Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 105 - Hancurnya Xin Xia


__ADS_3

Wanita itu kalap, tatapan penuh benci memburu Xin Chen yang saat itu menjadi pusat perhatian semua orang. Ren Su mengatakan semua itu begitu ringan, tanpa mempedulikan apakah omongannya menyakitkan atau tidak. Dia menambahkan dengan lebih sinis, "Memang seharusnya ketika ibumu mengandungmu, kau tidak diselamatkan. Dia bertaruh nyawa untuk melahirkanmu. Dan balasan mu terhadapnya sungguh kurang ajar."


"Kurasa mulutmu lebih kurang ajar dari orang yang kau sebut sebagai anak gagal."


"Apa kau bilang?!"


Sahutan Xin Chen barusan seperti sumbu yang membuat nyala api berkobar hebat. Ren Su sampai terbangun dari duduknya, mengepalkan tangan keras dengan suara napas tak karuan. Temperamen wanita itu dangkal, sedikit saja disulut dia pasti akan naik pitam. Buruknya Xin Chen sampai lupa bahwa Ren Su adalah tipe orang yang dipihak banyak orang. Benar pun dia berucap, jika lawannya Ren Su semua orang akan percaya pada wanita itu. Lebih parah lagi, Ren Su akan menghasut orang lain untuk membencinya.


"Kalian lihat mulut anak kurang ajar ini?! Begitu beraninya dengan orang tua!"


Omongan Ren Su ikut menyulut kemarahan para saudara-saudaranya yang berada di dalam ruangan. Mereka tahu masa lalu pemuda itu dan tidak ada satu pun hal baik darinya selain membuat kekacauan.


Xin Chen hanya menatapnya tajam tanpa mengeluarkan kata-kata, dia benar-benar membenci Ren Su. Wanita itu slalu melimpahkan segala kesalahan padanya. Bagi Ren Su, Xin Chen adalah kambing hitam. Dia adalah sumber kemalangan di keluarga Xin. Hal itu tak pernah berubah semenjak dirinya masih kecil. Entah apa yang membuat wanita itu begitu membencinya.


Tapi Xin Chen juga berhak membenci wanita itu.


Tatapan menantang yang diberikan Xin Chen nyatanya makin memperburuk keadaan. Wanita itu maju, hendak menampar Putra Kedua Xin Fai tanpa peduli konsekuensi dari perbuatannya.


Xin Chen sendiri tak ada niat untuk menghindar. Namun beberapa detik Xin Chen menyadari bahwa tangan Ren Su tertahan oleh tangan lainnya. Sejenak keadaan menjadi hening secara tiba-tiba, Ren Su memelototkan matanya dengan raut muka geram. Emosi telah memuncak sampai ke ubun-ubun kepalanya, tapi ucapan seorang gadis yang baru saja mencegatnya menampar Xin Chen membuat Ren Su tersadar.


"Nyonya, jika Anda melakukan hal ini, kesehatan Nyonya Ren akan semakin memburuk. Kau tahu seberapa khawatir dia akan anak-anaknya." Diam membisu beberapa saat, Ren Su melepaskan tangannya kasar dari Xiu Qiaofeng. Gadis itu menarik napas lega, beralih menoleh ke belakang dan melayangkan tatapan sinis.


"Baru kembali saja kau sudah membuat gaduh satu kampung."


Xiu Qiaofeng melirik pada sebotol obat yang tertumpah di atas lantai, tampaknya sumber permasalahan berasal dari sana. Dia tak bisa bertanya. Antara Ren Su yang masih marah besar, Xin Chen yang hanya diam, dan seluruh orang yang mengunci rapat-rapat mulut mereka karena takut salah bicara dan dibentak Ren Su.


Berjongkok dengan sebelah kaki, Xiu Qiaofeng menempelkan tangannya pada cairan tersebut dan mencium aromanya. Memang dia sempat mempunyai dugaan buruk akan obat ini. Dia sendiri hanya mengantarkan obat yang telah disediakan.

__ADS_1


"Di dalamnya, mungkin tak sampai satu persen terdapat racun kumbang." Xin Chen angkat bicara, tanpa sedikitpun melihat ke arah Ren Su. Wanita itu menyatukan kedua alisnya, tak percaya biarpun Xin Chen menghadirkan tabib terhebat di Kekaisaran Shang untuk menjelaskannya.


"Racun kumbang?"


Xiu Qiaofeng mengulangi ucapannya sambil berpikir keras.


"Racun ini memang kelihatan tak berbahaya, tapi jika dipakai secara berkelanjutan bisa menyebabkan kerusakan di beberapa bagian tubuh. Salah satu efeknya, menurunkan berat badan."


Sontak yang lain mulai mengiyakan dugaan Xin Chen. Xin Xia jauh lebih kurus dari sebelum dia menerima obat itu.


"Dari mana sumber obat ini? Siapa yang memberikannya?" Pertanyaan Xiu Qiaofeng selanjutnya menghadirkan ketegangan di dalam ruangan tersebut, tak ada yang berani menyahut sampai-sampai Xiu Qiaofeng kebingungan sendiri. Banyak dari mereka yang seperti ingin menjawab, tapi ketakutan akan hal lain.


"Aku tanya sekali lagi, siapa yang memberikan obat ini?" Nadanya bicaranya meninggi, hingga salah satu memberanikan diri untuk bicara.


"Obat itu diberikan Nyonya Ren Su, Nona."


Tatapan Ren Su seakan-akan memburu perempuan yang baru saja bicara tadi, yang ditatapnya memasang wajah cemas sembari menunduk, yakin nyawanya tak akan selamat usai ini. Xiu Qiaofeng mengambil alih perhatian yang lain.


"Maksudmu kau menuduhku memberikan racun kepadanya?" Raut muka tersinggung Ren Su tak serta-merta membuat Xiu Qiaofeng diam.


"Jika ini memang darimu, maka ini patut untuk diselidiki."


Kebetulan Xiu Qiaofeng sendiri mulai belajar tentang ilmu pengobatan selama di Kota Fanlu. Bukan tanpa sebab, dia sendiri pun tak diizinkan keluar kota untuk menyelesaikan misi yang berbahaya di luar sana. Semenjak Pedang Iblis menghilang, Kekaisaran Shang tak ubahnya rimba yang ganas. Banyak pendekar yang gugur dalam perjalanan misi.


"Jika benar ini racun, maka kita harus berhenti mengedarkan obatnya. Masalah ini akan diusut lebih jauh lagi. Dan untuk Nyonya Ren Su, mungkin akan datang beberapa panggilan ke rumahmu."


Xin Chen mengangguk. Tapi tak berniat meninggalkan kamar Xin Xia. Dia ingin menjaga bibinya itu setidaknya sampai dirinya tersadar. Tapi mengingat keadaan Xin Xia belum stabil, rasanya langsung menjelaskan penyebab kematian Lan An hanya akan membuat situasi menjadi lebih buruk.

__ADS_1


"Apalagi yang kau tunggu?" sahut Ren Su sinis. Xin Chen tak menoleh tapi mulutnya masih menjawab sama sinisnya.


"Kau sendiri siapa? Tidak punya ikatan darah dengan bibi jangan besar kepala."


Wajah Ren Su padam akan rasa malu. Jawaban itu terlalu menohok sampai-sampai Ren Su tak dapat membalasnya. Xiu Qiaofeng menyeret wanita itu untuk beberapa keperluannya atas obat yang Ren Su berikan.


"Pergilah. Aku akan menjaga bibi Xiaxia sampai dia sadar."


Mendengar penuturan Xin Chen, beberapa wanita yang masih tinggal memilih pergi dengan sopan. Satu per satu orang pergi. Kini Xin Chen dapat menarik napas lega.


Mata Xin Xia terlihat sembap, dia menangis sebelum akhirnya pingsan. Dan bahkan dalam keadaan tak sadar diri pun, mata wanita itu masih menitikkan air mata.


Luka yang diberikan perang itu sangat dalam.


"Jangan pergi ..."


Tangisan kecil terdengar. Xin Xia masih belum tersadar, dia mengigau. Terlarut dalam kesedihannya hingga terbawa mimpi. Mendadak Xin Xia memberontak. Di dalam mimpinya, seseorang baru saja menusuk jantung suaminya. Xin Xia tak sanggup. Dia tidak bisa melihat wajah siapa yang sedang membunuh suaminya.


"Bibi ... Bibi!"


"Tidak, kumohon! Hentikan!!!"


"Sadarlah Bibi," suara Xin Chen. Dia menatap iba pada Xin Xia yang kini sudah dalam posisi terduduk, terbangun dari mimpi buruk yang telah menjadi kenyataan.


"Di mana suamiku? Aku bermimpi seseorang menusuknya, aku tak bisa berbuat apa-apa ... Seseorang membunuhnya di dalam mimpi-" air matanya menetes kian banyak, wanita itu melihat sekitar gelisah.


"Di mana Lan An?!"

__ADS_1


"Bibi ..."


Pada akhirnya, Xin Xia sadar. Bahwa dia telah kehilangan sosok yang amat dicintainya. Dan putrinya telah kehilangan cinta pertamanya, yaitu ayahnya sendiri.


__ADS_2