Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 181 - Kertas Berdarah


__ADS_3

"Grrrrhh ..." Lang menggeram kesal.


"Rrrarrgh!" Kemudian Ye Long ikut mengamuk.


Sementara itu, salah satu korban akibat perseteruan mereka hanya bisa menelan ludah.


"Berhenti kelahi kalian. Ini sudah malam, kalau tidak aku saja yang tidur di lantai."


Perkara tempat tidur saja, Xin Chen harus menjadi korban. Dua siluman itu berdesak-desakan ingin tidur di kamarnya. Tidak ada tempat lain yang bisa menampung Lang dan Ye Long. Dan sekarang, Lang baru saja merebut tempat tidur Ye Long dan Ye Long yang tidak mau mengalah berontak.


Akhirnya Ye Long tidur di atas kasur dan Xin Chen entah harus pergi ke mana. Dia keluar dari kamar, membiarkan dua siluman itu ribut sendiri.


Tengah malam, di depan rumahnya sudah sepi total. Namun Xin Chen memilih untuk duduk di depan rumah, menikmati kesunyian dalam kesendirian. Dia merogoh saku, berniat mengambil sesuatu dan malah mengeluarkan secarik kertas lusuh dengan kode dan tulisan aneh lainnya.


Xin Chen hampir melupakan itu. Dia mengambil kertas yang terlipat di dalamnya, tulisan itu telah diartikan Lang. Mereka mendapatkannya di sebuah buku berisi penelitian wabah yang meruak di Kekaisaran Wei. Satu kalimat di dalamnya,


'Berawal dari Hu Yaongi, Teluk Barat, 206 mil.'


Xin Chen menatap lama kertas itu sembari mencerna apa yang dimaksud penulis itu, sebab ketika dirinya mendapatkan kertas tersebut terdapat noda darah yang menetes di atasnya.


Kemungkinan terbesarnya, orang itu terbunuh ketika sedang menulis buku tersebut. Dia teringat pernah mendapatkan peta Kekaisaran Wei, membukanya lebar-lebar dan mencari-cari satu tempat bernama Hu Yaongi.


Beruntung di secarik kertas itu, terdapat sebuah tanda mata angin, yang membantunya lebih cepat mendapatkan lokasi tersebut.


Xin Chen mengerutkan dahi.


Hu Yaongi dan desa di mana Laboratorium A-3 berada sangat-sangat jauh. Jika wabah berawal dari sana, berarti informasi yang mengatakan bahwa Laboratorium A-3 adalah awal mula dari wabah adalah salah.


Xin Chen berpikir lama. Pasti ada petunjuk di Teluk Barat, Kota Hu Yaongi. Dia ingin mencari tahu soal itu, tapi permasalahannya adalah keadaan sangat berbahaya. Belum terhitung dia sedang diburu dan juga Xin Zhan sudah pasti akan mencegatnya.

__ADS_1


Urusan Kekaisaran Wei bukanlah urusannya, Xin Zhan pasti akan mengatakan itu. Tapi pada dasarnya Xin Chen paham, kakaknya itu hanya menginginkan keluarganya utuh tanpa kurang seorang pun.


Mata biru itu melirik ke belakang, dari kolam kecil di bawahnya Xin Chen dapat melihat pantulan dirinya sendiri.


Dia melihat seorang pembunuh.


Lalu, berpaling pada sebuah rumah yang indah dan nyaman itu.


Pikirannya kacau. Seorang pembunuh sepertinya dibiarkan hidup di dalam sebuah rumah yang aman, dia hanya akan membawa masalah dan kemalangan. Semakin lama dirinya berada di sini, semakin dekat musuh tiba. Xin Chen tak mau membayangkan jika suatu saat dedaunan indah di halaman rumahnya harus terciprat oleh darah. Atau melihat tubuh salah satu anggota keluarganya tergeletak tak bernyawa.


Karena dirinya.


Dia mengepalkan tangan, memalingkan muka ke sisi lain. Takut akan dirinya sendiri, yang bahkan tak bisa melindungi keluarganya dari bahaya. Karena dirinya sendirilah bahaya tersebut.


Namun dari semua hal yang telah terjadi, Xin Chen bersyukur dia bisa menepati janjinya kepada Ren Yuan; membawa Xin Fai kembali ke rumah dengan selamat. Rubah Petir telah diselamatkan dan dia berhasil menaklukkan Naga Kegelapan.


Tapi semua itu masih terasa abu-abu. Tujuannya masih dalam bayang-bayang.


Perlahan dia menggulung kembali peta dan kertas.


"Semua itu tak akan terjadi jika aku terus duduk diam di sini."


Xin Chen tak memiliki waktu untuk beristirahat, dia segera keluar dari pagar dan berjalan menuju satu tempat.


Kediaman Klan Zing. Salah satu klan termasyhur turun temurun di Kekaisaran, pengaruh mereka dari leluhur sampai ke cicit-cicitnya tak pernah terputus. Lukisan wajah mereka bahkan di pajang di aula Kekaisaran. Sejauh ini, tak pernah ada yang mau mencari perkara dengan keluarga ini. Karena diyakini, mereka memiliki pembunuh sewaan.


Satu permasalahan timbul saja, apalagi sampai mencoreng nama mereka, bisa habis lawannya tak sampai satu malam. Sedari kecil Xin Chen pernah beberapa kali bertemu dengan sosok bernama Zing Yongxe ini, dia kerap hadir dalam acara penting dan rapat-rapat.


Di usia seuzur itu sudah pasti Zing Yongxe memiliki kenalan dan kerabat yang luas. Bahkan bukan hanya di Kekaisaran Shang saja, bahkan hingga Kekaisaran Qing saja dia memiliki koneksi yang erat dengan bangsawan dari sana.

__ADS_1


Puluhan pengawal berkeliling di kediaman yang luas itu, banyaknya pencahayaan membuat seisi tempat itu terang. Tak menyisakan satu jalan pun untuk menyusup. Bahkan di bagian pintu gerbang yang menjadi jalan masuk ke deretan rumah megah klan Zing dijaga hampir sepuluh laki-laki berperawakan tinggi besar.


Melihatnya saja sudah pasti mereka bukanlah penjaga sembarangan. Mereka terlatih, bahkan suara ranting pohon jatuh saja masih dapat disadarinya.


Mata salah seorang penjaga itu menangkap sesosok bayangan hitam tengah berdiri di luar pagar. Tak terlihat jelas wajahnya sebab di bagian itu jangkauan lampu pencahayaan tidak sampai ke sana.


Salah seorang dari mereka mendekat dengan kayu obor di tangan, tentu perlahan dan hati-hati.


Tangannya bergetar memegang obor. Sampai-sampai giginya bergemerutuk kencang, dia tergagap hingga jatuh terduduk.


Bagaimana tidak, sosok hitam itu tampak nyata berdiri di depan pagar. Namun terangnya cahaya obor tak memantulkan sedikit pun bayangan darinya. Hanya ada wujud hitam mengerikan mematung di depannya, sesekali terlihat dia bergerak. Membuat suasana menyeramkan yang kian menjadi.


"Se-setan!!!"


Laki-laki yang jatuh terduduk tadi tak menghiraukan api obor yang telah jatuh dari tangannya dan langsung merangkak berlari ke kawannya yang lain. Mereka berbondong-bondong mengecek, dari kejauhan sosok bayangan itu terlihat menyatu dengan bayangan hitam pepohonan.


Sekiranya jarak menipis, bayangan itu menghilang tanpa menyisakan jejak.


Kontan mereka terdiam, tak ada yang mau mengeluarkan suara sampai pagi menjelang.


Zing Yongxe di kediamannya dibuat cemas oleh laporan yang dibawa oleh penjaga gerbang klan. Cukup lama dia duduk tepekur menandatangani kontrak persetujuan dan berbagai kertas lainnya. Dan dia sendiri tak cukup istirahat belakangan, sebab tamu tak pernah absen mendatangi rumahnya.


Pagi buta itu dia tetap terjaga dari tidurnya, merasakan hawa seram yang begitu kental seakan-akan sedang mengintai di balik punggungnya. Lelaki yang punggungnya sudah bungkuk itu menoleh kanan kiri, merapatkan punggungnya dengan dinding sebagai antisipasi jika seseorang menusuknya dari belakang.


Setelah memperbaiki tempat duduknya, Zing Yongxe kembali fokus dengan lembaran di atas meja.


Dia melemparkan kertas itu sampai menumpahkan tinta di sebelahnya karena begitu kaget.


Di lembaran kertas itu tertulis sebuah tulisan berantakan berdarah,

__ADS_1


'Jika langit tak bisa menghukummu, maka hukumku yang akan mematikanmu.'


__ADS_2