu. Aku merasa iri denganmu."


Xin Chen masih di tempat yang sama, mendengarkan kata-kata terakhir Serigala Merah.


Setelah bertarung cukup lama Xin Chen baru mengerti satu hal yang membuat kekuatan spesial Wan Xuiyang berfungsi.


Pertama, kekuatan itu berasal dari mata Wan Xuiyang. Jika mata itu masih ada maka Xin Chen tak akan pernah menyentuh Serigala Merah bahkan dengan kekuatan sebesar apa pun. Lalu kedua, cara bekerja kekuatan itu terbilang rumit, meski begitu Xin Chen berhasil menarik kesimpulan.


Soal masa depan itu, dengan dirinya berpikir maka sesuatu akan terjadi. Dan semua terekam di mata Wan Xuiyang bahkan sebelum Xin Chen bertindak.


Satu-satunya jalan adalah tidak berpikir. Biarpun sulit, Xin Chen bisa membuktikan semua dugaannya benar. Dan sekarang Serigala Merah tumbang. Tulang-tulangnya remuk hancur, beberapa organ dalam nya rusak. Dia tak akan bisa diselamatkan bagaimana pun, bisa dikatakan tubuhnya hancur 90 persen dan hanya menunggu waktu untuk dijemput ajal.


"Kau bertarung untuk semua manusia, sementara di sini aku bertarung untuk membalaskan dendam orang-orang yang bahkan sudah mati. Sangat menyedihkan, dengan kekuatan yang kumiliki, aku membunuh sangat banyak. Neraka bahkan tak akan bisa menebus semua dosa-dosa ku."


Orang yang lebih muda darinya itu memang lebih cerewet daripada Xin Chen, dia tertawa tipis. "Aku hanya manusia kotor yang berlumuran darah. Sepertinya ini bukan pertarungan terakhir kita."


Napas Wan Xuiyang tersengal-sengal, sekarat mulai datang. Dia sempat tersenyum beberapa detik, "Aku akan menunggumu di neraka dan kita bertarung di sana."


Wan Xuiyang memejamkan mata, Xin Chen membalas. "Sudah kukatakan, malaikat pencabut nyawa membenciku. Kau harus menunggu sangat lama untuk itu."


"Aku akan menunggumu." Kata terakhir Wan Xuiyang sebelum napas terakhirnya berhenti.


Serigala Merah telah tumbang.


Dari kejauhan Xin Chen melihat dua pertarungan. Xiu Qiaofeng yang terpojokkan dan Lian Ning mengamuk. Dua Pilar telah jatuh. Zian Ning terbaring tak sadarkan diri dan Yue Huanran terbunuh.


Xin Chen bergerak ke tempat Xiu Qiaofeng, Beruang Putih dengan kekuatan tinju dan tendangan yang mematikan berhasil mendekati arah Xiu Qiaofeng yang masih terduduk, seluruh tulangnya seperti tak berdaya. Bahkan ketika jelas-jelas Beruang Putih akan membunuhnya seperti Yue Huanran, Xiu Qiaofeng masih tak berkutik.


Keberanian nya lenyap saat melihat kematian Yue Huanran.


"Kenapa kau malah bengong, Xiu Qiaofeng?!"


Xin Chen membuat Xiu Qiaofeng tersadar, dia tersentak dan langsung menoleh ke samping. Xin Chen datang langsung menangkis serangan Beruang Putih.


"Kau ada di sini-!? Berarti..."


Beruang Putih percaya tak percaya.


"Serigala Merah telah tumbang."


"Tidak mungkin!"

__ADS_1


"Selanjutnya adalah giliranmu." Xin Chen mengepalkan sebelah tangan, sekilas matanya menoleh ke arah jasad Yue Huanran. Beruang Putih terlalu sadis, dia membunuh Pilar ke enam itu tanpa belas kasih.


"Hei, Gorila Betina. Sebaiknya kau mundur, aku tak percaya Gorila melawan beruang malah beruang yang menang. Tidak masuk akal."


Xiu Qiaofeng mau mengamuk, tapi keadaannya sendiri memang menyedihkan. Gadis itu menengadah, menatap punggung Xin Chen di depannya.


Dulu dia selalu merasa kesal saat melihat Xin Chen. Sekarang setiap kali melihat pemuda itu dia hanya bisa kagum, ada debar aneh yang membuatnya tak karuan. Xiu Qiaofeng menjauh segera, berharap Xin Chen baik-baik saja melawan Beruang Putih. Xiu Qiaofeng tahu seberapa mengerikannya kekuatan Beruang Putih hingga mampu membunuh Yue Huanran dengan satu tinju.


"Chen, berhati-hatilah. Dia adalah pengguna serangan fisik, serangan biasa tak akan mempan-"


Jantungnya seperti melompat dari rongganya.


Mulut Xiu Qiaofeng masih terbuka lebar saat melihat Xin Chen melayangkan kepalan tangan ke wajah Beruang Putih. Sangat cepat terjadi. Topeng beruang hancur seketika hingga tembus ke tulang wajah lelaki itu.


"Akan ku buat kau merasakan apa yang dirasakan Nona Pilar Keenam."


Saat Beruang Putih ambruk ke tanah Xin Chen menarik tangan kanannya, menyalurkan kekuatan petir yang berkumpul di satu titik. Meninju wajah Beruang Putih dengan kekuatan penuh. Sekali lagi, tanah tempat Beruang Putih terbaring retak sampai berlubang besar. Cabang-cabang petir bergerak liar di sekitar tangan Xin Chen.


Xiu Qiaofeng baru ingin memperingati. Tapi sepertinya semua itu tak ada gunanya di hadapan Xin Chen. Justru Beruang Putih yang harus berhati-hati dengan pemuda itu. Tak butuh lima menit Xin Chen menghabisinya tanpa banyak bicara.


Beruang Putih tergeletak dengan keadaan mengenaskan. Petir Xin Chen membakarnya sekaligus menyetrum tubuh laki-laki itu dengan tekanan tinggi. Kulitnya menghitam dan wajah lelaki itu remuk sampai masuk ke dalam.


Xiu Qiaofeng menutup mulut. Melihat pemandangan menakutkan dua kali. Xin Chen berbalik badan, melaluinya tanpa mengatakan apa-apa.


"Chen!"


Xiu Qiaofeng memanggil, Xin Chen berhenti sejenak.


"Apa?"


"Te-terima kasih sudah menolongku." Ada rasa gengsi yang begitu besar ketika Xiu Qiaofeng mengatakan hal itu. Saat kecil dia tak pernah memperlakukan Xin Chen dengan baik. Bahkan berterima kasih untuk hal-hal kecil saja tak mau.


Xin Chen diam sejenak, menghela napas.


"Aku ingin bertanya sesuatu,"


Xin Chen tampak serius bahkan sampai membalikkan badan ke hadapannya.


"Apa?" Xiu Qiaofeng mengutuk dirinya sendiri, dia jadi gugup sendiri.


"Gorila lawan cumi-cumi menang siapa?"

__ADS_1


Xiu Qiaofeng salah sudah berpikir lebih, Xin Chen tetaplah Xin Chen yang bodoh. Tidak pernah berubah. Tangannya mengepal erat, Xiu Qiaofeng seperti ingin mengamuk.


"Xin Chen!!!"


__ADS_2