
Suara dentuman mendatangkan gelombang suara nyaring di ruangan kosong tersebut. Retakan meja yang telah berubah menjadi puing-puing berserakan di lantai berdebu.
"Akan semakin sulit menangkapnya."
Xin Chen mengepalkan tangan. Curiga bahwa Ren Su memiliki keterlibatan dengan para peneliti di Kekaisaran Wei. Masih ada kemungkinan mereka bekerja sama untuk tujuan lebih besar. Terlalu banyak ancaman yang datang dari luar, Xin Chen tidak bisa berpikir lagi. Semuanya kacau.
Melihat kerumitan di wajah adiknya, Xin Zhan menyentuh pelan pundak adiknya itu dan terkejut dia hanya menyentuh udara. Dia segera berbicara setelah batuk kecil, "Aku akan mengurus sisanya. Kau punya tugas yang lebih besar dari ini. Fokus untuk itu."
"Terima kasih. Tapi kita harus memberitahu ibu. Agar ibu bersiaga jika wanita busuk itu kembali menginjakkan kaki ke sini. Aku yakin ketika waktu itu tiba, dia tak akan segan-segan untuk mengambil nyawa ibu."
Xin Zhan rasanya setuju dengan yang barusan adiknya ucapkan. Semua sudah jelas sekarang, Ren Su memiliki niat buruk terhadap Ren Yuan. Atas dasar dendam yang bahkan mereka masih tidak tahu dengan jelas.
Kepulangan keduanya disambut Ren Yuan dengan lega. Sementara itu Xin Fai terpaksa menunda keberangkatan ke luar kotanya karena kekacauan yang dibuat anak keduanya tempo hari lalu dan sampai sekarang dia masih mencemaskan keadaan Xin Chen.
Pemuda itu kembali, terlihat lebih baik dari sebelumnya. Xin Fai menyuruh mereka segera masuk. Namun sesaat Xin Chen melihat sedikit kekhawatiran di wajah ayahnya.
Sesuatu yang sangat jarang dia lihat di wajah tersebut. Ketika menyadari Xin Chen tengah menatapnya, Xin Fai berusaha tersenyum meski hanya senyum kaku yang terlihat di wajahnya.
"Ibu, kita perlu bicara soal Bibi Ren Su." Xin Zhan yang memulai percakapan. "Dia adalah dalang di balik penyakit ibu dan penyerangan yang merenggut nyawa pelayan kita sekaligus mencelakai ibu!"
Ren Yuan menggeleng kecil, Xin Zhan tampak kalap. Dia menatap putra keduanya, meminta penjelasan lain darinya.
"Kakak Zhan benar. Bibi Ren Su yang menurut ibu merawat ibu selama ini memberikan obat yang secara terus-menerus merusak organ dalam ibu. Menciptakan Kristal Merah di dalam tubuh ibu. Dan ketika tahu rencananya membunuh ibu dengan cara yang rapi tak berhasil, dia menggunakan jalan kekerasan. Dia berusaha membunuh ibu. Dengan pelan-pelan atau langsung. Dia bukan lagi saudara, dia adalah iblis."
" ... Tidak mungkin ..." Ren Yuan masih tak bisa menerima semua kenyataan yang dibuka oleh kedua anaknya, tapi semuanya menjelaskan hal yang dialaminya. Ren Su, adik tiri yang begitu dipercayainya menusuknya dari belakang setelah di depan dia berperan seolah-olah malaikat yang datang untuk menyelamatkannya.
Air mata tumpah di kedua mata Ren Yuan, pengkhianatan Ren Su membuat luka yang tak mungkin bisa sembuh. Ren Yuan kehilangan seorang teman, pelayan rumah mereka yang begitu setia. Hanya untuk ego tak berdasar saudarinya.
"Dan sekarang dia melarikan diri ke Kekaisaran Wei. Kita kehilangan jejak dan pasti akan kesulitan untuk menangkapnya." Xin Zhan mengepalkan sebelah tangannya, menghentakan di lututnya sendiri untuk melampiaskan kemarahan. Meski sama sekali tak berguna, setiap kali wajah Ren Su terlintas di ingatan dadanya seperti dibakar. Oleh kemarahan yang tengah membara.
"Aku akan mencarinya untuk menyeret wanita itu ke dalam penjara. Atau sekalian ke dalam liang kuburnya sendiri," pungkas Xin Chen. Membuat jeda beberapa detik, Ren Yuan dan Xin Fai saling menatap. Xin Zhan menukikkan alis tajam.
"Kau. Tidak akan. Ke sana." Dia mengeja kata-katanya dengan jelas, disertai tatapan dingin tanpa toleransi, kali ini pemuda itu tak mau membuka celah untuk didebat oleh adiknya itu.
"Tapi aku harus-"
"BUKA PINTU!"
Keempatnya segera dibuat kaget oleh suara yang begitu keras datang dari pintu depan, tanpa sadar ratusan prajurit Kekaisaran Wei telah mengelilingi kediaman mereka lengkap dengan senjata. Xin Zhan mengintip di balik-balik celah. Mata hitamnya melebar, menebak apa yang sedang terjadi dan pandangannya tertuju pada Xin Chen.
Begitu juga dengan Xin Fai saat itu, hembusan napas berat mengiringi ucapannya. "Berita besar telah tersebar, nama pembunuh Kaisar Shi telah diungkapkan. Mereka datang ke sini untuk itu."
Xin Chen kaget bukan main.
"Apa? Mana mungkin, siapa yang mengeluarkan pengumuman ini? Orang-orang Kekaisaran Wei sepakat tak akan memberikan namaku meski terdesak. Dan yang tahu identitas ku di Kekaisaran ini hanya Pembelot dan beberapa orang lainnya. Mereka mengatakan sendiri, mereka tidak akan pernah mengkhianatiku-" Xin Chen mulai berantakan.
Asumsi dan kemungkinan di tengah kepanikan yang mulai merajai isi kepalanya saling bertumbuk, hanya untuk menemui satu titik buntu.
"BUKA PINTU INI ATAU DALAM HITUNGAN TIGA KAMI AKAN MENGHANCURKANNYA!"
Ren Yuan ikut cemas, dia menyentuh tangan suaminya sambil berkata, "Apa yang harus kita lakukan?"
"Siapa yang memberikan namaku, Ayah?" Xin Chen masih bersikeras ingin tahu siapa pelakunya. Apakah Yu, tapi wanita itu sudah menolongnya ribuan kali. Tapi masih ada peluang untuknya menjadi pengkhianat. Dia butuh uang untuk diberikan kepada orang-orangnya demi bertahan hidup. Xe Chang bisa dicurigai, sebab kelompok Fraksi Militer Pusat masih dikendalikan di bawah Sentral Pusat. Dan para Pembelot sendiri, tak semua dari mereka dapat dipercayai. Apalagi mereka tak lebih dari berandalan yang hidup keras di jalanan.
__ADS_1
"Xin Chen, pertama-tama kau harus bersembunyi." Ren Yuan membujuknya lembut.
"Tak ada gunanya aku bersembunyi, aku harus menghadapi mereka atau rumah ini akan dihancurkan-" Kata-katanya tertahan, ada luka yang menjalar di hatinya. "Lagi."
"Chen, dengarkan ayahmu dan jangan membangkang. Bersembunyi di ruang bawah tanah kita. Biar ayah hadapi mereka."
"Dengarkan Ayah, adik bodoh! Langsung pergi ke sana-" Xin Zhan yang panik tidak bisa mengendalikan emosi.
"Beritahu aku siapa yang memberikan namaku."
Marah di wajah Xin Chen semakin bergejolak. Dia tahu ini semua adalah konsekuensi yang harus ditanggungnya, dia tahu ini semua adalah hasil perbuatannya, dan dirinya lah yang mendatangkan situasi penuh marabahaya ini.
Jika Qin Yujin adalah orangnya, Xin Chen pastikan akan mengejar orang itu sampai ke inti bumi sekalipun.
Namun ayahnya tak menjawab pertanyaan dan malah sibuk soal persembunyian.
"Aku tidak butuh bersembunyi. Kalian lah yang bersembunyi, berikan aku satu nama, siapa yang mengumumkan namaku sebagai pembunuh Kaisar Shi?!"
Dengan amarah yang sudah melewati ambang batas, Xin Chen meninggikan suaranya. Xin Fai tersentak.
"Xin Chen, kau tak pernah berubah! Turuti apa kataku, sekarang!" Xin Fai hendak mendorong anaknya itu ke lantai bawah tapi percuma dia tak bisa menyentuh putranya itu.
"Baiklah. Aku akan menuruti Ayah. Beritahu aku siapa-"
"Kaisar Shi yang baru. Orang itu mengumumkan namamu sebagai pembunuh ulung dengan beberapa bukti yang kuat. Sekarang kepalamu diincar dengan harga dua puluh miliyar. Semua pembunuh terhebat akan datang untuk membunuhmu. Karena itu dengarkan ayahmu-"
"Shi Long Xu ... Maksud Ayah? Tapi kenapa dia-?"
Xin Chen tak pernah menyangka nama itu justru yang keluar. Orang yang dipercaya oleh Pembelot, Fraksi Militer Pusat, Kuil Hujan, Perkemahan Tenggara dan semua orang di luar sentral. Lelaki yang seperti satu-satunya cahaya di tengah malam gelap gulita.
"Tapi kenapa?"
Tangannya terkepal kuat, wajahnya berubah semakin kalap. Detik itu Xin Zhan yang biasanya akan datang mengomelinya sampai terdiam ngeri, kemarahan itu sudah bercampur dengan kecewa dan benci.
"Xin Chen, kau masih mengingat apa kata ayah?"
"KELUAR KALIAN SEKARANG!"
Karena terlalu fokus dengan anaknya Xin Fai sampai tak menyadari engsel pintu mulai terlepas dari tempatnya. Dalam dua kali gedoran lagi, lepas sudah pintu itu.
Mata Xin Chen berkilat tajam, kekuatan roh mulai berkumpul di kedua tangannya. Membuat hawa hitam yang amat pekat. Xin Fai mendecak kesal ketika melihat anaknya itu berjalan setengah berlari ke arah pintu. Langkahnya makin cepat dan cepat.
Pintu rumah jatuh menghantam lantai, membawa suara dentuman yang begitu keras. Di saat bersamaan pula kegaduhan lain datang. Tanah di halaman rumah bergetar dan retak, sesuatu keluar dari baliknya.
Para prajurit yang berjaga di luar dibuat kaget oleh peristiwa yang kurang dari lima detik itu. Dan mereka mati dalam keadaan mata melotot. Masih terlalu terkejut lalu mati seketika. Prajurit yang berada di depan pintu terpental sampai sepuluh meter ke depan, bersimbah darah.
Garis Hitam yang ukurannya seperti ranting akar pohon menembus jantung, otak, perut dan meremukkan sisanya dengan mengikat sampai hancur. Orang-orang itu menjerit sekarat sejadi-jadinya tapi tidak ada yang bisa menolong mereka. Sampai akhirnya tubuh itu berhenti bergerak, mulai kaku.
Xin Chen berjalan pelan ke halaman depan. Di mana banyak penduduk Kota Fanlu menyaksikan dalam ketakutan, lebih buruk wajah mereka ketika pelaku dari itu semua keluar. Setelah menghabisi ratusan prajurit berzirah dalam hitungan beberapa detik.
Takut.
Semua orang takut melihatnya. Xin Chen teringat saat melihat bayangan dirinya sendiri dan tahu bagaimana rasa takut itu. Sangat mengerikan.
__ADS_1
Hanya satu orang dari ratusan prajurit itu masih berdiri. Xin Chen menarik kembali garis-garis hitam itu, membiarkan para mayat bergeletakan di atas tanah.
Beberapa orang yang menyaksikan itu muntah, kematian yang tragis harus ditanggung prajurit-prajurit itu tanpa ampun.
Ren Yuan keluar dari rumah, nyaris tak berkata-kata saat melihat apa yang putranya lakukan.
Dia membunuh ratusan orang tanpa belas kasih. Xin Fai sama seperti Ren Yuan, melihat punggung anaknya dari belakang dan melihat dirinya di masa lalu.
"Xin Chen, jangan lakukan itu ..."
Putra keduanya itu berbicara pada semua orang di sana, tanpa takut dan gentar.
"Silakan buru kepalaku jika kalian sanggup. Tapi jika sampai keluargaku dilibatkan dalam hal ini, orang-orang instansi pemerintahan kalian akan kehilangan kepalanya."
Laki-laki itu berlari sekencang yang dia bisa.
Hanya tersisa keheningan yang intens di sana, Xin Chen melihat itu. Tanaman milik ibunya terciprat semburan darah, mayat yang bergelimpangan di halaman rumahnya.
Semua itu benar. Dia menyadari sesuatu.
"Aku hanya membawa kemalangan untuk keluarga kecil kita."
"Chen'er, itu tidak benar ...!"
Ren Yuan berlari, memeluk putranya meski hanya memeluk udara kosong dan juga kini satu per satu penduduk Kota Fanlu mulai membenci putranya.
"Aku harus pergi lagi. Ke mana pun agar kemalangan di dalam diriku tak melukai kalian."
Xin Fai tak sanggup menahan air matanya, mana mungkin dia bisa menyalahkan anaknya lagi atas semua yang terjadi.
"Kau hanya ingin menolong semua orang, jangan membenci dirimu atas hal buruk yang terjadi. Itu semua di luar kendali mu."
"Pada kenyataannya hal buruk itu selalu mengikutiku. Aku hanya jiwa kotor yang kebetulan berada di tengah-tengah hangatnya rumah yang nyaman kalian. Tapi aku tahu ... Rumah itu bukanlah tempatku. Aku menyadari selama ini aku tak pernah memiliki rumah lagi, seharusnya aku tak pulang ke sini dan membuat kalian dalam masalah."
"Tutup mulutmu, sialan!" bentak Xin Zhan, tiba-tiba Xin Zhan meninju wajah adiknya. Tapi sekali lagi dia hanya memukul udara.
"Rumah kau hanya di sini, kau harus kembali sejauh mana pun kau pergi! Semua akan baik-baik saja, saat itu tiba kita bisa bersama lagi."
"Keadaan selalu semakin memburuk. Baik-baik saja itu tak pernah bertahan lama. Kita melalui semuanya bersama, aku tahu kau paham itu."
Xin Chen menyadari dia tak bisa berlama-lama lagi, masih ada sekelompok prajurit Kekaisaran Wei yang akan datang.
"Aku pamit."
"Aku membenci ini. Andai aku bisa melakukan sesuatu, aku tak ingin melihatmu berjuang sendirian di sana. Persetan dengan Kekaisaran Wei! Arghhh!" Xin Zhan frustrasi berat. Tidak peduli lagi anggapan orang terhadapnya. Dia tak bisa tenang jika itu menyangkut soal adiknya.
"Tak apa, aku terbiasa untuk itu. Bertarung sendirian. Bertarung agar tidak sendirian."
"Kau tidak sendirian, Chen ..." Xin Zhan berusaha menyangkal, tapi akhirnya dia menyadari bahwa itu semua benar.
Ren Yuan tak pernah menyangka, ini akan menjadi perpisahan mereka yang berikutnya. Meski baru kemarin rasanya kedamaian selalu menghangatkan ruang dadanya. Putranya dipaksa ditarik oleh belenggu mengerikan yang merantai lehernya. Ren Yuan berusaha untuk menahan anaknya, melihat puluhan prajurit keluar dari jalanan dan mulai membunuh anaknya yang kini berjalan menjauh. Menyusuri jalan besar Kota Fanlu di mana musuh akan berdatangan.
Beberapa orang Kota Fanlu menahan Ren Yuan dari mengejar Xin Chen, begitu juga dengan suaminya yang sama beratnya melepas kepergian Xin Chen. Tak tahu marabahaya apa yang menunggu di depan sana. Yang dapat mereka lihat hanyalah punggung yang begitu kelelahan itu.
__ADS_1
Xin Zhan tanpa sadar meneteskan air mata, dia tahu adiknya itu begitu hancur saat ini. Tapi yang membuatnya makin sakit adalah kenyataan bahwa tak ada yang bisa dilakukannya selain menatap kepergian Xin Chen.
"Jangan pernah mengatakan selamat tinggal. Berjanjilah untuk pulang."