
Berita besar mengguncang seluruh penjuru dunia, jutaan manusia diselamatkan dalam serangan terakhir yang telah menewaskan ratusan ribu lebih umat manusia. Sorak-sorai dan tangis terdengar di seluruh Kekaisaran. Kebahagiaan sekaligus duka bercampur aduk, beberapa bahkan merayakan kemenangan ini di Perlindungan Awan dengan meriah.
Kini ktakutan lenyap bersama angin badai yang telah berlalu.
Matahari kembali menyinari seperti biasanya, berkat itu nama Xin Chen sebagai Pilar Bayangan membumbung tinggi dan menjadi perbincangan hangat selama tiga hari terakhir. Bersama Pilar Pertama dan yang paling mengejutkan adalah Dewa Iblis, satu-satunya ras iblis asli yang menolong mereka menghadapi Qin Yujin.
Kaisar Qin tentu sangat gembira menerima berita baik tersebut, setelah sebelumnya dia sangat putus asa dengan keadaan. Pulau Seizu dilingkupi oleh pesta kemenangan.
Tao Gui Xiang yang sempat mencari cara untuk menyegel Qin Yujin lega, Xin Chen mampu menghadapi Qin Yujin bahkan tanpa bantuan Kuil Teratai. Kini seluruh Pulau Seizu ramai, meski demikian penjagaan ketat terus dilaksanakan karena masih ada ribuan terinfeksi di beberapa daerah yang belum dibersihkan.
Walaupun kemenangan telah di tangan tapi bencana dan krisis belum selesai. Masih ada korban jiwa yang terus berjatuhan.
"Kemenangan yang semu," anggapan seseorang yang tengah duduk di kursi, tempat puluhan orang penting dari tiga Kekaisaran berkumpul. Di sana Xin Fai dan Xin Zhan juga berada di sana, bahkan Xe Chang sebagai mantan pemimpin Fraksi Militer Pusat datang sebagai perwakilan Kekaisaran Wei saat itu. Kaisar Yin tiba paling terlambat. Rapat tersebut diadakan untuk membahas langkah selanjutnya yang akan diambil.
"Apa maksud Anda, kemenangan yang semu?"
Seorang laki-laki di belakang Kaisar Yin duduk menyelutuk, Xin Chen tak membalasnya langsung melainkan menatap ke seluruh orang di ruangan.
"Qin Yujin mungkin sudah tiada. Tapi sisa perbuatannya masih berkeliaran di seluruh tempat. Tidak akan ada ujungnya jika membunuh mereka, dan tidak akan pernah ada penawarnya selain darah Anak Iblis."
"Bagaimana bisa Anda mengatakannya, Pilar Bayangan? Kita memiliki ribuan alkemis handal. Percayakan pada mereka, memang mungkin butuh waktu 3-5 tahun. Tapi dengan kesabaran dan jika kita mampu bertahan, ini semua akan berhasil." Penasehat dari Kekaisaran Qing menyanggah, disambut persetujuan lainnya. Mereka lebih memilih berpikir rasional.
"Tahu dari mana mereka bisa menciptakannya?"
Balasan Xin Chen membuat laki-laki itu diam.
"Penciptanya sendiri tidak mampu menciptakannya, wabah ini telah ada sejak seribu tahun yang lalu. Dari waktu selama ini, tidak ada satu pun yang berhasil. Dan kau mempertaruhkan nyawa ribuan orang untuk lima tahun itu?"
__ADS_1
Tersudutkan, orang lain membela Penasehat itu. Puluhan suara yakin bahwa masih ada penawar yang mampu menyelamatkan manusia, meski nanti akan membutuhkan dana yang besar. Ketiga pihak siap bertanggungjawab.
Xin Chen memotong keributan, "Kita duduk tiga jam untuk membahas persoalan yang sama." Dia melanjutkan, menatap Ayahnya yang tidak memihak siapa-siapa bahkan dirinya sendiri.
"Tanyakan pada Kaisar Yin serta Tangan Kanannya tentang obat itu. Hanya itu satu-satunya yang mampu menyembuhkannya, jika kalian mampu menciptakannya hingga ribuan maka aku mengakui pendapat kalian."
Kaisar Yin menunduk, hingga akhirnya Tangan Kanan di belakangnya menjelaskan tentang darah Anak Iblis. Percampuran antara darah manusia dan iblis yang hanya ada satu di dunia. Sesal di mata lelaki itu terlihat jelas.
Ada begitu banyak orang di luar sana yang menunggu mereka selamatkan. Namun pada kenyataannya Kaisar Yin bahkan tak bisa menjawab, apakah memang wabah ini memiliki penawar atau mereka memang mampu menciptakannya.
Jawaban itu tidak pernah dapat dijawabnya.
**
Pulang ke rumah yang bersebelahan dengan pantai, Xin Chen hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Sementara orang-orang di sekelilingnya terus menyerukan namanya semenjak hari pertama tiba di Pulau Seizu.
Xin Zhan di sebelahnya mulai merutuk, bunga-bunga itu tersangkut di kepalanya. "Adikku tiba-tiba jadi populer sekarang, setidaknya senyum sedikit dengan mereka. Bukankah kau mati-matian bertarung untuk mereka semua?"
Xin Fai menyetujuinya, "Kakakmu benar. Paling tidak sapalah mereka."
Dengan mengangkat sebelah tangannya, Xin Chen mendapatkan seruan yang makin kencang. Pemuda itu belum sempat berpikir untuk menikmati suasana kemenangan ini, selain itu dia juga harus mencari seseorang lagi.
Kebetulan sekali matanya dapat menangkap sesosok yang dikenalnya, Xin Chen berhenti.
"Aku akan pulang nanti, kalian duluan saja."
"Mau ke mana?" Xin Fai menginterogasi, menukikkan alisnya curiga, di belakangnya Xin Zhan juga memasang muka yang sama.
__ADS_1
"Jangan lewatkan makan malam nanti," peringat Xin Fai sekali lagi, Xin Chen mengangguk. Berbalik badan menuju satu kedai makanan.
Saat berjalan Xin Chen tanpa sengaja berhenti di depan seorang penjual topeng, dia sudah tua hingga tidak dapat mengenali siapa gerangan yang sedang memperhatikan topeng-topeng dagangannya
Ada beragam bentuk topeng di sana, topeng manusia, rubah, naga, singa dan bahkan dengan bentuk-bentuk aneh. Senyum tipis terukir di wajahnya, Xin Chen sampai tidak menyadari wanita yang sedang berbelanja di kedai perhiasan tepat di sebelahnya berbisik-bisik sambil meliriknya.
"Apa yang kau cari, anak muda?"
Xin Chen mengangkat wajahnya, melihat lelaki tua bangun dari lesehannya dengan tongkat yang gemetar.
"Dulu waktu kecil aku sangat suka dengan topeng-topeng seperti ini."
Xin Chen mengingat itu dengan jelas. Saat dirinya selalu merasa tidak berguna dan memilih menggunakan topeng agar tidak ada yang mengenalinya saat berjalan di keramaian. Dia sampai sengaja mengerjai penjual topeng hanya untuk menarik perhatian.
Saat itu, semua orang berpaling saat melihatnya. Dia adalah sampah tak berguna. Selalu menangis dan ketakutan, nama Pilar Pertama terlalu tinggi untuk disandingkan padanya sebagai putra lelaki berjulukan Pedang Iblis.
Dia sudah tidak pernah menangisi takdirnya, ada saatnya pundaknya terlalu lelah untuk menanggung kepercayaan orang lain. Namun itulah yang membuatnya kuat, yaitu orang-orang yang ingin dilindunginya.
Dari topeng itu, seorang anak kecil tidak berguna telah berubah menjadi Pilar Bayangan yang telah melindungi banyak orang.
Xin Chen memakai topeng tersebut. Kali ini bukan karena takut orang-orang memakinya tidak berguna, melainkan takut orang-orang terus mengerubunginya.
Makian atau pujian sama saja. Xin Chen tidak membutuhkan keduanya. Dia akhirnya di dalam kedai makanan, makanan laut yang dibakar dengan bumbu dipajang di depan.
Dua orang sibuk adu mulut di dalamnya, Xin Chen masuk dan membuat keduanya terkejut. Satunya berhasil menyumbat belut ke dalam seseorang yang menjambak orang itu.
"Kalian sudah seperti suami istri kulihat. Mesra sekali," cetusnya ketika duduk di depan mereka. Keduanya kebingungan sampai Xin Chen melepaskan topengnya. Mereka langsung berteriak.
__ADS_1
"Mesra kepalamu!" teriak mereka berdua.