Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 126 - Irama di Tepi Laut


__ADS_3

"Tidak ada bintang?"


Xin Chen bangun, menatap ke atas langit diikuti oleh Ye Long. Mereka berjalan menyusuri tepi pantai hingga berhenti di satu tempat yang terlihat lebih terang.


"Pantulan cahaya ini bukan dari atas langit." Xin Chen menyentuh permukaan air. "Ini dari bawah laut."


Ye Long menatap kebingungan, tanpa berpikir panjang langsung menceburkan diri ke dalam air.


"Ye Long, berhenti dulu-"


Terlanjur naga itu sudah berenang cepat, ekornya tak lagi terlihat. Xin Chen segeralah menyusul takut-takut naga itu melakukan hal bodoh di bawah sana.


Benar saja dugaannya. Pantulan terang di atas langit bukan disebabkan oleh cahaya bulan atau bintang melainkan cahaya dari sebuah tanaman seukuran telapak tangan yang hidup di bawah laut. Xin Chen menyadari Ye Long tampaknya tak sanggup menggapai dasar laut, napasnya terbatas. Sementara menyentuh permukaan laut membutuhkan waktu yang cukup lama.


Ye Long menggunakan sayapnya, bergerak cepat menggapai permukaan air sebelum dia kehilangan kesadaran.


Xin Chen beruntung memiliki tubuh roh, dia bisa menggunakannya jika perlu. Terlebih lagi dalam situasi seperti ini di mana tubuh manusia biasa tak akan sanggup bertahan lama di dalam air.


Dia mengambil satu Jamur Api. Namun tak diduga muncul sesuatu seperti gulungan air yang berputar-putar, bukan hanya itu saja gulungan air itu berjumlah lebih dari sepuluh. Di saat itu Xin Chen menyadari Ye Long belum naik lagi ke permukaan. Bahaya datang, Xin Chen tahu tak akan semudah ini mendapatkan tanaman tersebut.


Keadaan semakin memburuk tiap detiknya, Ye Long kehilangan keseimbangan dan terbawa arus air yang membawanya ke lubang dasar laut. Naga itu kehabisan napas, tak sadarkan diri saat tekanan air semakin besar dan bisa saja sewaktu-waktu menghantamkan tubuhnya ke karang yang tajam. Xin Chen hendak menyelamatkan Ye Long saat itu juga.

__ADS_1


Tapi di sisi lain, Jamur Api juga ikut terbawa arus. Jika dia tak cepat tanaman itu juga akan lenyap untuk selama-lamanya.


Dua pilihan antara menyelamatkan Ye Long atau membawa Jamur Api ke daratan.


Pemuda itu melepaskan kekuatan roh dalam jumlah besar, roh-roh tersebut berpencar ke segala arah mengambil jamur api. Xin Chen sendiri menyelamatkan Ye Long yang sedikit lagi akan tersedot lubang hitam di dasar laut. Waktunya hampir habis, beruntungnya Ye Long berhasil diselamatkan dari bahaya.


Keadaan Ye Long cukup buruk, naga itu sempat terlempar mengenai terumbu karang tajam yang masih panas. Luka bakar dan lecet memenuhi sekujur tubuhnya. Tak ada pergerakan lagi dari Ye Long. Napasnya bahkan terdengar sangat pelan.


Langsung saja Xin Chen membawanya ke permukaan air, meletakkan Ye Long di tepian pantai. Dia cukup panik dibuat Ye Long. Naga itu masih bernapas, dia hanya tak sadarkan diri untuk sementara waktu.


Kekuatan roh masih bergerak di bawah permukaan air yang masih bergejolak, letupan dari bawah air membuat Xin Chen khawatir dan membawa naga itu ke tempat yang lebih jauh dari laut. Instingnya benar. Seharusnya Xin Chen tak terburu-buru mengambil Jamur Api. Tapi karena Ye Long terlalu antusias dan berenang ke dalam air, dia jadi tak bisa berpikir jernih. Rasa bersalah datang ketika melihat Ye Long tak kunjung sadar.


Bayangan-bayangan hitam naik dari dalam air, membawa sesuatu yang bercahaya dan meletakkannya di sebelah Ye Long. Kekuatan roh perlahan memudar. Xin Chen menarik napas lega. Andai dia tak berpikir cepat tadi, dia akan kehilangan salah satu antara Ye Long atau Jamur Api. Jamur Api adalah satu-satunya cara agar dirinya bisa menyelamatkan Ren Yuan. Xin Chen tak bisa memilih.


Sepuluh menit berlalu, gelombang air perlahan tenang. Xin Chen tak melepaskan pandangannya dari laut, waspada bahaya lain sedang mengintai mereka berdua. Tapi menunggu berapa lama pun, dia tak melihat sesuatu yang mencurigakan.


Fokusnya buyar saat suara Ye Long terdengar merintih, naga itu bergerak-gerak. Kelopak matanya yang hitam bergerak, lalu dia membuka mata.


Pantulan biru dari Jamur Api membuat mata hitam Ye Long berkaca-kaca, dia terbangun langsung menghambur ke ratusan jamur api yang telah dikumpulkan kekuatan roh Xin Chen.


"Hei, kau hampir mati tadi. Melihat barang berkilau langsung kembali nyawamu."

__ADS_1


"Rraaghh!" Ye Long berbaring di antara jamur tersebut, bahagia di wajahnya membuat Xin Chen tertawa geli. Pemuda itu menatap jauh ke laut yang tak lagi bersinar seperti sebelumnya. Itu artinya Jamur Api telah menghilang, bersama dengan Api Keabadian di Kota Renwu. Entah ini akan menjadi kabar baik atau buruk untuk masyarakat Kekaisaran Shang.


Memang benar, mantan kota pusat ini sudah bisa ditinggali. Tapi permukaan tanahnya yang telah hancur lebur dan tak bisa ditanami apapun membuatnya tak layak ditempati. Masih terasa hawa-hawa panas di sana, ditambah lagi cuaca di tempat ini berubah sangat aneh.


Xin Chen mengeluarkan sebuah seruling yang sudah lama tak digunakannya. Memainkan alat musik itu pelan, nada seruling bermain-main di telinga Ye Long. Naga yang lasak itu diam, memerhatikan majikannya bermain suling.


Di matanya pemandangan itu masih sama seperti tujuh tahun yang lalu, Xin Chen bermain seruling di tepi pantai sembari menatap jauh ke laut. Tak pernah mengerti apa yang ada di dalam kepalanya, tapi dari nada seruling tersebut dia dapat merasakan kebahagiaan. Bukan nada kesedihan dan keputusasaan yang setiap akhir tahun selalu Xin Chen mainkan di tempat ini.


Perhatian Xin Chen teralihkan. Sepertinya Ye Long menikmati permainan musiknya. Pemuda itu menyeringai jahil. Suara seruling yang tadinya menyejukkan hati berubah menjadi Irama Kematian, naga itu menjerit kesal. Menutup telinganya dengan kedua tangan. Terlihat sangat lucu sampai-sampai Xin Chen semakin keras meniup seruling.


"Kau masih membencinya?"


"Rrarrgh! Mainkan lagi, aku tiup otakmu sampai ke luar! Ada otak tidak dipakai, majikan macam apa dia ini." Ye Long kesal bukan main, dia berusaha merebut seruling dari Xin Chen, mulutnya terbuka lebar-lebar, hendak menggigit benda itu.


Sayangnya Xin Chen sudah lebih dulu menyembunyikannya.


Pagi telah datang. Keduanya sepakat untuk akur, sambil melihat terbitnya matahari dari Kota Renwu yang masih indah seperti dulu. Kota itu masih agak temaram sebab kabut awan menutupi sinar matahari. Namun sebuah cahaya biru lainnya muncul, lebih terang dari Jamur Api. Terdengar suara berisik, seperti suara ranting pohon yang dibakar api. Xin Chen dan Ye Long kompak menoleh ke belakang.


Terkejut menyadari seseorang telah berdiri di belakang mereka.


"Masih ingat denganku?"

__ADS_1


__ADS_2