
Luo Li sama membatu seperti Xin Chen, melihat noda darah yang telah dibaluti oleh kain. Tabib muda itu menundukkan pandangan, berpikir bahwa Xin Chen ketakutan terhadapnya.
Tak lama lagi dia akan berubah seperti semua orang di jalanan sana. Xin Chen masih setengah tak percaya, tapi melihat air muka Luo Li saat ini dia semakin menyadari bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa temannya itu.
"Luo Li, jelaskan padaku dari mana kau mendapatkan gigitan itu?"
"Terinfeksi. Mereka berhasil menggigit ku saat aku lengah."
"Kapan?" Xin Chen memastikan dengan nada bicara berbisik, takut sewaktu-waktu Tiga mendengar percakapan mereka.
"Saat dikejar-kejar di jalur depan."
Hening menjeda, tak ada lagi suara hingga beberapa detik. Tampaknya Xin Chen sibuk dengan pikirannya sendiri sementara Luo Li langsung membalut lengannya cepat-cepat, lalu menutup bekas tersebut dengan lengan jubahnya yang panjang.
"Ini pasti gara-gara aku mengulur waktu terlalu lama hingga kau terjebak dan mendapatkan gigitan itu ... "
Di tengah kekalutan yang tengah melanda keduanya, Luo Li berusaha bersikap tetap tenang. Meski dia tahu ke mana gigitan itu akan membawanya. Pemuda itu berbicara, suaranya serak.
"Jangan berpikir ini adalah salahmu. Aku terlalu gegabah, maafkan kecerobohan ku. Sepertinya aku tak punya waktu banyak untuk mengantarmu ke sana ..." sesal Luo Li, gemetar tiba-tiba di tangannya membuat Xin Chen kaget dan segera mendekat untuk memeriksa.
Tapi Luo Li menghempas tubuh Xin Chen jauh-jauh. "Jangan mendekat, aku takut kau-"
"Hei, anak-anak, mau minum sedikit-" Tiga berjalan ke tempat Xin Chen, kalimatnya terputus dan mulutnya masih terbuka ketika dilihatnya Luo Li tengah duduk bersandar dinding. Bekas jejak darah di lantai agaknya telah menjelaskan pada pria itu semuanya. Bibirnya sempat terbuka tertutup, ragu untuk mengatakan dan pada akhirnya berbicara begitu pelan dan hati-hati.
"Kau terkena gigitan?"
"Aku akan pergi secepatnya, setelah memberitahukan lokasi tujuanku pada Xin Chen."
"Pergi ke mana?" Xin Chen menyahut tak terima, tangannya mengepal. Andai dia bisa menarik kerah jubah Luo Li saat ini, melihat wajah Luo Li begitu putus asa, tak memiliki harapan terhadap keadaannya sekarang. Xin Chen yakin Luo Li paham ilmu medis daripadanya, tapi wajahnya saja tampak putus asa begitu.
__ADS_1
"Tidak ada yang akan pergi duluan. Kita ke sana sama-sama."
"Tapi sepertinya waktuku tak sempat ..." lirih Luo Li, urat-urat biru dan merah terlihat menjalar di wajahnya. Wajah putih tersebut makin memucat, sesekali mulutnya terbuka seperti hendak memakan sesuatu.
Tiga menyadari situasi pemuda itu kian memburuk dan segera mengeluarkan pisau tajam. Bersiap menusuk kepalanya jika tiba-tiba Luo itu menyerang.
"Hei, kawan. Sadarlah. Kau akan bertemu gurumu, bukan? Dan jamur-jamur api ini ... Kau harus memberikannya langsung. Bertahanlah sebentar." Dia menoleh kepada Tiga, seperti hendak menyampaikan sesuatu tapi Tiga lebih dulu membaca pikirannya dan menggeleng.
"Tak ada harapan untuknya. Dia akan berubah sama seperti mereka. Maafkan aku."
"Luo Li, katakan sesuatu. Bicaralah, hei." Xin Chen merasa tak berdaya melihat keadaan temannya sendiri. Dia ingin sekali menolong, tapi apa yang bisa dilakukannya hanyalah menepuk pundak tabib muda itu berulang kali.
"Pergilah bersama Tiga." Luo Li merogoh sesuatu dengan tangannya yang gemetar hebat, menyerahkan tatahan kayu dengan ukiran burung bangau di atasnya. Terdapat tulisan dan ukiran di atasnya.
Xin Chen tak langsung menerima benda itu, dia mencoba membaringkan Luo Li. Mata birunya melihat secara detail aliran darah di otak Luo Li. Penglihatannya cukup terbatas. Namun sekilas dirinya dapat melihat sebuah fenomena aneh di dalam kepala tabib tersebut.
Xin Chen menahannya, Luo Li membuka mulutnya hendak menggigit. Dia berusaha menyingkirkan tangan dan menghindari serangan lemah Luo Li.
"Lakukan apa yang harus kau lakukan. Tidak ada waktu untuk menangisi kepergian rekanmu. Setidaknya setelah mati mereka masih memiliki kesempatan pergi ke surga. Daripada terus hidup dan tinggal di neraka." Tiga menyerahkan pisau tajam. Dia melihat Luo Li sudah bukan lagi manusia. Meski dia bergerak seperti hidup, tapi pada dasarnya tabib muda itu telah mati.
Xin Chen menahan leher Luo Li ke lantai, membuatnya tak bisa bergerak ke mana-mana lagi. Sebelah tangan mengangkat pisau menuju ke kepala Luo Li.
Keringat membasahi wajahnya. Xin Chen tak pernah berpikir untuk membunuh kawannya seperti ini. Pisau di tangannya menggantung, ketakutan memaksa tubuhnya untuk diam. Tiga menggelengkan kepalanya. Pemuda itu takkan siap jika dihadapkan dengan situasi yang lebih sulit. Atau memang pada dasarnya, pemuda bermata biru itu baru pertama kali mendatangi Kekaisaran Wei dan begitu terkejut dengan apa yang ada di dalamnya.
Luo Li berteriak, tiba-tiba berubah agresif. Tiga hendak mengambil pisau di tangan Xin Chen dan membunuh Luo Li. Sebelum suara teriakan Luo Li mengundang ratusan terinfeksi di lantai dua.
Kepala Luo Li terhantuk di lantai menimbulkan bunyi yang cukup keras, darah membasahi keningnya dan mengalir pelan menciptakan genangan di lantai. Xin Chen mencabut pisau di kening Luo Li yang kini diam seperti patung.
"Maafkan aku."
__ADS_1
Tiga menundukkan kepala, tak lama dia berbicara dengan nada rendah. "Tak perlu merasa bersalah. Mereka sudah mati, kau hanya membantunya untuk lebih cepat pergi ke akhirat."
Xin Chen menatap lamat-lamat tatahan kayu yang diberikan Luo Li, menggenggamnya erat dan menyimpan benda itu.
Lang tiba-tiba berlari ke arah mereka dengan kepanikan yang tak bisa dijelaskan. Taringnya terlihat ketika berteriak sedemikian kencang.
"Pintu penghalang di lantai dua hancur, ada manusia aneh dengan tubuh sangat besar masuk. Tidak tahu apa itu, dia sedang berjalan ke sini!"
"Apa?! Tak mungkin-" Tiga maju beberapa langkah, menutup pintu secepat yang dia bisa. Ketika Xin Chen melihat wajah pria itu, dia ikut merasakan ketakutan besar. Sesuatu yang buruk akan datang.
Dan ketika Xin Chen mendengar suara tapak kaki dari kejauhan yang terdengar seperti manusia dengan berat badan ratusan kilogram, jalannya agak lamban, tapi dia mampu menghancurkan apa pun yang menghalanginya.
"Ini gawat. Mereka bukan lawan kita."
Tiga mengambil beberapa barang di dalam meja, menghancurkan jendela setelahnya.
"Kita harus pergi!"
Xin Chen dan Lang segera mengikuti Tiga, memanjat di dinding terjal dengan berpijak pada satu pijakan setapak. Lang sangat lincah dalam urusan memanjat, jauh lebih cepat dari Tiga maupun Xin Chen.
Mereka terus memanjat sampai tiba di atap lantai lima. Puluhan terinfeksi telah memenuhi setiap ruas dan sudut, tapak kaki yang berat itu terdengar makin mendekat.
Xin Chen, Lang dan Tiga berhenti sebentar ketika sebuah hempasan kuat menghancurkan pintu masuk ke atap sekalian dengan dindingnya.
Dan di situ, Xin Chen dapat melihat satu bentuk manusia lainnya yang lebih mengerikan. Dia bahkan tak yakin itu manusia atau tidak karena ukurannya sudah sebanding dengan ukuran tubuh Lang.
"Dia pembawa racun! Hati-hati, jangan sampai terkena semburannya-!"
Tiga telat memberitahu. Xin Chen yang saat itu tak mempunyai tempat untuk pegangan tak bisa menghindar sepenuhnya dari semburan mahluk tersebut. Cipratan hijau terkena di bajunya. Tiga panik, merobek baju Xin Chen dan langsung menariknya. Mereka kabur dari bangunan lantai lima itu sebelum makhluk tadi meledak dan menghamburkan seisi perut besarnya yang penuh dengan racun.
__ADS_1