Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 102 - Era Baru Telah Datang


__ADS_3

Lintas hitam d di awal fajar diikuti suara lengkingan tajam di langit Kota Fanlu. Masih belum ada yang terbangun di pagi buta itu, tapi seseorang telah kembali ke sana dan berjalan tenang di jalan utama. Pejuang Kota banyak yang masih terlelap di posko-posko, entah karena kelelahan dengan tugas yang seharusnya mereka tanggapi dengan serius atau memang akhir-akhir ini nyaris tak ada ancaman yang datang ke Kota Fanlu.


Seseorang yang berjalan di sana terdiam cukup lama bersama siluman di sampingnya. Teringat akan peristiwa yang dia alami ketika datang ke kota ini setelah mengurung diri cukup lama. Banyak yang telah berubah sejak kepergiannya, dan dari kejauhan dia bisa melihat puncak sebuah bangunan megah yang disebut Istana Kaisar. Kubahnya saja terlihat berkilauan.


Senyum miris terpampang di wajahnya.


"Kita pulang lebih cepat, Ye Long. Hanya untuk melihat semuanya telah direnggut oleh parasit elit di dalam istana. Kekayaan yang dulu dimiliki oleh rakyat-rakyat kita kini telah mereka gembok di dalam gudang harta mereka sendiri."


"Kilau di istana itu membuatku ingin membakarnya." Ye Long tak melepaskan pandangannya dari bayang-bayang istana yang tertutup kabut pegunungan. Tapi sebenarnya bukan itu rencana mereka datang lebih awal.


"Sebelum yang lain bangun kita harus segera bergerak." Ye Long maju selangkah lebih depan dari majikannya yang masih setia melihat-lihat Kota Fanlu.


"Aku ... Ingin melihat ibu."


Telinga Ye Long bergerak ke belakang, lantas dia berbalik badan dengan gerak-gerik yang antusias. "Ibu?"


"Ibu kita."


Ye Long berputar-putar kesenangan, dia sampai tidak sadar ekornya menghancurkan tong-tong di depan rumah warga. Kehebohannya langsung saja memancing keributan dan membuat lampu di beberapa rumah menyala. Panik, Ye Long segera membawa Xin Chen pergi dari sana. Hingga mereka berhenti di sebuah rumah yang ditumbuhi tanaman obat dan bunga-bunga berkhasiat. Dinding luarnya sebagian ditumbuhi oleh tanaman menjalar, masih tetap indah seperti biasanya. Hanya saja ada yang berbeda dari rumah tersebut.

__ADS_1


Xin Chen menyuruh Ye Long untuk tetap menunggu di luar. Dia tahu naga itu kadang hanya membuat keributan. Ye Long sempat tak terima, dia ingin bertemu dengan Ren Yuan. Tapi karena Xin Chen berjanji akan mempertemukan mereka saat matahari sudah lebih cerah, maka naga itu mengiyakan.


Dengan tubuh roh bukan perkara sulit untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Hanya ada beberapa lampu kecil yang menyala di dalam.


Seorang pembantu yang bertugas menjaga Ren Yuan 24 jam penuh terlihat sedang menumbuk tanaman, meraciknya menjadi obat. Alat-alat di atas meja berantakan, tampaknya wanita itu terburu-buru dan sangat kelelahan.


Wanita itu tak melihat saat Xin Chen melewatinya. Namun dia menyadari ketika api di lilin bergerak, meski di dalam rumah tak ada celah angin masuk.


Xin Chen sempat terpaku pada sebuah pajangan di ruang tengah rumah. Lengkap dengan perapian. Di situ terdapat sebuah ruangan panggung, ukurannya cukup kecil dan di tengah-tengahnya terdapat satu patung yang dipakaikan baju besi dan sebuah pedang replika menyerupai Ayahnya. Ren Yuan begitu menghormati suaminya. Cintanya tak akan pernah mati meski maut berusaha memisahkan.


Di tempat itu Ren Yuan selalu duduk termenung. Berdoa akan kepulangan suami dan anak-anaknya. Tempat yang selalu hangat itu kini dingin. Api yang biasa menyala di perapian padam, menyisakan arang dan debu seisi ruangan. Xin Chen melanjutkan jalannya, menembus sebuah pintu dan melihat seseorang tengah terbaring di dalam kamar.


Diam-diam matanya menghangat. Dia benar-benar merindukan sosok itu, hal sesederhana seperti jeweran dari ibunya bisa saja membuat pemuda itu menangis.


Meskipun Xin Chen datang lebih awal. Dia hanya ingin tahu keadaan wanita itu. Semua masyarakat Kekaisaran Shang akan kembali bahagia. Pilar Pertama akan kembali dan Xin Chen berhasil menepati janjinya pada semua orang. Termasuk pada Bai Huang.


Sekilas, Xin Chen teralihkan pada sebuah kalung kerang yang masih tergeletak persis ketika dia meninggalkannya. Kado ulangtahun yang diberikan kepadanya dan Xin Zhan. Xin Chen memakainya.


Dia mengelus kepala Ren Yuan. Terlihat tenang. Entah sakit apa yang sedang menggerogoti tubuh wanita itu. Dengan kemampuan medis Xin Chen yang sekarang, dia tak tahu apa yang membuat wanita itu kesakitan.

__ADS_1


Xin Zhan sempat membahas tentang penyakit Ren Yuan saat perang. Tapi sampai detik ini pun, kakaknya itu belum menjelaskan apa yang ditanggung ibunya. Seakan-akan Ren Yuan sudah tak memiliki waktu lagi. Kekhawatiran menghiasi wajahnya. Saat semuanya telah usai, dia takut Ren Yuan pergi.


"Bertahanlah."


Tak ada respon. Xin Chen tersadar dia menghabiskan terlalu banyak waktu di rumah ini hingga lupa akan misi rahasianya. Pemuda itu lantas berbalik badan dan berniat pergi secepat mungkin. Namun langkahnya tertahan saat suara serak kesakitan terdengar sendu, Ren Yuan meneteskan air mata di tengah tidurnya.


"Chen'er ..."


Sementara di balik jendela, Ye Long bergerak-gerak gelisah dan memaksa Xin Chen untuk segera pergi. Xin Chen menoleh sebentar, menatap tak tega. Tapi dia sendiri tak bisa berlama-lama lagi.


"Tunggulah sebentar, Ibu. Kami akan kembali. Lengkap dengan Ayah. Aku akan mengembalikan senyumanmu yang telah mereka renggut."


Ye Long terbang menukik, melesat cepat melewati perumahan dan terbang lebih tinggi lagi. Ketika mereka tiba di sebuah halaman luas yang diisi oleh berbagai tanaman dan monumen-monumen yang baru saja dibangun kembali, Ye Long turun. Tentu saja, di tempat yang lepas dari pengawasan penjaga.


Tak percaya. Hanya itu yang mampu menjelaskan bagaimana wajah Xin Chen pada saat itu.


Di antara barisan patung pilar di depan nya. Tak ada sesiapapun yang dia kenal. Pahlawan Kekaisaran Shang, pejuang, sampai pendekar terkenal di Kekaisaran ini, ibarat musnah ketika dia melihat ukiran wajah yang dipajang di sana.


Seharusnya saat ini yang memiliki posisi Pilar Pertama adalah Xin Zhan dan Kedua masih Lan An. Tapi semua telah diganti dengan patung yang terlihat masih amat baru. Mereka tak menggunakan pedang selayaknya petarung pada umumnya. Hanya patung yang dibuat dengan tangan mengepal layaknya pejuang.

__ADS_1


"Pejuang omong kosong." Kata-kata itu keluar dengan nada sinis. Tak perlu basa-basi lagi, Xin Chen muak dengan muka-muka yang selalu dimanja dengan uang itu. Dia mengeluarkan pedang dan memenggal kepala patung ke sepuluh. Alisnya bertaut.


"Era Baru Telah Datang, kawan. Jika langit tidak bisa menghukum kebusukan kalian. Maka aku yang akan menghabisi kalian dengan hukumku."


__ADS_2