Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 155 - Badai di Sungai Aimezu


__ADS_3

Badai yang datang di Sungai Aimezu sedikit mengingatkan Xin Chen akan sebuah kutukan yang melanda desa di Kekaisaran Shang. Tempat itu menjadi terkutuk akibat kekuatan seekor Siluman Penguasa Bumi. Muara dari gelapnya awan telah berkumpul di atas bangunan tempat acara lelang digelar. Dia keluar dari sana beberapa menit yang lalu.


Xin Chen tak pernah menyangka, dia akan dipertemukan dengan satu barang yang dicari-carinya selama ini.


Benda itu tak lebih dari seukuran genggaman tangan, menyerupai batu berwarna abu-abu sedikit perak yang retak dan lecet di mana-mana. Sekilas hanya terlihat seperti permata siluman yang telah dibuang karena tak memiliki harga.


Tapi bagi seekor Rubah, benda itu sangat-sangat penting. Penting melebihi nyawanya sendiri. Sisa kekuatan di dalamnya telah disegel, sehingga tak ada satu pun kekuatan yang keluar. Membuatnya terlihat tak berharga. Xin Chen menggenggam benda itu, nyaris tak percaya akan menemukannya di tempat yang tak terduga.


Tapi ternyata dugaannya selama ini benar. Permata Rubah Petir telah berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Sialnya, ke mana pun perginya Permata Rubah Petir turut membawa petaka dan badai kutukannya. Xin Chen menyalurkan sedikit kekuatan petir, membuat benda itu bercahaya walau hanya beberapa detik.


"Tenanglah, kau aman. Aku akan mengantarmu kembali kepada pemilikmu."


Xin Chen menatap lama permata siluman itu, masih ada bekas darah Rubah Petir di sana. Bekas pertempuran tujuh tahun yang lalu, di mana isi kekuatan berjuta-juta tahun di dalam permata Rubah Petir habis dipakainya dalam satu hari. Xin Chen tanpa sadar tersenyum, bahagia sekali.


Sepertinya dia benar-benar merindukan kecerewetan Gurunya itu. Rubah Petir. Tak terbayangkan bagaimana perasaan Huo Rong dan Shui jika tahu sekarang dia mendapatkan Permata Rubah Petir kembali dan untuk yang kedua kalinya. Ini adalah kabar gembira sampai-sampai matanya terasa hangat.


Sebenarnya Xin Chen memiliki sekitar lima ratus juta keping emas untuk mendapatkan permata tersebut sisa gadaiannya kemarin, hanya saja dia sedang menguji si pembawa acara. Jangankan perhiasan, dulu sayur di pasar yang harganya hanya beberapa keping perak masih sempat ditawarnya sampai gratis. Bakat tawar-menawar itu sudah mendarah daging dalam dirinya dan tak bisa dipisahkan lagi.


Tak disangka lelaki itu cepat sekali mengalahnya dan Xin Chen malah mengantongi permata tersebut dengan harga murah. Andai mereka tahu siapa pemilik permata tersebut, mungkin saja harga yang dipasang jauh melebihi ratusan milyar.


Xin Chen langsung menyimpannya ke cincin ruang. Tempat paling aman yang tak akan bisa disentuh orang lain. Dia harus cepat menyelesaikan urusannya di Kekaisaran ini, termasuk mencari penawar untuk ibunya. Agar bisa kembali dengan cepat ke Kekaisaran Shang menemui Rubah Petir.


Dan Xin Chen nyaris melupakan Qin Yujin. Darahnya kembali naik ke ubun-ubun saat mengingat orang itu selamat dari ledakan di Laboratorium B-1.


"Bisa-bisanya ayah membiarkan orang sepertinya hidup. Kalau ketemu aku ingin sekali mencekiknya."


Di ruas jalan lain, seseorang sedang memperhatikan Xin Chen dari kejauhan. Pedang yang disarungkan di pinggangnya tampak begitu mencolok. Meski tertutup oleh luaran jubah, dia tetap tahu pemuda itu membawa pedang bersamanya. Xin Chen menyadari gerak-gerik di belakang dan memilih membiarkannya, jika orang itu menyerang dia pasti akan mengangkat senjata.


Tapi itu tak kunjung terjadi sampai dia tiba di persimpangan jalan yang menghubungkan langsung dengan sebuah laboratorium terbesar di Sentral Pusat. Xin Chen tak bisa melihat apakah di dalam sana terdapat terinfeksi seperti sebelumnya. Tapi yang bisa dipastikannya, bau darah tercium jelas dari lantai dua bangunan itu.


Penciumannya sama sekali tidak keliru, justru bau darah itu adalah pertanda bahaya karena tak lama setelahnya, sebuah jendela pecah dan menghamburkan puluhan terinfeksi tipe B. Mahluk percobaan itu berhasil keluar dari kurungannya dan membunuh peneliti di dalam lab.


Ratusan masyarakat di jalan itu segera lari tak karuan, ketakutan menjalar begitu cepat disusul teriakan. Keadaan kacau hanya dalam hitungan detik, Xin Chen mengangkat pedangnya. Menebas miring leher salah satu di antara mereka yang hendak menggigit, dari beberapa tipe itu dia sudah mengetahui salah satunya pembawa racun. Maka setelah membunuhnya, Xin Chen langsung berlindung. Mengejar terinfeksi lain yang terlepas dan membunuhnya tanpa ampun.


Kejadian itu disaksikan langsung oleh masyarakat sekitar, pemuda dalam seragam Serikat Sentral Pusat bertarung sendirian melawan terinfeksi dan mahluk lainmya. Darah bersimbah di jalanan bersama dengan racun. Tak ada yang berani mendekat hingga semua terinfeksi itu tewas.


Salah satu lelaki bertepuk tangan, tak percaya dirinya diselamatkan. Dia adalah salah satu di antara mereka yang nyaris digigit andai Xin Chen tak langsung menghabisi terinfeksi itu. Pakaian dan rambutnya yang tadi rapi sudah kacau balau, tapi wajahnya betul-betul menampakkan kekaguman.


"Ternyata masih ada bagian dari Serikat Sentral Pusat yang bekerja sungguh-sungguh untuk melindungi kota ini ... Aku kira mereka hanya terima gaji buta saja."

__ADS_1


"Orang itu sepertinya cuma bawahan, akan bagus setelah ini dia dinaikkan jabatan."


"Tapi tidakkah wajahnya terlihat asing? Aku seperti baru pertama kali melihat wajah seperti itu. Dan matanya ... Biru, aneh."


Bisik-bisik terdengar di sekeliling, Xin Chen menyadari sekelompok orang dengan pakaian yang mirip dengannya mulai merapat.


"Mati aku." Xin Chen mengumpat, niatnya dia hanya membersihkan jalan agar tak jatuh korban jiwa. Bisa-bisa dia ketahuan oleh orang tersebut. Xin Chen memutuskan untuk berjalan ke dalam keramaian, lalu menghilang di antara mereka tanpa meninggalkan jejak.


**


"Apa motifmu datang ke tempat ini?"


"Apa maksudmu?"


"Katakan dengan jujur. Aku tahu dari gerak-gerikmu, kau bukanlah bagian dari kami."


Pada suatu waktu di mana matahari tenggelam dalam kesunyian, di antara gang-gang gelap di mana para serangga dan tikus berpesta-pora memakan sampah, seseorang mencegat langkah kaki Xin Chen. Lelaki dengan penutup kepala, sebilah pedang di pinggang dan perawakan kasar-lebih mirip seperti seorang pengelana berdiri di hadapannya. Mengeluarkan aura pertarungan yang cukup besar.


Xin Chen jelas harus waspada dengan orang itu, dia pasti tahu cara mengayunkan pedang besar di pinggangnya. Dan dari tubuh lelaki itu, tampaknya dia sudah bukan sepenuhnya manusia.


Aliran darah di tubuhnya telah bercampur dengan darah binatang. Xin Chen dapat merasakan hawa siluman dan manusia saling bertabrakan di tubuh lelaki itu. Dalam artian lain, lawan di depannya adalah salah satu manusia percobaan yang selamat.


"Apa pun yang aku lakukan. Itu bukan urusanmu."


"Berarti benar kau datang ke sini untuk suatu tujuan?"


Xin Chen tak menjawab. Memilih mengambil jalan lain untuk mengabaikan lelaki itu, tak disangkanya pedang di belakangnya telah diangkat. Pertarungan mungkin takkan bisa dihindarkan, tapi lelaki itu masih mencoba menahan diri.


"Kau sudah datang ke wilayah orang. Setidaknya perlihatkan sedikit rasa hormatmu pada kami."


"Kau mengharapkan apa?" jengahnya, menyentuh pedang dengan sebelah tangan. Lelaki itu mulai terlihat waspada.


"Sebuah kerja sama sebagai sesama pengelana."


Xin Chen tak akan menyangka pertemuan malam itu dengan seorang petarung dari Kekaisaran Wei justru membuatnya terlibat lebih dalam dengan permasalahan besar di Kekaisaran Wei.


**


Sebuah persembunyian yang terletak di halaman belakang rumah warga kini dipenuhi oleh puluhan lelaki dengan baju biru dan sebuah lambang kipas terbalik berwarna hitam arang di punggung. Mereka adalah pengikut klan Shi. Atau lebih tepatnya berpihak kepada keturunan terakhir klan itu. Shi Long Xu. Selebihnya berpakaian biasa, tapi mereka membawa pedang bersamanya. Menunjukkan bahwa laki-laki itu adalah ahli pedang.

__ADS_1


Shi Long Xu, dikenal karena wibawa dan cara pandangnya yang keras. Dia membawa banyak perubahan nyata di dalam masyarakat Kekaisaran Wei.


Tapi, sembilan puluh persen orang Sentral Pusat membencinya.


Shi Long Xu berjuang di garis depan untuk para masyarakat di luar sentral. Dia menginginkan kesetaraan, tidak ada lagi manusia percobaan dan hewan-hewan yang dimusnahkan. Tidak ada kaum yang dilindungi karena mereka memiliki uang. Atau orang miskin yang dibiarkan bertahan hidup di lautan mayat yang membusuk.


Tapi langkahnya berulang kali dicekal. Bukan oleh ayahnya saja, bahkan petinggi dan orang-orang biasa di Sentral Pusat berulang kali mengirimkan pembunuh bayaran untuk mengambil kepalanya.


Dan dalam lima bulan terakhir, Ayahandanya telah menyatakan secara langsung bahwa Shi Long Xu kini berstatus sebagai buronan. Atas suatu sebab yang rumit dijelaskan.


Laki-laki itu berumur sekitar 26 tahun, masih tergolong cukup muda untuk cara berpikirnya yang kritis. Dia kehilangan banyak orang kepercayaannya semakin lama. Oleh sebab itu, dengan mengutus tangan kanannya, Ying Xue, laki-laki itu mengumpulkan puluhan pria yang akan bertarung dengannya untuk bertarung melawan Kaisar, yaitu ayahnya sendiri.


Api di ujung tombak yang mengitari sekitar persembunyian Shi Long Xu dihidupkan satu per satu. Kini terlihat jelas wajah-wajah tegang yang duduk saling melingkari. Mereka duduk di atas batu, dengan Shi Long Xu duduk salah satu batu di depan mereka. Semua mata tertuju padanya, serius. Nyaris tak ada suara sedikitpun selain menunggu laki-laki itu berbicara.


Xin Chen baru saja masuk, dipersilakan duduk oleh Ying Xue. Menatap lekat-lekat wajah Shi Long Xu, garis wajahnya tegas. Dia tergolong tampan, mungkin seperti Saudara laki-lakinya Xin Zhan. Caranya duduk, berbicara dan berdiri menunjukkan bahwa dia dididik langsung oleh seorang petarung sejati.


Mata Shi Long Xu menyorot Xin Chen, meski tajam tapi dia menunjukkan keramahannya.


"Boleh aku tahu siapa anda yang baru saja bergabung?"


"Chen. Panggil saja demikian."


"Saudara Chen, kau datang ke sini sudah bersedia atas kemauanmu sendiri? Apakah rekanku Ying Xue memaksamu?"


Xin Chen mengingat, sepertinya Ying Xue memaksanya tapi pada akhirnya dia sendiri juga ingin tahu kesepakatan apa yang ditawarkan orang ini.


"Aku datang sukarela dan sama sekali tak keberatan untuk bergabung."


"Syukurlah. Semuanya sudah jelas. Kalian datang ke sini atas kemauan hati nurani kalian sendiri, aku sengaja mengumpulkan tiga puluh dari kalian untuk sebuah alasan ..."


Shi Long Xu berdiri dari sana. Mengetuk-ngetuk kipas di tangannya sembari berpikir amat lama.


"Aku takkan berbasa-basi lagi."


Dia menatap satu per satu orang di tempat itu.


"Sudah saatnya kita mendengar suara mereka ... Bisakah kalian mendengar tangis bayi mereka, yang lahir di dalam lautan kesengsaraan? Wabah, kelaparan, ketakutan tak berujung, jeritan dan kematian yang semakin menggila. Mereka hidup namun sangat dekat dengan kematian. Ke mana pemimpin mereka yang telah bersumpah kepada Kekaisaran akan menjamin kehidupan mereka?"


Wajah miris itu seakan-akan sudah muak untuk mengungkit sosok yang tengah dibicarakannya.

__ADS_1


"Saudara, yang bernama Chen. Silakan berdiri. Aku ingin mendengar darimu, apa yang kau pikirkan tentang orang-orang di luar sentral."


__ADS_2