Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 238 - Enam Tuan Rumah X


__ADS_3

Kedua petarung sama-sama mulai kelelahan, tak terasa waktu berjalan hingga empat jam lamanya dan kini mereka sudah berada di satu titik; Sama-sama kehilangan kekuatan.


Dengan begini hanya tersisa satu orang pemenang yang bertahan di akhir. Gajah Abu-abu mundur, luka dan retak di sekujur tubuhnya semakin terlihat.


"Hebat juga Pedang Iblis dari Kekaisaran Shang, aku sempat meragukan kekuatanmu. Tapi sepertinya kau memang lawan terkuat yang pernah aku hadapi."


Di sisi lain Xin Fai juga bernasib sama. Beberapa bagian pedang yang dia gunakan retak, darah menetes di dagunya. Dia mencengkram pedang di tangannya.


Keduanya berlari kencang, saling bertabrakan dan menimbulkan bunyi senjata tiada henti. Xin Fai menghentikan langkahnya, berbalik badan dan menyambar Gajah Abu-abu seketika. Jurus dan serangan menyerbu lawan, dia menangkis dengan Kapak Tulangnya.


Kekuatan terpancar di tubuh Gajah Abu-abu semakin menakutkan, Xin Fai harus segera menghabisinya sebelum bertambah semakin kuat lagi.


"Angin Desa Daan!"


Ribuan pisau-pisau cahaya berterbangan, mengejar Gajah Abu-abu dan menancap di tubuhnya begitu banyak. Tampaknya Gajah Abu-abu sudah kehilangan kekuatan sangat banyak hingga tak mampu lagi menghindar serangannya. Ada satu hal yang dapat Xin Fai pastikan setelah bertarung melawan Gajah Abu-abu.


Mereka dapat mengeluarkan kekuatan dalam jumlah banyak dalam waktu yang terbatas.


Xin Fai mengikat tubuh lawan dengan Rantai Api Neraka, mengunci pergerakannya tanpa memberikan ruang untuk bergerak lagi.


"Kau akan berakhir di sini."


Kaki Gajah Abu-abu terangkat, menggantung di udara ketika Xin Fai mencengkram lehernya. Dia menarik tinju dari belakang, mengalirkan sisa kekuatan yang dimiliki dan menghantamnya tepat di wajah laki-laki itu.


Hantaman dahsyat terjadi, kekuatan dari tubuh Pedang Iblis membuat kejutan hebat di sekeliling. Tanah tempat mereka berdiri retak hingga ke dalam-dalamnya. Disertai bunyi yang menggema.


Gajah Abu-abu terlempar sangat jauh, berulang kali menghantam bebatuan raksasa sampai pecah dan menghancurkan pepohonan yang ditabraknya hingga tubuhnya berakhir terhantam di dinding jurang besar. Xin Fai melepaskan kepalan tangan, hanya itu kekuatannya yang tersisa. Kedua kakinya lemas seketika hingga jatuh berlutut.


Xin Fai menang. Sedikit lega karena dengan begitu dia bisa langsung menyelamatkan Xin Chen. Dia berusaha untuk bangkit. Namun denyut mematikan tiba-tiba menjalar di tangannya hingga ke ujung kaki. Xin Fai menatap tangannya, terdapat bekas racun di sana.


"Jangan-jangan..."


Xin Fai mengingat lagi, Kapak Tulang milik Gajah Abu-abu memiliki satu celah rahasia yang bisa mengeluarkan cairan berupa racun. Gajah Abu-abu melakukannya tanpa Xin Fai sadari.

__ADS_1


Musuhnya itu sudah tahu akan kalah dan tak membiarkan Xin Fai menang bagaimana pun juga. Dia memberikan racun mematikan yang langsung membuat Xin Fai lumpuh. Lelaki itu telungkup, sendi dan tulangnya tak berfungsi normal. Darahnya membeku.


"Racun ini ..." Xin Fai masih bisa mencium aroma itu, matanya terpejam lemah. Itu adalah racun khusus yang dibuat dari Kekaisaran Qing, paling lama dia hanya mampu dua jam dari racun tersebut.


*


Tao Gui Xiang terlempar, dia mendarat dengan kedua kaki terbuka lebar dan jari menyentuh tanah. Singa Hitam datang. Lelaki uzur itu menangkis satu terjangan yang masuk dengan gesit. Tak tanggung-tanggung, cakar pembunuh milik Singa Hitam berhasil merobek kulit dan dagingnya puluhan kali.


Darah membasahi sekujur tubuh Tao Gui Xiang, jika dilihat sepintas semua orang pasti sedang mengira laki-laki itu berada di ambang sekarat. Jubah putih ternoda oleh darah merah yang terus menetes di tempatnya berpijak.


"Walaupun sudah kukoyak-koyak kau masih bisa berlagak tenang, kakek tua."


Tao Gui Xiang mengulang kuda-kuda awalnya, situasi seperti ini harus dihadapi dengan pikiran jernih. Atau jika tidak dia akan mempercepat kematian. Kedua tangan Singa Hitam adalah titik pusat penyerangan lawannya.


Lelaki itu sudah memiliki satu rencana tapi dia sendiri tak yakin apakah akan berhasil. Jika dia gagal kemungkinan terbesarnya akan mendapatkan luka fatal. Singa Hitam tak akan segan-segan kalau musuh sudah masuk dalam jangkauan serangannya. Sampai saat ini saja Tao Gui Xiang sudah berada di jarak paling aman dan masih mendapatkan luka cakaran di seluruh tubuh.


Lawannya itu tipe yang suka menyerang secara membabi-buta.


Tao Gui Xiang bersiaga. Dia mulai melangkah pelan dan mendekat. Singa Hitam menunduk, membaca gerakan yang seolah-olah sedang mengintainya. Tao Gui Xiang tiba-tiba saja berputar mengelilinginya. Begitu cepat dan nyaris tak terkejar dengan penglihatannya.


"Sisa tenaga dalammu yang tersisa kau gunakan untuk acara putar-putar seperti ini?" Singa Hitam tertawa lucu. "Hah, bikin geli saja!"


Dia mengikuti Tao Gui Xiang berlari, menyerang dari arah samping.


Benar dugaannya, Singa Hitam terpancing dan membuka celah. Dia sudah masuk dalam lingkaran segel yang diciptakan Tao Gui Xiang dan sekarang dengan mudahnya langsung berhadapan dengan laki-laki itu.


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka itu Tao Gui Xiang langsung menghantam dada Singa Hitam dengan sebelah tangan. Lalu jari telunjuk dan tengahnya menyerang di bagian-bagian titik vital, menghentikan aliran tenaga dalam di tubuh Singa Hitam. Lelaki itu memuntahkan darah banyak. Kekuatan besar terhenti tiba-tiba, langkah gegabah nya membuatnya terjatuh dalam jurang kekalahan.


"Jangan pernah meremehkan kakek tua bau tanah sepertiku."


Segel pengunci diaktifkan. Segel itu adalah salah satu segel yang diturunkan di Kuil Teratai. Garis-garis mantra naik ke tubuh Singa Hitam yang terkunci di tempat, seketika cahaya terang naik hingga ke atas kepala laki-laki itu.


Tao Gui Xiang membuang napas. Singa Hitam tak akan sadarkan diri sampai dia melepaskan Segel itu. Segel itu mutlak, tak akan ada yang mampu melepaskannya selain penggunanya sendiri.

__ADS_1


"Aku harus memastikan yang lain."


Meski berkata demikian Tao Gui Xiang tak yakin bisa berbuat banyak karena seluruh kekuatannya telah dipakai habis. Untuk berjalan saja kakinya mulai tak sanggup. Dan semua orang tak terlihat lagi di sekitarnya.


**


Yue Ling'er kehabisan cara untuk menghadapi Rubah Hijau, lawannya itu pengguna senjata rantai namun juga sangat ahli dalam racun. Bukan hanya melawan Rubah Hijau, lawannya itu juga memiliki Tiga Siluman beracun dan juga mahluk aneh yang tercipta dari rantai. Seolah-olah rantai itu hidup memiliki nyawa.


Tubuhnya menghindar lincah, Yue Ling'er membuka kedua tangan membentuk sebuah lingkaran. Enam bola hijau berisi racun muncul dan melesat kencang ke arah Rubah Hijau. Ekor kalajengking menahan dua dari enam serangan. Sementara Rubah Hijau mampu menghindar sambil menutup mata.


Yue Ling'er diam sejenak, lawannya itu tak memiliki celah di mana pun. Dia dapat melihat meski di titik buta. Wanita itu mengalihkan perhatian ke Tiga Siluman miliknya. Mata mereka bergerak ke sana kemari.


Tanpa banyak berpikir Yue Ling'er langsung menyerang tiga siluman itu, dia mengeluarkan senjata rahasia berupa sebuah bulatan kecil dengan duri-duri. Bergerak dan hinggap di wajah ketiga siluman milik Rubah Hijau.


Rubah Hijau terkesiap, "Serangga peledak-?"


Tiga ledakan sekaligus menghancurkan seluruh silumannya, Yue Ling'er tersenyum penuh kemenangan.


"Mahluk raksasa berantai itu tak akan ada gunanya jika tak mampu mengenaiku."


Rubah Hijau mengepalkan tangan. Padahal semula kemenangan tampak jelas di matanya. Namun wanita berusia 350 tahun itu selalu mampu bertahan. Tak pernah ada yang selamat jika bertarung dengannya tapi kali ini, Rubah Hijau harus mengakui bahwa Yue Ling'er tak akan semudah musuh lamanya untuk dikalahkan.


"Sepertinya aku harus lebih serius kepadamu."


"Justru dari tadi aku belum serius menghadapimu." Sergah Yue Ling'er, wanita itu memanggil seekor ular yang ukurannya menyamai satu rumah. Siluman kepercayaannya itu mendesis kencang, langsung merayap ke arah mahluk berantai milik Rubah Hijau dan melilitnya sampai hancur.


Yue Ling'er masuk ke dalam pertarungan yang sebenarnya. Dia juga telah merasakannya dan telah menunggu detik-detik itu tiba; saat ketika lawannya mulai melemah. Sejak tadi Yue Ling'er hanya mengulur waktu. Musuhnya berpikir dia telah mengerahkan seluruh kekuatan padahal tidak.


Karena tak peduli berapa pun dikalahkan atau tidak, Yue Ling'er memiliki pengalaman bertarung lebih banyak di bandingkan Rubah Hijau dan dia lebih awal memperkirakan kemungkinan untuk mendapatkan kemenangannya.


Tangan kirinya yang lentik dengan kuku berwarna hijau mengcengkeram dagu Rubah Hijau, topengnya terjatuh menampakkan wajah seorang gadis yang bahkan belum menginjak usia 20 tahun. Yue Ling'er begitu datar melihatnya, tak mengatakan apa-apa, tapi dari tangannya puluhan ular muncul dan masuk ke dalam mulut Rubah Hijau.


"Ini adalah akhirmu."

__ADS_1


__ADS_2