
Perkemahan Tenggara gempar. Yu kembali membawa seorang yang tergigit ke dalam perkemahan, walaupun aturan melarang siapa pun untuk melakukan hal tersebut dia tetap melakukannya. Wanita itu membaringkan Xin Chen di salah satu tenda, memberikan perintah untuk membawakan obat-obatan.
"Apa yang kalian lihat?!" Yu mengusir orang-orang yang berkerumun di depan tenda. Air mukanya keruh. Bisa-bisanya mahkluk itu keluar di saat seperti ini.
Benar dugaannya, Yu harus berhadapan dengan orang-orang yang menolak keputusannya. Terjadi kericuhan sejenak, sementara Xin Chen di dalam menahan sakit yang luar biasa mendera tubuhnya.
Dia duduk, menstabilkan napas dan menatap urat di lengan tangannya berubah menjadi merah. Pandangannya mulai kabur, detak jantungnya berubah tak normal, Xin Chen tak menyangka efek gigitan tadi akan separah ini. Tubuhnya seperti dibakar dan digerayangi oleh ribuan serangga
Tangannya meraih pundaknya yang terluka, menyembuhkan secepat mungkin.
"Tak mungkin, tak mungkin. Aku tidak boleh berakhir di sini ..." Xin Chen memejamkan mata berulang kali, tubuhnya akan kehilangan kesadaran sebentar lagi-atau kehilangan kesadaran selama-lamanya.
Samar-samar suara di luar tenda dapat ditangkapnya.
"Kau mau menyelamatkan orang yang akan mati itu? Jangan berharap dia selamat! Tidak ada harapan hidup untuknya, kau tahu. Meski dia abadi sekalipun, gigitan terinfeksi tingkat atas adalah pengecualian, mau dia raja, komandan, atau kaisar. Dia akan tetap mati! " Suara kakek-kakek renta menjerit, membakar telinga Xin Chen di dalam. Pemuda itu berpegang pada meja kayu di sebelahnya, berusaha berdiri.
Dia keluar dari tenda, dengan sisa kesadarannya mulutnya berucap. "Aku tidak apa-apa-"
Salah. Detik sebelum dirinya menyelesaikan kalimat tersebut, tubuhnya ambruk. Yu menahan tubuh Xin Chen dari jatuh.
"Dia ... Masih bernapas?"
Satu menit berselang, kerumunan yang tadinya ricuh menjadi sangat lengang. Mereka tahu Xin Chen sebentar lagi akan berubah menjadi mahkluk buas tanpa akal, tapi dugaan itu tak terjadi sama sekali.
*
Berkas cahaya terang masuk melalui celah-celah tenda. Hari telah siang, tapi udara masih sedingin pagi. Xin Chen terbangun, memeriksa luka di bahunya yang telah diperban. Ketika itu kepalanya seperti baru saja ditumbuk batu besar, dia tak sanggup berdiri untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Mau ke mana kau kecoa. Tidur!"
Suara Lang. Siapa lagi, pagi-pagi mukanya sudah seperti singa yang ingin menerkam. Xin Chen melihatnya, belum terbuka mulutnya Lang sudah menjawab.
"Kau digigit siluman setengah manusia, sebut saja mereka Terinfeksi tipe A. Kau tahu, arti A? Tingkat atasnya."
Xin Chen melihat pergelangan tangannya yang sebelumnya dipenuhi urat merah. Semua telah kembali normal. "Apa yang terjadi?" tanya pemuda itu seakan-akan tak percaya.
"Kau pingsan. Entah bagaimana caranya kau masih hidup dari gigitan itu. Dan bersiap saja, berita soal ini sudah menyebar. Kau akan menjadi sasaran para peneliti di luar sana." Dengusan Lang diiringi kibasan ekornya.
"Selain itu ..." Xin Chen memasang wajah heran. "Bagaimana bisa badan gentongmu masuk ke dalam tenda sekecil ini?"
Lang melihat sekitarnya, dia benar-benar terjepit. Semalaman menjaga Xin Chen, takut-takut dia berubah dan menyerang Perkemahan Tenggara. Lang sendiri terkejut Xin Chen bertahan dari gigitan terinfeksi tipe A tersebut. Tidak ada yang bisa menjelaskannya.
"Lupakan soal itu." Lang mencebik. "Kau tertidur sampai lima hari, tidakkah kau sadar? Lima hari."
Xin Chen reflek bangun. Tiba-tiba saja sakit terasa sampai ke ujung kakinya, tangan Xin Chen gemetar, urat-urat di wajah dan tangannya terlihat kembali. Lang mundur tak percaya, dia sudah menyadari ada yang salah dengan Xin Chen. Gigitan itu tak mungkin hilang sepenuhnya.
"Hei, kawan. Tenanglah."
Xin Chen berusaha mengendalikan dirinya. Instingnya berubah sangat beringas, rasa ingin membunuh siapa pun terasa begitu mendesak pikirannya. Melihat Lang di depan, Xin Chen mulai mendekatinya untuk mengoyak tubuh serigala tersebut.
Yu datang membawa tongkat kayu, mengayunkannya ke punggung Xin Chen sampai dia terjatuh.
"Bawa dia ke rumah ZeiShu. Dia butuh pengobatan, secepatnya!" Yu mempercayakan satu rekannya untuk membawa pemuda itu ke sebuah rumah yang letaknya berseberangan dengan sumber mata air. Memang cukup jauh, tapi hanya itu satu-satunya tempat agar Xin Chen bisa ditenangkan. Lang hendak mengawalnya tapi Yu melarang sebab dia menerima kabar dari temannya yang lain, bahwa akhir-akhir ini pengawasan di sekitar lebih ketat. Siluman sepertinya akan berada dalam bahaya jika tak berhati-hati.
Firasat Lang memburuk. Satu pria membawa Xin Chen pergi dengan kudanya.
__ADS_1
Kuda melintasi jalan yang di sebelah kanannya dipagari oleh kawat besi, menjadi satu-satunya penghalang para terinfeksi agar tak tumpah ruah ke jalan. Pria yang membawa Xin Chen gemetar bukan buatan. Engsel besi pintu mulai terlepas, jalan kuda mulai melambat ketika di depan sana satu per satu terinfeksi keluar dari gang-gang bangunan.
"Sial ..."
Salah satu terinfeksi memanjati pagar besi, pria itu memacu kuda agar berlari kencang tapi hewan itu malah bertahan di tempat, maju tak sanggup, mundur pun mereka sudah dikerubungi. Xin Chen masih tak sadarkan diri. Tak ada tempat untuk meminta pertolongan di sana. Mereka tidak bisa kembali dengan situasi seperti ini.
Pria itu hendak berlari ke jalan sebelah tapi dia langsung dihadapkan oleh tiga terinfeksi, mereka menyerang kakinya. Menarik pria itu ke jalanan dan memakan hidup-hidup sampai ke organ tubuh.
Raungan dan jeritan sekarat mengundang lebih banyak terinfeksi. Kuda yang membawa Xin Chen kabur, meninggalkannya yang terjatuh di atas tanah. Tapi nasibnya tak beda dengan pria sebelumnya. Mati terkoyak-koyak.
Satu terinfeksi mulai mendekati Xin Chen, samar dia dapat mencium bau manusia hidup. Tapi yang lain tak terlalu menyadarinya sebab bau tubuh Xin Chen berbeda dari manusia kebanyakan. Dia terinfeksi dan belum disembuhkan. Mahluk itu mendekatkan tangannya, hendak merobek muka tersebut.
Satu tembakan tepat di kepala memecahkan kepala terinfeksi tersebut. Salah seorang penembak membidik dari jendela sebuah rumah, dia menembak lainnya secara berturut-turut.
"Bergerak!" titah seorang lelaki dengan seragam serta pangkat tertinggi di antara puluhan militer lainnya. Kawanan terinfeksi dihanguskan, beberapa berakhir oleh tembakan. Dia mengangkat tubuh Xin Chen, lalu membawa mundur pasukannya.
"Korban berhasil diselamatkan. Mundur dan kembali ke kamp!"
*
Api yang membara di depan menghangatkan sekaligus memberikan penerangan di tengah gelapnya malam. Berisik yang samar dari kejauhan telah menghilang, kini matanya hanya bisa menangkap langit-langit dengan satu sumber pencahayaan di atas. Kedua tangan dan kakinya dirantai. Dengungan di telinganya kembali terasa, merambat ke otaknya dan mengikis kewarasannya.
Satu cairan disuntikkan. Mulutnya terbuka, hendak memekik. Sakit begitu hebat menjalar dalam aliran darahnya. Tak ada henti sampai lima belas menit. Dia seperti ingin mati.
Tapi seorang pria dengan jarum suntik di sebelahnya berbicara dengan damai. "Tenanglah, kau akan sembuh."
Satu suntikan terakhir, membuatnya bisa beristirahat. Melupakan sakit yang akhirnya menghilang dari tubuhnya.
__ADS_1