
Naga Kegelapan terbang ke arah topan tersebut, membuat debu-debu hitam berpendar ke segala arah secara tiba-tiba. Tubuh dan ekornya berputar ke segala arah, Xin Chen meniup serulingnya. Memberikan perintah pada seluruh roh miliknya untuk keluar. Kabut-kabut hitam menguasai Lembah Para Dewa, layaknya awan hitam mendung yang turun ke permukaan bumi. Bergerak cepat mengepung Naga Kegelapan dari segala arah.
Irama seruling berubah-ubah, selaras dengan pergerakan roh yang begitu cepat.
Roh Dewa Perang terkagum-kagum melihat apa yang ada di depannya.
"Menguasai teknik mengendalikan roh bukanlah hal yang mudah. Mengendalikan ratusan ribu jiwa sekaligus, kau memang tak boleh diremehkan hahahah."
Xin Chen berhenti sesaat. "Kau meremehkan ku dengan tertawa di situ."
"Oh, kau mau aku turun tangan juga?"
"Lalu apalagi? Tertawa sampai tamat?"
"Gigiku bisa kering kerontang begitu. Yah, hahahah! Naganya berbelok!"
Roh Dewa Perang menertawai nya lagi. Perangkap roh yang Xin Chen ciptakan tak berhasil menangkap Naga Kegelapan yang telah menjauh. Hanya terdengar decakan dari Xin Chen, Roh Dewa Perang mendekat. Menyalurkan sedikit kekuatannya.
"Kau sudah terluka begitu banyak. Setidaknya gunakan sedikit kekuatan mu untuk menyembuhkan dirimu sendiri."
Wujud Xin Chen memudar, bahkan beberapa bagian tubuhnya nyaris tak terlihat. "Kau selalu mendahulukan orang lain sebelum dirimu, ya?"
"Ayahku selalu mengajarkan hal itu padaku."
"Maksudmu laki-laki yang sedang bertarung di sana?" Roh Dewa Perang menunjuk ke bawah sana di mana Xin Fai dan Xin Zhan tengah bertarung begitu cepat. Meski dia sendiri sudah tau apa yang terjadi, entah mengapa Roh Dewa Perang masih menanyakan hal tersebut.
"Benar."
Jawaban itu terdengar sangat berat.
__ADS_1
"Aku mengerti."
Lalu dengan tiba-tiba Roh Dewa Perang pergi dari sisinya, menyerang Naga Kegelapan yang berada di sisi lain, di balik awan-awan hitam di atas langit. Tak terelakkan sebuah pertarungan antara Roh Dewa Perang dengan Naga Kegelapan. Xin Chen tak tinggal diam, dia terus mengincar siluman itu bagaimana pun caranya.
Pedang besar di tangan Roh Dewa Perang menghantam leher naga, siluman itu terdorong ke samping beberapa meter. Sesaat sebelum Roh Dewa Perang mundur sirip-sirip keras dan runcing milik Naga Kegelapan keluar, puluhan ribu sirip yang tak beda dengan bebatuan tajam itu mengejarnya tanpa ampun.
Roh Dewa Perang berhenti menghindar. Bisa terlihat seluruh sirip itu tembus begitu saja di tubuhnya, hal itu membuatnya tersenyum ke arah Naga Kegelapan. Seolah-olah meledek serangannya sama sekali tak berpengaruh pada tubuh rohnya.
Lebih mengejutkannya lagi Roh Dewa Perang menguasai semua jurus dari Kitab Pengendali Roh. Garis hitam, teknik ketiga tahap kedua, benda serupa cambuk itu bergerak-gerak di sekitarnya, ukurannya jauh lebih raksasa dari apa yang pernah Xin Chen ciptakan. Tak heran juga, sebagai Roh Dewa Perang dia telah menyimpan kekuatannya selama waktu tidurnya. Saat dirinya dibangkitkan, dia memiliki kekuatan tersimpan yang luar biasa.
Melihat roh itu mau membantunya Xin Chen hanya bisa tersenyum tipis. Dia tak tahu apa alasan roh itu mau melakukannya.
Seketika garis hitam melilit tubuh Naga Kegelapan, dua daru cambuk itu mengikat ekor. Naga Kegelapan tak berkutik, mulutnya terbuka lebar bersiap menyemburkan api panas. Dan beberapa bagian siripnya melayang ke udara, berubah menjadi senjata yang langsung menyerang siapa pun.
Roh Dewa Perang menciptakan perisai roh, sirip-sirip itu tertancap pada perisai. Dia langsung menghancurkan benda kecil itu menjadi debu.
"Aduh duh naga yang baik." Dia mendekat dengan bebas dan menepuk-nepuk kepala siluman itu. Api Keabadian kian panas membakar Lembah Para Dewa, tentu saja emosi naga itu sudah naik sampai-sampai ke ubun-ubun kepalanya. Kesabarannya makin diuji oleh sosok roh bertubuh kekar menyeramkan tapi cara bicaranya seperti gadis kembang desa.
Senyum hilang di wajah Roh Dewa Perang.
"Oh iya satu tanduk ku yang cantik hilang."
Dia mundur lalu menarik tangannya ke belakang. Sebuah tinju besar tercipta dari kekuatan roh. Meski begitu wujud tangan itu begitu padat dan mampu melukai lawannya dengan serius. Roh Dewa Perang melepaskan serangannya yang langsung mengenai Naga Kegelapan dengan telak.
"Kau satu komplotan dengannya."
Dua tinju, sepuluh tinju dan terus-menerus terulang mengenai wajah Naga Kegelapan secara bertubi-tubi. Naga itu tak dapat berkutik karena Xin Chen telah berhasil mengunci pergerakannya. Seluruh roh miliknya menyerbu tubuh naga itu tanpa celah. Membekuk tubuhnya yang begitu besar.
Namun sesaat tangan Xin Chen bergetar. Dia sudah bergerak terlalu jauh dan tak memperhatikan batasannya sendiri. Ratusan ribu roh yang berada dalam kendaliannya mulai tak terarah. Xin Chen tak bisa menahan lebih lama, rasa sakit terasa makin parah jika dia terus bertahan membekuk Naga Kegelapan.
__ADS_1
Tanpa sengaja Xin Chen melepaskan kekuatan tersebut. Dia tak tahu perbuatannya akan berdampak buruk seperti sekarang.
Tubuhnya mati rasa.
Roh Dewa Perang melihat bagaimana Xin Chen jatuh bebas ke bawah. Roh-roh miliknya berpencar ke segala arah tanpa tujuan. Detik itu juga dia langsung mengejar Xin Chen sebelum Naga Kegelapan berhasil melepaskan diri dan menghabisi pemuda itu.
Pantulan api biru terlihat di kedua bola mata Xin Chen, begitu dekat dan semakin terlihat mendekat saat dirinya terjatuh. Tak ada yang bisa dia lakukan pada tubuhnya sendiri. Seujung jari pun tak mampu digerakkan, di saat yang sama pula perlahan-lahan Xin Chen dapat melihat bagaimana kondisi Naga Kegelapan setelah dibuat babak belur oleh Roh Dewa Perang.
Rahangnya retak, beberapa kulit luarnya terlepas. Semakin naga itu bergerak tak karuan, makin membesar retakan itu pula. Dan di bagian yang terbuka itu serangan fisik akan lebih rentan mengenai naga tersebut. Andai Xin Chen bisa menggerakkan tubuhnya. Dia tak akan sungkan-sungkan untuk menghajar Naga Kegelapan.
Dibandingkan memikirkan untuk menyerang lawan. Justru sekarang dirinya sendiri berada dalam situasi terpojok. Xin Chen yakin beberapa detik lagi Api Keabadian lawannya akan langsung menghancurkannya. Dalam keadaan selamat atau tidak.
"Dapat!"
Roh Dewa Perang masih sempat-sempatnya muncul dan menyelamatkannya. Mereka kembali ke daratan, tak lama Roh Dewa Perang menyalurkan kembali kekuatannya seperti sebelumnya. Menyembuhkan wujudnya yang nyaris rusak akibat perbuatan Xin Chen sendiri.
"Jangan gegabah. Musuh kita belum jatuh, kau jangan jatuh duluan."
"Hei," ucap Xin Chen. "Kenapa kau menolongku?"
Diam tanpa jawaban. Rupanya Roh Dewa Perang tengah berpikir.
"Kalau kau mati aku juga mati. Begitu logisnya."
Xin Chen yakin masih ada jawaban tersembunyi di sana.
"Aku akan berterima kasih setelah perang ini selesai."
"Berterima kasih sekarang boleh juga. Seribu kali sambil memuji ku. Lebih bagus."
__ADS_1