Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 137 - Sebuah Tempat Jauh


__ADS_3

Keadaan di depan ternyata jauh lebih buruk. Xin Chen memaksa yang lain berhenti berlari. Melihat ke depan di mana tiga makhluk mengerikan yang sempat Xin Chen hadapi berada di sana dan menyadari keberadaan mereka. Dari kejauhan mayat hidup lainnnya membaui aroma tubuh mereka, mulai berjalan dan menemukan ketiganya.


Mau mundur ke belakang juga sama saja, mereka sudah dikejar-kejar. Xin Chen tak bisa berpikir jernih, otaknya tiba-tiba kosong seperti kata Lang. Serigala itu sendiri mundur, ekornya berdiri kembali. Sementara Luo Li juga tak melihat satu pun jalan yang memungkinkan mereka untuk keluar. Ke mana pun mereka pergi mayat hidup itu selalu mengikuti mereka.


"Benar-benar habis kali ini."


Lang pun mulai memikirkan cara bertahan paling terakhir. Melawan mereka langsung.


"Hoi!!!"


Seseorang dari atas atap berteriak, Xin Chen segera menoleh cepat. Menemukan manusia lainnya yang tengah memanggil mereka.


"Cepat naik!"


Dia menurunkan satu tali tuas, "Atau kalian tidak punya kesempatan lagi!"


Dia memperingati sambil menunjuk ke depan mereka, tiga mahluk itu sedang mendekat. Xin Chen menarik Luo Li dan Lang ke sana. Dia mengangkut Lang di bahunya sementara Luo Li berpegangan sendiri pada tali tersebut.


Pria itu menarik tuas, mengangkat mereka naik ke lantai lima. Kaki Xin Chen sempat ditarik dari bawah, membuat besi di atas sempat tertahan.


Ketika sampai di atas Xin Chen, Luo Li dan Lang langsung dihadapkan oleh tatapan tajam dari pria tersebut. Perawakannya kasar, ototnya yang besar membuat bahu pria itu bidang. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan keramah-tamahan, meski begitu Xin Chen berterima kasih padanya setidaknya mereka lolos dari maut.


Dia sedikit melihat ke bawah. Mahluk itu tak bisa memanjat sampai ke lantai lima. Tali digulung laki-laki itu, tapi matanya tak urung lepas dari Xin Chen.


"Siapa kau?"


Dari sekian banyak pertanyaan, kalimat itu yang langsung keluar dari mulutnya. Xin Chen berdeham, "Kau sendiri?"


"Mungkin kau salah tangkap," katanya hendak sedikit mengoreksi kata-katanya barusan. "Maksudku, bagaimana bisa kau menghabisi terinfeksi itu sebegitu banyak? Kau cepat, tangkas dan sedikit gila. Kau pasti salah satu jenderal atau komando besar."


Xin Chen saling menatap dengan Lang. Seperti bertanya satu sama lain. Tapi tampaknya Xin Chen harus menyembunyikan identitasnya lebih dulu. Dia tak bisa langsung percaya dengan orang asing meski dia telah menyelamatkan nyawa mereka bertiga.

__ADS_1


"Aku hanyalah orang jauh yang kebetulan terjebak di jalan ini."


"Lain kali berhati-hatilah, jalan yang kau lalui itu sudah bukan lagi jalan manusia. Itu jalan terinfeksi, kalau mau bergabung dengan mereka silakan saja lewat sana." Dia menggendikan bahu, "Di antara kalian tidak ada yang tergigit?"


"Tidak satu pun." Luo Li menjawab lebih dulu dari Xin Chen.


"Terinfeksi? Yang kau Maksud itu mereka?" Xin Chen menunjuk ke bawah. Lelaki itu berhenti menggulung tali, "Apalagi?" sahutnya.


"Mereka yang terkena gigitan atau terkena virus disebut terinfeksi. Kau harus berhati-hati dengan mereka saat malam hari. Tapi siang pun mereka juga berbahaya. Apalagi kau sengaja bergabung ke dlaam pesta mereka. Mau menjadi santapan?"


Usai menggulung tali, pria itu memperkenalkan diri. "Panggil saja aku Tiga."


"Hah?" Xin Chen tak pernah mendengar nama seaneh itu


"Aku dulunya seorang militer, sekarang hanya mantan. Kode namaku 03."


"Nama aslimu?"


"Dan ... " Tiga mengalihkan pandangannya kepada Lang. "Kau mahluk buruan para peneliti di sini. Tapi sepertinya kau lebih tau itu daripada aku."


Lang tak menjawabnya. Dan malah membahas hal lain.


"Kau membantu kami pasti untuk tujuan tertentu."


Tiga tertawa lebar-lebar, membuang napas berat setelahnya. Dia baru saja menertawai keadaannya sendiri, lebih tepatnya.


"Di saat-saat seperti ini, menemukan satu manusia hidup saja sudah seperti menemukan sebongkah berlian. Aku membutuhkan teman untuk bisa bertarung bersamaku. Untuk keluar dari tempat ini." Sewaktu menjelaskannya sambil berjalan, Tiga tampak putus asa.


"Tiga tahun aku terjebak di sini. Memakan apa pun yang membantuku tetap bertahan. Tapi pada akhirnya aku sadar, aku hanya akan mati sia-sia di sini. Andai ke luar pun, yang berubah hanya tempatku mati."


Tiga memalingkan mukanya. Tapi Xin Chen dapat melihat air mata lelaki itu.

__ADS_1


"Aku ingin mencari anak dan istriku. Aku sangat merindukan mereka. Hanya itu yang menjadi alasan mengapa aku masih di sini."


Dia berbalik badan, "Ada satu tempat di Kekaisaran ini. Sebuah pengungsian untuk manusia yang masih hidup. Di sana dipenuhi dengan pasokan makanan, minuman, segala kebutuhan kita. Biar aku tebak, pasti kalian ingin ke sana juga?"


"Benar." Kali ini juga, Luo Li menjawab. Xin Chen mulai mengerti meski belum sepenuhnya.


"Baguslah, kita mempunyai tujuan yang sama setidaknya. Masuklah ke dalam. Kalian pasti kelaparan."


Saat itu Xin Chen baru menyadari rasa perih di perut yang telah lama dia lupakan. Dia kira itu hanyalah bekas robekan dalam pertarungan, nyatanya perutnya kelaparan semenjak beberapa hari ini terjebak dalam situasi mengerikan.


Tiga menyodorkan makanan dalam kaleng, Xin Chen sedikit keheranan. Tapi dia bisa memastikan itu memang bisa dimakan. Mereka berada di bangunan lantai tiga, selebihnya dua lantai ke bawah sudah dipenuhi oleh terinfeksi. Tangga yang menghubungkan lantai tiga dan dua telah ditutup. Satu-satunya jalan jika mereka terpaksa keluar dari tempat tersebut hanyalah dari lantai lima. Dengan tali tuas tersebut.


"Lalu ... Bagaimana kau bisa bertahan hidup selama tiga tahun? Makanan dan minuman tak selamanya ada di sini."


Xin Chen mulai mengeluarkan beberapa pertanyaan yang mengganjal.


"Dengan keluar dan mencarinya." Tiga menjawab tanpa keraguan


"Menerobos ribuan terinfeksi itu?"


"Tidak ada pilihan lain, kawan. Kau mau hidup? Kau harus mempertaruhkan nyawamu untuk mati. Beruntung saja, malaikat maut tak kepikiran untuk menjemputku. Mungkin kerjaannya terlalu banyak di Kekaisaran ini. Hahaha." Dia menertawai leluconnya sendiri. Di saat-saat sulit seperti ini, dia bahkan lupa untuk cara mengeluh atau merasakan sakit akibat kelaparan. Dia selalu duduk sendirian, menertawakan segala hal yang tragis di depannya. Lalu menangisi semua orang yang pergi dari sisinya.


"Istri, dia sangat cantik. " Xin Chen melihat kembali mata yang berkaca-kaca itu, "Kulitnya seputih awan, matanya tak pernah memandangku dengan amarah. Dan anakku, dia sangat lucu. Rambutnya keriting dan kulitnya gelap, tapi matanya sama cantik seperti istriku. Mereka selalu membuatku tersenyum dan menangis bersamaan saat mengingat mereka ..."


"Kau pasti akan bertemu dengan mereka," hibur Xin Chen sambil menepuk punggungnya pelan, "Kita akan ke tempat mereka."


"Kalau begitu kau harus menunggu beberapa hari, aku ingin mempersiapkan sesuatu."


Senyuman di wajah Tiga tak bisa Xin Chen artikan. Lelaki itu izin pamit. Meninggalkan Xin Chen sendirian di ruangan tersebut.


Xin Chen berjalan, hendak berbicara dengan Luo Li tentang sesuatu. Namun langkahnya berhenti, tubuhnya membeku. Melihat Luo Li duduk bersandar pada dinding. Luka darah di lengannya itu, adalah bekas gigitan terinfeksi. Pemuda itu tersentak ketika menyadari Xin Chen telah mematung di pintu kamar.

__ADS_1


"Kau ..."


__ADS_2