Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 56 - Bantuan Datang


__ADS_3

Bulan bersinar terang malam ini, menunjukkan bias cahaya indah yang keluar dari celah-celah awan mendung. Gelap di beberapa tempat, dan di beberapa tempat lainnya sinar cahaya menerangi satu tempat saja. Aroma perang masih menguar di dataran yang menjadi saksi peperangan tanpa akhir itu. Bahkan ketika kedua kubu Kekaisaran telah saling membunuh hingga tanpa sisa kini perang masih dilanjutkan dengan pertarungan lainnya yang jauh lebih mengerikan.


Perang melawan Pedang Iblis dan Naga Kegelapan. Dan di sana dua orang yang tersisa nyaris tumbang berkali-kali menghadapi musuh masing-masing.


Di tempat lain Kabar mengenai perang ini telah terdengar sampai ke telinga penasehat Kekaisaran. Permadani yang melekat pada sesepuh tua di ruangan megah pusat Kekaisaran Shang bergemerincing. Suaranya nyaris memenuhi satu ruangan. Wajah-wajah keriput yang selalu serius itu mengerut dalam. Tak terkejut melainkan tetap tenang memikirkan strategi yang tepat untuk menghadapi situasi tak diduga ini.


"Panggilkan seluruh mantan Pilar Kekaisaran yang masih hidup. Dan semua pendekar terhebat yang pernah berjasa untuk Kekaisaran ini. Pastikan mereka memiliki kekuatan yang mumpuni. Jangan kirimkan prajurit lagi, itu tak berguna selain menambah jatuhnya korban jiwa."


Dan akhirat perintah itu disebarkan hingga ke seluruh Kekaisaran Shang dalam kurun waktu yang begitu cepat. Hilir mudik bergantian, desas-desus terdengar kian membumbung tinggi. Semua masyarakat dapat merasakan getaran yang tak biasa dari ujung Kekaisaran Shang. Yakni Lembah Para Dewa di mana pertarungan yang dimaksudkan tengah terjadi.


Yang membuat mereka nyaris tak percaya adalah kehadiran putra kedua Pedang Iblis yang dikatakan tengah menghadapi Naga Kegelapan dan Pedang Iblis bersama kakaknya, Xin Zhan. Banyak yang berpikir bahwa kedua anak dari Pedang Iblis telah tewas sebelum bantuan dapat dikirimkan. Alasan mengapa tak ada yang mampu membantu mereka, karena sejauh ini pasukan yang dikirimkan ke Medan perang hanya mereka yang memiliki status sebagai prajurit. Jika pun ada pendekar yang benar-benar ahli dalam pedang, tak akan ada yang mampu menyaingi Pedang Iblis.


Dan kemungkinan 99% akan mati sia-sia di sana. Sebab itu jenderal besar membawa kembali pasukan, termasuk anggota Unit Satu yang memberontak ingin membantu Xin Chen. Pertarungan itu sudah jauh dari kendali manusia seperti mereka.


Rasa takut, cemas, khawatir dan terancam telah menjamur di seluruh lapisan masyarakat. Andai jika benar dua putra Pedang Iblis gagal menghalau dua musuh terhebat itu, tak lama lagi Naga Kegelapan akan terbang di langit Kekaisaran Shang dan membakar seluruh kekaisaran itu menjadi lautan api biru. Sama seperti Kota Renwu.


Tentu saja bangsawan dan orang-orang penting Kekaisaran tak akan membiarkan hal ini terjadi. Rumah mereka bisa hancur berantakan. Disebabkan itu, mereka mengalokasikan dana yang amat besar untuk mengeluarkan pasukan bantuan dalam waktu cepat. Ditambah lagi, terdapat dua Siluman Penguasa Bumi lainnya yang telah berubah wujud menjadi manusia di antara merska. Percaya tak percaya. Mereka adalah Huo Rong dan Shui. Sang Salamander Api dan Naga Air.


Berkat jenderal besar, identitas dua siluman itu hanya diketahui beberapa orang meski ada dari mereka yang mengetahui kebenarannya. Semakin sedikit yang tahu, semakin aman pula dua Siluman Penguasa Bumi itu.


Pemulihan dengan segala sumber daya telah dilakukan untuk mengembalikan kekuatan dua siluman itu. Keduanya sama sekali belum bangun semenjak di bawa ke pusat Kekaisaran dalam keadaan tak sadarkan diri. Serangan terakhir yang mereka dapatkan sangat fatal sehingga harus dirawat dengan serius.


Saat malam beranjak naik, Huo Rong dan Shui terbangun penuh tanda tanya. Mereka sebelumnya berada di sebuah daratan penuh darah dan kini terbangun di sebuah bilik hangat dan nyaman.


Sama halnya seperti Huo Rong, Shui pun ikut kebingungan.


Memikirkan bagaimana nasib Xin Chen dan kakaknya yang bahkan tak pernah tidur dan makan sejak hari pertama mereka diberangkatkan perang. Memang bagi seorang pendekar seperti mereka, makan atau minum bisa ditahan dalam jangka waktu tertentu. Sampai tenaga mereka benar-benar habis, barulah di situ Xin Chen dan Xin Zhan akan tumbang.


Huo Rong memberontak ingin kembali ke Lembah Para Dewa, ditahan pengawal Kekaisaran. Begitu pun Shui. Bangsawan klan yang melihat tingkah mereka mengatakan bahwa pasukan bantuan akan siap diberangkatkan esok pagi buta. Tepatnya dua jam selepas tengah malam. Agar sampai di Lembah Para Dewa saat matahari mulai terbit.


Rombongan kuda berpacu cepat menantang badai yang muncul pada dini hari. Menembus dinginnya angin malam yang masuk hingga ke tulang. Dari kejauhan, getaran hebat kembali terasa. Genangan air bergetar menimbulkan gelombang yang menyebar hingga akhirnya hancur saat tapak kaki kuda melintas.


Dari tengah malam yang gelap gulita itu, rombongan berisi seribu pasukan pendekar terhebat Kekaisaran Shang diisi oleh ketegangan tanpa akhir. Lalu dari jalan setapak di mana mereka dapat melihat di langit malam, bayangan naga yang begitu besar tengah meraung dan mengganas. Suaranya terdengar kian jelas, mematahkan nyali mereka yang sama sekali tak berani menghadapi siluman buas itu.


Dulu, satu-satunya Siluman terkuat yang mereka ketahui adalah Naga Es. Tapi tampaknya Naga Es sama sekali tak ada bandingannya dengan Naga Kegelapan. Jika es bisa dilelehkan dengan api, maka Api Keabadian milik Naga Kegelapan tak akan bisa dipadamkan dengan air mana pun. Sederhana, tapi menggambarkan apa yang mereka semua pikirkan. Bahwa tak akan mungkin mereka dapat menang melawan naga itu.


Mantan Pilar Ketiga Kekaisaran, wanita itu tercengang saat kuda mereka berpacu semakin dekat ke Lembah Para Dewa. Melalui celah curam di antara bukit-bukit yang telah berubah menjadi hangus. Jalan yang dilewati menjadi jauh lebih berbahaya. Suhu panas terasa makin membunuh mereka. Api-api keabadian menyebar ke segala arah, nyaris tak ada rute yang bisa ditempuh untuk menghindar api tersebut. Selain dengan menerobos.

__ADS_1


Menerobos sendiri adalah ide gila untuk bunuh diri. Rombongan bantuan itu berhenti di depan sebuah Api Keabadian yang membesar hebat membakar sisa-sisa mayat di tanah.


"Kita tidak bisa melewati ini!"


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya wanita itu kepada seorang lelaki yang tampak begitu tua-atau bahkan nyaris disebut sesepuh.


"Kita gunakan dua siluman itu untuk membantu kita melewati api ini."


Huo Rong memacu kudanya mendekati lelaki itu, omongannya selanjutnya terdengar seperti ancaman pada manusia-manusia di sekitarnya.


"Suhu panas di sini mampu melelehkan kulit kalian. Jika ingin bertarung di sana, setidaknya persiapkan diri kalian untuk membuat perisai pada tubuh sendiri. Tak ada yang menjamin kalian dapat selamat di sana sebelum membantu dua orang itu."


Lalu Huo Rong dan Shui merubah wujud mereka ke wujud Siluman Penguasa Bumi. Ukuran raksasa itu memang tak sebesar tubuh Naga Kegelapan, namun keduanya mampu membuat siluman yang akan menjadi lawan mereka teralihkan.


Terdengar suara dari Huo Rong yang menjadi pertanda bahwa dirinya sedang menantang Naga Kegelapan. Dibalas balik oleh naga itu. Aura membunuh semakin menguar menguasai sekitar.


Sementara itu di sisi lain para pendekar itu tertegun saat menyadari tiba-tiba Xin Chen sudah berada di tengah mereka. Nyaris copot jantung sesepuh itu ketika melihat Xin Chen mendekatkan muka denban wajah menyeramkan.


"Langsung bantu Kakakku. Dia kesulitan menghadapi Pedang Iblis sendirian. Aku bisa menangani Naga Kegelapan bersama dua Siluman itu."


Lalu mereka mengangguk paham dan langsung melewati daratan yang dipenuhi kobaran api biru itu, ke tempat di mana kabut hitam merajai seluruh tempat. Seribu orang itu menunggangi kuda pelan-pelan, tak mengetahui apa sebenarnya yang tengah menunggu mereka di balik-balik kabut hitam tersebut.


Dan saat kuda-kuda rekannya berpencar, muncullah sosok yang begitu mereka hormati tengah mencengkram sebuah kepala pada rambutnya. Laki-laki yang kini hanya tersisa kepala itu adalah salah satu pendekar terhebat Kekaisaran Shang. Dia pernah ditugaskan memimpin dalam misi penting dalam pertarungan di perbatasan dan pulang membawa kemenangan.


Bahkan orang sepertinya tak perlu berkedip dapat kehilangan nyawanya di tangan Pedang Iblis. Kesemuanya terpaku dalam diam. Jelas melihat Pedang Iblis terlihat lain dari biasanya. Dan di lengan tangan laki-laki itu muncul sesuatu yang tak biasa. Mata Hitam. Begitu yang mereka lihat sekilas. Mata itu bergerak-gerak, membuat beberapa dari mereka geli dan jijik.


Lalu Xin Fai mengangkat wajahnya. Memindai seluruh musuh barunya yang berjumlah kurang lebih seribu. Bukan angka yang sulit baginya untuk dimusnahkan.


Tanpa aba-aba, Xin Fai menyerang. Pemimpin pasukan mengangkat pedangnya, menyatakan pertarungan sudah dimulai semenjak Xin Fai mengayunkan pedangnya dan langsung membunuh tiga orang tanpa ampun.


Tiga menit. Pimpinan pasukan terhenyak habis-habisan melihat dua ratus orang langsung tewas tanpa ampun di tangan Xin Fai. Tak terbayangkan lagi apa yang sedang mereka hadapi sekarang. Ini benar-benar bencana. Semua pasukan yang dibawanya memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata. Kebanyakan dari mereka bahkan memiliki riwayat pencapaian yang hebat. Namun semua itu seakan-akan tak berarti di tangan Xin Fai.


Sosok pahlawan yang selama ini berdiri di sisi mereka memiliki kekuatan yang jauh di luar bayangan mereka. Dan sampai terakhir kali laki-laki itu mengedipkan mata, Xin Fai telah membunuh sepuluh orang sekaligus.


Satu jam-bukan, bahkan sepuluh menit saja mungkin seluruh pasukan bantuan yang dibawanya akan habis. Sudah pasti begitu pikirnya. Lalu mengapa laki-laki ini masih ada di sini? Yang dia lihat masih bertahan hanyalah Xin Chen. Mungkin saja Xin Zhan mengambil bagian untuk menghadapi ayahnya. Tapi laki-laki itu ragu apakah Xin Zhan masih hidup mengingat kekuatan laki-laki itu jauh di luar nalar manusia biasa.


Membunuh dua ratus orang dalam kurun waktu yang amat-amat singkat. Xin Fai seperti bukan manusia lagi.

__ADS_1


"Tetap serang!! Jangan mundur atau kita semua akan mati!"


Dalam satu gerakan saja Xin Fai bisa menebaskan ratusan serangan yang seratus persen membunuh siapa pun di sekitarnya. Sementara itu, mundur pun tak akan berarti apa-apa. Xin Fai akan tetap membunuh mereka cepat atau lambat.


Rantai dari Xin Fai bergerak liar di atas tanah, melilit beberapa laki-laki dewasa sekaligus dan mengikat erat hingga tubuh mereka pecah berserak di atas tanah. Terlalu sadis. Tapi itulah gaya bertarung Xin Fai yang sebenarnya.


Lelaki sepuh itu kehabisan langkah. Ibaratnya sebuah permainan catur, sedikit demi sedikit bidaknya di makan dan sang raja berada dalam situasi terpojokkan. Mulutnya mengatup rapat-rapat, tak bisa mengambil langkah selain mundur tapi pasukannya dibantai habis-habisan oleh Xin Fai.


Hingga tak lebih dari setengah mereka tersisa, seseorang datang dari sisi berlawanan. Gelapnya kabut hitam membuat sinar bunga api merah di keningnya terlihat jelas.


"Tuan Muda Xin Pertama?! Anda masih hidup?!"


Terdengar tidak sopan tapi mau bagaimana lagi, lelaki sesepuh itu nyaris tak percaya sosok Xin Zhan mampu menahan orang semengerikan Xin Fai sendirian selama 24 jam. Setelah menghadapi laki-laki itu dengan mata kepalanya sendiri rasanya tak mungkin Xin Zhan mampu melakukannya, meski dia tahu pemuda itu memang amat terampil dan jenius dalam memainkan pedang.


"Mundurlah. Teknik berpedang ayah sangat berbahaya. Bagi kalian yang tidak tahu bagaimana dia memainkan pedang itu, pasti akan langsung tewas tanpa sempat menyerang."


Apa yang Xin Zhan katakan mengambang di telinganya. Lelaki tua itu hanya mampu melihat Xin Zhan maju menghadapi ayahnya sendiri. Tidak ada keraguan di kedua bola matanya lagi, langkahnya mantap dan tubuhnya tegak. Dia baru saja melalui beberapa hal mengerikan dan membuat hatinya lebih kuat menghadapi lelaki yang masih merupakan ayahnya itu.


Apa yang bisa dilakukan laki-laki itu hanyalah menarik pasukan sementara. Xin Zhan mulai mengangkat pedang, tepat saat dia menggerakkan pedang ke lawan, pertarungan sengit kembali terjadi.


Mata laki-laki itu berkilat terang, dia melihat jelas saat Xin Zhan menyayat mata di tangan Xin Fai hingga mata itu menghilang.


Tujuan Xin Zhan adalah menghapuskan tanda mata itu. Dengan cepat pendekar sesepuh itu berteriak.


"Habisi mata hitam di tubuh Pedang Iblis!"


Dua puluh orang di antara pasukan itu adalah pemanah handal. Mereka semua melepaskan anak panah yang hampir kesemuanya menancap di tubuh Xin Fai.


"Tidak ... Tidak, ini terlalu kasar. Ayah bisa tewas." Xin Zhan menyuruh berhenti tapi laki-laki tua itu menggerakkan tangannya memerintahkan bawahannya untuk terus memanah.


Tubuh Xin Fai terdorong beberapa kali akibat anak panah yang terus menancap di tubuhnya. Dia mengayunkan pedang ke segala arah tapi tetap saja ratusan anak panah itu masih mengenai tubuhnya.


Darah mengucur deras dari tubuhnya. Xin Zhan nyaris tak percaya. melihat punggung ayahnya penuh dengan anak panah. Matanya panas. Laki-laki itu memuntahkan darah. Saat Xin Zhan melihat, di beberapa anak panah itu mengandung racun kelabang mematikan.


"Hentikan!"


"Kalian bukan lagi menghapuskan mata hitam itu! Kalian justru ingin membunuh ayahku!"

__ADS_1


Lalu jawaban selanjutnya yang dia dapatkan justru membuat Xin Zhan mati rasa. Tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Saat ini Pedang Iblis telah menjadi bencana besar. Jika memungkinkan untuk menghapuskannya sebelum menghancurkan Kekaisaran Shang, maka kami akan membunuhnya. Ini adalah perintah."


__ADS_2