
Mereka hanya diantarkan sampai ke jalan besar seperti yang lelaki itu katakan di awal, setelah sedikit berbincang-bincang akhirnya mereka berpisah di jalan itu. Tak banyak yang bisa mereka katakan karena pada dasarnya di luar sana sama saja seperti di tempat lain. Dikelilingi banyak terinfeksi. Satu pesan yang ditekankan oleh mereka, jangan sampai tertular penyakit.
Karena untuk saat ini, tidak semua penyakit mematikan itu memiliki penawarnya.
Kuil Hujan. Kuil itu memiliki banyak cabang kuil lainnya yang tersebar di bukit Chumei. Terletak di pinggiran Kekaisaran Wei dan dikelilingi oleh hutan rimbun. Letaknya yang tersembunyi membuat tak banyak orang bisa datang ke sana. Dan ditambah lagi, hutan di sana tak sepenuhnya aman.
Para manusia terinfeksi dari desa bersebrangan memenuhi hutan-hutan itu, paling berbahaya ketika lewat di jalan setapak pada malam hari. Tak ada kesempatan hidup jika gerombolan terinfeksi sudah mengejar.
Kuil Hujan yang menjadi tujuan Xin Chen dan Lang tak bisa didatangi jika tanpa undangan. Dua hari perjalanan dipenuhi marabahaya akhirnya keduanya tiba di pintu gerbang Kuil Hujan, tepatnya ketika sore hari dan mendung di atas menyamarkan bau tubuh mereka. Setidaknya kali ini mereka cukup beruntung karena berkat hujan deras di Bukit Chumei para terinfeksi itu tak dapat mencium bau tubuh mereka.
Seorang laki-laki dengan jubah putih sampai menyentuh lantai membuka gerbang hati-hati, setelah dia mengintip dari lubang pintu tentunya.
Dia menatap Xin Chen awas.
"Berikan undanganmu."
Xin Chen memberikan tatahan pemberian Luo Li, laki-laki itu menelaahnya sebentar dan menanyakan ke dalam.
Cukup lama mereka dibiarkan menunggu di luar, malam benar-benar turun hanya dalam hitungan setengah jam. Xin Chen mulai gelisah, dia mendengar suara-suara di belakang makin mendekat dan tampaknya sedang menuju ke arah mereka.
Sementara kini pintu gerbang tak kunjung dibuka.
Lang menggeram. "Sepertinya orang di dalam masih sibuk mencari. Kita bisa sekarat di luar sini kalau mereka berlama-lama."
"Kita tidak punya pilihan selain menunggu." Xin Chen bisa saja menerobos masuk, antara memanjat atau menggunakan kekuatan roh. Tapi pilihan kedua paling beresiko, roh miliknya akan merasuki ratusan terinfeksi di hutan dan tentunya Kuil Hujan beserta orang di dalamnya tak akan selamat jika itu kejadian.
Mengingat ketika terinfeksi yang dirasuki roh bahkan bisa memanjat dinding Labirin Kematian yang tingginya ratusan meter. Pembatas di Kuil Hujan ini bukan apa-apanya jika dihadapkan dengan terinfeksi yang dirasuki.
Benar dugaan Xin Chen, setelah hujan berhenti penciuman mereka menjadi kuat. Terinfeksi itu jauh lebih agresif di malam hari. Sementara itu keduanya masih kebingungan menunggu di depan gerbang.
__ADS_1
Lang menoleh ke belakang, memanggil Xin Chen.
"Sialan, kau lihat makhluk pertama yang datang."
Xin Chen tak bisa menebak itu terinfeksi tipe apa, tapi dia memiliki tubuh ringkih selayaknya tulang dibungkus kulit. Rambutnya panjang sampai ke kaki, nyaris seperti hantu. Dan memiliki ekor seperti kadal dan lidah panjang beracun. Kemungkinan besar manusia percobaan yang gagal dan kini matanya menatap Xin Chen penuh dendam.
Penampakan mengerikan di tengah hutan gelap itu membuatnya sedikit merinding, Xin Chen berniat menggunakan Api Keabadian untuk berjaga-jaga dan beberapa saat setelahnya tubuhnya di tarik ke dalam, begitu pula dengan Lang.
Sayup-sayup mata Xin Chen dapat merasakan begitu banyaknya cahaya di Kuil tersebut sampai dia harus menyipitkan mata. Puluhan lampion di langit-langit kuil, lilin di lantai dan beberapa penerangan lainnya yang membuat tempat tersebut seperti sedang di siang hari. Seorang laki-laki berjalan begitu pelan di depannya, dia mencermati kedua tamu tersebut sebelum berkata-kata.
"Kalian datang karena muridku?"
Xin Chen mengiyakan segera. "Benar, seorang tabib muda bernama Luo Li menyuruh kami ke sini untuk mengantarkan sebuah barang ..." Xin Chen memandangi pria dalam balutan baju serba putih disertai benda jimat dikalungkan di leher. Wajahnya terlihat begitu tenang seperti air, dan caranya mendengarkan Xin Chen sangat ramah.
"Apakah dia bersamamu?" Lelaki itu menoleh sepintas ke belakang, sebelum kembali mengarahkan sorot matanya pada Xin Chen.
"Begitu malang nasibnya, padahal dia adalah murid yang disiplin. Tapi takdir berkata lain." Sedih tergambar di wajahnya yang sudah menua, lelaki itu seperti yang dikatakan oleh penjaga toko obat. Tua renta. Tapi tubuhnya terlihat masih sehat bugar.
"Aku turut berduka atasnya."
"Terima kasih. Masuklah dulu, di luar begitu dingin. Istirahatlah, aku akan menemui kalian besok pagi. Ada beberapa hal yang harus kulakukan."
Tabib muda yang umurnya di bawah Luo Li membimbing mereka ke sebuah tempat serupa asrama yang dikhususkan untuk para tamu, dia tak banyak berbicara. Dan melihat situasi di bagian dalam kuil-kuil tersebut, tampaknya sedang terjadi masalah di sana.
Malam yang begitu ramai di Kuil Hujan, tetesan air hujan kembali turun membasahi sepanjang jalan kuil. Xin Chen dan Lang menunggu di kamar sambil sesekali melihat dari jendela. Seseorang murid di kuil tersebut berlari tak karuan seperti kesetanan, dia memuntahkan darah sepanjang jalan. Ditambah hujan deras saat itu, langkah kakinya berulang kali terpeleset.
Orang yang menyusulnya membawa beberapa obat untuk diberikan tapi pemuda yang terkena penyakit itu menolak dan mengerang kesakitan. Matanya mengeluarkan darah, begitu juga dengan hidung serta telinga.
Beberapa saat mereka menjauh ketika menyadari pemuda itu mulai bergerak aneh. Bunyi tulangnya terdengar begitu keras. Dan dalam hitungan detik berikutnya, pemuda itu mulai menyerang siapa pun sampai merusak tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Xin Chen lantas bangun. Disusul sergahan dari Lang.
"Jangan mencampuri urusan mereka. Duduk manis anak baik."
Entah ejekan atau perintah, Xin Chen menjawab jengkel. "Kalau begitu kau duduk manis saja di sini biar aku selesaikan di luar sana."
Lang mendengus, "Aku sudah terlalu tua untuk berdebat dengan anak kecil sepertimu. Pergilah kalau kau mau. Tapi yang perlu kau tahu, darah dari orang itu bisa langsung menularkan penyakit. Jangan menyusahkanku ketika kau nanti tergigit seperti yang sudah-sudah."
Dia menuruni anak tangga, melihat kekacauan mulai merajai Kuil Hujan. Pemuda terinfeksi itu mulai menggigit manusia, Guru Besar Kuil mengikat lehernya dengan rantai dibantu oleh yang lain. Tapi tak berhasil, dia justru memakan rantai itu tanpa ampun. Sampai giginya berdarah.
Hujan membuat darah si pemuda itu menyebar makin cepat. Penyakit ganas itu terlihat tak wajar. Salah seorang tabib melihat darah miliknya seakan-akan mengejarnya di dalam genangan air. Dia merinding bukan buatan. Hingga salah satu dari mereka terkena dan langsung jatuh di dalam genangan air, warna merah seketika berkumpul di tempatnya dan pria itu mulai menunjukkan gejala yang hampir sama seperti pemuda itu sebelumnya.
Kini korban terus berjatuhan.
"Menjauh dari terinfeksi dan jangan sampai terkena darah mereka," teriakan Xin Chen mengalahkan kerasnya suara hujan. Mereka semula kebingungan dan mulai berpencar di halaman berbentuk lingkaran itu. Xin Chen mengangkat tangannya, menciptakan Api Keabadian yang mengelilingi dua terinfeksi tersebut.
Api itu bahkan tak padam ketika derasnya hujan turun tanpa henti, Xin Chen meningkatkan suhu sampai ke titik batasnya. Membakar dua orang tersebut, dia sempat merinding melihat tubuh mereka masih merangkak di tengah kobaran api yang begitu ganas. Hingga akhirnya tubuh tersebut mulai kaku dan beberapa menit berlalu, tak bergerak sama sekali barulah Xin Chen memadamkan apinya.
Para tabib di tempat itu tentu tahu kekuatan seperti itu ada, dan mereka bisa menebak dari mana Xin Chen berasal. Luo Mei-Guru Besar sekaligus paman dari Luo Li tahu bahwa tamu mereka kali ini pastinya berasal dari Kekaisaran Shang.
Xin Chen menatap miris.
Apinya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membakar sepenuhnya tubuh itu, dia tidak mengerti mengapa. Tapi tampaknya darah di tubuh tersebut sangat berbeda dari manusia biasa. Seperti parasit kuat hidup di dalamnya dan bergerak mencari mangsa. Pantas mengapa peneliti hebat di Kekaisaran ini pun tak mampu menciptakan penawar, penyakitnya saja sudah di luar nalar seperti ini.
Para tabib mulai berkumpul di tengah, dalam keadaan basah kuyup memandangi murid dan salah seorang tetua menjadi korban dalam insiden malam itu. Tapi mau bagaimana lagi, jika tidak dibunuh merekalah yang akan terbunuh.
Luo Mei melirik Xin Chen, menundukkan kepala sedikit.
"Beruntung ada dirimu bersama kami. Kalau tidak keadaannya mungkin jauh lebih parah ..."
__ADS_1