
Hancurnya Kekaisaran Wei akibat wabah kini disusul oleh kematian sang Kaisar Shi. Tak ada yang menyangka bahwa kehancuran semakin dekat dengan Kekaisaran termaju yang pernah ada itu.
'Hancur oleh otaknya sendiri' begitu orang-orang Kekaisaran lain menyebutnya. Guncangan besar terjadi di kedua sisi pula, Kekaisaran Qing dan Kekaisaran Shang. Namun Kekaisaran Wei tetap menjaga kestabilan mereka hingga hari di mana tujuh hari semenjak meninggalnya sang pemimpin.
Di bawah terangnya matahari di markas besar Fraksi Militer Pusat, tepatnya pada sebuah ruang tertutup yang cukup luas dengan salah satu atap terbuka sepuluh orang berkumpul termasuk Xin Chen dan Lang, menyaksikan pembakaran obat, data penting sekaligus pemusnahan kunci Laboratorium B-1. Kunci yang bisa mengakses banyak hal penting untuk para peneliti gila di luar sana.
Xin Chen memastikan betul-betul, tak ada yang tersisa di sana selain abu. Dia akhirnya menghela napas lega. Wen di sisi komandan Fraksi Militer Pusat bertepuk tangan.
"Kita berhasil menghentikan salah satu kiamat, ini berkatmu, Bung!" teriaknya dengan gembira.
Komandan Fraksi Militer Pusat menghampiri Xin Chen dengan kebanggaan di wajah.
"Yah, benar. Tanpanya entah apa lagi yang akan orang-orang busuk itu perbuat pada manusia. Aku berterima kasih padamu, Chen. Omong-omong, namaku Xe Chang. Maaf baru memperkenalkan diri," ramahnya. Merasa malu pernah berpikir bahwa Xin Chen tak bisa dipercaya.
"Aku juga berterima kasih pada kalian, aku menemukan apa yang aku cari di Sentral Pusat. Sekarang saatnya melanjutkan-"
Gedoran keras seketika mengagetkan orang di seisi ruangan tersebut. Seharusnya ini adalah ruangan rahasia yang dijaga ketat oleh beberapa orang di luar. Terjadi perkelahian, Xin Chen mencium aroma darah dan bunyi kekerasan di luar sana.
Sontak tanpa berpikir panjang, dia segera keluar dari sana.
Melihat Yu, Tiga, Yian, Shuo dan puluhan lelaki dari Perkemahan Tenggara menatapnya penuh amarah.
"Aku berharap kau tak mengkhianati kami, Chen." Suara berat Tiga memutuskan keheningan mencekam di antara kedua pihak.
Xe Chang dan anak buahnya telah bersiap jika sewaktu-waktu pertumpahan darah kembali terjadi. Tak disangka orang-orang Pelindung Malam sampai ke tempat paling terdalam di markas besar dan menemukan mereka.
Dan dari gelagatnya, tampaknya Yu memang sengaja mencari Xin Chen. Pemuda itu terdiam beberapa lama, terdengar suara Yu yang amat kecewa melihat salah satu rekannya telah berpihak pada musuh bebuyutan mereka.
"Ku kira kau membantu kami karena menganggap kami saudaramu. Tapi apakah hanya karena kami tak mampu membantumu ke Sentral kau menginjak kami?"
"Tiga, aku hanya ingin mengatakan padamu. Kau pasti tahu sakitnya kehilangan keluarga yang kau sayang."
Tapi Tiga tak lagi menampakkan pedulinya pada Xin Chen. Dia terlanjur kecewa begitupun dengan Yian.
"Simpan maafmu nanti saja, setidaknya kami sudah tahu ke sebelah mana kau berpihak. Sekali kau keluar dan bertemu kami, jangan berharap nyawamu aman."
Xe Chang menurunkan senjatanya.
"Sikap anti terhadap militer yang bertaruh nyawa untuk melindungi kalian selalu membuatku muak. Rasanya aku sampai ingin mengundurkan diri dari jabatan ini. Untuk apa aku melindungi orang-orang yang bahkan tak berharap dilindungi?"
Dia maju, menghadap Yu yang selama ini pun telah menjadi musuh terbesarnya.
"Seperti apa yang dia katakan. Semua orang di sini berjuang untuk hidupnya dan orang-orang di sekitarnya. Pilihannya hanyalah, mau kau bergabung dengan orang lain yang juga memperjuangkan hal sama. Atau berpisah dan saling melukai. Lalu kita semua akan mati bukan karena wabah, tapi karena saling membunuh!"
"Pelankan suaramu, sialan!"
__ADS_1
Tiga mendadak menyerang Xe Chang, dia menarik kerah baju lelaki itu dan mendekatkan wajahnya yang telah murka dilalap kemarahan.
"Jangan ceramah seakan kau paling tahu! Bersatu katamu? Aku pernah bekerja untuk orang sepertimu! Demi anak istriku, yang kalian katakan akan mendapatkan jaminan untuk di bawa ke Sentral Pusat! Tapi apa-?!" Suaranya sangat keras dan juga bergetar, sesekali terdengar laki-laki itu seperti sedang menangis.
"Kalian membuang mereka di jalan! Selagi aku mengabdi pada tugasku, dan saat aku mencari mereka ... Yang kudapatkan hanyalah onggokan daging yang sudah tak bernyawa dan masih berjalan dengan menyedihkan. Ke mana ... Ke mana janji kalian yang manis sekali itu ...?"
Xe Chang menundukkan wajahnya, tak berusaha melepaskan cengkraman di bajunya.
"Bukan hanya kau, semua orang kehilangan. Jika kau berpikir kami membuang keluargamu, maka kau salah. Orang-orang yang membawa mereka ke Sentral mungkin mengalami hal yang sama seperti mereka. Tak semua orang bisa melewati lautan mayat hidup itu. Bahkan kau sendiri ..."
Tiga melepaskan cengkramannya.
Yu beralih menatap Xin Chen. "Apa yang bisa kudengar darimu, katakan. Apa benar kau bekerjasama dengan mereka? Walau kau tahu Tiga sudah bersumpah dan akan membunuh orang ini?"
"Fraksi Militer Pusat berada di pihak kalian. Untuk melindungi orang-orang Perkemahan Tenggara dari terinfeksi di luar sana. Sepanjang jalan di hutan Pinus bersih karena mereka selalu menjaganya, di luar pos dan jalan besar lainnya. Setiap terinfeksi yang masuk telah dihabisi. Aku berada di pihak Fraksi Militer Pusat, itu artinya aku juga berada di pihak kalian."
Dia menerangkan sembari menatap yang lain, "Aku baru-baru ini mendapatkan kabar tentang sebuah virus baru yang sedang dibuat oleh musuh terbesarku. Dia bekerja sama dengan peneliti di Kekaisaran ini dan merencanakan pemusnahan berskala besar. Tidak hanya Kekaisaran Wei, Kekaisaran Shang dan yang lain akan terkena dampaknya. Dan belum tentu mereka menyediakan obat untuk semua orang. Mereka berniat mengeliminasi. Dan menciptakan sebuah dunia baru di bawah pemerintahan mereka sendiri."
Yu nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Aku mengejar mereka, dari laboratorium B-1 sampai ke Sentral Pusat. Dan ..."
"Terlibat dengan konflik di Kekaisaran?" Yu memberikan sebuah isyarat, Tiga ikut merapat di sebelah Yu.
Xe Chang mulai tahu ke mana arah pembicaraan ini. Dari semua mereka, tak satupun yang tidak tahu kabar kematian Kaisar Shi. Dan ciri pembunuh yang ditulis dalam sayembara yang diadakan secara besar-besaran seakan merujuk pada Xin Chen.
"Kawanku ..." Wen sampai menahan napas mendengarnya, ini persoalan serius yang tak bisa dimain-mainkan. Xin Chen pasti tahu benar tindakannya.
"Kau rela melibatkan diri ke dalam permasalahan rumit, hanya untuk menyelamatkan kekaisaran ini dan orang di luar sana?" Shuo berpikir realistis, di mana ada orang yang mau melakukan tindakan berbahaya itu. Mayatnya tak akan diampuni, itu sudah jelas. Bahkan dia akan diganjar dengan hukuman yang seberat-beratnya.
"Lalu? Apakah aku harus duduk diam dan menunggu wabah itu menghancurkan kita semua?"
"Aku melakukan ini semua bukan hanya untuk satu pihak."
Yu dan Xe Chang saling terdiam. Kalimat itu langsung mengenai mereka.
"Kalian seharusnya tahu, Fraksi Militer Pusat, Pelindung Malam atau para pembelot di luar sana tak lebih dari manusia biasa yang berjuang untuk kehidupan mereka. Apa salahnya saling berdamai dan saling berdampingan. Jika kalian tak sanggup bekerja sama setidaknya jangan berselisih satu sama lain. Sampai semua ini berakhir dan keadaan kembali normal ... Aku yakin, ketika semuanya baik-baik saja kalian tak akan begini."
"Kadang yang membunuh kita bukan hanya wabah, melainkan manusianya sendiri."
Xe Chang menarik napas berat. Kata-kata yang ingin disampaikannya telah disuarakan oleh Xin Chen langsung kepada ketua di Perkemahan Tenggara. Setidaknya walau cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan, wanita itu menangkap maksud Xin Chen.
Mereka tak seharusnya berselisih hanya karena wabah yang mengguncang kekaisaran ini.
"Aku paham." Yu akhirnya bersuara.
__ADS_1
"Kau berjuang untuk ibumu, bukan?"
"Kau tahu itu."
Yu menatap orang-orang Fraksi Militer Pusat dengan tajam. "Perdamaian memang penting, tapi kau tidak bisa mengganti nyawa rekanku yang telah tiada akibat perbuatan kalian."
Xe Chang menerima itu. Memahaminya, di pihaknya juga dia kehilangan banyak orang.
Xin Chen tak menyangka Tiga tiba-tiba saja menepuk pundaknya.
"Sekali lagi kau bergerak di luar pengetahuanku, jangan harap kau bisa kembali ke Perkemahan Tenggara."
"Kau memaafkan ku?" Xin Chen bertanya.
"Kau sudah ku anggap seperti anak sendiri, tak usah takut. Lagipula ... Aku mengetahui sedikitnya tentang apa yang terjadi pada anak istriku. Meski belum jelas. Mungkin saja orang yang diutus untuk menjemput mereka juga tewas, aku sudah mencari mereka dalam penyerangan beberapa hari lalu. Dan nyatanya mereka juga sudah tiada. Ini sudah jelas."
"Aku turut berduka atas keluargamu."
"Tidak apa-apa. Terima kasih."
Yian maju ke depan Yu dan menjadi penengah dengan Xe Chang. "Benar kata mereka, kita harus mengakhiri perselisihan ini. Apa salahnya membuat perjanjian damai?"
Xe Chang melipat kedua tangannya. "Kami mungkin bisa berbagi sedikit persediaan makanan dan obat-obatan untuk kalian. Semenjak berkurangnya anggota kebutuhan di tempat ini ikut menurun. Kurasa kalian lebih memerlukan."
Yu diam memikirkan beberapa hal, tersenyum tipis. "Di tempat kami ada banyak penempa dan penjual bahan-bahan yang mungkin kalian butuhkan."
Kedua pihak berakhir damai. Mereka berdiskusi sedikit lebih lama, membahas beberapa hal sambil bernegosiasi.
Xin Chen cukup tenang sekarang. Mendamaikan dua pihak yang saling bertarung memang hal yang sulit, tapi dengan saling terbuka serta berkomunikasi mereka dapat mengatasi permasalah ini secara damai.
Wen mengajak yang lainnya untuk merayakan perdamaian dengan acara kecil-kecilan di atap. Termasuk Xin Chen di dalamnya. Lang sendiri mengambil bagian daging rusa utuh yang dibakar khusus untuknya. Xin Chen duduk di sebelah serigala itu.
"Kau jadi lebih diam. Ada apa?"
Semua orang di sekitar mereka sedang berpesta ria. Tapi tidak dengan Lang. Wajahnya sulit ditebak, dan terlebih lagi Lang tampak cemas akan sesuatu.
"Bunyi tapak kaki yang begitu ramai ... Dan aroma pertumpahan darah."
Lang menatap jauh ke depan.
"Kita harus segera bergerak sebelum semuanya berubah kacau."
"Kau merasakannya?" Xin Chen tak bisa menebak dari mana kegelisahan merayap dalam dirinya. Tapi dia juga merasakan apa yang dirasakan Lang.
Ketakutan. Seperti ketika pertama kali berada di Labirin Kematian dan melihat ratusan ribu mayat hendak mengejarnya.
__ADS_1
"Mereka semakin bertambah ... Jika sampai mereka tiba di tempat ini, semuanya akan binasa."