Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 115 - Teror Baru


__ADS_3

Terjadi kehebohan di Kekaisaran Shang. Para pedagang dan ibu-ibu berkumpul, bercerita sesekali berbisik, membahas isu panas baru yang menyebar cepat seperti cahaya.


Kekaisaran Shang terguncang. Di tengah kemenangan yang baru saja mereka raih, sebuah teror muncul menghadirkan ketakutan di hati semua orang.


"Aku dapat melihatnya ..." Seorang laki-laki dengan ikat kepala lusuh di tengah kerumunan sibuk bercerita, sementara yang lain menyimak dengan muka serius sekaligus tegang. Cukup lama hening menjeda obrolan mereka, sebab sang pencerita sibuk menengok kanan-kiri. Memastikan orang-orang pemerintahan tak menguping obrolannya. Ini masalah yang sensitif, meski dalam artian semua orang hampir tahu kabarnya.


"Sepuluh kepala patung Pilar Kekaisaran terpotong. Badan mereka dihanguskan. Sungguh mengerikan."


Salah satu wanita berumur menimbrungi, suaranya patah-patah. "Ha ... Itu pasti ... karma untuk mereka," napasnya terputus-putus. "Seseorang pasti datang ... Untuk memperbaiki apa yang telah hancur ..."


Yang lain banyak yang tidak setuju, hampir setengahnya mengoceh antara satu sama lain. Mempertanyakan apa yang terjadi, tapi dari semua dugaan mereka tetap tak tahu pasti dalang dan alasan di balik hilangnya kepala Patung Pilar.


"Bagaimana jika ini adalah pembalasan dendam dari Qin Yujin? Dia akan melenyapkan kesepuluh Pilar Kekaisaran kita!"


"Hah, apa yang kau harapkan dari sepuluh pilar itu? Bencana datang saja mereka pontang-panting kabur ke dalam kamar. Hahahah!" Lelaki berperawakan kasar, badan kekar dan suara yang keras trtawa terbahak-bahak. Tak peduli jika segerombolan berkuda prajurit melewati mereka. Yang lain panik dan segera bubar kala menyadari omongan orang itu didengar oleh salah satu penjaga.


Penjaga tersebut sempat menoleh. Pedang di pinggang kirinya bergerak, seakan-akan bermaksud untuk mengambil kepala salah satu dari mereka.


Tapi si laki-laki kekar ini tak peduli. Dia mengangkat tangan, di tengah kerumunan berteriak penuh euforia.


"Ini baru kemenangan yang sesungguhnya!! Kalian tahu apa pesan yang ditnggalkan oleh si pemotong kepala patung itu?!" Dia bertanya pada gadis yang kebetulan lewat, mereka menyingkir segera antara ketakutan dan canggung. Perlahan-lahan Pejuang Kota mendekat hendak menangkap orang tersebut.


"Kalian tahu apa?!?" suara laki-laki itu semakin membesar.


Dia mengepalkan tangan, "Benar! Era Baru Telah Datang! Aku tak kenal siapa yang melakukannya, tapi aku akan mendukungnya! Matilah kalian semua, elit-elit busuk! Saatnya menempelkan kepala kalian di tanah! Sudah bukan zamannya lagi kalian berada di atas awan!"


Tiga lelaki bersenjata mendorongnya hingga tersungkur di atas tanah. Lalu mengikat tangan orang tersebut. Anehnya tak ada perlawanan darinya selain mulutnya terus mengoceh tentang era baru.


Tak ada yang hendak membantunya. Tapi beberapa dari penduduk terus menengok pria tersebut. Kilat di bola matanya ibarat api redup yang baru saja dibangkitkan. Dia terbahak-bahak sangat puas. Hingga bayangannya menghilang bersama para pejuang yang hendak menghukumnya karena membuat kegaduhan di Kota.

__ADS_1


Seseorang tersenyum, wajahnya tertutup tudung jubah hampir setengah. Begitupun siluman di sebelahnya, mereka sama-sama menyeringai.


"Satu pendukung yang membuka suara lebih berarti daripada seribu orang yang menutup mulut rapat-rapat."


Xin Chen menoleh ke samping. Ye Long masih menyeringai.


"Oi, oi, sudah menyeringainya, bodoh."


Xin Chen dibuat bingung. Sebenarnya dia berniat mengajak Ye Long berjalan-jalan di Kota Fanlu sambil mengenalkan beberapa tempat. Atas permintaan naga itu sendiri pastinya. Tapi sepanjang jalan kerjaan naga itu mencuri perhiasan-perhiasan dan benda-benda berkilau. Tak terbayangkan berapa uangnya habis karena naga itu membuat perkara.


Melihat naga itu makin mencurigakan Xin Chen berdiri di depan Ye Long. Melihat Ye Long bukan sedang menyeringai, tapi sedang menggigit sebuah benda berkilau. Sebuah kunci.


Kunci yang sebelumnya Xin Chen lihat berada di saku belakang pimpinan Pejuang Kota yang baru saja menangkap pria kekar tadi.


Xin Chen mengepalkan tangan. "Ye Long ....?"


"Kembali-" omongannya terpotong oleh suara yang melengking tinggi di balik badannya, berlari kencang hendak mengejar mereka.


"KEMBALIKAN KUNCIKU!!!"


"Kaburrr!!"


Bisa-bisanya Ye Long terbang sendirian meninggalkan Xin Chen yang terpaksa harus berlari ke lorong-lorong perumahan. Dia mengumpat sepanjang jalan. Saat keadaan sudah sepi dan hanya tersisa dirinya dan pejuang tadi yang masih mengejar Xin Chen menggunakan tubuh roh.


Beruntung masih bisa menyelamatkan diri. Ye Long kurang ajar itu taunya menyelamatkan benda-benda berkilaunya saja. Bisa hancur reputasi keluarga Xin jika dia ketahuan mencuri kunci. Beruntung dia menutup wajah dengan tudung jubah yang baru saja dibelinya.


Sebenarnya Xin Chen sudah memikirkan bahwa dirinya tak bisa menggunakan jubah Empat Unit Pengintai. Terlebih membawanya ke Kekaisaran Wei yang kemungkinan besar tahu akan eksistensi kelompoknya. Dia meminta penjahit membuatkan jubah khusus untuknya dua hari lalu. Warna jubahnya sama, tetap hitam. Namun di dada kiri jubah tersebut terdapat lambang bunga api biru yang dikelilingi oleh corak petir perak.


Letak kiri yang dekat dengan jantungnya menunjukkan bahwa Api Keabadian adalah sumber kehidupannya. Dan kekuatan petir Rubah adalah jantungnya. Agar Xin Chen selalu mengingat akan gurunya.

__ADS_1


Dia memegang lambang tersebut. "Guru, aku akan menyelamatkanmu."


Seorang wanita yang sedang memboyong barang belanjaan dibuat kaget bukan main saat melihat seseorang tiba-tiba muncul di depannya padahal sejak dia berjalan tak ada siapa pun di sana. Xin Chen berjalan seperti biasa. Masih mencari Ye Long. Sudah dipanggil dengan siulan atau seruling pun naga itu tak kembali.


Atau mungkin Ye Long sudah kembali ke rumah untuk menimbun hartanya di kamar Xin Chen.


Akhir-akhir ini kamar Xin Chen dibanjiri oleh banyaknya perhiasan-yang entah dari mana asalnya-memenuhi setiap sudut kamar. Dari yang murahan sampai kelas atas, Xin Chen sudah berulang kali menyuruh Ye Long menghentikan kelakuan anehnya itu. Tapi memang dasar Ye Long penggila barang berkilau. Matanya gelap melihat seisi Kota Fanlu yang penuh perhiasan. Takutnya pemilik perhiasan itu mengetahui Ye Long pencurinya dan datang ke rumah.


Xin Chen terlalu pusing untuk memikirkan tingkah Ye Long. Tapi pas sekali naga itu kembali dan mendarat tergesa-gesa.


Hampir saja Xin Chen menjitak kepala naga itu, tapi tampaknya keterburu-buruannya memiliki alasan.


Ye Long cepat-cepat bicara, "Ibu!"


"Ibu?" Dia menaikturunkan alisnya, mungkin yang dimaksud Ye Long adalah Ren Yuan.


Kecemasan di wajah Ye Long tidak dibuat-buat. Pertanda sesuatu buruk telah datang. Xin Chen berubah serius.


"Ibu kenapa-?"


"Ibu pingsan! Penuh sudah rumah dengan orang berjubah putih!"


"Maksud mu tabib?" Xin Chen jauh lebih panik sekarang, Ye Long segera melebarkan sayapnya. "Kita tidak punya waktu lagi, cepat naik!"


Keduanya bergerak cepat menuju rumah. Tanpa sadar tangan Xin Chen gemetar, ketakutannya terasa semakin dalam.


Padahal Ren Yuan baik-baik saja saat dia meninggalkan rumah. Entah Xin Fai telah kembali dari kerjanya untuk melihat wanita itu. Xin Zhan pasti sudah ada di sana untuk menjaga Ren Yuan.


Dia hanya berharap takkan terjadi sesuatu yang buruk pada Ibunya.

__ADS_1


__ADS_2