
"Hahahaha!" Salah seorang pembelot tertawa hebat, berhasil mengalihkan kepala prajurit.
"Aku pembunuhnya, memang kenapa?"
Lelaki berandal itu berjalan sempoyongan, dia hampir mabuk tapi masih dapat mengendalikan diri.
Nenek Ian segera menyeret cucunya ke pinggir sebelum para prajurit menginjaknya, dia menangis duka. Darah telah berceceran keluar dari mulut anak muda itu, tapi dia dapat merasakan hembusan napas di hidung cucunya.
"Ian ... Kau masih hidup?" bisik wanita tua itu sangat kecil, syukurnya Ian hanya pingsan karena kehabisan darah. Beberapa orang datang menyelamatkan Ian, tapi yang menjadi permasalahan sekarang Yu disandera.
Dan sekelompok Pembelot dengan wajah sangar dan gaya congkak mendatangi kepala prajurit itu.
"Kau mencari pembunuh itu? Seorang pemuda dengan jubah hitam, mata biru dan gelang kerang di tangannya?"
Kepala prajurit tertegun.
"Gelang kerang? Tidak pernah ada yang mengatakan soal ciri-ciri itu kepada kami ... Kau pasti tahu di mana Pembunuh itu! Katakan!"
"Kalau tidak, apa? Kau mau membunuh kami? Hm?" Lelaki berambut panjang dan kumis tebal di depannya bermain-main, botol kaca di tangannya dia hantamkan di atas sebuah batu. Membuat kepala prajurit itu sedikit ciut. Dia membawa banyak berandal di belakangnya dan jika bisa dibilang, orang-orang kumuh itu sangatlah liar. Mereka hidup dengan cara bertarung seperti binatang. Dan jika para bawahannya dihadapkan dengan berandal tersebut, bisa-bisanya hanya dirinya sendiri yang tertinggal.
"Hei, hei ... Kenapa, kau takut? Hahahaha. Ku bilang kepadamu, pantat lebar!"
Kepala prajurit memasang wajah tersinggung, wajahnya yang putih memerah kesal. Alisnya menyatu tapi tak sepatah pun kata keluar dari mulutnya.
Yu melepaskan diri secepatnya selagi lelaki itu berdebat, kepala prajurit pun tak peduli lagi kepadanya dan memilih menghadapi pada Pembelot yang diyakininya memiliki petunjuk tentang pembunuh Kaisar. Dia harus menemukannya, mengingat harga besar yang ditawarkan jika menangkap si pembunuh. Siapa yang tak tergiur dengan imbalan itu.
"Kami tak akan mengatakan siapa pembunuh itu, dia kawan kami. Lagipula kalau kau menawarkan imbalan uang sebanyak apa pun, kami bisa mencarinya sendiri di toko perhiasan yang sudah ditinggalkan!" Lelaki itu menunjuknya, "Kami tidak butuh uang itu, yang sekarang kami butuhkan hanyalah orang yang mau berjuang di sisi kami! Dan itu bukanlah pemerintah, kalian justru menyengsarakan kami dan baru turun saat Kaisar dibunuh? Selama ini kalian ke mana saja?! Tak pernah kulihat kalian muncul saat konflik besar terjadi di luar sentral."
Dia menambahkan setelah meludah di hadapan kepala prajurit. "Sekarang makan obatmu sendiri! Matilah pemimpin busuk itu, kami bersuka cita! Sudah waktunya perubahan dilaksanakan, dan anj*ing kotor seperti kalian harus dibunuh!"
Dia mengeluarkan belati yang disembunyikan di balik jubahnya, Yu segera memundurkan orang-orangmu agar tak terlibat dengan pertarungan tersebut.
Lelaki gondrong itu dibantu oleh kawannya yang langsung menyergap maju ke arah para prajurit. Awalnya belati itu hendak menusuk leher sang kepala Prajurit tapi sayangnya di belakang lelaki itu terdapat prajurit bawahan yang tengah mengangkat senjata ke arahnya.
Lelaki itu mendapatkan cedera parah, leher kirinya tergores dalam. Saat dia terjatuh kepala prajurit mengambil kesempatan emas itu untuk menusuk kepalanya dari atas.
Darah terciprat di atas rerumputan hijau, lalu terdengar suara jatuh di atas tanah. Satu nyawa telah melayang, para pembelot melotot tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Begitupun dengan Yu.
Kepala prajurit telah tumbang hanya dalam hitungan detik, tapi Pembelot yang berduel dengannya masih dalam posisi sama; jatuh di atas tanah bersimbah darah milik lelaki itu.
Xin Chen memasukkan pedangnya, menatap sekitar di mana puluhan prajurit menatap takut kepadanya.
"Jangan biarkan satu pun dari mereka keluar." Suara berat Xin Chen segera disusul oleh tawa para pembelot.
"Datang juga yang dicari! Saatnya berburu ayam!"
Seluruh pembelot berpencar tak membiarkan celah agar para prajurit itu kabur, mereka berkumpul di tengah tanpa sadar karena berandalan itu terus mendesak.
__ADS_1
Tebasan dan tusukan mulai mengambil nyawa para lelaki berzirah itu, Yian baru saja sampai dan menyaksikan peristiwa paling menakutkan yang pernah terjadi di Perkemahan Tenggara. Pembantaian besar-besaran terjadi, tapi korban yang jatuh bukan dari pihaknya melainkan suruhan dari pemerintahan sendiri.
Dia masih mengingat jumlah prajurit itu hampir melebihi angka lima puluh. Darah menggenang di atas tanah dan beberapa organ berhamburan. Beruntung anak-anak telah diamankan sehingga tak perlu menyaksikan tontonan mengerikan tersebut.
Dua puluh delapan mayat ditumpuk di satu tempat. Xin Chen membakarnya dengan Api Keabadian, yang membuat orang lain bertanya-tanya api apa yang baru saja mengabukan tubuh itu sampai habis tak menyisakan abu.
Kini tersisa prajurit yang masih menggeledah di dalam perkemahan. Yu tak sempat mengejar langkah Xin Chen yang begitu cepat, pedang di tangannya sama sekali tak diturunkan. Dia berlari, membunuh puluhan pria yang bahkan tak menyadari siapa yang baru saja memotong tubuh mereka dari belakang.
Para orang tua menutup mata anak mereka. Beberapa mengunci pintu rumah ketakutan. Di sore yang nyaris gelap itu, teriakan sekarat di perkemahan tak ubahnya suara orang yang mati dikerumuni para terinfeksi.
Xin Chen memasuki satu rumah, melihat dua orang prajurit sedang menggoda seorang janda dan anak kecil yang berada di dalam pelukannya. Mereka yang nyaris berbuat nakal terkejut ketika sebuah cahaya biru muncul. Temaramnya lilin tak memberikan mereka kesempatan untuk melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
Wanita itu memeluk anaknya kian erat, tepat ketika darah membasahi wajahnya. Kedua pria itu ambruk tak bernyawa, mereka sempat menggelepar dan meminta tolong tapi wanita itu terlampau takut untuk bergerak dan hanya menyaksikan manusia serupa iblis itu bergerak begitu cepat memburu mangsanya.
Pencahayaan yang menyala di sebuah rumah padam seketika, hawa mengerikan berhembus dari balik dinding rumah yang telah ditinggalkan pemiliknya. Rumah itu adalah Rumah Yu, ketua Perkemahan Tenggara yang saat ini diyakini mereka sebagai salah satu tempat persembunyian sang pembunuh.
Niatnya ingin menghampiri si pembunuh, sembilan prajurit itu justru didatangi langsung oleh Mata Biru yang dikabarkan telah membunuh Kaisar Shi. Dia menampakkan dirinya yang hanya terlihat siluet. Api unggun di luar membuat bayangan menutupi bagian wajah pemuda itu.
Tiga orang yang menyadari kehadirannya segera memanggil kawan yang lain. Mereka berkumpul di ruang depan, memasang sikap siaga dengan pedang di kedua tangan.
"Pemimpin kalian telah mati. Mau mengabdikan diri ke siapa lagi. Menyerahlah."
"Jaga omongmu! Kami datang ke sini untuk membunuh sampah sepertimu!"
Xin Chen mengangkat pedang yang dialiri kekuatan Api Keabadian, cahaya dari pedang itu membuat kesembilan dari mereka dapat melihat jelas wajah pemuda itu.
Bukan hanya matanya yang biru, tetapi terdapat sebuah lambang bunga api yang sama terangnya. Lutut mereka mulai gemetar saat mendengar suara berikutnya dari orang itu.
"A-apa?!"
Mereka saling menatap dan berdebat satu sama lain, mendengar orang yang paling kuat di antara mereka telah meregang nyawa di tangan si pembunuh membuat semuanya kehilangan nyali.
Dan darah di pedang biru itu, seakan memberitahu bahwa kawan-kawan mereka yang lain juga telah mati di tangannya.
"Tu-tunggu, kau tadi menyuruh kami menyerah, bukan?" Salah satu dari mereka mengangkat tangan gemetar.
"Lalu?"
"I-itu artinya kau akan mengampuni kami-" lelaki yang bicara itu harap-harap cemas.
"Aku tidak berkata demikian." Xin Chen menyangkal mentah-mentah.
"Menyerah atau tidak, kalian tetap dibunuh."
Kekuatan gelap diam-diam menyebar di seluruh Perkemahan Tenggara, memakan tubuh-tubuh penuh darah di sepanjang jalan, dalam rumah warga dan gang kecil yang telah dibunuh oleh si pemilik kekuatan. Beberapa roh yang dikendalikannya sempat tak terkontrol. Xin Chen sengaja menggunakannya agar tak menyisakan bukti, andai bala bantuan datang mereka tak akan punya bukti untuk menyalahkan pihak perkemahan Tenggara atas terbunuhnya para prajurit.
Sontak hilangnya mayat tanpa jejak itu menjadi tanda tanya besar di hati para penduduk. Meski demikian mereka tak berani bertanya pada Xin Chen tentang apa yang terjadi. Lang telah keluar dari persembunyian, seharusnya sudah aman baginya untuk berkeliaran. Sementara itu Xin Chen berjalan bersamanya ke tempat yang menghubungkan perkemahan dengan wilayah milik pembelot.
Yu mengejar dari belakang bersama Yian.
__ADS_1
"Kau akan pergi?"
"Apalagi yang kutunggu. Semakin lama di sini, nyawa kalian semakin terancam." Xin Chen tak berharap Yu datang untuk menahan kepergiannya. Yian menarik napas, memegang pundaknya sambil berkata, "Kami tak mengharapkan kau pergi dengan keadaan seperti ini."
"Benar kata Yian." Yu menimpali dengan bersalah.
"Aku tak berpikir buruk tentang kalian. Tempat ini menerimaku dengan baik, bahkan kalian selalu mencemaskanku. Aku berterima kasih untuk itu. Sampaikan salam ku pada yang lain, aku pergi dulu."
"Chen." Yu memanggil, Xin Chen menoleh singkat.
"Kapanpun kau lewat ke sini, singgahlah. Kami akan selalu menyambutmu."
"Aku mengerti."
Yian seperti ingin berbicara tapi dia hanya diam, melambaikan tangan sambil tersenyum tipis. Lang dan Xin Chen pergi dari sana.
Keduanya telah menghilang dari pandangan Yu dan Yian.
Lang sebenarnya tahu harus ke mana tapi tak yakin apakah di depan sana mereka bisa keluar. Kebanyakan akses di Kekaisaran ini ditutup.
Kekhawatirannya ditepis ketika melihat sekelompok lelaki berpenampilan urakan mengikuti mereka dari belakang. Xin Chen sama sekali tak terganggu dengan mereka yang gerak-geriknya saja sudah sangat mencurigakan.
"Tuan, mau ke mana? Buru-buru sekali."
"Eh, eh, yang sopan sedikit kutu air. Dia ini pendatang dari tempat lain heh."
Xin Chen menanggapi orang-orang itu sedikit tertawa. Sepertinya sekelompok Pembelot yang ditemuinya beberapa hari lalu memang menceritakan tentangnya pada kawannya yang lain. Mungkin saat ini dia sedang menjadi bahan gosipan para berandalan ini.
"Lihatlah kulitnya begitu putih, seperti ayam lagi bertelur."
Yang lain tertawa nyaring, Lang menggerutu membuat mereka diam ketakutan.
"Bagaimana dengan kelompok kalian? Masih kesusahan mencari persediaan makanan dan minuman?"
Alih-alih bertanya, jawaban yang didapatkannya justru begitu menyakitkan. Lelaki itu mengatakan bahwa kebanyakan dari mereka baru bisa makan sekali dalam dua hari. Mereka hanya mendapatkan minuman keras dari hasil pencarian. Pelindung Malam sudah membatasi beberapa tempat milik mereka sendiri. Andai mau merebutnya pun mereka pasti harus kehilangan banyak orang dulu.
Dalam segi jumlah, para pembelot ini kalah daripada penduduk biasa.
"Kudengar Fraksi Militer Pusat akan membagikan beberapa persediaan makanan dan minuman akhir pekan ini. Datanglah ke markas besar dan menyamar jadi penduduk biasa. Jangan merusuh di sana. Kau pasti mendapatkannya."
"Benarkah? Orang itu mengatakannya padamu langsung?"
"Iya. Omong-omong terima kasih sudah mau membantuku tadi. Kalau kau tak berteriak mungkin ketua Yu akan dibunuh."
Masih dalam keterkejutannya, pembelot itu sempat terdiam dan berunding dengan temannya yang lain untuk merencanakan kepergian mereka. Dua hari lagi tepatnya pembagian itu dilakukan, mereka harus bersiap.
"Aku tak berniat menyelamatkan wanita sialan itu." Akhirnya dia menjawab.
"Kau menguntungkan untuk kelompok kami, maka kami menganggapmu sebagai bagian dari kami. Jadi tak perlu berterima kasih. Siapa pun kau, kalau sudah kami anggap keluarga akan tetap kami anggap keluarga selamanya. Jangan sungkan meminta bantuan." Lelaki itu tersenyum menampakkan deretan giginya yang sebagian keropos.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa tidak kau tunjukkan kami jalan menuju Kuil Kelima." Suara Lang sempat membuat mereka kaget, seorang dari pembelot itu menjawab.
"Sepertinya aku tahu jalan paling cepat agar kau sampai ke sana. Mau kami antarkan? Tapi aku hanya bisa mengantarmu sampai jalan besar."