
Xin zhan menatap laki-laki itu dengan tatapan ragu, yang ditatap hanya bisa bereaksi gelagapan. Dia berdeham sambil menyingkirkan mata pedang yang sedari tadi mengincar bola matanya.
"Be-begini, aku sudah cukup lama berada di kelompok ini. Asal kau tahu, kami ini adalah-"
"Aku tidak tanya tentang kelompok mu. Jangan membuang waktuku untuk menunggu teman-teman yang lain menyelamatkan mu." Xin zhan memotong kalimatnya, laki-laki itu sedikit tertegun. Namun segera tersadar dan menyerobot berbicara, "Kami punya banyak sumberdaya dan peliharaan. Serta-"
"Aku tak menginginkan itu. Kau ini tuli atau bagaimana? Berikan aku informasi tentang Yan She. Aku akan pergi."
"E-eh?" Napas laki-laki itu terhenti sesaat, wajahnya berubah pucat. "Untuk yang satu itu aku tidak mengetahui apa-apa."
"Katamu kau sudah cukup lama berada di sini, jangan membohongiku. Aku tidak punya banyak waktu." Desaknya.
Lagi-lagi mata pedang ditujukan ke arahnya, tanpa ragu dan nyaris melukai kelopak matanya. Dia tak berani bergerak sedikit pun. Laki-laki itu sesekali mencuri pandangan ke atas, saat merasa lawannya lengah dia segera kabur keluar dan mencari pertolongan.
"Di sini, orang-orang bodoh! Monster ini hendak membunuhku-" Kalimatnya terpenggal saat menyadari seseorang mengikutinya dari belakang, jauh lebih cepat. Dia berhenti dan bersiap menyerang balik Xin zhan. Di tempat yang luas seperti ini penglihatannya jauh lebih baik. Kedua senjata saling beradu, Xin zhan membawa tekanan pedang ke bawah sehingga lawannya mau tak mau menahan keras. Hantaman tadi membuat tangan lawannya kebas, urat di tangannya berdenyut perih. Namun dia tetap tak mau membuka mulut.
"Ahahah aku tahu, aku tahu! Kau tak akan membunuhku karena aku memiliki informasinya, bukan? Dan hei! Jangan-jangan naga itu adalah peliharaanmu? Aku pernah mendengarnya ... Benar, kau adalah-"
"Kupastikan kau akan merasakan kematian berkali-kali, berani mencoba? Nyawamu sekarang tergantung dengan mulutmu."
"Kau tak akan mendapatkan apa-apa dri ku! Hahahha kau kira aku sebodoh itu, tak ku berikan sedikitpun rahasia ini, meskipun dengan nyawaku."
Xin zhan mendengkus, "Pasti orang itu berada di sekitar sini. Atau paling tidak, aku bisa menemukan informasi darimana pil itu diproduksi."
"Tidak mungkin hahaha, di tempat seluas ini mana mungkin akan kutemukan. Lagipula penjagaan di sini tak bsia kau remehkan!"
Pendekar tua itu berbalik badan dan saling berhadapan dengannya. Xin Zhan menyahut. "Berarti kalian menyembunyikannya di tempat yang sulit ditebak, berarti?"
Dia melanjutkan, "Sepertinya kau sama sekali tidak berguna. Baiklah, sekarang giliranmu menemui ajal."
"Hei, hei, hei! Pikirkan dulu baik-baik, tunggu!" Mulut itu masih terbuka saat kepala laki-laki itu jatuh di atas tanah berumput. Darah menciprat dari ujung leher yang telah terpotong.
Entah mengapa tangan Xin Zhan begitu ringannya mengambil kepala itu. Tak seperti biasanya. Mungkin pertarungan berhari-hari melawan Xin Fai yang begitu beringas membuatnya ikut beringas. Kehilangan rasa manusiawinya yang selalu ketakutan mengambil nyawa orang.
"Sepertinya tak lama lagi aku tak ada bedanya dengan adikku."
Xin zhan menoleh sekilas ke arah Ye Long, naga itu tampaknya berada dalam bahaya. Sebuah tombak runcing menembus sayapnya.
Ye Long menjerit ganas, hal itu membuat manusia mundur ketakutan tanpa sadar. Suara miliknya menggema hebat. Mata hitam miliknya berubah biru, luka tusukan pada sayapnya terbakar oleh api biru. Saat api tersebt lenyap luka yang seharusnya berada di sana telah menghilang tanpa jejak.
Murka besar sang naga hitam berakibat kemusnahan bagi para manusia itu, tidak ada yang menyangka api besar mengelilingi mereka di segala arah. Tidak ada tempat untuk melarikan diri, puluhan pendekar yang terperangkap nyaris tak bisa melawan suhu tingkat tinggi yang mencekik paru-paru mereka. Ye Long dengan mudah menghabisi mereka, matanya yang dihiasi kilat amarah berubah saat mendapati seseorang tengah menatapnya dari kejauhan.
"Kakak!"
Entah sejak kapan Ye Long mulai memanggil Xin Zhan Kakak.
Dia menabrak pendekar di depannya dan menginjak yang lain tanpa bersalah, beberapa masih bisa hidup dan yang lainnya meregang nyawa akibat perbuatan Ye Long. Naga itu mendekat pada Xin zhan.
"Kau meninggalkanku dengan ikan-ikan teri itu?"
"Aku pikir bisa mengajak mencari informasi dari mereka. Tidak ada satu pun informasi yang berguna yang bisa kudapat."
Ye Long mengeluarkan api biru dari mulutnya, membakar satu per satu manusia yang masih hidup hingga mereka menyatu dengan abu. Salah seorang manusia berlari kecil dan menyadari orang tersebut bukanlah musuh Xin Zhan menghentikan Ye Long.
Dengan ketakutan dia berbicara sopan. Terlihat jelas laki-laki itu terdesak, membuatnya terpaksa menghampiri Xin Zhan. Satu-satunya harapan agar nyawanya selamat.
"Tuan! Saya sudah melihat pertarungan Anda, apakah anda seorang pendekar aliran putih?" ujarnya terhenti tatkala mendapati seekor siluman yang cukup besar di sebelah Xin zhan. Mungkin dua kali lebih tinggi dari laki-laki dewasa, tak sampai di situ, yang lebih membuatnya terkejut adalah wujud siluman itu menyerupai sebuah naga yang hanya diketahuinya lewat buku dongeng dan ukiran di kuil.
"Demi apa ... Naga berwarna hitam ...?" bola mata kusam itu berganti arah menatap Xin zhan, dia tak percaya dengan dugaannya sendiri. Mungkin apa yang didengarnya dulu hanya kabar yang diceritakan dari mulut ke mulut, tapi dia yakin bahwa dalam perang tujuh tahun lalu, sempat diceritakan tentang seekor naga hitam kecil yang menemani salah satu dari anak pahlawan mereka.
"Lupakan soal itu." Xin Zhan memotong.
__ADS_1
"Ah-! Mohon maafkan kelancangan saya, Tuan. Tapi bisakah aku meminta tolong padamu, keluargaku ditahan sebagai sandera pada sebuah kurungan yang diawasi beberapa penjahat. Mereka sudah membunuh banyak orang-orang desa yang tinggal di sekitar sini. Kumohon bantu aku ... Putriku dan istriku mungkin akan dijual menjadi pelacur jika aku tak menyelamatkan mereka."
Lalu dia berlutut cepat.
"Ku mohon..."
Xin Zhan yang juga berada dalam situasi terdesak nyaris tak Isa menjawab. Dia menepikan urusannya. Melihat seseorang meminta pertolongannya, pantang baginya untuk menolak permintaan lelaki itu. Dia memiliki penampilan selayaknya seorang petani, bahkan mungkin kehidupannya berada dalam strata terbawa masyarakat kekaisaran Shang.
"Baiklah. Lalu tunjukkan padaku di mana istri dan anakmu di tahan."
"Syukurlah, anda benar-benar orang baik, terima kasih Tuan." Ucapnya berlinang air mata. "Terakhir kali aku mengendap-endap melihat mereka dibawa ke sebuah tempat."
"Kau tahu di mana?"
"Tentu saja, Tuanku."
" Istri dan anakmu sudah ditahan di sini selama waktu yang lama bukan? Berarti kurang lebihnya kau tahu seluk beluk tempat ini. Di mana biasa mereka menyimpan semacam pil, gulungan dan buku-buku penting? Atau tempat meracik obat?"
"Eh ... Kalau itu ... Sepertinya tak jauh dari tempat di mana mereka menyandera anak istriku."
"Aku akan menyelamatkan mereka lebih dulu."
Laki-laki itu menarik napas agar bisa tenang, dia begitu takut saat ye Long menatapnya. "Tuanku, lewat jalan ini."
Saat mereka melalui tanjakan terjal, bidikan anak panah meluncur deras dan hampir saja menembus kepala Ye Long. Xin zhan menangkapnya dengan tangan kosong, memindai dari kejauhan dari mana datangnya serangan tersebut. Sayangnya, musuh terlalu lihai dalam menyembunyikan diri. Atau hanya ada satu kemungkinan lain, orang itu membidik dari jarak yang sangat-sangat jauh.
Melihat ukuran anak panah yang lebih panjang dan lentur, Xin zhan yakin busur tersebut dipergunakan untuk bidikan jarak jauh. Dia mendesak untuk terus melanjutkan perjalanan hingga mereka tiba di sebuah jalan kecil. Tanah tinggi di sekitar jalan mengungkung jalan sempit tersebut.
Ye Long merasakan hawa kehadiran secara samar dan menggeram, melihat Xin zhan juga mengetahuninya.
"Berhenti di tempat!"
Tiba-tiba saja dari arah depan dan blakang mereka telah ditutupi oleh sekelompok pendekar yang cukup berbeda dari sebelumnya, beberapa dari mereka memiliki tubuh aneh. Bahkan ada yang memiliiki tangan menyerupai cakar serigala. Xin zhan mengangkat kepala di saat tanah tinggi di kedua sisi jalan telah dipenuhi oleh pendekar lainnya.
"Aku bersumpah tak akan membiarkanmu mati sia-sia di sini."
Matanya menatap tajam ke para pendekar di sekeliling mereka, hanya menunggu satu perintah saja nyawa mereka bisa tamat.
"Kami memperingatimu! Sebaiknya cepat menyerah atau nyawa kalian habis sekarang juga?!" bentaknya keras-keras.
"Coba lakukan sekarang juga. Mungkin bisa berbalik ke kalian?" tantang Xin zhan. Pria di sebelahnya mengecam keras.
"Tuan, jangan bercanda!"
"Baiklah! Itu maumu sendiri!" serunya dengan nada tinggi. "Bunuh mereka!"
Anak panah meluncur gesit menuju satu arah, di mana dua orang dan seekor naga berdiri terkepung. Ye Long menggeram kencang, mengepakkan sayapnya hingga membuat panah-panah tersebut terlempar ke arah berlawanan. Naga hitam itu menyempurkan api biru yang selanjutnya membuat musuh terpecah, meski begitu mereka tetap menyerang di saat menemukan kesempatan.
Namun dari sekian banyaknya anak panah, tidak ada satu pun yang mengenai target, Ye Long membakar semuanya tanpa ampun.
"Kita harus cepat. Ye Long, kualihkan padamu."
"Rarrghh! Lawan mereka sendiri lagi?!" Sebelum selesai memprotes kedua orang tersebut sudah pergi dari sana.
Xin Zhan tak mau mnghabiskan lebih banyak waktunya untuk meladeni kelompok pemanah itu, bisa saja saat dirinya sedang sibuk bertarung musuh lebih dulu kabur dari persembunyian mereka. Beberapa pendekar menghalau jalan dengan menebaskan pedang panjang. Pertumpahan darah terjadi begitu saja, Xin Zhan terus menyerang ketika membelah kawanan musuh.
Mungkin mencari Yan She tak akan semudah itu. Dirinya bahkan tak yakin apakah sosok pembuat Pil Bunga Matahari adalah orang yang sama dengan yang sedang dicari-carinya.
Teriakan perang menggema di kamp yang letaknya paling dalam tersebut, tak ada yang ragu untuk maju melawan bahkan ketika mereka melihat puluhan teman mereka jatuh terkapar tak bernyawa. Laki-laki yang mengikuti Xin Zhan di belakang menggigil ketakutan, bibirnya tak bisa mengatakan apa pun selain diam dan mengikuti ke mana perginya pemuda itu.
"Le-lewat sini tuanku ..." Laki-laki itu menunjuk ke sebuah rumah yang terbuat dari tanah tinggi. Tak ada satu pun yang berjaga di sana, Xin Zhan tahu itu adalah jebakan. Dia berhenti tepat sebe;um menginjakkan kaki di depan gerbang, menendang pintu yang terbuat dari kayu dan seketika itu pula belati-belati kecil terlempar ke arahnya.
__ADS_1
Senjata kecil itu berhenti melayang tepat di depannya dan jatuh menimbulkan bunyi berisik di tanah, di dekat gerbang itu sendiri tumbbuh sebuah pohon besar di mana seorang pembunuh berdarah tengah mengincarnya dengan tatapan mata nyalang. Dia tertawa terbahak-bahak saat melihat dua orang itu selamat dari jebakan sederhananya.
"Cih, hanya kalian sepertinya penyusup yang menggunakan otak saat hendak bertamu ke rumah musuh." Dia turun dengan melompat dari dahan pohon, tubuhnya yang berat menimbulkan bunyi tapak yang terdengar keras. Dia tak membawa senjata apa pun dan hanya dengan tangan kosong saat menghadapi Xin Zhan dan seorang pria di sebelahnya.
"Tampaknya kau sedang kurang kerjaan sampai berani-beraninya datang ke sini. Bukankah tempat ini sulit dijangkau? Apalagi dibatasi oleh perairan sungai." L pembunuh itu tahu bahwa lawannya itu bukanlah orang biasa.
Sebagai orang yang dilahirkan di Kekaisaran Qing dirinya lebih tahu bagaimana cara membedakan orang Kekaisaran Shang dan orang Kekaisaran Qing. Pembunuh itu mendengus sebentar. "Orang asli Kekaisaran Shang, heh?"
"Benar tidaknya bukan urusanmu."
"Berarti benar?"
"Mau tahu jawabannya?"
Pembunuh itu bergeming lalu tertawa menantang sembari mengeluarkan pedang yang sedari tadi di sembunyikannya. "Tidak perlu lagi. Aku sudah tahu jawabannya. Kau bukan bagian dari mereka. Orang Kekaisaran Wei takkan terbuka jika itu tentang identitasnya."
"Oh."
"Hahahha!" Lawan bicaranya tertawa lantang, menggeleng beberapa kali. "Jawaban singkat padat dan jelas sekali, aku ingin tertawa dulu ahahah."
Lalu laki-laki itu mendadak berubah.
Dia bersiap-siap dengan posisi serang, tubuhnya yang terlihat tebal itu tampak sulit untuk ditembus dengan serangan biasa. Seperti biasa musuh selalu memulai serangan kejutan di awal pertarungan, Xin Zhan memutuskan untuk bertarung fisik dengan laki-laki ini.
Aliran pedang yang dimiliki laki-laki itu di luar dugaan, dia memiliki teknik yang menyerupai sebuah tarian perang. Setiap langkahnya memiliki teknik unik yang jarang dimiliki orang. Xin Zhan hampir dibuat tertipu oleh gerakannya. Dia tak kunjung melakukan serangan berat dan hanya mengecohkan lawan tanpa henti.
Namun saat mendapati Xin Zhan mulai jengah dengan alur pertarungan di saat itu pula dirinya menyerang habis-habisan, Xin Zhan berkedip saat hempasan dan tebasan mengejar tubuhnya dengan sangat cepat. Percikan api muncul setiap kali serangannya dipatahkan oleh Xin Zhan. Lama bertahan dengan serangan sang pembunuh, sebuah kejutan lain muncul. Laki-laki itu menghilang dan hendak menusuknya dari belakang.
Xin Zhan mundur dari tempatnya dan berbalik badan, di situasi seperti ini refleksnya menentukan alur pertandingan. Sejauh ini tidak ada satu pun dari mereka yang terluka. Lawannya menyeringai lebar dan saat itu Xin Zhan baru menyadari bahwa jubah di bagian belakangnya terkoyak.
"Ch, kau pasti meremehkanku."
Xin Zhan menggelengkan kepala. "Tidak, aku hanya terkejut dengan teknikmu. Di Kekaisaran Shang tidak ada yang memilikinya."
"Hm, terdengar seperti pujian. Hahaha, hah ... Sebenarnya aku juga sedang malas bertarung. Tapi para orang tua laknat itu menyuruhku seperti budak. Benar-benar orang tua yang meresahkan."
Xin Zhan memasukkan kembali senjatanya, "Kenapa tidak kau hajar saja?"
"Bagus untukmu, tidak bagus untuk nyawaku." Decih orang itu memutar bola matanya, dia masih dengan senjatanya. Mata laki-laki itu agak menyipit saat melihat sang lawan menyimpan senjata.
"Hei, hei. Kau tidak bermaksud menyerah, bukan? Kita belum bertarung sungguh-sungguh."
"Bagaimana aku bisa bertarung melawan orang yang bahkan tak berani membunuhku?" Jawaban pemuda itu membuatnya berpikir agak lama, tampaknya dia baru menyadari hal itu dan hanya bisa menggaruk tengkuk.
"Ahahaha, sial. Kau meledekku." Dia menancapkan kedua belati di tanah dan duduk di depan gerbang. Tetap tak mengizinkan kedua orang itu masuk ke dalam.
"Kami tak berniat berdamai dengan orang-orangmu." Kalimat langsung tanpa dipikir panjang itu seketika membuat wajah sang pembunuh berubah, dia hanya menghela napas sekali.
"Aku sudah melihat caramu bertarung tadi. Mengerikan juga. Sementara aku masih mempunyai anak dan istri di rumah, aku bukan orang bodoh yang suka menantang maut."
"Kalau begitu biarkan kami masuk. Aku perlu menyelamatkan seorang wanita dan anak-anak di dalam sana. Dan juga seseorang bernama Yan She."
"Oh, wanita dan anak itu sudah mati sejam lalu. Dan aku takkan membiarkan mu masuk." Tiba-tiba dia berdiri, kali ini wajahnya berubah emosi. "Jika orang di dalam mati kau bunuh ... Maka semua akan sama saja, aku juga akan dibunuh dan anak istriku ..." Tangannya terkepal sangat erat. Napas laki-laki itu mulai tak beraturan.
"Hadapi aku sekarang, kali ini aku tak akan main-main denganmu. Walaupun harus bertaruh nyawa."
"Tidak ada tempat yang lebih aman untuk pembunuh sepertiku selain di sini. Jika kau menghancurkan tempat ku maka aku tak segan-segan membunuhmu."
Dan dari sana pertarungan dimulai di antara keduanya. Dengan keadaan Xin Zhan yang terluka parah.
Saat musuh menebaskan senjata, Xin Zhan mengangkat kedua tangannya seolah-olah akan menyerang dengan pedang. Lalu apa yang terjadi setelahnya, sebuah pisau menancap di tubuh lelaki itu. Serangan tiba-tiba yang seketika mengambil nyawanya ketika Xin Zhan tanpa belas kasih memotong lehernya.
__ADS_1
"Maafkan aku."
Kegaduhan terjadi, dengan cepat Xin Zhan menghabisi beberapa penjaga dalam ruangan tersebut. Mendapati mayat perempuan dan seorang anak terbaring tak bernyawa. Pastinya mereka adalah orang yang dimaksud lelaki yang meminta pertolongannya tadi. Sembari itu Dia mengambil sebuah gulungan, mendekatkan gulungan di dekat lilin kecil, membaca setiap kalimat satu per satu. Surat itu hanya berisi tentang pengeluaran dan kabar-kabar kelompok mereka di berbagai cabang. Tak ada yang bisa didapatinya selain hal-hal tak penting. Bahkan informasi yang diinginkannya, tak ada sama sekali.