
Di lain sisi di Kekaisaran Shang. Lan Zhuxian mencoba untuk tetap tenang di tengah situasi memanas, perihal apa yang tengah mereka hadapi kali ini hanya segelintir orang yang tahu.
Mereka tidak dikirimkan ke medan perang untuk membantu Xin Chen. Justru ditunjuk orang-orang lain, tanpa melibatkan beberapa pihak yang sangat ingin bertarung untuk Xin Chen.
Keganjilan itu bisa dirasakan semua orang. Banyak dari mereka yang selamat tapi tak berarti mereka menang. Kemenangan masih begitu abu-abu di depan mata, situasi tiba-tiba berputar dan menjadi di luar kendali mereka. Jika Naga Kegelapan dan Xin Fai sudha turun tangan, itu artinya pasukan seperti prajurit tak akan berguna untuk mengatasi permasalahan-permasalahan ini. Hanya akan menambah korban jiwa.
Sebab itu para petinggi memutuskan mengirimkan seribu pasukan.
Tapi Lan Zhuxian melihat ada sesuatu yang aneh.
Rata-rata dari orang-orang yang dikirimkan memang memiliki jejak rekor yang bagus sebagai pendekar Kekaisaran Shang. Tapi, bukan yang benar-benar terbaik. Banyak dari mereka adalah pensiunan-yang bahkan kekuatannya sekarang tak lebih dari seorang pendekar biasa. Beberapa lainnya sudah cacat akibat pertempuran sebelumnya yang membuat mereka berhenti menjadi seorang pendekar.
Lebih tepatnya, mereka adalah orang-orang hebat yang sudah tak terpakai dan ingin dilenyapkan dengan mengiming-imingi pendekar itu dengan harta yang berlimpah. Untuk orang-orang seperti mereka yang membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup atau biaya untuk merawat cacat perang yang terbilang amat mahal, pilihan ini adalah salah satu opsi terbaik dengan resiko tinggi.
Dugaan Lan Zhuxian semakin diperkuat ketika dia melihat banyaknya pendekar-pendekar terhebat bersebaran di seluruh kota Fanlu. Bisa dipastikan, kini pemerintah lebih mengutamakan keamanan ibu kota dibandingkan memfokuskan pada penyerangan di Lembah Para Dewa. Bagi mereka, keselamatan kota Fanlu adalah segala-galanya. Jantung Kekaisaran berada di sana. Jika serangan datang melumpuhkan kota itu, tak hanya mengalami kerugian yang begitu besar. Aktivitas politik akan terhambat.
Beberapa bangsawan telah pindah ke tempat yang diperkirakan aman. Hanya saja ada beberapa hal yang tak bisa dipindahkan dalam waktu dekat untuk menanggapi hal itu, ditempatkan kekuatan di segala sisi Kota Fanlu. Jika serangan datang, maka mereka bisa bertahan.
Lan An belum pulih benar dari luka yang dialaminya. Sekarat telah dia lewati dan beruntungnya napasnya masih bisa berhembus hingga detik itu.
Saat terbangun, apa yang pertama kali dilihatnya adalah Lan Zhuxian mengendap-endap dengan penutup wajah menutupi sebagian wajah. Tepatnya hanya menutup dari dagu ke hidung, matanya masih terlihat. Lan An tentu mengingat wajah itu, dia adalah anggota inti Empat Unit Pengintai.
"Sebelumnya perkenalkan saya Lan Zhuxian, wakil dari Empat Unit Pengintai Tuan, saya tidak bermaksud lancang masuk ke kamar Anda apalagi keadaan anda sedang tidak baik-baik saja. Tapi ada sesuatu yang harus saya katakan di sini, tak ada yang lebih layak tahu dibandingkan anda."
Lan An menanggapi cepat.
"Tentang apa?"
"Kedua anak Pedang Iblis sedang bertempur di Lembah Para Dewa ..."
"Lalu?"
"Tanpa bantuan. Perjanjian tak terpenuhi. Yang dikirim ke sana hanya mereka yang tak sepenuhnya dapat bertempur. Bahkan lebih banyak lansia dan mereka yang sudah cacat. Huo Rong dan Shui juga pergi ke sana, itu pun karena mereka terus berontak seperti orang kesurupan."
Tentu saja mendengar kabar itu Lan An kaget. Dia tak bisa menutupi kecemasan yang tiba-tiba melanda, raut wajahnya berkerut-kerut dalam, dia menutup wajahnya dengan sebelah tangan sambil berpikir keras.
Mau bersuara pun Lan An tak memiliki hak banyak. Dia sudah bukan lagi Pilar Pertama Kekaisaran Shang. Tapi membiarkan keduanya dalam bahaya besar adalah tanggung jawabnya.
Lan An mengangguk paham. "Aku akan datang ke sana."
"Saya ikut bersama Anda."
"Jangan." Lan An memotong tanpa berpikir panjang. "Ini adalah sesuatu yang jauh di luar jangkauan kita. Jika bisa menghindari jatuhnya korban jiwa lebih banyak, itu lebih baik. Tugasmu adalah menjaga tempat ini."
Lan Zhuxian tak bisa menolak atau juga menerima, dia serba salah di waktu bersamaan.
"Saya mengerti. Semua sisa anggota Empat Unit Pengintai akan menjaga tempat ini. Serahkan sisanya pada kami."
Lan Zhuxian pergi sebelum pengawal masuk dan memastikan keadaan laki-laki itu. Lan An tak tahu sudah berapa lama dia terbaring di kamar tersebut. Dia masih belum ingin bertemu dengan Xin Xia, sebelum Xin Fai kembali. Saat itu barulah Lan An mau berhadapan dengan istrinya.
Malam ini, dia akan pergi ke sana. Tanpa membawa pengawal. Lan An berpura-pura tidur saat pemeriksaan dilakukan, memantau keadaan fisiknya yang membaik dari terakhir kali pertarungan. Meski masih sakit dia yakin dirinya sanggup untuk bertarung. Sebab alasan itu, di pertengahan malam yang sunyi Lan An mengemas beberapa perlengkapan dan pergi dari Kota Fanlu.
__ADS_1
Siapa pun yang pergi ke Lembah Para Dewa bisa dipastikan gila. Tanah itu, di perkirakan sudah hancur sampai tak berbentuk lagi. Naga Kegelapan mengganas, tak ad yang bisa menghentikannya. Bahkan orang-orang terhebat Kekaisaran Shang pun mundur ketika melihat tubuh raksasa itu berputar di langit. Bayangan kobaran api biru yang dapat membakar siapa pun dalam hitungan detik, kehadiran Pedang Iblis di tengah-tengah pertempuran dan musuh lama yang tengah bersembunyi dari peperangan.
Penuh ancaman hingga tak satu pun dari masyarakat dapat bernapas tenang. Hampir setiap hari mereka merasakan getaran hebat yang berasal dari kejauhan. Seolah-olah pertempuran besar di Lembah Para Dewa tak pernah berhenti. Pahlawan mereka, sedang bertarung. Tak menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari tugasnya menjaga Kekaisaran Shang.
Masyarakat kembali merasakan getaran hebat, tempat itu hanya terhalang beberapa kilometer dari Lembah Para Dewa. Dari jauh, bayang-bayang tubuh raksasa terlihat menggeliat. Dan yang paling jelas adalah badai dan mendung di tempat itu tak pernah mau menghilang dari sana.
"Aku menyesal kedua pemuda berpotensi itu harus memasang badan di barisan terdepan, untuk melindungi kita ..."
"Orang-orang di istana sama sekali tak memikirkan nasib keduanya dan justru ingin menyingkirkan Pedang Iblis yang merupakan ayah mereka. Sungguh kejam ..."
"Aku hanya bisa mendoakan keselamatan mereka berdua. Dan kuharap mereka kembali membawa kemenangan."
Beberapa ritual diadakan di beberapa desa, tanpa adanya perintah. Para masyarakat berinisiatif sendiri melakukan itu. Karena memang tak bisa dielakkan lagi kabar yang dibawa beberapa hari lalu. Kembalinya Putra Kedua Pedang Iblis juga merupakan berita yang mengejutkan. Dengan begitu, mereka memiliki banyak harapan agar perang ini segera berakhir.
Lalu saat mereka sibuk berdoa dan memejamkan mata, seseorang laki-laki yang menutupi seluruh jubahnya dengan kain berwarna biru lusuh disertai topi yang menyamarkan wajahnya lewat. Orang-orang yang melihat lelaki yang membawa pedang di pinggangnya pasti mengira orang tersebut akan bertarung.
Dan ditambah lelaki itu pergi ke arah di mana Lembah Para Dewa berada membuat yang lain mulai berbisik-bisik.
"Anda ingin pergi ke Lembah Para Dewa, Tuan?"
Tidak ada sahutan.
"Sebaiknya anda mundur. Di sana sangatlah berbahaya, Anda hanya akan mati sia-sia di sana. Pikirkan kembali langkah anda!"
Suara itu bukan lagi memperingati, justru lebih terdengar seperti ancaman. Lelaki itu berhenti, memegang gagang pedang dengan sebelah tangan, badannya berbalik walau tak sepenuhnya.
"Kedua anak Pedang Iblis itu sedang menjerit meminta pertolongan, sementara banyak orang menulikan telinga dan sibuk membangun benteng untuk menyelamatkan dirinya sendiri."
Bahkan ketika laki-laki itu kembali melanjutkan langkahnya, mereka masih terdiam tanpa mampu membalas kata-katanya.
***
Xin Chen mendecih berulang kali, Dewi Api sulit sekali untuk dijangkau. Tak terbayangkan dia akan menghadapi sang Pengendali kekuatan api di bumi ini, yang bahkan mampu mengubah awan-awan menjadi bara api panas. Tawa kekehan terus membumbung ke langit, merobek gendang telinga siapa pun. Tapi yang lebih menjengkelkan dari itu, tawa tersebut seolah-olah mengejek dirinya.
Cukup sudah. Roh Dewa Perang tak sanggup meladeni wanita itu dan lebih memilih menyerang Naga Kegelapan. Xin Chen mencebik, merasakan temperatur kembali meninggi. Loncatan kekuatan menggulung dari bawah membentuk sebuah perangkap, Dewi Api berhasil membuatnya terkecoh. Tapi menghindar pun Xin Chen dikejutkan oleh sebuah tendangan dari bawah yang mengejarnya layaknya ledakan cahaya.
Sontak dikepung dari berbagai sisi membuatnya kelimpungan. Xin Chen merutuk dalam hati. Kekuatan rohnya tak bisa dipergunakan dengan maksimal. Dia sedang memulihkan kekuatan itu. Sementara waktu tubuhnya tak bisa menggunakan tubuh roh seperti semula. Hal itu adalah bahaya, karena lawannya adalah Dewi Api yang dapat membakar tubuh manusianya. Dengan membuat tubuh manusianya terbakar, maka tubuh rohnya juga akan mendapatkan kerusakan yang sama.
Sementara Huo Rong sudah melakukan segala upaya untuk kembali ke tubuh silumannya. Memang sebuah keajaiban dia bisa bertahan tanpa permata siluman dan kekuatan api miliknya. Tapi tidak menutup kemungkinan pula dirinya masih memiliki sisa-sisa kekuatan, walau hanya kekuatan fisik itu saja sudah cukup untuk membantu keadaan Xin Chen saat ini.
Setelah melakukan penyembuhan dengan manual beberapa bagian tubuh Huo Rong beruntungnya masih dapat pulih. Dengan begitu lingkar kekuatannya dapat terisi seperti semula. Penyembuhan tubuhnya tetap berjalan secara normal tanpa disangka-sangka, hal itu membuatnya sedikit lega. Diperlukan beberapa waktu lagi sehingga Huo Rong dapat pulih maksimal.
Sambil menunggu itu, dia berharap Xin Chen dapat bertahan dari Xin Fai dan Dewi Api.
Sementara Naga Kegelapan berada di atas awan-awan. Melemahnya kekuatan roh Xin Chen berpengaruh banyak pada kekuatan Roh Dewa Perang saat ini, dia tak bisa mengeluarkan kekuatan seperti sebelumnya. Dan kali ini lebih sering menghindar daripada menyerang.
Jika tubuhnya dapat memiliki luka maka dipastikan tubuh Roh Dewa Perang saat ini sudah bercucuran darah dan terluka parah.
Satu semburan api, Roh Dewa Perang tak bisa melindungi dirinya dari tekanan suhu yang datang. Tubuhnya mulai rentan terhadap serangan, sakit mulai mendera di sekujur tubuh. Roh Dewa Perang mulai tumbang, dia kehilangan kendali di atas awan.
Xin Chen yang menyadari itu segera mendekat dan tak membiarkan Naga Kegelapan semakin menghancurkannya.
__ADS_1
Tangan Xin Chen terasa kaku. Dia telah begitu lama bertarung tanpa henti, batas kemampuan telah berulang kali dilewatinya. Entah sampai kapan dirinya mampu bertahan melwan musuh yang tampaknya tak akan mundur sebelum dirinya tumbang. Mau tak mau, Xin Chen harus mempertaruhkan banyak hal untuk kemenangan semu yang tak pernah terlihat kedatangannya.
Xin Chen membuang napas, mengalirkan sedikit kekuatan roh kepada Roh Dewa Perang. Tak begitu banyak yang bisa dikeluarkannya. Roh Dewa Perang membuka matanya kembali, sepertinya roh itu memiliki batas sendiri yang bisa membuatnya lelah.
"Kita harus cepat memenangkan ini. Atau jika tidak, sebelum kita kehilangan semuanya, kita akan kalah karena tumbang di akhir petempuran."
"Aku tahu itu." Xin Chen melanjutkan dalam hati, "Tapi ada begitu banyak hal yang berjalan di luar kendali ku dan tak mampu ku selesaikan."
"Berhenti memasang wajah cengeng seperti itu, bocah. Kau seperti baru saja ditinggalkan kakakmu dari taman bermain."
Xin Chen menjawab kesal. "Memang. Tapi ini bukan taman bermain."
Roh Dewa Perang tergelak.
"Hei, kau tahu," katanya membuang pandangannya pada musuh-musuh yang mulai bergerak dari segala arah untuk mengepung mereka. "Rasanya hari ini seperti mimpi panjang yang menantang adrenalin, aku selalu merindukan situasi seperti ini.".
Segaris senyum terlihat di wajahnya, meski terlihat justru menakutkan di mata manusia biasa.
"Tapi tak ku sangka aku justru berhadapan dengan musuh yang tak pernah ku duga, yang level kekuatannya begitu tinggi. Hingga aku begitu menikmati pertarungan ini."
Roh Dewa Perang bangun, mengumpulkan kembali kekuatannya di kedua telapak tangan dan memasang tatapan penuh percaya diri.
"Ayo selesaikan ini, secepat mungkin. Aku tahu kau pasti begitu merindukan hangatnya sinar matahari di luar sana, bukan? Matahari di tempat ini sangat menyiksa, hahahah." Candanya yang sebenarnya ditujukan pada Dewi Api. Berkat wanita itu, suhu di Lembah Para Dewa bahkan mampu melukai tubuh Roh Dewa Perang jika dia tak awas.
"Aku mengandalkan mu. Setelah ini katakan apa yang kau inginkan, jangan minta yang macam-macam, aku tak akan mengabulkannya."
Roh Dewa Perang tergelak, dia memegang perut lalu berujar mengolok-olok, tak percaya Xin Chen baru saja menawarkannya.
"Kau kerasukan setan baik hati heh? Kupikir setan saja putar balik melihat wajahmu, hahaha. Ngomong-ngomong soal permintaan, aku punya satu. Tidak dikabulkan juga tak apa."
"Apa itu?"
"Pergi ke pemandian air hangat dan mengintip-"
Tatapan mengecam membuat gelak tawanya semakin besar.
"Baik, baik. Kalau begitu bagaimana dengan arak dan rumah hiburan?"
"Hm."
Suara itu terdengar kesal
"Ya sudah, hahaha nanti aku pikir. Sekarang musuh sudah ada di depan kita. Bersiaplah!"
"Tidak perlu memberitahu ku."
Kekuatan kegelapan dan Dewi Keabadian melawan kekuatan roh bersama Api Keabadian. Dua kubu bertemu, membuat letupan besar yang menerbangkan debu-debu sekitar. Dewi Api mengangkat tangannya, membuat bebatuan besar dari tanah naik ke atas udara, dia mengubah bebatuan itu menjadi api-api berkobar. Lalu melayangkan semuanya kepada Xin Chen.
Namun sebelum benda itu mengejarnya, Huo Rong dengan sebelah tangan silumannya menangkap benda itu dengan tangan kosong. Matanya membara menatap Dewi Api.
"Apa yang membuatmu berpihak pada musuh? Walaupun kau tahu, itu adalah perbuatan yang tak seharusnya kau lakukan?! Perempuan sialan!!"
__ADS_1