Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 146 - Sebuah Misi


__ADS_3

Hari-hari berlalu tanpa rasa aman, Perkemahan Tenggara sesekali didatangi terinfeksi yang berhasil keluar dari jalan hutan pinus. Berkali-kali mereka kehilangan rekan dan keluarga. Yu sempat mengatakan mereka akan meninggalkan markas itu karena situasi di sana tak lagi seperti dulu yang nyaman dan serba cukup.


Sementara itu Xin Chen dan Lang diperintahkan Yu untuk pergi ke rumah seorang ahli yang pandai merakit bom, letaknya cukup jauh, sekitar satu mil atau kurang dari Perkemahan Tenggara. Sepanjang jalan Xin Chen hanya menemukan terinfeksi dan berbagai macam tipe lainnya yang sudah bermutasi.


Dia berhenti melompat di atap, memerhatikan cukup lama pada ketinggian. Samar-samar telinganya dapat mendengar suara aliran air yang cukup deras, tapi daerah itu dikuasai oleh sekawanan terinfeksi yang jumlahnya cukup banyak.


Xin Chen turun bersama Lang, menggunakan pedang panjang dan langsung mengenai bagian vital terinfeksi satu per satu. Terdapat beberapa jenis terinfeksi yang hampir mengenainya, tapi sejauh ini Xin Chen sudah mengetahui cukup banyak tentang musuhnya. Dia mampu bertarung tanpa sedikitpun terluka.


Darah dari leher terinfeksi masih bercipratan di tanah, Lang mampu membaca apa yang sekarang Xin Chen pikirkan dan langsung menggali tanah di mana sumber mata air terdengar.


Beberapa menit mengeruk, benar saja sebuah cipratan besar tumpah ruah ke atas, menghujani Lang seketika itu juga. Xin Chen nyaris tertawa melihat muka sebal Lang, kalau serigala itu tak memerhatikan gengsinya mungkin sudah ditutupnya kembali tanah itu.


"Saat-saat seperti semua orang membutuhkan air dan makanan." Xin Chen berbicara setelahnya, melihat ke sekeliling dan mendapati sekelompok lelaki dengan topeng dan pakaian selayaknya berandal sedang mengawasi mereka. Tampak ragu untuk maju, terlebih melihat Xin Chen menaklukkan terinfeksi itu sendirian.


"Oi! Kemarilah!"


Puluhan orang itu saling menatap. Mereka berasal dari kelompok Pembelot yang suka membuat onar. Dari wajah mereka yang pucat dan tampak kurus, orang-orang itu pasti sudah kehabisan makanan dan minuman di tempat mereka. Tak lama salah satu dari mereka maju karena yang lain tak berani, disusul kawannya yang lain dengan ragu-ragu.


"Apa?" Suara itu terdengar ketus. Xin Chen menyahut. "Tempat ini sudah aman dan ada air di sini, pakai saja air ini untuk kebutuhan kalian."


"Apa?"


Mereka saling bertanya-tanya.


"Bagaimana mungkin kau menyerahkan sumber kehidupan di tengah situasi genting seperti ini? Kau tahu, baru kali ini aku melihat orang sepertimu ... Kau tidak sedang menjebak kami, 'kan?"

__ADS_1


"Aku harus pergi lagi setelah ini, jika kalian membutuhkannya ambil saja. Tidak ada hak milik di dalamnya. Tapi jika ada kelompok lain yang meminta air ini, berbagi dengan mereka."


Xin Chen dan Lang hendak bergegas, orang di belakangnya semakin kebingungan. Wajah Xin Chen tak pernah terlihat oleh mereka. Ditambah lagi pakaiannya bukanlah pakaian resmi yang dimiliki sebuah kelompok seperti Fraksi Militer Pusat atau orang-orang dari Pelindung Malam.


"Tunggu sebentar!" Salah satu yang berdiri paling depan setengah berteriak, "Nama kau, siapa?"


Xin Chen berbalik badan.


"Chen. Panggil saja begitu."


"Mata birumu ... Aku seperti pernah mendengar seseorang dengan nama belakang dan mata biru seperti itu! Kau pasti putra kedua Pedang Iblis, ya? Aku sangat yakin sejak melihatmu bertarung melawan terinfeksi itu!" Kawannya yang lain akhirnya ikut bersuara. Kaget, teman-temannya yang lain ikut berseteru satu sama lain.


Xin Chen tertawa kecil melihat kelompok Pembelot. Yang digambarkan sangat sangar sekaligus sadis. Mereka yang di depannya sekarang tak lebih dari manusia biasa yang sedang berjuang untuk hidup.


Entah bagaimana caranya, tiga kelompok yang seharusnya saling bahu-membahu ini bisa saling memusuhi. Sepertinya ini berkaitan dengan apa yang Luo Li katakan, tentang mendamaikan Kekaisaran Wei yang sedang krisis. Bukan hanya seseorang yang bisa mendamaikan satu kelompok, tapi juga menjadi pendamai yang dapat menyatukan tiga kelompok ini bersamaan.


"Hahaha! Mana mungkin, dia sedang sibuk dengan urusannya. Kami-kami saja dibiarkannya terlantar."


Sahutan lain menimbrungi. "Hei, kawan. Apa pun tujuanmu ke sini, aku yakin kau pasti berniat baik. Ah iya, kalau kami ceritakan tentangmu pada orang-orang kami saja tidak apa-apa?"


"Asal jangan kau bisikkan pada peneliti atau orang-orang pemerintahan Kekaisaran ini."


Perpisahan mereka diakhiri dengan gelak tawa, Xin Chen segera berangkat. Mengejar waktunya yang terjeda tadi. Terdapat beberapa titik yang bisa digunakan orang-orang untuk memenuhi kebutuhan mereka, tapi sayangnya di sekitarnya dipenuhi oleh terinfeksi. Xin Chen memusnahkan sebanyak yang dia bisa. Membuka puluhan tempat yang langsung didatangi oleh orang-orang.


Kebun, sumber air, sumber tenaga udara manual, atau tempat-tempat umum lainnya yang nyaris tak bisa didatangi karena banyaknya terinfeksi. Banyak yang tak sempat berterima kasih. Xin Chen menyadari dia terlambat, malam datang dan perjalanannya memakan waktu sangat lama.

__ADS_1


Lang memutuskan untuk membawa Xin Chen, tak membiarkan manusia itu berjalan sendiri karena pasti dia akan berhenti kalau melihat sesuatu yang bisa dilakukannya. Dia tak menyalahkan hal itu, tapi setidaknya pikirkan apa yang sudah menjadi kewajibannya.


Sesampainya mereka di rumah perakit bom, mereka langsung disambut lelaki tua yang tampangnya betul-betul tak bersahabat, mulutnya mengomel terus dari kejauhan ditambah lagi tongkat di tangannya berulang kali mengetuk tanah. Dia tinggal di sebuah daerah perbukitan, agak tinggi dari kota dan bisa dibilang cukup aman.


Satu pukulan mendarat di tangan Xin Chen ketika sampai.


"Kenapa lama sekali?!"


"Aduh," ringis Xin Chen. Tidak tanggung-tanggung pukulannya, bisa sampai ke akhirat sakitnya. Benar saja, tangannya langsung biru.


"Aku menunggumu sampai pinggangku bergeser ke tengkorak. Lamaaa sekali! Ah sudahlah, bikin kesal saja. Bawa ini dengan aman sampai tujuan!"


Hempasan kuat di daun pintu nyaring di telinga, Xin Chen memejamkan mata.


"Ada-ada saja tipe manusia. Untung sabar." Dia bergumam sambil membawa sebuah bungkusan hitam, mengikatnya pada leher Lang.


"Apa kau bilang?!" Tiba-tiba saja pintu terbuka kembali, Xin Chen bergegas pergi bersama Lang.


"Aku bilang kami pamit! Sampai jumpa!"


Kembali ke Perkemahan Tenggara saat malam telah turun adalah keputusan yang buruk. Seharusnya sore tadi sudah sampai ke Perkemahan Tenggara dengan kecepatan berlari yang mereka miliki. Besok adalah hari di mana semua akan dimulai. Dia sempat mendengar mungkin para Pembelot akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang beberapa tempat. Ditambah lagi, Pelindung Malam hendak meledakkan markas utama Fraksi Militer Pusat yang sedang fokus dalam pencarian mereka terhadap kunci Laboratorium B-1.


Xin Chen menatap langit malam yang begitu pudar di Kekaisaran Wei. Bahkan burung-burung tidak terlihat melintas di atas sana. Sebuah tempat sesungguhnya yang penuh dengan keputusasaan, sengsara, siksa.


Saat melihat orang-orang yang melintas, rasanya dia juga tak tega membiarkan mereka berjuang sendiri. Harus ada perubahan di tempat ini, meski dia bukan bagian dari mereka tapi orang-orang ini adalah manusia tak bersalah. Xin Chen akan tetap membela mereka.

__ADS_1


Dan jika memungkinkan, dia ingin menjatuhkan orang-orang yang menciptakan kesengsaraan ini.


__ADS_2