
Tumpahan air hijau dari tong-tong besi mengubah warna sungai dan lautan. Bercampur aduk, mengikuti arus kencang yang mengantarkannya pada perairan Kekaisaran lain.
Bom asap merebak di atas langit, para manusia menatap penuh bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Sesuatu telah dimulai, satu per satu manusia mulai terjangkit, kesakitan dan tak tahu penyakit apa yang tengah mereka idap.
Sementara itu pertarungan di Kekaisaran Wei semakin memanas. Ribuan masyarakat tumbang sama halnya dengan prajurit yang berada di bawah naungan kekaisaran. Seakan tak memiliki akhir, pertumpahan darah yang terus merenggut nyawa itu hanya akan berhenti saat salah satu di antaranya tumbang.
Getaran dahsyat membuat menara tempat Fu Hua berpijak berguncang, retakan mulai menjalar di bangunannya. Pertarungan sengit terus menerus berlangsung, Fu Hua mendapatkan sayatan tajam akibat cakar Qin Yujin. Orang itu tak lagi menggunakan pedang untuk bertarung. Namun mulai menunjukkan sisi lainnya, kekuatan yang telah didapatkannya dengan bekerja sama bersama alkemis Kekaisaran Wei.
Bekas luka suntik di tubuhnya yang sudah melewati batas wajar adalah pertanda bahwa dia telah melakukan lebih dari puluhan kali percobaan. Dan hasil akhirnya cukup memuaskan. Tubuh laki-laki itu memiliki beberapa kemampuan unik yang dimiliki terinfeksi terkuat.
Ketangkasan dan ketahanan tubuh, mereka tak merasakan sakit. Dapat bertahan baik dari segala jenis perubahan suhu, dingin atau panas hingga ke tingkat tertentu.
Lompatan tinggi menerjang dari sisi kirinya, Fu Hua mengayunkan serangan horizontal, bertekuk sebelah lutut sambil menghindari tabrakan tubuh Qin Yujin. Lelaki itu hanya mendarat dengan satu kakinya dan langsung melompat kembali. Fu Hua nyaris terkena, punggungnya berdempetan dengan pembatas jembatan. Jantungnya berpacu cepat.
Mata Qin Yujin memerah akibat besarnya kekuatan siluman yang digabung dalam tubuhnya, lelaki itu kehilangan akal manusianya. Mengubahnya seperti binatang yang haus akan pertempuran. Gadis itu mundur, merasakan firasat tak enak. Lalu terlihat Qin Yujin mengamuk dengan teriakan yang sesaat membuat kakinya gemetar.
Lelaki itu sangat berbahaya. Namun Fu Hua tak pernah berniat kalah, dia tiba di pintu menara tempatnya datang, mengambil sebuah obor api yang masih menyala di dalam ruangan dan melemparkannya ke muka Qin Yujin yang hendak menerkamnya lagi.
Qin Yujin berteriak, menyingkirkan api yang menghalangi pandangannya. Sebelum orang itu kembali melihat Fu Hua memungut sebuah tombak yang tergeletak di atas lantai. Dengan melemparnya kuat, kayu itu berhasil menembus perut Qin Yujin.
"Kau ...."
Murka habis muka Qin Yujin waktu itu, giginya yang tajam terlihat. Dia menggeram dan hendak membalas serangan Fu Hua lebih dari yang didapatnya.
"Itu baru sebagian kecilnya! Kau pantas menerima yang lebih dari itu!"
"Kau perusak semua yang telah aku rencanakan perempuan j****g! Jangan berharap kau bisa kabur!"
"Katakan itu untuk dirimu sendiri!"
Qin Yujin begitu cepat bergerak dan tiba-tiba sudah menghimpit tubuhnya, mencekik leher gadis itu dari atas. Gadis itu tersedak, berusaha melepaskan tangan kasar Qin Yujin sebelum tulang lehernya remuk tapi semakin kuat pula cengkraman laki-laki itu.
"Katakan sekali lagi?! Aku yang sudah menyelamatkanmu waktu itu dan ini balasan yang kudapat?!"
"Lepaskan aku!"
Matanya mulai berair, tangan Fu Hua mulai melemah. Dia berhenti mencakar dengan jarinya. Darah semakin mengucur deras dari lengannya.
Qin Yujin menatap Fu Hua yang telah kehilangan dayanya, sendu menghiasi kedua bola matanya.
"Di dunia ini hanya kau satu-satunya keluargaku yang tertinggal."
Fu Hua tak mau mendengarkan itu. Dia berusaha menolaknya, yang diketahuinya selama ini Qin Yujin adalah iblis berwujud manusia terjahat yang pernah di kenalnya dan tak akan pernah mau dia kenal lagi.
"Kau tahu aku sama seperti kalian, aku terbuang dan dihina. Dan kau pasti membenciku atas setiap perbuatan kejiku ke kakakmu dan dirimu."
Qin Yujin melepaskan Fu Hua.
"Tapi aku tak akan membiarkan diriku terbunuh. Waktunya semakin dekat ... Aku telah mengorbankan banyak hal untuk ini dan tak akan ada yang bisa menghentikannya bahkan aku sendiri."
"Kau bi*dab!" jerit Fu Hua sembari berusaha bangkit. Kakinya berdiri susah payah. Dia berlari sekencang-kencangnya ke arah Qin Yujin sembari menenteng pedang, benda tajam itu hendak membunuh musuhnya yang hanya terhitung beberapa meter.
Qin Yujin memegang kepalanya, merasakan sensasi terbakar yang mengalir dalam aliran darahnya. Kesadarannya menurun secara tiba-tiba, penyakit itu mulai memasuki tahap pertama. Qin Yujin tak sempat mendapatkan obat untuk menenangkan dirinya setelah tergigit terinfeksi dan kini dia telah tak sadarkan diri.
Teriakan kencang membuat Fu Hua termundur merasakan ada yang tak beres dari Qin Yujin. Sama seperti yang dia lihat dari Xin Chen, urat-urat bermunculan di tangan dan dada laki-laki itu. Matanya sangat beringas saat menatapnya, lalu begitu cepat terjadi hingga Fu Hua tak melihat jelas pedangnya telah berpindah tangan.
Tangan besar Qin Yujin menusuk dada Fu Hua, di dekat jantungnya. Fu Hua perlahan terduduk dengan pedang yang telah menembus hingga ke belakang punggungnya. Darah keluar dari mulutnya, dia memuntahkan sangat banyak. Qin Yujin ikut terduduk dengan tangan masih mencengkram gagang pedang.
Namun saat itu, ketika dia kembali membuka matanya dan melihat sesosok gadis tengah menatapnya kosong seperti mayat. Tetesan darah mengalir ke tangannya, Qin Yujin membelalak.
"Tidak mungkin, Hua'er. Apa yang telah aku lakukan? Tidak ... Tidak ... Jangan mati, aku tidak membunuhmu-"
"Aku tak akan memaafkanmu, sampai akhir hayat ku ..." Fu Hua batuk berdarah, dendam tersirat dalam tatapannya yang berubah dibakar bara.
"Semua hal baik yang kau lakukan ... Tak ada artinya setelah kau membuat hidup kami hancur."
Masih dalam kekagetan, Qin Yujin hanya diam membeku.
Tubuh Fu Hua ambruk, darah mulai menggenang di bawah tubuhnya. Saat tubuh itu terjatuh terlihat seseorang di balik tubuh Fu Hua. Sama terkejutnya.
**
Pertempuran di tempat persembunyian Shi Long Xu menyisakan sisa kepingan hancur. Kekuatan roh melingkupi satu hutan tersebut. Seorang lelaki bersama satu pelayannya berlari di tengah jalan hutan, hingga satu pemuda menghalang jalan mereka.
__ADS_1
"Kematian apa yang pantas untuk diberikan padamu?"
"Kau tak akan melakukan kebodohan yang sama seperti sebelumnya, 'kan Chen? Kau membunuh ayahku dan menyesali itu. Jika kau melakukannya lagi kau akan menyesalinya-"
"Kau yang menyuruhku membunuh Ayahmu."
Xin Chen membunuh pelayan Shi Long Xu sampai mati di tempat, sementara Rein berhasil mengejar mereka dan tiba dengan napas terengah-engah.
"Tapi tenang saja, temanku akan mewakilkan semua rasa sakit yang ditanggung rakyatmu. Rein. Kau bisa menolongku menghabisi nyawa pengkhianat ini?"
Rein yang ditawarkan itu secara tiba-tiba tak memikirkan dua kali.
"Tentu saja!"
Dia sengaja meregangkan otot leher dan tangannya hingga berbunyi. Xin Chen mengikat tubuh Shi Long Xu di pohon. Tak bisa bergerak dan terus mengoceh, Xin Chen tak mau mendengarkannya. Baginya lebih seru menonton laki-laki itu dipukuli daripada menyiksanya dengan tangannya sendiri.
Tinju Rein yang pertama mendarat menghantam tulang hidungnya sampai dia mimisan.
"Untuk adikku yang kalian culik untuk dijadikan kelinci percobaan!"
"Lalu kedua orang tuaku yang mati dalam perang!" Wajah Shi Long Xu tertoleh ke samping. Dia mendesis. Tak percaya akan tiba di posisi menyedihkan seperti ini.
"Untuk Ketua Qiu yang mati oleh makhluk ciptaan kalian!"
Bibir Shi Long Xu pecah dan berdarah, wajahnya mulai lebam sana-sini.
"Dan terakhir," ucapnya mengeluarkan sebuah pisau dari mantelnya yang kumal. Meminta Xin Chen melepaskan ikatan tali yang membelenggunya. Membuka baju atas lelaki itu.
"Saat aku selamat kubalas semua ini seratus kali lebih menyakitkan untuk kalian ..."
"Kau pantas mendapatkan perlakuan hina seperti ini." Rein mengatakan sinis.
"Ada yang lebih pantas. Untukmu nanti."
Rein mengiris punggung belakangnya dengan pisau, menuliskan sebuah kalimat; 'AIB'
Xin Chen tersenyum puas. Rein tertawa senang, "Hei ... Ketua Qiu pernah mengatakan akan mencoret punggung Kaisar dengan tulisan ini dan saat itu aku bilang itu tak akan mungkin terjadi."
"Kau telah membantu kami sampai akhir kawan, aku tak tahu bagaimana cara berterima kasih pada orang baik sepertimu karena aku pun belum pernah menemukannya."
"Saatnya untuk penghakiman yang lebih pantas untukmu."
Shi Long Xu dengan cepat dibawa ke sebuah bangunan tertinggi di Sentral Pusat, terdiri atas sebelas lantai. Mereka tiba di atas dan dapat melihat lautan terinfeksi yang bukan main. Dentuman besar terdengar dari kejauhan, Shi Long Xu yang sudah babak belur menyeloteh.
"Sudah terlambat hahaha andai pun aku mati sekarang kupastikan kalian akan mati tak lama lagi. Tidak ada yang bisa menghentikan malapetaka ini, bahkan kau sekalipun!"
Dentuman lainnya terdengar. Seolah sebuah tembok besar tengah dihancurkan. Lalu dalam waktu cepat, sebuah tsunami besar melanda kota-kota dan desa-desa. Lautan mayat tumpah ruah membanjiri jalanan, Labirin Kematian telah ambruk. Para terinfeksi mengganas. Xin Chen tak tahu apa yang telah Shi Long Xu lakukan.
Namun keadaan itu sangat-sangat gawat, lebih dari yang dilihatnya di kota sebelumnya. Terinfeksi itu bergerak sangat cepat dan menyebar ke mana-mana. Matanya tertuju ke satu jalan yang begitu jauh, di mana dia melihat tiga ratus ribu lebih terinfeksi bergerak ke dinding benteng Kekaisaran Wei. Tempat itu adalah satu-satunya pembatas antara Kekaisaran Wei dengan Kekaisaran lain
Jika mereka dapat menghancurkan dinding itu maka habislah sudah, tak akan ada yang selamat dari bencana ini.
"Matilah kau!"
Rein keburu naik pitam dan mendorong Shi Long Xu, lelaki itu berteriak dan terjatuh menjadi santapan terinfeksi.
Angin berhembus begitu kencang, hawa-hawa mematikan mulai membuat tengkuk siapa pun merinding bahkan Rein yang telah bertahun-tahun melihat musibah ini ikut ketakutan.
Dia tak pernah melihat gelombang manusia sebesar ini sebelumnya, sedikit terdengar suaranya bergetar. "Mungkin ini adalah akhir dari segalanya. Kita akan musnah."
"Tidak ... Pasti ada cara."
Xin Chen melihat ke bawah, banyak manusia-manusia yang tak selamat. Mereka tergigit dan paling buruknya digerogoti sampai hanya tersisa tulang. Mahkluk itu mengganas. Hingga meruntuhkan banyak bangunan dan tiang-tiang.
Rein duduk di atas sana, tak melepaskan pandangan ke bawah.
"Pada akhirnya kita semua akan mati."
Dia menunjuk ke depan. "Itu orang-orang yang dibawa Xe Chang."
Dan mereka tak terselamatkan lagi. Namun di antara kacaunya keadaan di sekitar Xin Chen mendapati seseorang tengah berlari ke arah mereka, dia membawa Jamur Api di tangannya- benda yang dia dapatkan saat menyelamatkan Fu Hua dan tergeletak begitu saja di sisi gadis itu.
Xe Chang naik ke atas bangunan dengan sebuah tangga besi, begitu buru-buru. Hingga sampai ke atas dia tak menarik napas dan langsung berkata, "Salah satu anggota ku melihat Fu Hua!"
__ADS_1
Tentu mereka heran, sebab di dalam rombongan sebelumnya gadis itu tak terlihat.
"Di mana dia?"
"Bertarung dengan Qin Yujin! Di menara kembar yang terletak di timur Sentral. Kau harus melihatnya, dia sedang terpojokkan dan hampir dibunuh!"
Xin Chen tak membuang waktu lagi dan segera ke sana. Dengan kekuatan roh yang telah stabil tak sulit lagi mengendalikannya. Melewati jalan-jalan kota dan membunuh apa pun yang dilihatnya, Xin Chen akhirnya menemukan tempat yang dimaksud Xe Chang dan ketika melihat ke atas benar seperti apa yang disampaikan. Pertarungan sengit antara Fu Hua dan Qin Yujin tengah terjadi dan gadis itu penuh luka berat.
Dia bergerak secepat mungkin dan saat tiba di tempat di mana Fu Hua berada, semuanya telah terlambat. Xin Chen melihat Fu Hua tewas di tusuk di jantung dan sudah pasti Qin Yujin yang membunuhnya karena dia menggenggam pedang di tangannya.
Diam dan hening. Xin Chen tak tahu semua akan menjadi seburuk ini. Fu Hua memutuskan untuk membunuhnya sendirian, sama seperti yang dia katakan ketika pertama kali sampai di Kekaisaran Wei.
Dia tak bisa menerima kematian itu. Matanya menatap nyalang ke arah Qin Yujin yang perlahan mundur. Matanya masih melotot memerah.
"Ini semua salahmu ... Aku tak membunuhnya, kau yang membunuhnya!"
"Lalu pedang di tanganmu itu apa?!" Xin Chen mengeluarkan pedang, mulai mempercepat langkah untuk mengambil kepala Qin Yujin.
"Seandainya obat itu diberikan padaku maka aku sembuh dan tak akan kambuh begini, aku tak akan membunuhnya!"
"Kau membunuhnya ..." Kalap. Xin Chen sampai hampir melewatkan satu suara memanggilnya. Dia segera berbalik badan, melihat Fu Hua masih bergerak walau sangat lemah.
Xin Chen tak ingin melepaskan Qin Yujin tapi saat ini mungkin adalah detik terakhir di mana dia bisa melihat Fu Hua. Seperti dugaannya saat dirinya kembali ke tempat Fu Hua terbaring Qin Yujin melarikan diri, Xin Chen bersumpah akan mencarinya sampai mati setelah ini.
"Fu Hua, kau baik-baik saja?"
"A-aku baik-baik sa...." Perkataannya tertahan sebab darah di tenggorokannya membuatnya tersedak.
"Hanya sebuah luka kecil, aku akan menyembuhkannya."
"Tak akan bisa... Berhenti mengatakan itu," Fu Hua meneteskan air mata, "hei, kalau aku mati makamkan aku di sebelah makam kakakku. Berjanjilah untuk itu."
"Kau tak akan mati."
Terlihat senyuman getir, dia meringis kesakitan. Tahu ajalnya tak lama lagi.
"Aku akan terus hidup. Tapi untuk sekarang aku butuh tidur."
Xin Chen berusaha menyelamatkannya, tapi semua itu sia-sia. Mata safir yang begitu indah itu perlahan tertutup bersama setitik air mata terakhir yang menjadi penutup usianya. Xin Chen hanya bisa diam, tapi isi pikirannya berkecamuk hebat. Perginya Fu Hua membuatnya terpukul begitu dalam.
Gadis itu tak bergerak atau bernapas lagi. Xin Chen mengepalkan sebelah tangannya, merasa tak berguna. Andai dia tahu lebih cepat dan menghentikan Fu Hua semua ini tak akan terjadi.
"Katakan bagaimana cara aku menyelamatkanmu," ucapnya lemah, Xin Chen menatap wajah yang begitu pucat itu. Berharap mendapatkan jawaban dari sana, meski bisu membuatnya terperangkap kesedihan mendalam.
Dia memangku kepala Fu Hua yang basah oleh darah, rambut gadis itu tergenang oleh darahnya sendiri. Melihat luka di sekujur tubuh gadis itu, Xin Chen tahu Fu Hua bertarung keras di belakangnya. Dan sekarang dia terlambat untuk menyadari itu semua. Bahwa gadis itu selalu berusaha menyelamatkan nyawanya, ketika di Lembah Para Dewa dan kekuatan Xin Fai hampir membuatnya terbunuh. Dia begitu putus asa saat itu dan secara tiba-tiba Fu Hua datang.
Sosok yang tak pernah disangkanya akan menyelamatkannya lagi ketika penyakit menggerogoti tubuhnya sampai sekarat dan kehilangan kendali. Xin Chen tak sempat berterima kasih dengan baik, tak sempat membalas kebaikan gadis itu, dan bahkan tak memiliki kesempatan untuk meminta maaf. Penyesalan selalu datang di akhir. Dan di titik itu, kemarahannya terhadap Qin Yujin semakin membesar.
Guncangan di bawah menara semakin kalut, getaran itu menyebabkan retakan hebat. Di luar sana benteng yang dijaga para prajurit telah hancur hanya tersisa tembok tinggi yang mulai dipanjati piramida mayat raksasa. Tak ada satu pun manusia yang selamat di perbatasan. Mereka semua tersikat habis sebelum sanggup melarikan. Menara itu akan hancur dalam hitungan menit lagi tapi Xin Chen masih setia berada di sana, berbicara dengan seseorang yang telah menyelamatkannya dari banyak hal. Meski pada nyatanya dia hanya berbicara sendiri.
"Biasanya aku selalu berhasil menyelamatkanmu dan menghitungnya sambil mengomelimu." Nadanya bergetar, mengharapkan keajaiban yang semu. Agar gadis itu bangun.
"Tapi setelah ini aku tak akan menghitungnya. Dua kali, seratus kali atau seribu kali pun. Aku akan tetap melakukannya. Jangan berhenti sekarang, perjalanan kita masih begitu panjang."
Dingin, wajah Fu Hua begitu dingin saat itu. Tak terdengar jawaban seperti yang dia harapkan. Dia menunduk.
"Kau sendiri yang bilang akan selalu memperhatikan langkahku. Maka tetaplah di sini," ucapnya tertahan.
Begitu sulit melepaskannya, Xin Chen tak akan siap jika gadis itu telah tiada. Perjalanan panjang di Kekaisaran Wei menyisakan duka kembali, dan dari semua orang, Fu Hua lah yang harus tumbang.
"Dan jangan pergi."
***
A/N: Aaa bakal kenak bacok reader nih author, kaborrr๐๐ปโโ๏ธ๐๐ปโโ๏ธ
Kok aku deg-degan yak habis tulis ini๐ duhh, dag dig dug serrr
Wahai reader yang budiman, cantik/gantemk. Maapkan author ini, kadang malas nulis romance tapi sekalinya bikin malah sad. Amoeba ini begitu dengki ketika melihat para couple soalnya
Selamatin kaga nih Fu Hua, tulis di kolom komen yak huahaha
///tertawa jahad
__ADS_1