Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 268 - Sebuah Janji dan Lembaran Awal


__ADS_3

"Di mana pun kau pergi, aku ingin selalu berada di sampingmu."


Sepasang mata safir terbuka, tubuhnya terduduk dalam sekejap mata. Ren Yuan yang pertama menyadari itu tertegun.


"Kau sudah bangun? Syukurlah..."


Feng Yong juga tak menyangka dia dan Ren Yuan mampu menyelamatkan seseorang yang nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Namun hanya sesaat Ren Yuan terlihat bahagia, dia kembali bersedih.


"Te-terima kasih... Kalian sudah menjagaku," tutur Fu Hua sambil menundukkan kepala.


"Kau telah menjaga putraku, Nona Fu. Namun sayangnya dia ..."


Air mata menetes di kedua pipi Ren Yuan, dia menjelaskan bahwa kini Xin Fai dan Xin Zhan telah menyebarkan pengumuman untuk mencari keberadaan Xin Chen. Semua prajurit Kekaisaran dan Pilar menyebar ke seluruh penjuru namun sayangnya tidak pernah ada yang menemukan jejak putra keduanya itu.


Ren Yuan membuka jendela, rasa sakit di dadanya semakin terasa sesak. Fu Hua bangun dengan pincang, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di luar.


Kerlap-kerlip yang begitu indah di langit, bercahaya biru terkadang juga merah terang. Tanah di halaman rumah mereka juga dialiri oleh aliran cahaya yang menyebar ke segala tempat.


Ye Long bertingkah liar sejak Xin Chen pergi, dia telah membunuh banyak manusia dan berakhir menjadi buruan.


Ketika Ren Yuan menjelaskan semuanya kesepuluh jari Fu Hua gemetar, tentang Segel Pemusnah yang akan mengakhiri nyawa Xin Chen. Hari ini adalah hari penentuannya. Fu Hua melangkah di jalan berbatu yang indah, setitik cahaya biru turun saat dia menadahkan tangan. Tanpa sadar air mata menetes di pipinya.


"Tidak mungkin ..."


Fu Hua berlari mengejar cahaya tersebut yang pergi begitu saja.


"Aku ingin selalu berada di sampingmu ..."


Cahaya itu telah sirna, Fu Hua jatuh terduduk, seluruh tubuhnya luruh begitupun dengan air matanya.


Hingga sebuah geraman kasar terdengar dan berlari ke arahnya, seekor siluman hitam menerjang ke arah Fu Hua di saat itu juga.


*

__ADS_1


Tahap terakhir, Kristal Merah kembali muncul dan mengitari seluruh tubuh Xin Chen. Gelombang getaran dahsyat meluluhlantakkan Hu Yaongi. Aliran cahaya di tanah menghancurkan tanah dan membuatnya terbang mengudara di atas langit, serpihan dan reruntuhan batu melayang melawan gravitasi. Para terinfeksi juga sama, mereka seperti semut yang tengah diterbangkan angin.


Sekujur tubuh penuh luka luar dalam, mata yang mulai tidak bisa melihat dan napasnya yang begitu lemah. Urat nadinya berdenyut amat lambat, pemulihan di tubuhnya tidak bisa lagi dilakukan karena Xin Chen sudah menggunakan seluruh kekuatannya.


Malam itu, dingin membawa bisikan yang menakutkan. Xin Chen dapat merasakannya, kematian itu lagi-lagi terasa amat dekat. Dia telah bersiap untuk itu, kini tubuhnya akan tumbang dalam hitungan detik lagi.


Terasa sangat kuat, Segel Pemusnah mulai memakan tubuh dan jiwanya. Kerlap-kerlip di langit dan aliran garis-garis segel di tanah Hu Yaongi kembali memancar. Lalu kurang dari sedetik kekuatan tersebut pecah dan membunuh jutaan mayat hidup, seluruh tubuh jatuh tersungkur tanpa bergerak lagi. Para terinfeksi telah berakhir di detik itu, semuanya tanpa terkecuali.


Selubung di langit Hu Yaongi bersinar terang, menjadi pengakhir dari Segel Pemusnah. Kristal Merah pecah berhamburan, lalu dalam waktu bersamaan Air Mata Iblis mengeluarkan satu serangan mematikan yang akan menjadi pengakhir dari ritual pemusnahan. Cahaya yang begitu terang keluar dari Air Mata Iblis. Satu serangan dalam satu detik yang akan merenggut nyawa Xin Chen. Dan itu disebut dengan kemutlakan.


"Ini adalah akhirmu." Iblis Cahaya mulai melepaskan tangan Xin Chen. Pemuda itu mulai kehilangan keseimbangan, saat itu tidak tersisa setitik pun kekuatannya. Mungkin juga itu adalah alasan mengapa sang iblis harus merenggut nyawa tanpa kesempatan untuk menyelamatkan diri.


"Selamat datang, Era Baru," ujarnya samar.


"Xin Chen!!"


Xin Chen menoleh ke belakang, dari depannya cahaya bersinar sangat terang dan akan membunuh siapa pun tanpa terkecuali. Gadis itu tetap mendekatinya meski tahu dia juga akan mati dalam serangan tersebut. Fu Hua memeluknya begitu erat, tidak akan melepaskannya meski Xin Chen berusaha menyingkirkannya.


"Biarkan aku tetap bersamamu hingga akhir."


*


Namun satu hal yang membuat Fu Hua yakin ini bukanlah mimpi, dia bisa merasakan jari kelingking Xin Chen yang bertaut dengan kelingkingnya, begitu nyata.


Ingatan terakhirnya membuat Fu Hua yakin akan satu hal, "Jika ini bukan mimpi, apa ini surga?"


Suara pelan menjawabnya.


"Surga tidak merindukanku, Fu Hua."


Suara itu, ketika Fu Hua mendengarnya dia langsung menangis sejadi-jadinya.


"Kau gadis terbodoh yang pernah kukenal, kalau kau mati maka aku akan meninggalkan penyesalan. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi ..."

__ADS_1


Fu Hua tidak peduli, tangisnya semakin kencang. Xin Chen ikut terduduk.


"Mau di neraka atau di surga juga tidak masalah, aku ... Aku hanya tidak ingin sendirian. Aku ingin selalu bersamamu."


Xin Chen tersenyum lemah, "Lihat di sekitarmu, kita masih di tempat yang sama."


Fu Hua mengangkat wajahnya dan menyadari mereka masih di Hu Yaongi. Ye Long lah yang telah membawanya ke sana dan entah ke mana perginya naga itu sekarang. Ketidakpercayaan mengisi rona wajahnya yang memerah karena menangis, mata indah itu kembali menatap Xin Chen penuh tanda tanya.


"A-apa yang terjadi?"


Xin Chen mengeluarkan sesuatu, sesuatu seperti permata yang tidak pernah Fu Hua ketahui namun hanya merasakannya dia tahu bahwa permata itu adalah permata Siluman Penguasa Bumi terkuat, yaitu Naga Es.


"Kupikir ini akan menjadi akhir hidupku. Ketika kau ingin mempertaruhkan nyawa bersamaku, aku tidak yakin bisa tenang di akhirat tanpa penyesalan."


Permata Naga Es memiliki kekuatan spesial mempercepat dan memperlambat waktu. Satu detik bisa terulur menjadi satu jam. Di satu detik terakhir sebelum serangan Iblis Cahaya membunuh Xin Chen, permata itu mengeluarkan kekuatannya dan menyelamatkan keduanya. Iblis Cahaya sendiri telah menghilang setelah serangan terakhir itu.


Fu Hua menutup wajahnya, tangisnya semakin menjadi, itu artinya keduanya masih hidup.


"Fu Hua," panggilnya. "Apakah aku berhasil menyelamatkanmu?"


"Kau ..." Suaranya bergetar, dia mengusap pipinya yang terus basah. "Selalu berhasil menyelamatkanku."


Gadis itu tidak peduli lagi, dia segera memeluk Xin Chen erat-erat, takut akan kehilangan entah untuk keberapa kalinya. Xin Chen mengelus kepalanya sambil berbisik pelan.


"Aku sudah berjanji tidak akan menghitungnya, aku ingin selalu menjadi penyelamat untukmu dan semua orang. Karena itu, tetaplah berada di sisiku, selamanya."


Xin Chen mengangkat kelingkingnya sambil tertawa kecil, "Kau berjanji?"


Fu Hua mengangguk dengan mata safirnya yang basah, menautkan kelingkingnya sambil berkata,


"Aku berjanji."


**

__ADS_1


cie cie happy ending cieee


masih ada satu chapter lagi! stay tune


__ADS_2