Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 172 - Keramaian di Halaman


__ADS_3

Kepala prajurit berteriak sejadi-jadinya ketika siluman itu hendak merobek dagingnya, tapi jeritan itu pelan-pelan berubah menjadi suara penuh tanda tanya.


Pedangnya diambil naga itu. Sama seperti prajurit bawahannya yang hanya terduduk di tanah kehilangan pedang.


Xin Chen nyaris tertawa.


"Rrraaagh! Majikan setan!!! Kau balik juga!"


Siapa lagi kalau bukan Ye Long. Semenjak Xin Chen tak kunjung kembali dia pergi dari rumah dan menunggunya di hutan perbatasan. Kadang naga itu terbang tinggi memasuki Kekaisaran Wei. Namun beberapa benda tajam yang dapat meledak langsung memburunya hingga naga itu ketakutan.


Ulah naga itu menjadi momok menakutkan bagi para prajurit di perbatasan Kekaisaran Shang. Nyaris tak percaya dengan kehadiran makhluk langka itu, dia datang bukan untuk membunuh tapi mengambil barang-barang mereka.


Ye Long segera menghambur ke arah Xin Chen yang tak bisa menghindari tubuh berat naga itu. Kelihatannya semenjak kepergiannya naga itu makan semakin banyak, lebih lagi dia hidup di hutan. Hewan-hewan yang tinggal di sana habis dimakan olehnya. Sayap naga itu berkibas kencang, para prajurit dibuat keheranan.


"Ah ... Naga nakal ini rupanya yang punya tingkah."


Kepala prajurit mengambil pedangnya diam-diam selagi Ye Long sibuk, tapi Ye Long langsung tahu dan menggertaknya. Sontak dia terkejut dan refleks melepaskan pedangnya.


"Punyaku!"


"Heh, Ye Long. Aku bawa banyak barang berkilau untukmu, yang itu kau kembalikan pada mereka."


Ye Long setengah tak rela membiarkan pedang itu diambil kembali, bahkan yang sudah dia kumpulkan sebelum itu juga dirampas habis. Mata Ye Long berkaca-kaca.


Xin Chen menggeleng, daripada kepulangannya naga itu lebih memikirkan barang-barangnya.


"Kau datang ke sini untuk menjemput kami?"


Kuping naga itu menurun, dia melihat Lang dengan takut-takut.


"Aku menunggumu pulang."


Xin Chen mengelus kepala naga itu, "Aku sudah pulang. Kita kembali ke rumah."


Xin Chen menatap Lang, tak mungkin serigala itu ikut naik ke atas Ye Long.


"Aku bisa pulang sendiri, kakiku lebih cepat dibanding sayap naga itu."


Ye Long kelihatan tak terima. Setelah Xin Chen naik dia mengibaskan sayapnya kencang-kencang, Ye Long kesal. Dia terbang dan langsung mengangkat tubuh Lang menggunakan kaki dan tangannya.


"Naga bodoh, turunkan aku atau kucabik kau."


"Senior diam dulu, biar aku tunjukkan kecepatan sayap yang sebenarnya. Sampai kau pingsan! Rrraaagh!"


Kepakan sayap naga itu tiba-tiba berubah sangat cepat, rantai petir terlihat di sirip punggungnya. Dan selanjutnya yang terjadi, Lang terus memaki. Dalam ketinggian itu jika Ye Long melepaskannya mungkin paling selamat tulang rusuknya patah.


Turun di dermaga pelabuhan Kota Fanlu, ketiganya langsung bergerak ke rumah. Xin Chen buru-buru berjalan, Ye Long tahu tuannya sudah tak sabar menemui ibunya dan memberikan penawar yang dicarinya dengan segala macam marabahaya di luar sana.


"Tidak lagi ..."

__ADS_1


Matanya menangkap pemandangan yang sama lagi.


Rumahnya telah ramai dikerumuni, itu artinya sedang terjadi sesuatu di sana. Xin Chen mempercepat langkah meski kini tulang kakinya terasa lemah. Dia tak sanggup menerima keadaan yang sama lagi seperti sebelumnya. Ibunya pasti akan baik-baik saja sebelum waktu tiga bulan, Luo Li mengatakan itu.


Mereka semakin dekat dengan rumah. Tapi segera langkahnya tertahan ketika melihat beberapa laki-laki menggotong sebuah tubuh yang telah berlumuran darah tak bernyawa.


Xin Chen mengenal wanita itu sebagai pelayan keluarganya, dia yang menjaga Ren Yuan ketika Xin Zhan tidak ada. Wanita itu terlihat sudah tewas sejak dua jam lalu, darahnya masih tercium segar. Tapi yang tak habis pikirnya, siapa orang keji yang membunuh wanita itu. Dia bukanlah orang jahat dan selalu jujur dalam perbuatannya.


Xin Chen menerobos kerumunan dan masuk ke dalam rumah. Mendapati kemarahan di wajah Xin Zhan yang tampak berapi-api, tapi ketika melihat adiknya pulang pemuda itu tertegun.


"Apa yang terjadi?"


Kepanikan Xin Chen disertai derap langkahnya yang buru-buru memaksa masuk ke dalam kamar tempat kini Ren Yuan dibaringkan.


Xin Zhan mengikuti dari belakang.


"Ayah mana?"


Xin Zhan akhirnya menjawab meski tenggorokannya terasa kering, panik masih menguasainya tapi keadaan sudah lebih membaik berkat bantuan beberapa orang yang langsung mengambil tindakan untuk merawat ibunya.


Beberapa ibu-ibu membersihkan darah di kening Ren Yuan dan menghentikan pendarahan di beberapa bagian tubuhnya yang terluka. Memar dan bekas sayatan diobati dengan hati-hati. Xin Chen tahu, bekas luka itu adalah disengaja. Seseorang ingin membunuh ibunya.


"Ayah sedang ada tugas di luar kota. Tidak perlu panik, ibu sekarang aman. Hanya saja ..."


Xin Zhan tampak enggan membahasnya. Dia menunggu tetangga mereka yang sedang merawat Ren Yuan selesai. Mereka akhirnya pamit setelah meninggalkan beberapa salap dan obat untuk diberikan pada Ren Yuan. Xin Chen berterima kasih pada mereka yang hanya menunduk lalu langsung pergi.


"Katakan padaku, siapa yang melakukan ini?"


Tidak ada jawaban. Tapi Xin Zhan hafal betul perangai adiknya. Sekali diusik dia langsung berisik. Orang itu tak akan aman jika namanya sudah di tangan Xin Chen.


"Aku hanya punya dugaan. Tapi yakinlah, kau tak akan mungkin membunuhnya. Dia adalah salah seorang saudara ibu."


Dari ekspresinya kelihatannya Xin Chen tak peduli soal itu. Dia langsung menebak, tepat sasaran.


"Bibi Ren Su, dia pasti biang keladinya."


"Kau sudah menduganya?"


"Dia ingin memberikan obat racun kepada Bibi Xiaxia, dan aku mendengar yang lain mengatakan kalau obat itu sebelumnya pernah diberikan kepada Ibu. Secara terus-terusan." Xin Chen menekankan kalimat terakhirnya.


Xin Zhan berpikir sejenak, mulai memahami semua informasi yang diterimanya.


"Bagaimana bisa ibu sampai terluka begini?"


"Aku sebelumnya sudah mengatakan pada ibu untuk menyewa beberapa penjaga di rumah. Tapi ibu bilang ... Dia merasa seperti sedang berada dalam penjara jika dijaga-jaga seperti itu. Sementara aku dan ayah punya banyak tugas untuk dikerjakan. Ini kesalahanku tidak bisa menjaga ibu dengan benar." Xin Zhan mengakui kesalahannya kali ini, rasa bersalah nampak jelas dari kalimatnya barusan.


Xin Chen tak mempermasalahkan itu. "Bagaimana bibi itu bisa tewas? Dia pelayan ibu yang paling ibu percaya."


Tampaknya Xin Chen belum puas jika belum diberitahukan semua kronologinya. Xin Zhan menjelaskan beberapa informasi yang didapat dari orang-orang sekitar rumah.

__ADS_1


Siang itu pelayan rumah sedang berada di halaman memetik daun obat untuk Ren Yuan. Ren Yuan sendiri sedang memasak. Tak disangka-sangka, penyusup masuk, dia memakai jubah serba tertutup dan membawa senjata tajam di tangan.


Tanpa sepengetahuan Ren Yuan orang itu hendak menusuknya dari belakang, tapi Ren Yuan sigap menepis dan menyerang balik. Orang itu menghantamkan pelipis Ren Yuan ke tembok dinding sampai berdarah.


Akibat itu Ren Yuan kehilangan keseimbangan dan ambruk, penyusup itu berusaha membunuhnya saat itu juga. Karena suara berisik pelayan rumah datang dan seperti yang Xin Chen lihat, wanita itu berusaha menolong Ren Yuan dan berakhir dengan nyawanya yang melayang. Orang-orang yang mengetahui hal itu langsung berdatangan dan si pelaku melarikan diri.


Xin Chen mengepalkan tangan, sempat berpikir untuk langsung ke rumah Ren Su. Nyawa dibalas nyawa. Dia tak akan mengampuni siapa pun yang membunuh. Tidak ada toleransi baginya atas kejahatan.


Tapi Xin Zhan tahu apa yang dipikirkannya, dia menahan bahu Xin Chen. "Kita selesaikan ini dengan kepala dingin. Jangan gegabah atau masalah ini akan berbalik menyerang kita."


Xin Zhan sudah mengutus beberapa orang untuk mencari jejak pelaku, mereka hanya perlu menunggu dan mencari bukti yang akurat.


Mata penuh amarah itu berubah sendu kala melihat Ren Yuan terbaring di atas ranjang. Kemalangan tak pernah berhenti mengintai keluarganya. Takdir tak adil memperlakukan mereka. Kini dia perlu menunggu Ren Yuan sembuh untuk memberikan obat itu, lebih cepat lebih baik.


Di tengah kekalutan yang melingkupi keduanya, seorang pekerja istana datang ke rumah. Dia tahu bencana yang menimpa keluarga mereka, tapi menepikan itu untuk hal yang lebih penting.


"Ada panggilan ke istana, Tuan. Datanglah secepatnya, ini penting."


"Jadi ibuku tak penting?" Xin Zhan berkata kesal, siapa pun tahu sejak kecil lagi Xin Zhan begitu menyayangi ibundanya bahkan hingga dirinya dewasa. Xin Chen melerai.


"Biar aku yang jaga ibu Pergilah."


Jika Xin Chen yang mengatakan itu Xin Zhan sedikit lega, dia mengambil pedangnya yang diletakkan di atas meja.


"Aku akan mengurus sisanya, termasuk memulangkan jasad pelayan kita ke keluarganya," ujarnya meletakkan pedang di pinggang, Xin Zhan lekas pergi memenuhi panggilan.


Xin Chen menggenggam tangan wanita itu, memperhatikan lama wajahnya yang sejak dulu masih sama cantiknya. Kadang cerewet dan sering menjewer telinganya. Tapi kasih sayangnya tak pernah surut. Dan yang Xin Chen lakukan selama ini untuknya adalah untuk membalas semua kebaikan yang diberikan wanita itu. Meski harus berhadapan dengan maut di luar sana.


"Cepat sembuh, ibu."


Dia menyentuh beberapa bagian yang terluka, menyembuhkan dengan kekuatannya. Beberapa luka menutup. Dia mengeluarkan obat-obatan yang disimpannya, merawat luka Ren Yuan dengan sangat hati-hati.


Malam harinya, lilin menerangi seisi kamar. Xin Chen tak melepaskan pandangannya dari Ren Yuan. Takut sesuatu datang untuk mencelakai wanita itu-lagi.


Tengah malam pun datang, Xin Chen tak melihat baik Xin Zhan ataupun Xin Fai pulang. Suasana rumah yang begitu sepi terasa sangat mencekam. Dia memperhatikan Ren Yuan, membayangkan bagaimana setiap hari ibunya berada di rumah ini sendirian. Tangannya menyingkirkan anak rambut di kening Ren Yuan.


"Kau pasti kesepian ..."


Bunyi derap kaki terdengar di pintu, Xin Chen bangun. Tapi dia tak melihat ayah atau kakaknya yang kembali. Itu Ye Long. Naga itu membawa sebuah tempat berisi makanan. Meletakkannya di atas meja lalu berbicara, "Orang sebelah memberikannya. Jaga-jaga kau tidak bisa memasak."


"Kau sudah berterima kasih?"


"Sudah. Sekalian aku makan sapi di belakang rumahnya."


Xin Chen hampir menampar muka Ye Long, bisa-bisanya naga itu membikin perkara di kandang sapi orang. Xin Chen tak sanggup memikirkan itu dulu. Dia mengalihkan pembicaraan.


"Lang mana?"


"Mencari Ayah."

__ADS_1


Xin Fai mungkin tak akan kembali dalam waktu dekat, menjalani tugas di luar kota bisa saja menyita waktu sampai berbulan-bulan.


"Chen'er ..."


__ADS_2