
Xin Fai mengernyit keheranan.
Bagaimana tidak. Sejak sore dia pulang sampai sekarang, Xin Chen seperti baru saja dirasuki setan baik.
Pertama, ketika menyuruh putra keduanya yang berkepala batu itu untuk membantu Xin Zhan mengambil air bersih dia langsung menurut. Membantu Ren Yuan mengerjakan pekerjaan rumah juga tidak menolak, bahkan membantunya mengisi laporan untuk diberikan ke Kaisar Qin tidak banyak memprotes.
Fenomena ajaib itu membuat keningnya berkerut tiga. Dia tidak ingat apakah Xin Chen memang bisa menjadi penurut seperti ini atau hanya pencitraan saja.
"Chen'er, kemari."
Xin Fai menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya, saat Xin Chen sampai dia menempelkan tangan di kening anak itu.
"Apa ini?"
"Kau sakit? Jangan diam saja, katakan kalau sedang sakit," cemas Xin Fai khawatir tidak ketentuan.
"Tidak ada, hanya kurang kerjaan saja satu hari ini."
Xin Fai menautkan alisnya samar, separuh curiga, mana mungkin Xin Chen punya banyak waktu di saat-saat seperti ini. Ada banyak panggilan datang, tugas menumpuk dan beberapa hal yang harus diselesaikan. Dia sempat mendengar Xin Chen mengabaikan panggilan rapat hari ini.
"Katakan dengan jujur," wajah Xin Fai berubah. Xin Chen memalingkan muka ke arah Ren Yuan yang baru datang dengan membawa sup hangat berisi buah-buahan.
"Sudah masak, ya."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Chen'er."
Xin Chen mengernyit, "Aku hanya ingin menghabiskan waktu di rumah. Itu saja."
Xin Fai terdiam. Ren Yuan menyadari ketegangan di antara mereka berdua. Berusaha mencairkan suasana. "Sudahlah, lagipula Chen'er juga kelelahan. Tidak ada salahnya libur beberapa hari."
Xin Chen tersenyum, Ren Yuan membelanya.
Ye Long yang tidur di ruangan depan menaikkan telinga, mereka mendengar sesuatu bergemuruh dari kejauhan tapi itu bukanlah petir. Dentuman besar yang diakibatkan oleh meledaknya mayat hidup, serta meningginya agresivitas mahkluk-mahkluk tersebut. Jika sudah seperti itu bahkan benteng tinggi pun dapat mereka hancurkan dengan mudah.
Di tengah perbincangan tiba-tiba Xin Chen bergumam, "Mereka memanggilku lagi."
Ketiganya terdiam.
"Semua ini harus diakhiri, kata mereka. Mayat itu adalah manusia tidak bersalah yang menjadi korban. Mereka ingin terlepas dan mati dengan tenang."
__ADS_1
"Kita akan menemukan jalan keluarnya." Jawaban Xin Zhan hanyalah omong kosong. Sudah berulang kali rapat digelar, tidak ada jawaban pasti untuk masalah tersebut.
"Pasti," ulang Xin Chen. Dia menatap keluarganya sesaat, tangannya dingin hanya untuk meminta izin untuk pamit. Kerongkongannya kering, Xin Chen tidak tahu cara menyampaikan salam perpisahan dengan baik.
"Aku punya satu urusan lain yang harus diselesaikan."
"Malam-malam seperti ini?" Tatapan Xin Zhan mempertanyakan.
"Iya, ini penting. Aku harus mengambil beberapa barang juga."
"Ke mana?" tanya Xin Fai, dia menjawab.
"Ke markas Empat Unit Pengintai," alihnya.
Ketika itu Xin Fai mengangguk, Xin Chen kembali ke kamarnya. Mengambil sebuah lembaran yang didapatkannya dari Kekaisaran Qing dengan sebuah tulisan terukir.
Segel Pemusnah.
Dia menatap kertas itu sejenak. Bahkan ketika menyentuhnya sebagian kecil kekuatannya terserap sebelum segel itu diaktifkan.
Segel itu membutuhkan tumbal, dengan menyerap kekuatan penggunanya hingga ke titik nol. Alasannya membutuhkan pemilik kekuatan besar adalah karena segel itu akan mencapai satu wilayah dalam cakupan besar. Kekuatan yang digunakan juga sangatlah banyak. Jika penggunanya tidak mencapai tingkat kekuatan tertentu, maka kekuatannya akan langsung habis sebelum segel tersebut selesai.
Dalam artian lain, dalam tiga hari saat Segel Pemusnah di aktifkan, segel tersebut akan membunuhnya perlahan hingga ke akar nyawa. Dan di akhir, seperti apa yang dilalui iblis di kastil tua, orang yang mengaktifkannya akan dibunuh dalam satu detik terakhir bersama musnahnya para terinfeksi di seluruh dunia. Kemutlakan itu tidak akan pernah bisa diganggu gugat.
Dia berjalan ke satu ruangan, dalam diam hanya memperhatikan seseorang yang masih tertidur lelap dalam mimpinya.
"Tetap tinggal di sini, sekarang ini adalah rumahmu. Maaf, tidak bisa mengatakannya dengan baik." Dia mengelus pelan pipinya, "Aku pamit. Kali ini tanpa penyesalan lagi. Aku akan menyelesaikan semua tugasku dan dengan begitu aku tidak perlu takut untuk pergi."
"Seperti kataku sebelumnya, hiduplah dengan bahagia. Kau pantas untuk itu."
Ren Yuan yang mengintipnya dari depan pintu tidak mengerti maksud Xin Chen. Dia menunggunya keluar dengan tatapan bertanya-tanya.
Xin Chen masih terlihat biasa saja. Dia tersenyum tipis.
"Aku pamit, Ayah, Ibu, Kak Zhan."
Xin Chen berbalik badan menuju pintu. Langkahnya terasa berat, tapi Xin Chen sudah memantapkan hati. Dia tidak akan pergi dalam penyesalan lagi.
Ren Yuan melangkah, menahannya. "Kau melupakan satu hal?"
__ADS_1
"Apa?" Xin Chen menoleh ke belakang, menyadari ibunya terlihat sangat cemas.
"Kau akan kembali, 'kan?"
Terjadi jeda sesaat. Xin Chen tidak menjawab apa-apa. Setetes air mata mengalir di pipi Ren Yuan, wanita itu memiliki perasaan yang begitu kuat. Tidak mungkin dia bisa mengabaikan rasa gelisah dan ketakutan itu. Biasanya Xin Chen akan pergi dan berjanji dia akan kembali. Tapi kali ini, hanya terdengar kata pamit tanpa kembali.
"Aku akan selalu bersama Ibu. Kita akan bertemu lagi, jadi jangan menangis."
Ren Yuan menggeleng. Xin Fai menahan tangan Xin Chen. Dia benar-benar ingin menghukum putranya saat itu juga.
"Kau memakai cara itu? Segel Pemusnah?"
Xin Zhan juga sudah menduganya, hanya Ren Yuan yang belum tahu. Hal itu membuatnya sangat sedih. Lagi dan lagi, Xin Chen membuat wanita itu menangis.
"Kau sudah gila?! Baru kemarin kau hampir kehilangan nyawa dan sekarang kau mau menantang maut lagi?!" Xin Zhan kesal setengah mati, pedang pemberian Xin Chen di lemparkan begitu saja.
"Aku tidak butuh pedang sialan itu jika artinya itu adalah pemberian terakhirmu. Tetap di sini, jangan lakukan hal bodoh. Atau ku cincang kau sampai habis," geram Xin Zhan penuh ancaman. Dia tidak main-main kali ini.
Namun ketika dia ingin menarik Xin Chen, tubuh itu tak dapat lagi dijangkau. Dia hanya menyentuh udara kosong.
Ye Long datang,
"Majikan ..."
Dia ingin memuntahkan semua makanan yang telah masuk ke dalam perutnya.
"Aku juga tidak ingin makan seperti kemarin jika itu artinya aku akan kehilangan mu. Aku rela menukarkan makanan ini, kau jangan pergi.."
Apa yang Ye Long bayangkan di makam Lan An akan terjadi. Pantas saja Xin Xin Chen mengatakan hal aneh, dia tidak biasanya membiarkan Ye Long menghabiskan makanan sebanyak itu.
Sekali-kali atau tidak sama sekali. Kini Ye Long mengerti arti kalimat tersebut. Xin Chen terlihat semakin memudar, Xin Fai berusaha memperingati.
"Chen'er, kali ini menurut padaku. Duduk di rumah dan jangan lakukan apa-apa, kau-"
Percuma saja, Xin Chen akan pergi dari mereka. Secepat itu dia pergi. Tanpa berjanji akan kembali seperti sebelumnya. Ren Yuan jatuh terduduk menutup mulut, dia menangis. Seluruh tubuhnya terasa lemas.
Tidak ada yang tahu ke mana Xin Chen akan pergi.
"Maafkan aku. Aku akan bersama kalian selalu. Temui aku di dalam mimpi, mungkin kita bisa bertemu kembali di sana."
__ADS_1
"Chen'er!!!" teriak Ren Yuan hingga akhirnya dia pingsan tidak sadarkan diri.
*