
Xin Chen mengangkat tangannya, kemudian dalam seketika pemandangan mengejutkan muncul. Ratusan kertas melayang di atas udara dan mulai berjatuhan di atas lantai. Semua mata memperhatikan tanpa berpaling, dari sekian banyaknya kertas di situ terdapat satu kertas yang terbuat dari bahan merah muda.
Dengan cap milik Klan Jiang serta tanda tangan Jiang Cho dan Zing Yongxe sebagai kedua pihak yang terlihat. Kertas itu terbang di depan Xin Chen. Tangannya menangkap pelan kertas itu. Menarik senyuman penuh arti ketika melihat wajah ketakutan Zing Yongxe.
Kakinya berderap kian mendekat, Zing Yongxe mengepalkan tangan.
"Kau lupa, saat kekuatan rohku keluar dan menerbangkan seisi kamarmu?"
Tidak ada tanggapan, Zing Yongxe seperti ingin bicara tapi hanya bibirnya yang bergetar tak karuan. Ngilu membayangkan nasib apa yang kelak akan menghantam jidatnya. Laki-laki menggeleng, mulai membisikkan pelan
"Kita selesaikan ini baik-baik, aku akan memberikan keuntungan yang tak akan pernah kau bayangkan. Aku pernah mendengar kau ingin menyatukan Tiga Kekaisaran, bagaimana dengan tawaran menjadi seorang Kaisar? Aku akan membantumu. Aku bersumpah."
Xin Chen nyaris tertawa. "Kau melakukan kerja sama kotor dengan seorang dari Klan Jiang, Jiang Cho untuk mendapatkan suara dalam pemilihan Pilar Kekaisaran yang dilaksanakan secara tertutup. Dari ratusan suara dewan, kau membuat tindakan curang yang akhirnya menjadikan bangku-bangku pahlawan kacau!"
Jiang Cho membelalak di kursinya. Dia terbangun dari sana. Dan dalam sekejap saja puluhan mata menodong ke arahnya dan semua orang dari Klan Jiang.
Desas-desus mencabik-cabik Jiang Cho. Matanya memerah, begitupun mukanya yang terlanjur padam. Kakinya berlari cepat, menyerbu punggung Xin Chen yang masih berurusan dengan Zing Yongxe. Ketika hendak meninju kepalanya dari belakang tangan Xin Chen lebih dulu menghentikannya.
Tindakan Jiang Cho makin memperburuk suasana.
"Berhenti! Tuan Jiang, Anda tahu apa yang Anda perbuat sekarang?!"
Kaisar sampai berdiri dari tahta megahnya, matanya benar-benar sakit melihat semua yang ditunjukkan pada Xin Chen. Kenyataan besar telah terungkap. Semua hal yang tak diketahuinya terbongkar sudah, sampai ke ujung nadinya. Xin Chen membalikkan badan agar bisa menghadapi lelaki yang paling dihormati di ruangan tersebut.
Dia tahu ada asap yang menyebabkan kekacauan di bangku Pilar. Tapi selama ini asap itu selalu tak menunjukkan muaranya. Kaisar Qin tak pernah menyangka orang yang dicurigainya adalah sahabat lamanya sendiri, Zing Yongxe. Raut wajahnya mengerut, begitu kecewa sampai rasanya muak melihat Zing Yongxe yang begitu menyedihkan sekarang. Aroma busuk dari perbuatannya telah terkuak, dibongkar tanpa ampun oleh Xin Chen.
"Kerja yang bagus, Pilar Bayangan. Itulah yang aku harapkan darimu. Maaf, aku sempat tak mempercayaimu." Dia menepuk pundak Xin Chen sambil berlalu, kini langsung bertatap muka dengan sahabatnya sendiri.
"Kau menusukku dari belakang, kawanku."
"Ya-yang Mulia, dengarkan aku. Ada kesalahan yang harus diluruskan. Berikan aku waktu untuk bicara!"
Zing Yongxe bersujud sejadi-jadinya, matanya masih melotot sedemikian rupa. Baru berapa menit sebelumnya dia terbang di awan-awan dan sekarang dirinya harus mencium bumi. Keadaan begitu cepat berganti. Di tengah sujudnya Zing Yongxe sempat menilik ke samping, melihat anak kedua Pedang Iblis masih tak melepaskan pandangan darinya.
"Apa gunanya sekarang meminta maaf? Kau tahu, uang bisa kau dapatkan di mana saja. Tapi kepercayaan, sekali kau menghancurkannya, selama-lamanya akan terus hancur. Meski suatu saat aku memaafkanmu ... "
Zing Yongxe menyadari perbuatannya telah melewati batas. Dia merasa seperti dirasuki selama ini, melupakan bahwa sahabatnya itu adalah orang yang begitu mempercayainya.
Hanya demi uang.
Lelaki tua itu menyesal. Matanya mulai basah, dia mengerang meminta ampun tapi semuanya telah terjadi. Para petugas mulai menangkapnya dan membawanya ke tahanan. Sementara ratusan kertas yang bertebaran dikumpulkan oleh petugas lainnya.
__ADS_1
Xin Chen menatap wajah-wajah yang menghinanya tadi.
Tak bisa berkata-kata. Malu. Dan sebagian memalingkan muka, tahu akan apa maksud Xin Chen menatapnya.
"Yang Mulia tidak perlu takut, aku akan memastikan Kekaisaran ini bersih dari penyelewengan. Dengan hak istimewa yang kudapatkan. Meski ditawarkan dengan harta, tahta atau janji sebesar apa pun. Aku akan memegang teguh sumpahku padamu. Aku di sini bukan untuk mengejar uang."
Xin Chen menatap seluruh orang di depannya tanpa takut. Kalangan atas yang begitu ditakuti oleh para kalangan bawah, di mana mereka menundukkan kepala ketika orang seperti mereka lewat.
"Tapi untuk memberantas bangkai tikus berjubah emas yang lupa dikuburkan. Agar bau busuknya tak menyebar di Kekaisaran ini. Jika tidak berfungsi untuk Kekaisaran, aku dengan tegas akan menghancurkannya. Tidak peduli akan dikejar klannya, orang-orang pendukungnya, atau pun ditampar ayahku sendiri."
Kaisar Qin menegakkan punggungnya, telah lama tak mendengarkan kalimat yang patriotisme seperti itu. Waktu berlalu begitu cepat, para manusia kebanyakan telah dicemari oleh pemikiran keliru di mana uang mengendalikan segalanya. Dengan dibayar, tentu dia akan mendapatkan kebahagiaan dalam waktu singkat. Tapi tak memikirkan dampak besar yang menanti di belakang. Satu kecurangan saja bisa merobohkan Pilar Kekaisaran.
"Aku tidak menyuruh kalian menghormatiku, apalagi takut kepadaku!" Xin Chen sengaja meninggikan suaranya kepada para orang di depannya. Ratusan dari mereka, bukanlah orang sembarangan. Penasehat, Dewan, Bangsawan, Politikus, Para Elit dan masih banyak orang penting lainnya yang datang kemari karena mencemaskan keadaan Zing Yongxe.
"Tapi camkan ini baik-baik, satu perbuatan kotormu akan langsung tercium olehku. Jika langit tidak bisa menghukummu, maka hukumku yang akan mematikanmu." Peringatan keras itu disertai hawa gelap yang mematikan.
Beberapa pelayan pingsan karena terkena dampak kekuatan roh. Tubuh mereka yang lemah memang rentan. Seketika situasi berubah panik. Xin Fai mendekat ke arah Xin Chen, merangkulnya hangat.
"Hei, anak ayah begitu semangat kerjanya." Dia tertawa melihat mata penuh emosi itu, tapi tak bertahan cukup lama ketika melihat kemarahan di matanya seolah tak ingin padam.
Kaisar Qin menatap Xin Fai yang tertawa canggung. "Beri aku waktu untuk menenangkan mahkluk super batu ini."
"Xin Chen, kita perlu bicara."
Putranya tidak menjawab.
Daripada pusing menunggu anaknya menyahut dia langsung mengutarakan maksudnya. "Kau bisa melakukan penyelidikan yang lebih rapi. Tanpa menyusup ke kediaman klan Zing. Ayah tahu kau bisa, tapi kenapa?"
"Kenapa tidak?" Xin Chen membalas tatapan matanya.
"Kau tidak paham anakku ..."
"Ayah tahu rasanya ingin mencabik-cabik orang seperti mereka. Suatu saat terjadi perang, lalu yang berdiri di sana adalah banci-banci pemerintahan. Memang kau pikir mereka bisa melawan musuh bersenjata dengan jepitan rambut? Tidak!"
Xin Fai tak tahu apa yang membuat putranya itu tampak begitu emosi. Dia terdiam, memperhatikan wajah anaknya dalam diam yang lama. Berusaha memahami, bagian mananya dia tak memperhatikan putra keduanya itu. Xin Chen menepis tangan Xin Fai darinya, berjalan menjauh tanpa pernah menoleh ke belakang.
**
Tetesan air dari penyangga jembatan jatuh ke sungai tenang di bawah, jernih diisi ikan-ikan dengan corak yang indah. Daun teratai hidup di pinggirnya. Lalu di tepi sungai itu, seorang pemuda duduk dengan memandangi wajahnya sendiri.
Seharusnya Xin Chen merasakan kemenangan setelah menjatuhkan musuhnya.
__ADS_1
Tapi wajah di pantulan air itu, Xin Chen seperti sedang menatap musuhnya sendiri.
Dia melemparkan kekuatan besar. Gelombang tinggi muncul, menyiprat ke segala arah.
Namun bayangan itu kembali utuh lagi. Xin Chen mengepalkan tangan, lalu tanpa sengaja menatap nadi di tangannya.
"Tidak, tidak, tidak."
Urat itu kembali datang, tak lama sakit luar biasa bagai menghantam belakang kepalanya dengan palu raksasa. Xin Chen nyaris limbung saat berusaha berdiri. Menekan dadanya, perih dan sakit yang begitu bengis seperti sedang rohnya dari akar. Darah hitam keluar dari mulutnya. Begitu pun dengan matanya yang mulai mengeluarkan darah yang sama hitamnya.
Tak ada seorang pun di sana. Xin Chen jatuh berlutut di atas bebatuan. Dia hendak berubah ke tubuh roh sebelum merasakan sakit yang lebih mengerikan. Tapi pikirannya terlanjur di luar kendali.
Ingatan aneh seolah-olah muncul di depan Xin Chen. Ratusan terinfeksi di Laboratorium B-1 dan tangannya yang penuh dengan urat merah serta biru. Insting kuat menyuruhnya untuk menghabisi para terinfeksi itu.
Keinginan untuk membunuh yang luar biasa besar tanpa kendali keluar. Mata biru Xin Chen terpejam beberapa detik sampai nyalanya berubah redup.
Dari pintu belakang istana Xin Fai baru saja beres mengobrol dengan dewan lain terkait kasus Zing Yongxe dan Jiang Cho. Dia melihat anaknya dari kejauhan dan menyengir sambil berusaha melambaikan tangan.
Namun langkahnya melambat, dia menurunkan tangan dalam kebingungan. Kenapa perilaku anaknya sangat ganjil.
"Seperti bukan anakku yang keras kepala itu."
Xin Chen mengerang. Tubuhnya terasa terbakar oleh panas Api Keabadian miliknya sendiri. Benar saja, Kekuatan Api Keabadian terlepas tanpa kendali. Membakar pepohonan di belakangnya dalam waktu cepat.
Sakit itu makin menggila. Xin Chen tak bisa mempertahankan kewarasannya, dia bisa ikut gila.
Sementara dari kejauhan Kaisar Qin ternyata sedang mencari Xin Fai yang berjalan menuju anaknya. Terdengar teriakan yang begitu memilukan. Jantung Xin Fai seperti ditusuk sesuatu.
"Apa yang tidak kau ceritakan padaku, Chen?" Xin Fai berlari secepat yang dia bisa. Matanya mulai berair. Melihat keadaan anaknya sekarang, orang tua mana yang tega membiarkan anaknya kesakitan sampai terdengar seperti jeritan orang mati.
Mata hitam membara yang tengah dikerubungi oleh Api Keabadian itu melirik ke arahnya. Xin Fai tak bisa melihat jelas karena matanya memburam oleh air mata.
Kaisar Qin mempercepat langkah melihat ada yang tak beres dari kejadian di depan sana.
Dan dalam waktu cepat, angin kencang melintas menghalangi Xin Fai. Laki-laki itu tak bisa melihat apa pun tapi dapat merasakan sosok lain hadir di tengah mereka.
"Xin Chen, bicara pada Ayah! Kau baik-baik saja?!"
Xin Fai mencari anaknya itu di dalam kepulan asap. Tak menemukan apa pun.
Kaisar Qin tiba, napasnya berantakan karena terpaksa berlari. Melihat keganjilan yang tiba-tiba lenyap. Asap menipis, lalu mereka dapat melihat Rubah Petir bersama Xin Chen. Menatap tajam ke arah keduanya.
__ADS_1