
Xin Chen telah mengabarkan kepada Lan Zhuxian untuk segera mencari tahu keberadaan permata siluman Rubah Petir. Selama dirinya tak ada di Kekaisaran Shang nanti, kemungkinan permata itu ada di sini memang kecil. Keberangkatannya hanya hitungan jam lagi, pemuda itu akan pergi ke perbatasan kota untuk menemui Luo Li.
Sebelum itu dia berpamitan, Xin Chen sudah jujur kepada Ren Yuan tentang alasannya pergi ke sana. Dan seperti yang selalu Ren Yuan lakukan, dia menangisi kepergian anak keduanya entah untuk yang ke berapa kalinya. Xin Chen sudah memberikan pengertian agar wanita itu tak merasa bersalah terus-menerus. Dan juga berpamitan kepada Ye Long yang kini sudah berkaca-kaca, naga itu berusaha memeluknya seperti yang manusia lakukan.
"Kembali dengan cepat. Perutku akan merindukanmu."
"Kau tidak rindu padaku memang?"
Ye Long menggeleng. Xin Fai di sebelahnya menepuk kepala naga itu, "Sementara dia akan menemaniku dalam beberapa misi di Kekaisaran ini. Kita bertukar teman," ucapnya sambil tersenyum selebar-lebarnya, agar kelak anaknya pergi dengan langkah yang ringan. Xin Chen mengangguk sembari menatap Lang yang telah siap untuk petualangan di Kekaisaran Wei yang dipastikan penuh dengan marabahaya. Xin Fai sendiri ingin putra keduanya itu tak memikirkan keluarganya yang sedih akan kepergiannya. Xin Zhan tak begitu menunjukkan emosinya. Dia hanya berucap ala kadar.
"Pergilah, kalau jatuh langsung bangun."
"Aku tahu. Tidak mungkin aku menunggu Kaisar Qin untuk membantuku bangun."
"Sekalian undang elit-elit itu juga," sindir Xin Zhan. Masih begitu puas dengan keputusan Kaisar Qin menunjukan adiknya untuk posisi Pilar Bayangan. Kedudukan baru yang diputuskan oleh Kaisar Qin.
Xin Chen memeluk ibunya untuk terakhir kali sebelum dia pergi, Xin Fai menepuk kepalanya dua kali. Dan terakhir pemuda itu menatap Xin Zhan, tak berkata apa-apa.
Ketika langkahnya telah sampai di pagar rumah, Xin Zhan menghadangnya.
"Kau melupakan sesuatu." Tangannya yang seputih mayat hidup menyodorkan sebuah kalung kerang. Xin Chen teringat dia melepaskannya dan menyimpan benda itu di meja kamarnya karena takut rusak di hajar Ye Long.
"Pakailah. Aku juga memakainya." Xin Zhan memperlihatkan sebuah kalung kerang yang dia ikatkan di leher. "Jika terjadi apa-apa padamu, aku pasti akan merasakannya. Jaga dirimu baik-baik."
Xin Chen tersenyum, merangkul singkat kembarannya itu lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya mereka benar-benar pergi dari rumah.
Lang kembali dengan petualangannya menjadi Serigala Pengembara. Nama yang paling dia sukai, sebuah harga diri baginya sebagai pengembara. Dia memakai sebuah tas usang yang selama ini Xin Chen simpan sejak terakhir kali pemuda itu pamit pergi bersama Rubah Petir. Langkah keduanya terhenti ketika telah sampai di sebuah jembatan yang dikelilingi oleh pohon-pohon raksasa dan menjadi penghubung sungai.
__ADS_1
Seorang pemuda dengan penutup muka serta jubah serba putih sedang menunggu di sana. Dia tampaknya menyadari kehadiran mereka berdua, sebab pemuda itu langsung menghadap ke arah Xin Chen dan Lang.
"Akhirnya kalian datang."
"Kau sudah lama menunggu."
"Tidak aku baru sampai. Sekitar tiga jam yang lalu," ucap Luo Li. Lang mendengus. "Satu orang yang bersemangat."
"Aku harus memantau beberapa hal. Karena itu tiba lebih awal. Boleh kita bergerak sekarang, Tuan? Takutnya penjagaan semakin ketat dan kita tak mempunyai peluang untuk pergi dengan damai."
Xin Chen mengangguk sembari meralat, "Panggil saja Chen. Jangan terlalu formal denganku."
"Baik, Chen."
"Itu juga berlaku untuk mu Lang." Xin Chen menatap Lang yang hanya memasang wajah pongah.
Xin Chen tersenyum pahit. Mungkin ini yang selalu ayahnya rasakan ketika berhadapan dengan Lang. Mulut serigala itu memang selalu benar dan selalu menyakiti hati orang lain.
"Sebelum itu," katanya terjeda. "Kami akan mampir di Lembah Para Dewa, ada sebuah markas yabg masih berdiri di sana. Aku akan melakukan upacara pemakaman untuk rekanku dari Empat Unit Pengintai sebagai penghormatan atas jasa mereka dalam perang di Lembah Para Dewa."
Luo Li mencoba mengerti, lagipula jika hanya beberapa jam mereka masih memiliki cukup waktu.
Xin Chen tak menyangka, meski pemuda itu tak memiliki penglihatan tapi kecepatannya berlari sangat luar biasa. Dia bisa menempuh perjalanan dari kota ke kota tanpa sedikitpun kendala. Luo Li menjelaskan selama hidupnya dia telah mempelajari cara menghadapi kekurangannya ini. Di mana ketika bunyi keluar, pantulan dari bunyi itu akan memberikan gambaran terhadap penglihatannya.
Memang tidak mudah, tapi Luo Li berhasil. Setiap kali dia menapakkan kaki dan menghadirkan bunyi seluruh jalan yang gelap mulai memunculkan garis-garis tertentu.
Perjalanan yang begitu cepat itu langsung membawa ketiganya kepada markas Empat Unit Pengintai yang diselubungi oleh kabut hitam.
__ADS_1
Ribuan kuda telah diistirahatkan di kamp. Beberapa gerbang dan pelindung yang rusak telah diperbaiki kembali. Itu menandakan bahwa Huo Rong dan Shui telah bergerak sejak beberapa hari lalu untuk membangun kembali Empat Unit Pengintai. Pasukan telah kembali ke markas, dipimpin oleh Lan Zhuxian. Mereka menunggu kedatangan Xin Chen.
Huo Rong yang berdiri paling depan tersenyum sepintas. Dia baru mengeluarkan suara saat Xin Chen berada tepat di depannya.
"Seekor serigala? Bukan naga itu lagi?"
"Ada beberapa alasan. Kami tak punya waktu banyak. Hei, kau sudah mempersiapkan apa yang aku katakan?" Xin Chen memanggil seorang pria yang memegang tombak. Dia menandai wajah itu, pria yang berbincang dengannya tempo hari tentang Dinding Penghormatan.
"Tentu saja sudah, Ketua."
Dia segera membawa Xin Chen ke ujung markas, bagian dengan penjagaan paling ketat. Di sana, berdiri sebuah dinding setinggi lima meter. Nama-nama rekan mereka yang gugur dituliskan dengan ujung mata pisau. Lalu dicoret, melambangkan mereka telah tiada.
Di setiap nama itu terdapat satu belati kecil. Beberapa belati di sana diikat barang-barang peninggalan mereka. Seperti ikat kepala, sobekan baju, atau sekedar hanya botol minuman terakhir yang mereka sentuh.
Xin Chen mengangkat wajahnya. Tak percaya orang-orang Empat Unit Pengintai melakukan perintahnya dengan sepenuh hati. Dinding Penghormatan ini jauh lebih indah dari dugaannya. Begitu besar dan juga indah. Dan kenangan mereka pun akan selalu abadi di dinding ini. Xin Chen bertepuk tangan.
"Siapa namamu?"
"Qixuan, namaku Qixuan, Ketua." Dia menunduk beberapa kali. "Kerja bagus, kawan. Ini adalah hadiah terbaik untuk mereka. Hadiah atas kerja keras mereka selama ini ..."
Xin Chen berjalan, menemukan satu nama yang telah dicoret di dinding paling bawah.
Bai Huang.
Pemuda itu sudah sempat mendatangi keluarga laki-laki itu dan meminta maaf. Anaknya menangis, tapi dia tegar setegar-tegarnya. Tak ada raungan atau isakan berlebihan, sama seperti istri Bai Huang. Pemuda itu mengeluarkan sebuah tali putih yang merupakan ikat baju milik Bai Huang. Ikat jubah kebesarannya sebagai Pilar Kekaisaran dulu. Xin Chen mengikat mati, tersenyum menatap semua nama.
"Pahlawan yang hebat harus beristirahat di tempat terbaik. Jasad kalian mungkin telah direnggut oleh ganasnya api di Lembah Para Dewa. Namun semangat kalian tetap menyala, bersama kami di sini."
__ADS_1