
Bukan hanya Bai Huang, Nan Ran juga kehilangan saudarinya dalam peperangan tersebut. Meski tangisnya tak sebegitu menyakitkan seperti hari-hari sebelumnya tetap saja Nan Ran sedih. Adik yang telah dijaganya melebihi nyawanya sendiri itu gugur, meninggalkannya sendirian di dunia.
"Kau tak pernah sendiri. Kami semua adalah keluargamu. Yang harus kau lindungi dan juga akan menjagamu dari marabahaya."
Di sana Xin Chen sempat bertemu dengan Wei Feng dan juga Yu Xiong di mana terakhir kali mereka bertemu saat misi di Kekaisaran Qing. Mereka masih hidup dan diselamatkan oleh jenderal perang sewaktu kawanan musuh hendak membunuh keduanya karena berkhianat. Itu adalah berita baik untuk Xin Chen meski dirinya harus menerima omelan maut dari Wei Feng. Sang pemanah itu tampaknya benar-benar marah. Apalagi mengetahui Xin Chen akan pergi ke Kekaisaran Wei tanpa mengajaknya.
Tapi Wei Feng cukup sadar diri. Dia tahu rimba di sana bukanlah lagi rumah yang dulu dia ketahui. Berpuluh-puluh tahun di Kekaisaran Shang, banyak hal terjadi di sana. Bahaya telah menukik hingga tingkat paling bahaya.
Xin Chen mengumumkan untuk sementara kursi pemimpin akan diisi oleh Huo Rong selama kepergiannya. Mereka tak berkeberatan sebab keputusan Xin Chen pasti memiliki alasan. Dan seperti biasa, Lan Zhuxian akan menjadi partner Huo Rong. Pemuda itu memiliki jiwa pemimpin yang besar dan mampu melayani tuannya. Tapi jika dia dijadikan seorang pemimpin, Xin Chen yakin Lan Zhuxian tak akan mampu. Dia membutuhkan seseorang di depannya untuk bisa bergerak dan mengambil keputusan.
Usai berpamitan dengan seluruh anggota Empat Unit Pengintai, Xin Chen lekas pergi tanpa membuang-buang waktu. Dia, Luo Li dan Lang segera mengikuti kapal yang hendak mengantarkan mereka pada desa perbatasan antara Kekaisaran Shang dan Kekaisaran Wei.
Dua malam berlalu, kapal baru bersandar di pelabuhan di mana Xin Chen dapat melihat puluhan orang dengan wajah yang tampak asing. Terbiasa bersama orang Kekaisaran Shang membuat Xin Chen lebih peka terhadap wajah kekaisaran lain. Dan cara berpakaian orang-orang perbatasan ini mungkin mengikuti orang-orang Kekaisaran Wei.
Pakaian mereka cenderung lebih sederhana. Mungkin untuk mendukung pergerakan mereka agar lebih leluasa. Cara menatap yang penuh curiga dan was-was, serta cara berbicara yang begitu keras. Tidak ada lemah lembutnya sama sekali, itu juga berlaku untuk para wanita.
Sikap dan watak yang keras. Penampilan apa adanya dan tak begitu ramah pada orang asing.
Luo Li mengenal salah satu di antara mereka. Seorang laki-laki dengan pakaian khas nelayan, peluh membasahi seluruh tubuhnya sehingga saat lelaki itu bergerak heboh air keringatnya bertebaran di mana-mana. Dia membalas sapaan Luo Li dengan teriakan besar, tertawa-tawa.
"Kau datang lagi. Hhaha."
__ADS_1
"Aku membutuhkan bantuanmu untuk akses masuk ke Kekaisaran Wei."
"Ah ..." Wajahnya yang semula ceria berubah mendung, bola mata yang keruh kekuningan itu menyusuri seisi pelabuhan dan matanya benar-benar tak menunjukkan harapan.
"Terakhir kali yang masuk tak pernah ada kabar lagi. Entah mereka selamat atau tidak. Dan resiko semakin besar. Aku akan tertangkap jika yabg kedua kalinya gagal, mereka pasti akan membunuh ku sampai mati berdiri."
Nelayan itu mengibaskan tangan, "Lupakan saja soal masuk ke Kekaisaran Wei. Seharusnya kau bahagia bisa lepas dari sana dan mencari tempat lain yang lebih layak." Dia menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "bisa-bisanya kau kembali saat ratusan ribu orang di sana menjerit ingin lepas dari Kekaisaran Wei."
"Aku harus menemui guruku. Dan aku membawa seseorang yang ingin menemuinya juga."
Nelayan itu berhenti dengan tangkapan ikannya, menatap Xin Chen seolah-olah mengatakan bahwa pemuda itu sedang melakukan hal konyol.
"Hei, nak. Aku peringatkan kau sebelum terlambat." Dia menunjuk ke belakang, menunjuk Kekaisaran Wei. "Di sana, kau akan mati. Entah karena kelaparan, wabah, mayat hidup atau oleh keparat bersenjata. Kemungkinan orang baru bertahan hidup di sana hanya lima belas persen. Kau bayangkan!"
"Kau juga membawa peliharaan? Berdoa saja dia tak dijadikan kelinci percobaan yang tubuhnya dicocok tanam oleh peneliti gila itu."
"Sepertinya mulutmu itu yang harus dicocok tanam lebih dulu. Pasang di lubang pantat misalnya, supaya ocehan tak bergunamu itu tak begitu membuatku pekak."
Lelaki itu terdiam mengartikan omongan Lang barusan. Warna wajahnya tersinggung berat. Xin Chen berdeham.
"Maafkan serigala ini, dia baru saja makan racun, omongannya jadi melantur begini."
__ADS_1
Nelayan itu berusaha untuk tertawa meski hatinya sedikit tak suka. Melanjutkan negosiasinya dengan Luo Li yang sedikit alot. Situasi di dalam Kekaisaran Wei sedang tidak stabil menurutnya, ada beberapa penjaga yang ditempatkan di lokasi penting. Tak ada jaminan untuknya selamat jika membantu Luo Li dan dua temannya masuk.
Tapi penawaran harga yang ditawarkan Xin Chen selanjutnya membuat lelaki itu sedikit melunak. Setidaknya sesuai dengan harga yang dikorbankannya.
"Tapi ..." Lelaki itu mulai tak yakin. "Kesempatan kalian sampai di sana sangat kecil. Aku tak bisa menjamin aparat itu tak menangkap kalian. Akhir-akhir ini Kaisar memperketat pengawasan, aku tak tahu alasannya. Tapi aku sempat melihat satu rombongan yang membawa satu orang pria asing menuju gerbang istana. Sepertinya jarang sekali melihat Kaisar berkomunikasi dengan orang luar."
Xin Chen menangkap penjelasan itu dengan sebuah dugaan di kepalanya, tapi rasanya itu tak mungkin sebab pergerakan ini terlalu cepat dilakukan orang tersebut.
"Kau tahu siapa dia?"
"Tak tahu dan tak mau tahu." Jawaban singkat itu mengakhiri perbincangan, lelaki itu melihat kanan kiri sejenak.
"Aku akan cepat. Terowongan itu mungkin telah diawasi, kalian berhati-hatilah dengan asap beracun atau apa pun yang berbahaya. Sekali tertangkap, nasib kalian akan malang sampai akhir hayat."
Peringat lelaki itu ketika mereka tiba di sebuah terowongan yang tersembunyi, berada di belakang rumah kosong dan dilapisi besi tebal dan amat berat.
"Aku tak akan membuka terowongan ini lagi setelah kalian. Jadi jangan berpikir untuk kembali setelah melangkahkan kaki ke dalam."
Xin Chen mengangguk paham, dia hendak masuk dengan segera ke dalam terowongan itu. Namun lelaki tersebut menahan tangannya, dan benar saja, tangan itu terasa begitu dingin.
"Aku tahu kau memiliki kekuatan roh," ucapnya, "Sebaiknya jangan menggunakan kekuatan itu terlalu banyak. Di dalam sana ribuan alkemis dan peneliti gila sedang gencar-gencaran mencari manusia sepertimu. Mereka menciptakan alat-alat tak masuk akal yang bisa membuatmu kehilangan kendali atas tubuhmu sendiri. Berhati-hatilah, atau kau akan mati sebelum menemui orang yang kau cari."
__ADS_1
Dia melepaskan tangan sebeku es itu, memerhatikan Luo Li dan Lang masuk bergantian. Tak ada lagi kata yang terucap darinya hingga akhirnya satu-satunya cahaya yang menerangi terowongan itu menghilang. Mereka melihat ke depan, Lang memimpin ke depan
"Seperti yang dia katakan. Sembunyikan kekuatan roh itu. Aku akan melacak jalan keluarnya. Ikuti aku."