
"Aku menolak menjadi Pilar Kekaisaran."
Kaisar Qin tak kalah terkejutnya mendengar penolakan tersebut meski dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Dia memejamkan mata, merasa omongan Pedang Iblis benar-benar kejadian.
Sebelum pengangkatan Pilar Kekaisaran, dia sudah berulang kali berbincang dengan Pedang Iblis. Setiap malam mereka memiliki waktu luang, sekedar untuk berbagi pandangan mengenai calon-calon yang akan naik menjadi Pilar Kekaisaran.
"Aku hanya ingin melayani Kekaisaran ini dari bayang-bayang. Jika menjadi Pilar Kekaisaran ruang gerakku terbatas sedangkan ancaman di luar Kekaisaran begitu banyak."
Lelaki berjulukan Pedang Iblis itu lebih tahu perangai anaknya. Dia tak membutuhkan armada untuk kapalnya, dia akan menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Jika Xin Chen mengatakan akan pergi maka dia akan tetap pergi. Dan sebelumnya Xin Fai telah mengatakan, meski anaknya dulu sempat ingin menjadi Pilar Kekaisaran, banyak hal telah berubah hingga pemuda itu sama sekali tak menginginkan kedudukan itu.
Surutnya keramaian membuat keadaan kian mencekam. Xin Chen mengeluarkan pendapatnya dengan jelas.
"Aku tidak bisa menjalankan fungsiku sebagai Pilar Kekaisaran yang di mana aku harus selalu ada di sini 24 jam untuk menjalani misi-misi di bawah perintah Kekaisaran. Jika disuruh memilih menjadi Pilar Kekaisaran atau Pimpinan Empat Unit Pengintai maka aku memilih menjadi Pemimpin Empat Unit Pengintai. Aku membutuhkan kebebasan agar bisa bergerak. Dan menjadi Pilar Kekaisaran bukanlah opsiku."
Selama sejarah Kekaisaran Shang, mungkin baru kali ini ada yang menolak dijadikan Pilar Kekaisaran. Posisi yang diidamkan para pendekar. Xin Chen menarik senyuman, menatap seluruh rakyat yang melihatnya putus asa. Sama seperti keluarganya sendiri, penduduk Kekaisaran Shang adalah keluarga yang ingin sekali dia lindungi. Meski musuh di luar sana hendak menumbangkannya jasadnya, Xin Chen akan mencari segala cara untuk merangkak dari kerak neraka, hanya untuk melindungi semua orang di depannya.
"Pilar Kedua hanyalah nama. Sejatinya yang kita butuhkan adalah tindakan nyata. Melindungi Kekaisaran ini dari segala bentuk ancaman. Jika untuk melindungi, semua orang tak membutuhkan gelar atau kedudukan yang tinggi untuk melakukannya. Kita semua bisa membela kekaisaran ini tanpa terkecuali. Namun meskipun begitu, aku merasa terhormat akan kemurahan hati Yang Mulia atas kepercayaannya menunjukku sebagai Pilar Kedua."
Dia membungkuk hormat ke arah Kaisar Qin. Tapi keputusannya sudah bulat. Jika menjadi Pilar Kekaisaran itu artinya dia tak bisa pergi keluar Kekaisaran Shang sesukanya dan terikat dengan tugas. Sementara dirinya harus pergi ke Kekaisaran Wei untuk menemukan obat Ren Yuan.
"Tapi aku merasa tak mampu menjadi bagian dari Pilar Kekaisaran. Maafkan aku."
Kaisar Qin menarik napas dalam-dalam. Jelas terlihat dari garis mukanya dia sedang kecewa atas keputusan Xin Chen, tapi mau bagaimana lagi. Pemikiran Xin Chen bukanlah besi yang bisa dibengkokkan. Seperti kata ayahnya, Xin Chen itu kepala batu.
__ADS_1
"Aku mencoba mengerti keputusanmu."
Kaisar Qin sampai menarik napas tiga kali karena begitu kecewa dengan keputusan Xin Chen. Xin Chen tersenyum sebisanya di hadapan semua orang.
"Apa pun yang terjadi. Aku akan melindungi kalian. Dari dalam bayangan atau di bawah terangnya cahaya. Sumpah kesetiaan ku hanya ku tujukan kepada Kekaisaran Shang."
Xin Chen mengepalkan tangan, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. "Demi Kekaisaran Shang!"
"Demi Kekaisaran Shang!" Teriakan serentak membuat Kaisar Qin terkejut, pikirannya kembali terfokus di depan. Melihat sesosok pemuda berdiri di depan ribuan orang, menyatukan mereka dalam satu semangat yang sama. Xin Chen terus-menerus mengatakan hal yang sama, Demi Kekaisaran Shang. Ribuan suara mengikutinya.
Kaisar Qin tanpa sadar tersenyum. Keinginannya untuk menjadikan klan Xin sebagai penguasa Pilar Kekaisaran berakhir dibelokkan oleh pemuda itu. Jika dirinya memiliki rencana terbaik, maka Xin Chen juga memiliki rencana terbaik versinya sendiri.
Bahkan ketika Xin Chen menuruni panggung, tepuk tangan meriah dan gegap gempita masih tak kalah meriah ketika dia dipanggil sebelumnya. Xin Zhan ikut bertepuk tangan bersama beberapa pilar baru di sebelahnya.
"Dan yang terakhir serta paling utama, penunjukkan Pilar Kekaisaran Pertama kita. Sosok yang telah melindungi Kekaisaran Shang bertahun-tahun, menjadi titik tumpu dan nadi Kekaisaran ini. Tanpanya, Kekaisaran ini terguncang. Dia adalah arti dari Pilar sesungguhnya. Yang menyangga Kekaisaran ini dan memastikannya tak runtuh. Petarung terhebat sepanjang masa yang namanya telah menjadi legenda, Sang Pedang Iblis, Xin Fai!"
Gegap gempita serta haru kembali menyeruak, kini lelaki yang disebutkan namanya berjalan menuju atas panggung. Pembawaannya yang sederhana serta senyuman khasnya membuat lelaki itu begitu dicintai rakyat Kekaisaran Shang. Dari ujung Kekaisaran Shang bahkan hingga ke desa-desa terpencil, tak ada satu pun yang tak mengenal lelaki itu. Sebelum menjadi seorang pelindung, dia telah bertarung mati-matian menghadapi bencana dan malapetaka yang mengancam nyawa orang desa atau kota.
Mereka yang pernah ditolong olehnya menceritakan jasa lelaki itu pada anak cucunya. Membuat mereka merasa dekat pada sosoknya meski tak pernah berbicara secara langsung.
Xin Chen menatap ayahnya itu dari bawah panggung. Rasa nostalgia kembali hadir. Ketika dirinya hanyalah seorang bocah ingusan yang nakal dan melihat lelaki itu berdiri di hadapan semua orang, kebanggaan itu masih sama. Ditambah lagi, sekarang kakaknya telah resmi diangkat menjadi Pilar Kekaisaran. Tak bisa dia jelaskan lagi betapa bahagianya dirinya melihat dua orang itu menjadi sosok yang kelak akan dihormati banyak orang.
Kaisar Qin mengangkat tangan, membuat keriuhan kembali mereda seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Dikarenakan Kursi Kedua yang seharusnya diisi oleh Xin Chen kosong, maka aku akan mengubah sedikit keputusan."
Kaisar Qin mengumumkan dengan lantang. "Xin Zhan, aku menunjukmu langsung sebagai Pilar Kedua. Apakah kau bersedia?"
Xin Zhan mengangguk. "Aku bersedia."
Lalu mata tajam Xin Zhan menatap adiknya seperti ingin mencekiknya.
"Bagaimana dengan Kursi Ketiga?"
Pertanyaan yang timbul di hati semua orang itu sebenarnya telah dipikirkan matang-matang oleh Kaisar Qin. Dia memperkirakan hal ini akan terjadi dan menyiapkan satu nama yang pantas untuk posisi Ketiga ini.
"Untuk Kursi Pilar Kekaisaran Ketiga yang kosong, aku telah menyiapkan satu orang yang memiliki kemampuan hebat untuk menjadi salah satu penopang Kekaisaran Shang."
Kaisar Qin menatap sekitarnya, perlahan-lahan dan menyadari antusias rakyatnya berkurang. Entah karena sebab apa. Mereka tampaknya masih kecewa dengan keputusan salah satu anak Pedang Iblis yang saat ini terlihat tak terganggu sama sekali.
"Pilar Ketiga, seorang wanita yang terkenal dengan ilmu racun. Dan merupakan pencipta ilmu Seni Pembunuh. Merupakan pendiri Kultus Biru dan telah hidup selama 350 tahun. Pencapaiannya sudah tak terhitung, dan kemampuannya membuat dirinya layak menjadi bagian dari Pilar Ketiga. Yue Ling'er. Majulah."
Semua orang terkejut ketika nama itu disebutkan, melihat seorang wanita dengan tangan yang diselimuti kekuatan hijau agak kehitaman naik ke atas panggung. Pupil matanya tak ubahnya seperti mata ular. Dia memiliki taring. Gerakannya lamban sekaligus anggun. Tak ada yang berani bertepuk tangan. Sebab mereka tahu jejak wanita itu seberapa mengerikannya.
Memang Yue Ling'er pantas untuk kedudukan yang diberikan Kaisar Qin. Tapi wanita itu jarang berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Ratusan tahun hidupnya dia pergunakan untuk menciptakan ilmu baru, bertarung melawan siluman dan melakukan misi rahasia di bawah perintah Kekaisaran. Identitasnya sendiri selalu dirahasiakan. Sehingga banyak orang meragukan keberadaannya.
Dan kini mereka tahu bahwa keberadaan Yue Ling'er bukan sekedar dongeng. Wanita itu berbahaya. Dia bisa menjadi senjata pemusnah paling mematikan. Baik sebagai kawan ataupun sebagai lawan.
__ADS_1