
Ruang bawah sadar Xin Fai hancur, untuk beberapa alasan. Seseorang menyerang bagian inti di dalam ruang tersebut dan menghancurkannya untuk keluar dari sana.
Benar saja. Saat Xin Fai hendak membunuh satu-satunya musuhnya yang tertinggal seseorang datang menyelamatkan gadis tersebut.
Di bawah pisau cahaya yang berhamburan, tumpah ruah menjadi kilatan cahaya yang sekilas terlihat indah dari kejauhan, sesuatu baru saja terjadi. Begitu cepat. Fu Hua membuka matanya lebar-lebar, jantungnya tak berdetak normal seperti biasanya.
Dia baru saja selamat dari mautnya.
"Ini sudah yang ketiga kalinya aku menolong mu. Apa kau sebegitu ceroboh?"
Gadis itu terdiam beribu bahasa, dia tak tahu siapa yang sedang menggendongnya karena untuk sekedar menggerakkan lehernya saja dia sudah tak mampu. Ketakutan masih menguasai gadis itu.
"Tenanglah. Kau aman."
Perlahan-lahan gadis itu mengangkat wajahnya, tepat setelah orang yang baru saja menyelamatkannya meletakkannya ke atas salah satu bebatuan.
"Tuan Muda Xin-"
"Apa yang membawamu ke sini? Kau sedang mencari mati?"
__ADS_1
Ucapan dalam satu kali tarikan napas itu seketika menusuk jantung Fu Hua, dia tertegun tak berapa lama hingga akhirnya buburnya berucap.
"Aku datang ke sini untuk menolongmu!"
Mata Xin Chen beralih pada luka tusukan di perut gadis itu, pakaiannya telah penuh oleh darah dan Fu Hua pastinya sedang sekarat. Terlihat dari air mukanya yang pucat. Keringat menetes dari keningnya.
"Aku membawa apa yang kau perlukan."
Gadis itu menyerahkan secarik kertas yang diisi oleh mantra ciptaan Yan She yang telah tiada. Kini kertas itu bahkan ikut terkena oleh noda darahnya sendiri. "Ini satu-satunya yang tersisa dari Ahli Obat Yan She-"
"Meski Fu Qinshan-musuh kami, adalah kakakmu sendiri? Kau menolongku?"
Di samping itu, Fu Hua memiliki alasan lain yang tak mungkin dia katakan. Meski demikian bibirnya tetap berucap. "Aku berhutang nyawa padamu. Aku hanya akan membalasnya sekali."
'Tidak seperti kakakku yang membalas kebaikan Tuan dengan seluruh hidupnya.' lanjut Fu Hua dalam hati.
Dia tak peduli bagaimana respon Xin Chen yang masih tak begitu menangkap situasi di depannya. Tanpa banyak bicara lagi gadis itu menyerahkan peninggalan terakhir Yan She di tangan Xin Chen seraya berucap.
"Perbaiki kesalahan ayahmu. Dan bawa kembali dia, aku tahu kau begitu menderita setelah kehilangan sosoknya. Dengan begitu, aku akan lega karena telah membalas kebaikan mu sebelumnya."
__ADS_1
"Kau melakukan sejauh ini-" Xin Chen masih tak percaya, meski sekarang dia tak melihat setitik kebohongan pun di mata gadis itu. Keraguannya hilang. Dia sempat berpikir bahwa Fu Qinshan mengirimkan gadis ini untuk mengelabui nya tapi kemungkinan itu juga tak masuk akal sebab dri perbincangan mereka sebelumnya, tampaknya Fu Hua adalah adik yang sangat berharga bagi Fu Qinshan.
Meski dalam artian, wanita itu akan rela mengorbankan adiknya sendiri jika itu menyangkut tuannya.
Xin Chen menggenggam kertas dalam tangannya, merasakan sebuah kekuatan yang levelnya jauh berbeda dari segala jenis mantra yang pernah ditemuinya. Bahkan mantra milik penghancur roh terkuat dari Kekaisaran Qing tak setara sedikitpun dengan benda tersebut.
Yan She bukanlah orang sembarangan. Ratusan tahun hidupnya begitu berarti, setiap detik dia memperkuat dirinya dalam bidang yang dia tekuni. Dan satu-satunya mantra yang dapat menggagalkan kutukan yang dialami Xin Fai, hanya laki-laki itu yang mampu membuatnya.
Xin Fai mendekat.
Dengan kesempatan itu Xin Chen segera mengaktifkan mantra tersebut, dia mengangkat tangan hingga cahaya putih dengan ukiran kuno suci keluar. Tak bisa terbaca sama sekali, lebih seperti bahasa kuno yang telah punah dari peradaban di Kekaisaran Qing.
Cahaya itu semakin membesar setiap waktunya. Dan apa yang Xin Chen tahu, saat ini cahaya tersebut mengurung ayahnya dalam satu penjara besar serupa tabung cahaya. Naik tinggi ke atas langit tanpa menyisakan secuil celah untuk melarikan diri. Kekuatan tersebut kian besar tiap bertambahnya waktu.
Xin Chen melihatnya, dari dalam penjara tersebut Xin Fai tengah bertarung dengan pikirannya sendiri. Lalu perlahan kegelapan berhamburan keluar dari tubuhnya. Itu adalah kutukan.
***
New update: **untuk sementara author mengambil Hiatus ya, karena keadaan di real life kurang memungkinkan. Author akan kembali secepatnya untuk menuntaskan cerita ini
__ADS_1
See you**!