Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch 260 - Kekuatan yang Membakar Matahari X


__ADS_3

Xin Fai tiba, sudah berusaha datang secepat mungkin tapi yang didapatinya di adalah hal yang tak akan pernah ingin dilihatnya. Setelah hampir tewas oleh Ratu Iblis, kali ini Xin Chen juga mengalami hal sama di tangan Qin Yujin. Saat menyadari tak tersisa sepenggal napas pun dari putra keduanya Xin Fai tidak bisa membedakan lagi mana benar dan salah.


Dia hanya ingin membunuh Qin Yujin, dengan kemurkaan yang telah meluap mendidihkan darahnya, pembalasan itu memang tak berarti apa-apa, namun luka besar di hatinya harus segera dituntaskan. Qin Yujin harus mendapatkan ganjaran yang setimpal atas kematian anaknya.


Melihat Xin Fai mulai menggencarkan serangan besar-besaran Qin Yujin tidak tinggal diam, dia mempertahankan diri dan ikut membalas. Merasakan kemarahan yang sama pada Xin Fai, semua ini adalah karena lelaki itu.


Andai hari itu Xin Fai tidak membuatnya masuk dalam penjara, semua tidak berarti seburuk ini.


Dengan kekuatannya Qin Yujin mengangkat kepingan reruntuhan gunung ke atas kepala, bebatuan itu melesat cepat menyerbu Xin Fai. Laki-laki itu menerobos dengan menyerangnya lurus, tak peduli satu per satu goresan melukainya. Tinju terbakar oleh kekuatan terhebat yang tak pernah dia keluarkan semenjak terakhir kali mengalahkan Naga Es.


Bunga Api Merah berkobar bersama dengan amarah yang makin menggila, Xin Fai tidak mau berpikir waras lagi. Anaknya menjadi korban dan harus merenggut nyawanya. Mata cokelat keemasannya basah, lelaki itu terlihat seperti ingin menangis namun dia tahan sekuat mungkin di depan musuh.


Xin Chen adalah anak yang paling mudah akrab dengannya, dibanding Xin Zhan yang kaku dan lebih akrab dengan Ren Yuan. Ketika orang lain melihat mereka berdua sedang bercanda, malah lebih terlihat seperti teman sebaya daripada anak-ayah. Xin Chen selalu memanggilnya Kapten, meski dia tahu ayahnya adalah seorang Pilar terhormat.


Anak itu selalu membuat bahunya semakin kuat untuk menopang Kekaisaran Shang. Melihat Xin Chen kecil yang begitu mudah tertawa dan menangis, menjadi penyemangat saat tubuhnya kelelahan. Dan sekarang putranya itu bergantian dengannya, berdiri di depan musuh dan melindungi orang lain di belakangnya meski harus kehilangan nyawa.


Kepalan tangannya mengerat tidak terima, Xin Fai menyerang langsung dari depan. Sesaat dia berpikir mampu mengenai Qin Yujin. Namun dia salah, laki-laki itu jauh lebih hebat dari dugaannya, karena itu mungkin Xin Chen tak sanggup mengalahkannya.


Xin Fai menendang bebatuan yang dilemparkan Qin Yujin balik, belasan ribu pisau cahaya menyerbu lelaki itu, rantai api neraka keluar dari tanah dan naik hingga ke atas udara. Semuanya hanya untuk mengenai Qin Yujin. lawannya tak mau mengalah, seluruh kekuatannya dia gunakan untuk serangan berskala besar. Tiga jam lamanya pertarungan, Xin Fai berhasil mengenai dada Qin Yujin sekali. Sementara tubuhnya dua kali terkena cahaya iblis, meski begitu Xin Fai memiliki pertahanan yang cukup kuat sehingga dengan perisainya dia hanya terkena 30% dari serangan asli.


Mulai babak belur, Xin Fai yakin musuhnya juga mulai kewalahan. Dia menatap ke tubuh Xin Chen yang terbaring, begitu dingin dan kaku di sana. Giginya bergemerutuk hebat, dia harus mengakhiri ini secepatnya.


"Kitab Terlarang - Perpindahan Ruang Dimensi," ucapnya, Qin Yujin waspada. Tak bisa dibohongi, melawan Xin Fai yang sedang dilalap kemarahan seribu kali lebih mengerikan daripada lelaki itu biasanya. Kekuatan yang bahkan sangat besar dari iblis bisa dikuras habis-habisan oleh lelaki itu.


Xin Fai datang dari samping, Qin Yujin menangkis. Dia menghilang lagi. Kemudian muncul dari ruang kosong di belakang Qin Yujin.


Tangan Xin Fai terlihat jelas, Qin Yujin beraksi. Xin Fai kini berada dalam jarak jangkauannya, dengan begitu dia dengan mudah membunuh menggunakan kekuatan cahaya ledakan. Namun saat dia sedang mengumpulkan kekuatan, lelaki itu seutuhnya menghilang.


"Tidak mungkin-!"


"Kau salah," ucap Xin Fai menebaskan pedang ke kepala Qin Yujin. Kepala itu jatuh berguling di atas tanah, bercucuran darah masih dengan mata melotot. Xin Fai menghempas tangannya, membuat noda darah di pedang terciprat ke tanah.


"Aku tidak akan memaafkanmu, kau adalah manusia terbusuk yang pernah kutemui."


"Manusia busuk ...? Hahaha," tawa Qin Yujin meski kepalanya telah terpisah dari tubuh.


"Ada yang bilang manusia baik itu lebih cepat mati daripada manusia busuk sepertiku."

__ADS_1


Dia tersenyum sangat lebar sampai sudut bibirnya berkerut. Sangat mengerikan.


Kepala dan tubuh iblis itu berubah menjadi sesosok iblis biasa. Itu bukanlah Qin Yujin, Xin Fai tertipu. Lelaki itu menggunakan jurus perubahan, salah satu jurus yang jarang ditemuinya. Xin Fai membelalakkan mata, mengetahui ancaman sudah mengintai di belakangnya.


"Manusia baik harus cepat-cepat mati. Biarkan yang busuk ini menertawaimu dari sini."


Qin Yujin mengarahkan tangannya ke arah Xin Fai, di saat bersamaan sebuah mantra muncul. Menjadi pertanda salah satu serangan paling mematikan Qin Yujin. Mantra kuno itu berputar dan mulai bercahaya.


Ketika cahaya keluar dari tangan Qin Yujin dan menembus mantra di udara, seketika sebuah cahaya ledakan iblis terbesar keluar. Xin Fai membalikkan badan dan melihat bahwa kini keadaan berbalik begitu cepat.


"Perisaimu tak akan mampu menahan serangan ini. Pergilah mati bersama putramu." Tatapan matanya dingin, Qin Yujin tak peduli lagi. Dia telah menyelesaikan dendamnya dan dunia ini akan hancur setelah kedua penghalang itu tiada.


*


"Kenapa kau bersedih?"


Xin Chen yang masih kecil tertegun, tatapan polosnya mengarah ke seorang lelaki dengan senyum konyol. Sinar di belakang laki-laki itu membuat bayangan gelap menutupi wajahnya, lelaki itu berdiri di lubang goa tempat di mana Xin Chen berada. Lelaki itu adalah Lan An, sahabat terbaik ayahnya.


"Semua orang mengejekku," ucapnya, pipinya memerah karena menangis berjam-jam. Hari itu, para Guru di Lembah Kabut Putih mengetes kemampuan para pendekar muda. Hanya dia yang belum mampu menguasai jurus dasar. Orang-orang mengejeknya dan menyeretnya ke tempat itu sampai dia tersesat dan ketakutan.


"Kau itu anak yang kuat, mana mungkin kalah secepat itu!"


"Di mana aku.."


Xin Chen seperti tenggelam dalam sebuah lautan tanpa ujung, hanya ada seberkas cahaya dari atas, membias hingga ke wajahnya. Dia kehilangan napas, tubuhnya mati rasa tak mampu berenang ke atas.


Saat itu, dia hanya bisa menerima bahwa semuanya telah berakhir.


Mata birunya telah berubah menjadi cokelat kembali, warna semula sebelum Api Keabadian mengubahnya. Seluruh kekuatannya perlahan hilang. Xin Chen tenggelam semakin dalam hingga ke dasar.


Hanya tersisa Bunga Api biru yang masih menyala.


"Benarkah semuanya sudah berakhir?" suaranya serak, berharap masih ada harapan kecil yang bisa dipercayainya. Tangannya yang mencoba meraih cahaya matahari di atas terkepal, perlahan tulang-tulang dan darahnya akan melebur bersama lautan itu. Xin Chen tidak tahu apakah kematian sedang menjemputnya.


Tekanan air dari atas membuatnya semakin tenggelam ke dasar.


"Aku masih ingin bertarung, aku menyesali banyak hal, sialan. Aku ingin kembali ... Persetan dengan mati. Biarkan aku kembali bajingan-"

__ADS_1


Xin Chen memaksa tubuhnya bergerak, ketika itu rantai datang entah dari mana dan mengikat kaki serta tangannya.


Sesal di dalam dadanya kian menggebu, Xin Chen belum sempat berterima kasih dengan baik ke makam Lan An, menemani ibunya setiap hari, menghormati Xin Zhan sebagai saudara tertuanya dan bahkan menurut kepada Xin Fai. Dia ingin kembali untuk memperbaiki itu semua.


Di luar sana ada ribuan tangan yang mengharapkan uluran tangannya, Xin Chen tak bisa membiarkan mereka mati. Dia seharusnya tidak mati secepat ini.


Giginya menyatu rapat, berusaha melepaskan diri dari rantai-rantai itu. Gelembung udara naik ke permukaan, Xin Chen berteriak.


"Oi, sialan! Siapa pun yang mendengarkanku! Berikan aku hidup sekali lagi saja, aku harus kembali!" Dia berteriak, mulutnya mulai penuh oleh air. Mungkin sebentar lagi lautan itu itu akan melahapnya.


Gelembung kecil berjumlah ribuan naik ke permukaan, hingga Xin Chen tak bisa melihat dengan jelas lagi. Dia putus asa. Percuma saja. Tak ada yang mendengarnya.


Cahaya terang muncul di balik badannya, seperti sebuah pintu yang berusaha menariknya.


Mungkin, saat itu Xin Chen berpikir semuanya telah berakhir.


Namun sebuah uluran tangan muncul. Xin Chen tidak bisa melihat siapa orang itu. Tangannya segera memutus paksa rantai yang melilitnya demi menerima uluran tangan itu.


*


Dewa Iblis terbangun, dia tidak sepenuhnya mati. Meski tidak mampu bertarung dan hanya terpincang-pincang. Tubuhnya gemetar untuk bangkit, dia menuju ke salah satu tubuh yang terbaring di atas bebatuan.


"Hei anak manusia," panggilnya. "Aku tersadar akan sesuatu saat bertarung denganmu."


Dewa Iblis mengangkat bahunya, sesal terlihat di wajahnya. "Kita sebenarnya tidak pernah saling membenci, antara kau dan aku ... Kita hanya dipaksa bertarung oleh keadaan. Semasa menjadi Dewa Iblis aku melupakan semua hal yang dikatakan Ayahanda. Aku lupa bahwa," lirihnya terpotong.


"Aku juga tidak pernah membenci manusia sepertimu, aku hanya membenci manusia yang menganggap kami adalah musuh."


Dia menyentuh dadanya, tangannya bersinar merah.


"Buah Keabadian mampu menyelamatkanmu, salah satu keajaiban tersembunyi yang membuatnya diperebutkan para manusia adalah karena mampu menyelamatkan seseorang dalam kondisi sekritis apa pun."


Dewa Iblis menarik Buah Keabadian dari dalam tubuhnya. Dia tak akan mati, hanya saja dia akan kehilangan kekuatan besar. Saat ini pun tubuhnya sudah terluka parah dan Buah Keabadian itu tak ada gunanya lagi. Dia memasukkan benda itu ke dalam tubuh Xin Chen. Cahaya terang muncul sesaat dan menghilang dalam lima detik.


"Hanya sekali ini saja aku bisa menyelamatkanmu. Jangan mengorbankan nyawamu lagi sebelum ini semua selesai,"


Dewa Iblis tertegun sesaat, meski masih belum mendapatkan kesadarannya tubuh Xin Chen mulai merespon. Tiba-tiba saja Api Keabadian mulai berkobar di seluruh tubuhnya. Mata biru terbuka lebar, dia terbangun kembali dari kematiannya. Dan kali ini untuk ketiga kalinya.

__ADS_1


"Iblis yang lebih mengerikan daripada iblis yang sebenarnya..." gumam Dewa Iblis saat melihat sorot mata itu.


__ADS_2