Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 242 - Enam Tuan Rumah XIV


__ADS_3

Langkah gegabah menyerobot masuk ke dalam rumah di mana Ren Yuan sedang merawat seorang gadis di rumahnya. Tak ada pilihan lain, merawat Fu Hua di tenda terlalu menyusahkan. Pertama, persediaan tanaman herbal dan obat terbatas, lalu di sana sangat berdesak-desakan. Sementara Fu Hua membutuhkan perawatan khusus untuk menyembuhkan luka organ dalamnya.


Ren Yuan sendiri memiliki banyak alat dan obat-obatan yang sempat dibawanya sebelum pindah ke Pulau Seizu. Diletakkan dalam satu ruangan yang asing sendiri. Khusus untuk pengobatan dan medis. Seorang gadis terbaring di salah satu kamar kosong dirawat oleh alkemis bernama Feng Yong. Meski pengobatan bukan sepenuhnya keahliannya tapi laki-laki itu tahu banyak tentang penyakit dan obat.


Dia terhenyak saat melihat siapa yang datang sampai membanting pintu.


"Di mana ibu?!"


Itu Xin Chen, dia berteriak panik. Ye Long pun ikut-ikutan.


"Rraaghh!" Tapi dia sendiri tak tahu apa yang diributkannya.


Ren Yuan segera datang ke ruang depan, melihat putranya yang seharusnya masih menjalankan misi dan tiba-tiba kembali membawa Xin Fai. Tak perlu meminta penjelasan Ren Yuan sadar kabar buruk yang dibawa putranya.


Xin Chen membaringkan Xin Fai, menjelaskan sekenanya. "Musuh Ayah, Gajah Abu-abu membawa racun dalam senjatanya, Kapak Tulang. Aku tak tahu banyak tapi yang jelas racun ini adalah jenis baru yang tak pernah kutemui."


Xin Chen bertutur terang. Dia bisa sepanik itu karena tak tahu apa yang harus dilakukan untuk menangani racun di tubuh Xin Fai. Ren Yuan memeriksa denyut nadi dan melihat lebih jauh secara cepat.


Tak ada harapan. Matanya berkaca-kaca, suaminya kembali dari misi dalam keadaan sekarat dan Ren Yuan sama sekali tak tahu apa yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan lelaki yang amat dicintainya itu.


"Ini bukan jenis racun yang diambil dari tubuh binatang atau siluman, ini murni racun yang diciptakan dengan gabungan yang lebih kompleks. Orang uang membuatnya pasti membutuhkan perbandingan rumit hingga menciptakan racun mematikan seperti ini. Membuat penawarnya mungkin akan memakan waktu yang sangat lama, Chen'er."


"Tapi waktu yang tersisa hanya delapan belas menit."


Wajah Ren Yuan terangkat, saat itu Xin Chen bisa melihat keputusasaan di wajah ibunya.


"Delapan belas menit?"


Ren Yuan sepertinya tak pernah membuat sebuah ramuan obat dengan waktu sesingkat itu.


Mustahil. Itu arti tatapan Ren Yuan, wanita itu mengelap air mata yang tiba-tiba turun membasahi pipinya. Xin Chen mengepalkan tangan erat. Xin Fai kehilangan kesadaran saat dia membawanya ke Pulau Seizu, mungkin racun itu mulai menyerang saraf otak dan melumpuhkan semua sel.


Kemungkinan terburuk semakin mendekat.


"Tidak ada yang bisa ku lakukan? Satu hal saja, katakan. Apa pun."


Xin Chen menatap wajah Xin Fai, masih belum bisa menerima apa yang terjadi.


Ren Yuan mengambil sampel darah Xin Fai dan mulai bekerja di ruangan tempat tanaman obat berada.

__ADS_1


Wanita itu tak sengaja menabrak Feng Yong yang baru keluar dari kamar usai merawat Fu Hua. Dia mengerutkan dahi, berjongkok di sisi tubuh Xin Fai.


"Racun Kembang Perak."


Keduanya teralihkan ke arah Feng Yong.


"Kau tahu soal itu?"


"Ini adalah racun yang diciptakan alkemis Kekaisaran Wei. Kau membutuhkan penawarnya, bukan? Kebetulan aku pernah mempelajari racun ini dan berhasil menciptakan obatnya," jelasnya sembari mengenakan sarung tangan.


Detik itu Ren Yuan segera mendekat, "Apa saja bahan yang kau butuhkan."


Dia tersenyum, "Taman obatmu mempunyai semua bahan yang kubutuhkan."


Ren Yuan tersenyum, tak menyadari air mata masih membasahi pipinya. Dia benar-benar lega. "Terima kasih sudah membantu kami."


"Aku berhutang nyawa pada anakmu, Nyonya Ren."


*


Xin Chen merasa beruntung membawa Feng Yong ke Pulau Seizu. Laki-laki itu sama sekali tak berbohong soal penawar yang diciptakannya, dalam waktu singkat setelah ramuannya dimasukkan ke dalam tubuh Xin Fai, pergerakan racun itu melambat, ramuan itu mampu menetralisir racun begitu cepat.


Lama menunggu Xin Chen mulai tak nyaman. Ren Yuan memperhatikan putranya dari ruang tengah dan hanya bisa tersenyum tipis.


Sejak kecil Xin Chen adalah anak yang paling lasak, baru duduk dua menit saja gelagatnya seperti cacing kepanasan. Apalagi kalau disuruh tidur, dia langsung kabur mengacaukan kebun orang. Sekarang saja contohnya, baru duduk lima menit putranya langsung berdiri.


Menyusuri beberapa ruangan di rumah, niatnya ingin melihat ke luar. Matanya terpaku sejenak, dari celah pintu yang terbuka Xin Chen melihat seorang gadis terbaring di atas kamar. Dia diam beberapa detik. Matanya menunjukkan penyesalan, mengingatkan pada Qin Yujin yang saat itu berhasil melarikan diri. Dia tak tahu kapan laki-laki itu akan kembali.


Tanpa sadar langkahnya menuntun Xin Chen berdiri di sisi ranjang tempat Fu Hua terbaring. Xin Chen membuka jendela sehingga angin sejuk masuk.


Angin membelai halus pipi seputih salju gadis itu, rambut indahnya bergerak halus mengikuti irama angin. Mata safirnya terpejam. Dan entah kapan akan terbuka. Jantungnya sangat lemah berdetak. Xin Chen masih teringat saat pertama kali dia menemukan gadis itu di hutan. Mata yang indah dan gaun merah muda bercorak bunga. Saat itu Fu Hua begitu segan saat dia menolongnya.


Angin membuat rambut menutupi wajah gadis itu, tangan Xin Chen bergerak hendak menyentuh wajah itu, menyingkirkan rambut tersebut. Sampai tiba-tiba dia terkejut oleh suara Feng Yong dan langsung menarik tangannya.


"Ayahmu sudah bangun!"


Xin Chen langsung mengikuti Feng Yong, sempat melirik ke belakang sebelum pergi.


"Bertahanlah."

__ADS_1


*


"Sudah, sudah jangan menangis. Kau tidak pernah berubah, masih cengeng seperti dulu." Xin Fai menepuk-nepuk kepala Ren Yuan, sesaat baru menyadari siapa yang datang dan telah menyelamatkannya. Ren Yuan menghadapkan badan ke arah di mana Xin Chen datang. Masih terharu seperti biasanya.


Mau secengeng apa pun, yang Ren Yuan adalah bagian terpenting dalam keluarga mereka. Tanpanya suasana rumah tak akan sehangat itu.


"Kapalnya miring betulan," kata Xin Fai yang seketika membuat anaknya tertawa.


"Bukan kapal yang miring. Tapi kaptennya yang miring." Balas Xin Chen mengundang tawa lebih besar lagi.


"Kau selalu bisa diandalkan, Chen'er."


"Semua ini berkat Ye Long-"


Telinga Ye Long menukik ke atas saat namanya disebut, ekor naga itu melibas rak-rak kaca. Beberapa piring dan mangkuk jatuh.


"Tumben memujiku."


Xin Chen menahan kesabaran. Xin Fai tergelak, tahu apa yang terjadi jika Xin Zhan datang melihat apa yang diperbuat Ye Long. Ujung-ujungnya pasti Xin Chen yang kena sembur.


"Sebentar lagi ku maki kau, Ye Long."


Ye Long kabur begitu saja. Xin Chen membuang napas kesal, "Bagaimana keadaan Ayah? Paman Feng ternyata memiliki penawar untuk racun itu. Mungkin karena berasal dari Kekaisaran Wei jadi aku tak pernah melihat jenis racun seperti itu sebelumnya."


"Memang masih sangat baru. Aku kebetulan mempelajarinya saat masih ditahan oleh utusan Kekaisaran." Feng Yong menimpali.


Saat Xin Chen hendak berterima kasih Feng Yong sudah lebih dulu mencekal, "Tidak perlu. Kau sudah melakukan lebih banyak dari yang kulakukan."


"Aku hanya menyelamatkan mu sekali. Kau merawat Fu Hua dan Ayahku. Aku merasa harus berterima kasih dengan baik."


Feng Yong tersenyum kecil. "Kau lupa saat Kaisar Shi membuang kami rakyatnya dan justru kau berdiri di hadapan mereka untuk membela kami."


Xin Fai memperhatikan percakapan keduanya, merasa bangga dengan apa yang dilakukan putranya. Walau dia sempat menentang keras tindakan Xin Chen untuk mencampuri urusan Kekaisaran lain. Tapi pada dasarnya, Xin Chen memiliki alasan besar.


Dia tak peduli dari Kekaisaran mana orang yang diselamatkannya. Selagi itu manusia dan bukan musuhnya, Xin Chen tak akan segan mengulurkan tangan meski nyawanya jadi taruhan.


"Istirahatlah. Aku akan menyelesaikan sisa pekerjaan dan menemui Yang Mulia. Serahkan padaku."


Xin Fai tak mau banyak mendebat karena keadaannya masih belum pulih sepenuhnya, "Baiklah, tapi lain kali aku tak akan duduk diam saja seperti sekarang. Pergilah."

__ADS_1


__ADS_2