Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 43 - Pelukan Terakhir


__ADS_3

"Tidak mungkin aku harus menggunakan pedang itu ..."


Xin Chen bergumam pelan. Sayup-sayup suara timbul tenggelam di telinganya, embusan angin dari arah depan kian dekat menerbangkan jubahnya hingga berkibar. Di atas daratan hanya dirinya satu-satunya manusia yang berdiri di sana. Tubuh Naga Kegelapan jelas terlihat di depannya dan sedang menuju ke arah Xin Chen.


Kepala Naga Kegelapan mulai nyaris menyentuh permukaan bumi. Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan titik terang berwarna biru murni. Xin Chen yakin dalam hitungan detik lagi, apa pun yang berada di depan naga itu akan luluh lantak.


Sebuah ingatan muncul sekilas di ingatan Xin Chen. Saat terakhir kalinya dia melihat Xin Fai, sebelum lelaki itu pergi dalam misi terakhirnya, melindungi Kekaisaran Shang dari jauh. Tepat di hadapan Qin Yujin, Ibunya, Xin Zhan dan semua orang yang ada di sana.


Tujuh tahun lalu. Sebelum kepergiannya, Xin Fai memeluk Xin Chen dengan begitu erat. Namun pelukan itu bukan hanya sebuah salam perpisahan bagi mereka, melainkan sebuah hal lain yang tak diketahui oleh Qin Yujin.


Suara gema di ruang hampa yang tak memiliki lorong atau pun ujung. Xin Chen yang masih begitu muda membuka matanya, menelusuri sekitar dalam tanda tanya. Hingga akhirnya atensinya tertarik pada sebuah cahaya di depan. Dia berjalan menapak di atas aliran air yang begitu tenang. Xin Chen tak tahu saat itu dirinya berada di mana, yang dilakukannya hanyalah mengikuti instingnya. Sesuatu menariknya ke cahaya yang begitu terang dan hangat itu.


Lalu matanya terkunci pada satu titik, seorang laki-laki yang begitu mirip dengannya. Laki-laki itu jauh berbeda dari yang selalu dilihatnya. Umurnya mungkin masih sekitar 18 tahun atau lebih. Xin Chen berjalan mendekat.


"Maafkan aku."


Kalimat pertama yang keluar dari sosok itu, Xin Chen terkejut. Dia memang merasa asing dengan sosok ayahnya yang terlihat masih muda itu. Tapi ... Mengapa, wajah Xin Fai dipenuhi oleh begitu banyak kesedihan? Apakah laki-laki itu mengalami rasa kehilangan mendalam yang merenggut senyuman hangat dari wajahnya.

__ADS_1


Xin Fai yang dirinya tahu, adalah sosok ayah yang hangat dan penuh senyuman. Xin Chen yang masih muda terdiam.


'Apa itu kehilangan?' batinnya.


Lalu Xin Chen teringat apa yang baru saja dia alami sebelum sampai di tempat asing ini. Dia sedang bertarung habis-habisan mempertahankan rumahnya di Kota Renwu. Dan pada akhirnya, Xin Fai menyerahkan diri untuk melindungi semua orang.


"Ayah ...!" Suara Xin Chen tercekat.


Lelaki itu menoleh. Membuat Xin Chen terkejut saat melihat wajah Xin Fai sama seperti yang selalu dilihatnya. Seorang ayah dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.


"Kau akan pergi?"


Mata cokelat itu sekilas terlihat memunculkan corak keemasan. Begitu indah. Pantas saja ibunya selalu memujinya. Pandangan Xin Fai jatuh pada cahaya di depannya yang perlahan-lahan memudar.


"Aku tidak meninggalkanmu."


"Sampai berkata tentang meninggalkan ku. Itu artinya kau memang akan meninggalkan ku, Ayah."

__ADS_1


"Apa pun yang terjadi ke depannya aku tidak akan meninggalkan kalian. Semua adalah pilihanku. Aku akan mencari jalan pulang sampai ke dasar jurang, tapi bisakah kau datang menolongku saat aku tidak berhasil?"


Hati Xin Chen seperti sedang diremukkan dari dalam, meski tidak ada palu besar yang sedang menghantamnya.


"Tentu saja." jawabnya sedikit tercekat.


Dan sebelah matanya meneteskan air mata.


"Kau tidak percaya aku akan kembali?"


Xin Chen mengangguk. Kedua tangannya terkepal. Dia masih belum bisa mengendalikan emosinya sendiri.


Dan saat dirinya menyadari, ruang hampa ini adalah alam bawah sadar milik ayahnya. Tempat itu begitu tenang. Dan dirinya merasa aman berada di sana. Sedangkan di luar sana, entah bagaimana caranya sepertinya waktu berhenti bergerak. Xin Chen dapat merasakan hal itu karena sedikit kesadarannya masih berada di dunia luar.


"Jaga pedang ini. Meski dari wujudnya hanya terlihat seperti sebuah pedang. Terdapat dua pedang terhebat yang menyatu. Tak terkalahkan oleh apa pun. Jangan biarkan siapa pun mengambilnya. Suatu saat nanti, mereka akan kembali untuk mencarimu. Dan melalui perantara ku. Apakah kau sanggup saat itu datang padamu? Lawan aku dengan pedang itu. Aku yakin ... Kau mampu menolongku."


Cahaya Xin Fai semakin redup dan akhirnya padam, hingga dirinya tak bisa melihat apa-apa selain merasakan pelukan terakhir yang begitu hangat. Pedang pemberian Xin Fai seolah-olah menyatu dalam diri Xin Chen. Semua yang terjadi pada Xin Chen hari itu, tak bisa digambarkannya dengan kata-kata.

__ADS_1


Hanya satu yang Xin Chen ketahui. Dia sama sekali tidak mengenal siapa ayahnya yang sepenuhnya.


"Satu hal lagi. Jaga ibumu seperti aku menjaganya. Katakan padanya aku selalu mencintainya dan aku akan kembali, dia harus bertahan sampai saat itu tiba."


__ADS_2