Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 75 - Sahabat


__ADS_3

Xin Chen yang kehilangan konsentrasinya lantas kembali mendapatkan serangan fatal yang mengenai tubuhnya, Pedang Roh di tangan Xin Fai kini menjadi ancaman terbesar untuk Xin Chen. Laki-laki itu beberapa langkah lebih lihai dalam memainkan pedang dibandingkan dirinya, jika Xin Chen baru mempelajari pengendalian roh selama beberapa tahun maka Xin Fai sudah lebih dulu mempelajarinya selama berpuluh tahun.


Perbedaan jelas terlihat di antara keduanya, Xin Chen mengalihkan perhatian Xin Fai sejenak. Tapi Dewi Api tiba-tiba saja bergerak ke arah Lan An. Membuat Xin Chen panik bukan main. Dia tak ingin membiarkan lelaki itu menghadapi Dewi Api yang bisa langsung membakar satu kota hanya dalam satu kali serangan.


Upaya Xin Chen tak membuahkan hasil, wanita itu mengelak dari Garis Hitam yang mengejarnya dan ketawa cekikikan menertawai serangannya yajg gagal. Xin Chen mendecak beberapa kali, dia masih harus menghadapi Xin Fai di belakangnya. Pisau angin mengejar Xin Chen dari belakang. Namun kekuatan itu terhenti ketika perisai roh menahannya dan menghilang menjadi abu.


Kabut hitam raksasa bergerak mengejar Dewi Api, sebelum wanita itu meluncurkan ledakan besar yang langsung membakar satu tempat, Xin Chen lebih dulu melindungi Lan An dengan perisai roh.


Xin Chen menggunakan kekuatan roh itu untuk memindahkan Lan An ke tempat yang jauh dari musuh dan segera menyusul sambil menyiapkan protes habis-habisan.


"Paman?! Kau tak seharusnya ada di sini! Kau hanya menempatkan dirimu dalam bahaya-"


"Kau masih selamat, Chen. Aku benar-benar lega."


"Bukan waktunya untuk itu. Kau-"


"Kau ingin aku sama seperti semua orang di Kekaisaran Shang? Menganggap tak bisa mencampuri urusan kalian dan berlindung ketakutan di rumah sembari mengharapkan kalian menang melawan Pedang Iblis dan Naga Kegelapan?"


Xin Chen kehabisan kata-kata. Mulutnya terkatup rapat. Banyak yang ingin dikatakannya tapi sayang semua itu tertahan di tenggorokan, wajah khawatir Lan An saat ini membuatnya kehilangan suara.


"Aku tak bisa membiarkan kalian bertarung sendirian di saat kalian menjerit memohon pertolongan. Itu benarkan? Hanya saja, kalian hanya berani berharap satu sama lain. Tak mau melibatkan orang lain karena takut nyawa mereka trancam."


"Paman Lan, tolong dengarkan aku. Keadaan di sini sama sekali tak bagus. Kau terluka sangat parah. Dan menghadapi mereka kau butuh kemampuan roh seperti ku agar bisa bergerak bebas di udara."

__ADS_1


"Chen'er, kau tahu." Lan An mendengus pasrah. Tampaknya tubuhnya tak kuat menahan suhu mematikan di Lembah Para Dewa yang tiap detiknya ingin melelehkan dirinya. Namun laki-laki itu berusaha tenang dan melebarkan senyum, senyum khasnya yang selalu terlihat bodoh dan mudah diperdaya. Lan An dapat melihat wajah Xin Fai dari kejauhan, begitu mirip dengan wajah pemuda di depannya ini.


Mengingat masa nostalgia ketika mereka masih remaja dan saling bertukar tawa.


"Aku bermimpi buruk saat tiba di Kota Fanlu. Mungkin waktu itu aku sekarat, aku belum berani menemui Xin Xia. Dia pasti menangis sekarang setelah tahu aku kembali ke sini untuk menemuimu dan sahabat terbaikku."


"Mimpi buruk?"


"Aku bermimpi kau tewas di tangan ayahmu sendiri. Dengan sebuah Pedang hitam dan wajahmu kala itu begitu ketakutan. Kau sendirian di sini, tak ada siapa pun yang membantumu karena Xin Zhan pergi. Tapi tenanglah, aku ada di sini untuk mu."


"Dan untuk pertemuan terakhir dengan sahabat ku."


Xin Chen tak menyadari waktu itu mata birunya mulai berkaca-kaca, sama seperti ketika diri masih kecil dan terperangkap dalam sebuah ruangan gelap. Ketakutan dan sendirian, lalu Lan An tiba-tiba datang dan tertawa sambil mengeluarkannya. Lalu menepuk-nepuk punggungnya. Lelaki itu memperlakukannya begitu baik.


Mata birunya terbuka lebar, mendapati Lan An berpindah ke belakang melindungi punggungnya dari serangan tersebut dan justru membuat pedang roh menancap di dadanya.


Sontak kekuatan besar melonjak drastis, kekuatan roh berpecah menimbulkan angin kencang. Lan An dengan susah payah menarik napas. Sementara Xin Chen yang terkejut nyaris tak bisa merespon.


Lan An baru saja mengorbankan nyawanya. Xin Chen ingin segera menyelamatkan laki-laki itu namun Dewi Api tiba-tiba datang memeranginya.


"Chen'er, jangan selamatkan aku kali ini."


Kata itu terdengar samar sampai tiba-tiba gulungan api merah memerangkap Xin Chen di dalamnya. Xin Chen memaksakan diri untuk keluar tapi sama sekali tidak bisa. Meski dia terbakar di dalamnya, api itu tak beda dengan logam berton-ton tebalnya dan tak membiarkannya keluar dengan cara apa pun

__ADS_1


Dewi Api tertawa terbahak-bahak, "Satu nyawa akan terkorbankan. Mari kita lihat sehancur apa pemuda ini nanti."


Lan An tak menanggapi ejekan itu dan fokus menatap mata cokelat Xin Fai dalam-dalam, "Hei, kawan. Kau masih mengingatku?"


Lan An menahan sakit luar biasa itu, menahan teriakan yang nyaris lolos dari bibirnya. Agar sahabatnya itu tak meremehkannya, bahkan di detik-detik sebelum kematiannya.


"Kau menyakiti anak-anak mu sendiri, bodoh. Mereka tak berdosa. Bahkan ketika kau berniat menyakiti mereka, mereka tetap ingin menolongmu. Ingat kembali, lepaskan sesuatu yang mengendalikan mu. Dan ingat ... Kita pernah bersahabat. Aku tak akan membiarkan mu sedih suatu saat nanti karena telah membunuh anak-anak mu hari ini. Meski harus mengorbankan nyawaku sendiri."


Lelaki itu menarik napas dalam-dalam. "Xiaxia sangat menunggu kepulangan mu. Aku bahkan berpikir sepertinya dirimu lebih penting daripada suaminya sendiri, hahaha."


Kilat mata Xin Fai masih sama, raut wajahnya belum melembut sama sekali dan masih di penuhi oleh amarah yang entah dari mana asalnya. Lan An tak ingin berhenti bicara, dia sudah menantikan waktu ini untuk kembali bertemu dengan sahabatnya dan mengatakan semua hal yang selama ini mengganggu pikirannya.


"Adikmu tak pernah tersenyum lagi semenjak kepergian mu."


Xin Fai mengeraskan perlawanannya, Lan An semakin erat menggenggam tangan Xin Fai yang kini menusuk pedang roh kian dalam ke rongga dadanya.


"Istrimu memiliki penyakit yang membuat nya terancam kehilangan nyawa."


Dia berkata dengan sesak, darah mulai merembes di tubuh Lan An. Angin-angin masih bertiup kencang di sekitar mereka. Dan perlahan-lahan Lan An mulai merasakan bahwa rohnya akan ditarik oleh pedang tersebut.


"Anakmu Xin Zhan selalu menangis ketika aku melihatnya sendirian di hutan. Tapi dia tersenyum begitu lebar saat menghadapi banyak orang yang bergantung harapan padanya."


"Dan anakmu kedua, Xin Chen. Dia menghilang selama tujuh tahun dan tak pernah menampakkan diri. Dari semua orang, mungkin dialah yang paling terpukul atas kepergian mu. Sekarang, kau sudah paham semua yang terjadi akibat keputusan mu hari itu?"

__ADS_1


__ADS_2