
"Tidak ... Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?" Yu menatap langit dalam kekalutan yang tak terbendung, semenjak beberapa menit yang lalu awan gelap bergumul bersama angin kencang yang tiada habisnya. Tak seperti biasanya mereka melihat cuaca yang begitu aneh seperti itu. Dan sekarang akibat badai yang begitu kencang beberapa besi kawat yang melindungi tempat persembunyian tercopot. Mereka berlindung ke parit, rumah dan ruang bawah tanah agar tak diterbangkan oleh angin yang semakin mengganas.
Yu terpaksa harus menepikan rasa penasarannya, dia harus menyelamatkan orang-orangnya terlebih dahulu.
Di tempat lain Rubah Petir menghindari pijakan demi pijakan yang retak, Garis Hitam terus keluar berusaha menghancurkan segala bangunan dan tempat di kota tersebut. Bagaikan diterjang ombak yang begitu besar, dalam hitungan kurang dari satu jam kota itu hancur lebur.
"Kita harus menghentikannya!"
Fu Hua menyahut dari kejauhan sama paniknya, "Tapi dia tak bisa didekati!"
Beberapa benda melayang nyaris membentur kepala Fu Hua, gadis itu mengelak secepatnya. Sementara itu amukan Xin Chen bertambah besar, dia mengeluarkan lebih banyak kekuatan sehingga Rubah Petir sendiri mulai tak yakin apakah ada yang bisa menghentikan pemuda itu. Satu per satu terjangan menghantam mereka dari berbagai sisi, Rubah Petir melihat Fu Hua berada dalam bahaya. Beberapa roh berusaha mencelakai gadis itu.
Dengan cekatan dia mengeluarkan kekuatan petir, menciptakan satu Tombak Petir yang cukup besar. Mengayunkan begitu lihai, memotong kepala roh-roh yang tengah mengelilingi mereka.
"Mereka tidak ada habisnya. Ini tak akan berhenti jika kita tidak menghentikan Xin Chen!" seru Fu Hua di tengah situasi kalang kabut, mereka bahkan sudah tak punya celah untuk lari. Getaran di permukaan tanah semakin terasa, ratusan ribu terinfeksi turun kembali ke tempat Xin Chen berada. Rubah Petir menggelengkan kepalanya.
"Makhluk-makhluk itu menuju ke arah Xin Chen, aku tak tahu apa alasannya. Tapi jika ini terus berlanjut, ratusan ribu roh akan bergabung dalam tubuhnya. Dia tak akan sanggup menahan kekuatan sebanyak itu-"
"Lihat!" Fu Hua menunjuk cepat, dalam kegelapan yang diisi oleh kabut hitam pekat serta ribuan wujud roh mengerikan, terlihat sebuah cahaya terang bersinar kebiruan. Rubah Petir tak bisa melihat jelas karena roh raksasa menutupinya beberapa detik berselang, tapi dia segera mengejar Xin Chen dengan langkah kilat.
"Fu Hua, lakukan apa pun agar kau bisa bertahan. Jangan sampai mati!"
Ucapan itu berakhir dengan menghilangnya Rubah Petir dalam satu detik setelahnya. Fu Hua mengangkat pedangnya ke sisi kanan, bersiap kalau-kalau serangan datang. Tapi dia sendiri tak yakin apakah para roh ini akan musnah dengan pedang tersebut.
Sebuah tangan mencengkram pundaknya, Fu Hua terkejut bukan main dan segera menghunuskan pedang ke leher sosok di belakangnya. Tambah kaget lagi ketika mendapati seseorang ternyata ikut terseret dalam badai kekuatan roh ini.
"Lian?!"
"A-aku sendirian dan hampir mati dan menemukanmu di sini."
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" tanya Fu Hua setelahnya, Lian menjelaskan dengan wajah yang benar-benar putih pucat bahkan seperti darah tak mengalir lagi di tubuhnya. Tangan dan kaki remaja itu membeku begitupun dengan darahnya. Dia nyaris tak percaya masih bisa selamat dari terjangan para terinfeksi yang sudah tak terhitung banyaknya itu.
"Aku, Shuo dan Chen mencari makanan dan orang-orang pembelot. Lalu tsunami mayat datang. Kami kehilangan Shuo," jawabnya tertahan. "Setelah itu muncul seorang laki-laki, dia memanggil orang itu Qin Yujin dan termakan emosi. Lalu terinfeksi aneh datang, lalu aku tak tahu lagi. Aku hendak menyelamatkan diri seperti perintahnya, tapi lagi-lagi gelombang besar datang. Terinfeksi itu hampir membunuhku, tapi... "
__ADS_1
Lian membuang pandangannya jauh ke tempat di mana terakhir kali dia meninggalkan Xin Chen, "Mereka tak menyerang ku dan hanya berlari cepat ke arahnya."
Mendengar penjelasan itu Fu Hua berpikir keras, "kita harus menemukan Qin Yujin!"
"Di mana?"
"Ini belum begitu lama, seharusnya dia masih ada di kota ini."
*
Rubah menepis segala serangan yang tertuju ke arahnya, menemukan satu manusia yang berlutut di atas sebuah bangunan. Kehilangan arah dan dirinya sendiri. Tubuhnya sudah semakin parah-bahkan lebih terlihat seperti orang yang mengidap penyakit yang sekarat. Virus itu menyebar dari dada, menuju pergelangan tangan dan wajahnya. Berusaha mematikan otaknya. Hingga pemuda itu berada di batas ambang kesadarannya.
Rubah Petir berhasil mencapainya, menepuk pundak Xin Chen pelan. "Kau mendengarku?"
Ketika muridnya itu mengangkat wajah, Rubah Petir tak melihat bola mata biru yang biasanya menatapnya begitu kesal. Hanya hitam pekat yang terlihat di sana. Seperti ketika Rubah Petir melihat mata mayat yang dirasuki oleh roh milik Xin Chen.
Xin Chen menghentakan tangannya, melepaskan serangan jarak dekat yang cukup kuat sampai-sampai Rubah terdorong beberapa meter. Dia berhasil menahan, mendekati Xin Chen kembali dengan marah.
Xin Chen menutup telinganya, "Aku ... Bencana. Mereka memanggilku."
"Ini bukan kau! Kau sedang berada dalam pengaruh, kembalikan kesadaranmu atau kau akan menyakiti banyak manusia."
"Aku pecundang."
Rubah Petir benar-benar kesal. Dia tahu yang berbicara itu bukanlah Xin Chen. Caranya berbicara dan bergerak, dia sangat mengenal muridnya itu. Namun tak bisa dipungkiri, emosi yang menguasai diri muridnya itu adalah emosi di alam bawah sadarnya yang terpendam jauh.
"Kau bukan bencana atau pecundang, Chen. Kau adalah muridku."
Mata hitam itu menatap lama sosok rubah dalam balutan jubah abu-abu. Darah hitam mengalir dari matanya, pundaknya luruh dan di saat bersamaan ratusan ribu roh naik ke atas langit. Begitu cepat kekuatan itu memakan terinfeksi di bawah sana, hingga tak bersisa satu jari pun dari mayat mereka. Roh adalah wujud dari ketamakan. Maka dari itu Kekaisaran Qing menyebutnya sebagai malapetaka dan membayar berapa pun untuk siapa pun yang berhasil membunuh sang pengendali roh.
"Benar, aku adalah muridmu."
Sayup-sayup dalam badai yang semakin kuat roh lain terus bermunculan, menyerang dan membentuk wujud baru. Menghancurkan segala tempat dan fasilitas kota. Menara paling tinggi di kota itu runtuh ketika garis hitam yang berbentuk seperti ular melingkarinya hingga ke puncaknya. Mencengkram sampai hancur dan melakukan hal sama untuk bangunan lainnya.
__ADS_1
"Aku adalah muridmu yang gagal."
Bersamaan dengan itu, awan hitam di atas langit mulai bergerak menuju ke arah Xin Chen. Rubah Petir berniat menghentikan itu semua. Xin Chen tak akan bisa menahan sebegitu besar kekuatan roh itu, dia mungkin akan memasuki tahap ketika dari Kitab Pengendali Roh. Tingkat mengerikan yang bahkan tak tercatat siapa yang pernah melalui tahap tersebut.
Jika tubuhnya tak mampu menahan kekuatan tersebut, bisa saja jiwanya dimakan oleh kekuatannya sendiri. Keabadian di tubuhnya tak berlaku jika itu tentang jiwanya yang dipadamkan. Dan rubah tak menginginkan hal itu terjadi.
Dia mengejar Xin Chen, tapi begitu cepat serangan masuk menghantam dada rubah. Siluman itu bahkan tak berkedip dan kecolongan begitu saja. Tubuhnya terpental jauh menghantam reruntuhan kota. Lalu ribuan roh berusaha membunuh Rubah Petir, dia tak bisa menghentikan Xin Chen sama sekali dengan keadaan dirinya sibuk menghadapi roh-roh lainnya.
Mata peraknya menatap khawatir ketika topan yang lebih besar muncul, berputar-putar dari awan hitam. Lalu dalam beberapa detik setelahnya, Kitab Pengendali Roh bersinar begitu terang. Kekuatan itu masuk ke dalam tubuh Xin Chen, terdengar teriakan dari muridnya itu.
Rubah melupakan soal keselamatan dirinya, mengejar Xin Chen hingga satu per satu serangan melukai tubuhnya. Dia tak bisa membiarkan Xin Chen memasuki tahap ketiga dari Kitab Pengendali Roh. Tahap itu membutuhkan setidaknya lima ratus ribu nyawa untuk ditumbalkan. Dengan jumlah sebanyak itu, dia yakin Xin Chen tak akan selamat. Lebih buruknya lagi satu-satunya yang dapat menyelamatkannya yaitu Roh Dewa Perang tak ada di sini.
Kabut hitam menjalar ke bawah, memasuki tubuh sang pengendali begitu cepat. Ledakan kekuatan tak henti-hentinya terjadi, lalu roh raksasa dan roh kecil lainnya menghilang menjadi kabut hitam yang kembali ke tubuh pemiliknya. Rubah Petir meringis mendengar teriakan Xin Chen. Merasakan sakit yang begitu hebat mendera tubuhnya.
"Arrrghhh!!!"
Suara melengking hebat di telinga Xin Chen, panas membakar tubuh bersama sakit yang tak kunjung hilang dan bahkan bertambah kian menyakitkan. Namun di sisa akhir kesadarannya yang hanya tersisa beberapa, Xin Chen melihat sesuatu lewat mata rohnya yang berada di sisi lain kota tersebut. Berkejaran cepat, melintasi seorang gadis dan remaja yang sedang berhadapan dengan seseorang yang terperangkap dalam Gerbang Neraka yang diciptakan para roh miliknya.
Xin Chen masih bisa melihat, walau samar. Mengumpulkan sedikit kesadarannya, memfokuskan kekuatan roh di pikirannya dan menggerakkan satu roh untuk merasuki salah satu terinfeksi yang menjaga Qin Yujin.
Selepas itu, dia kehilangan kesadarannya total.
"Xin Chen! Bertahanlah, hei." Rubah itu benar-benar panik, tak bisa disembunyikan lagi raut wajah khawatirnya dengan ketenangan. Bukan tanpa alasan, saat ini Xin Chen masih menggunakan wujud manusianya. Dan dia tak mendengarkan detak jantung sama sekali. Beberapa tulang Xin Chen patah. Darah mengalir dari mata dan mulut serta urat biru dan merah di wajahnya tak kunjung menghilang seperti yang sudah-sudah.
Dan yang terakhir, membuatnya makin membeku, kekuatan roh lenyap. Seperti tak terjadi apa-apa, hanya menyisakan Xin Chen yang sama sekali tak bernapas atau bergerak. Selayaknya orang mati.
"Tidak mungkin berakhir begini ..." sesal Rubah memangku kepala Xin Chen di atas kakinya, berusaha memeluknya. Duka yang amat sangat membuatnya hancur.
**
TAMAT.
Eh canda kawokwowk🏃♀️🏃♀️🏃♀️
__ADS_1