Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 52 - Manusia yang Suram


__ADS_3

"Berpikirlah bagaimana caranya mengendalikan semua kekuatan ini tanpa membebani pikiranmu. Itu hanya akan menghancurkan mu seperti yang sebelumnya."


Roh Dewa Perang menghilang, melakukan serangan balik kepada Naga Kegelapan. Tubuh siluman itu meliuk-liuk di udara, saat Roh Dewa Perang lewat di bawah ekornya. Naga itu langsung menghantam kan ekor ke atas tanah.


Tercipta sebuah lubang berupa garis besar di atas tanah, retak hingga ratusan meter ke dalam. Naga Kegelapan membuka mulutnya, menyemburkan api ke dalam jurang dalam yang baru saja diciptakannya. Ukurannya cukup panjang, dan kini membentuk sebuah jurang berapi. Tanah-tanah di bawah sana meleleh menjadi lahar panas. Sementara itu, Roh Dewa Perang tak serta merta diam membiarkan lawannya bertindak.


Garis hitam kembali keluar, bergerak melingkari tubuh sang naga yang terus mengelak dari lilitannya. Roh Dewa Perang mengejar ke mana pun Naga Kegelapan terbang. Hingga pada akhirnya garis hitam miliknya berhasil menjangkau kepala naga itu.


Dengan kencang dia menarik Garis Hitam, mengeratkan ikatan tali tersebut pada musuh. Naga Kegelapan lagi-lagi berontak, mengeluarkan segala kekuatannya dengan bengis. Saat ini, mendekati Naga Kegelapan tak ubahnya seperti menggali kuburan sendiri.

__ADS_1


Naga Kegelapan membakar tubuhnya sendiri dengan Api Keabadian miliknya. Dia tak akan terbakar sungguhan, hanya saja siapa pun yang mendekatinya pasti akan mati.


Di sisi lain Roh Dewa Perang mulai terkena dampak dari Api Keabadian milik Naga Kegelapan. Garis Hitam masih melilit tubuh siluman itu, dia tak mau melepaskan walau hanya seujung kuku pun.


"Hei, manusia! Ini kesempatanmu!"


Suara raungan Naga Kegelapan bersama dengan semakin hancurnya sekitar akibat tubuh siluman itu yang terus memberontak, membuat Xin Chen mulai panik. Cakram hitam terlontar ke mana-mana, menancap di atas tanah perbukitan. Suhu di tempat itu sama sekali tidak bisa dikatakan normal lagi. Bahkan sisa-sisa dari armor dan persenjataan perang yang tersisa di atas tanah ikut meleleh.


Roh Dewa Perang mulai tak sanggup menahan panas. Dua Garis Hitam yang melilit badan Naga Kegelapan mulai terpotong dan terbakar menjadi abu. Roh Dewa Perang sendiri mulai merasakan sesuatu seperti membakar wujud rohnya. Yang seharusnya tak tersentuh. Tingkat kekuatan Naga Kegelapan memang jauh lebih berbeda. Dia tak bisa meragukan itu, karena alasan itu lah Roh Dewa Perang tak menganggap enteng pertarungan ini.

__ADS_1


Apa yang ada di pikirannya hanyalah untuk mempertahankan Xin Chen dan memenangi peperangan. Nyawa Xin Chen adalah nyawanya juga. Roh Dewa Perang telah terkurung dalam waktu yang sangat-sangat lama. Dia merindukan kehidupan, seperti halnya merindukan sederhananya hangat sinar matahari pagi.


Apa yang diinginkannya hanyalah hidup lebih lama. Meski dalam artian harus bersarang di tubuh Xin Chen.


Roh Dewa Perang dapat melihat Xin Chen mulai menunjukkan tanda-tanda pergerakan, senyumnya yang sedikit ketir menahan sakit yang mulai mendera mulai mengembang lebar.


"Setidaknya setelah perang ini bawa aku ke rumah hiburan. Arak dan wanita, benar-benar hiburan yang tidak ada duanya. Hanya manusia cuek seperti mu yang mengacuhkan hal terindah ini di bumi."


Roh Dewa Perang bisa tahu akan hal itu, karena di ingatan Xin Chen nyaris tidak ada hal-hal berkaitan dengan arak dan wanita. Hanya ambisi dan tujuan yang terus memenuhi pikiran pemuda itu.

__ADS_1


"Manusia yang suram."


__ADS_2