Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 189 - Kerlap-kerlip


__ADS_3

"Aku akan membunuhmu ..."


Mata biru itu berkilat dilalap api kemurkaan, Shi Long Xu benar-benar mengkhianatinya setelah kepercayaan yang dirinya berikan pada laki-laki itu. Dia begitu ingat, ketika laki-laki itu mengatakan bahwa mereka adalah teman dan bahkan menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Kenyataan bahwa Shi Long Xu bermain sangat lihai di depannya membuat hatinya makin panas.


Mungkin seperti inilah Ren Yuan dipermainkan oleh Ren Su. Matanya disuguhkan oleh tipu daya mematikan, tanpa sadar lengah hingga orang itu menusuknya dari belakang.


Pedang di tangannya berkilat terang, Xin Chen siap memenggal kepala Shi Long Xu kapan saja. Meski ini akan menambah permasalahan yang lebih besar. Dia tak akan memberikan ampun pada Shi Long Xu. Setelah ratusan nyawa yang dia renggut dan ternyata tangannya membunuh untuk pihak yang salah.


Beberapa prajurit yang mencoba menahannya terlempar di dinding rumah warga, selebihnya tumbang di atas tanah. Darah menetes dari ujung mata pedang, Xin Chen menebas puluhan serangan lainnya. Membelah leher seorang prajurit yang tengah mengangkat pedang di depan sana.


"Pengkhianatan akan terasa semakin menyakitkan, ketika kau memercayai orangnya terlalu dalam."


"Guru-" Xin Chen berbalik badan, tak percaya bagaimana Rubah Petir bisa berjalan tepat di belakangnya tanpa dia sadari. Tak ada suara atau hawa kehadiran. Hanya ada rubah dalam balutan jubah abu-abu, seukuran anak berusia sepuluh tahun. Dari balik tudung jubahnya yang tersingkap, Rubah Petir tersenyum tipis.


"Kendalikan amarahmu, kau sudah mulai tak terkendali, Chen. Aku sangat kenal denganmu. Saat kau kehilangan kendali, kau pasti akan mengambil sebuah keputusan bodoh."


Mereka telah berada sedikit jauh dari keramaian, melewati jalur hutan dibanding jalan biasa karena di sana mereka pasti akan berpas-pasan dengan prajurit kiriman Kekaisaran Wei.


Xin Chen baru menyahut setelahnya, merenungkan apa yang telah terjadi akhir-akhir ini.


Dia kehilangan dirinya sendiri, sepertinya begitu pikirnya.


"Aku tidak tahu lagi, semua kacau di dalam otakku. Aku sudah mencoba mendinginkan kepala tapi semua yang terjadi terus mengujiku." Xin Chen menatap jauh ke depan, jalan yang ditempuhnya memang tak pernah mulus seperti yang diharapkan. Tapi terkadang semakin rumit situasi yang datang, terlebih lagi hingga melibatkan orang terdekat dalam situasi bahaya akan membuat siapa pun kehilangan keseimbangan.


Rubah Petir mengerti itu. Meski perasaan manusia adalah sesuatu yang sulit dipahami untuknya. Keadaan Xin Chen saat ini membuatnya prihatin.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?"


"Apa pun untuk membunuh Shi Long Xu."


"Kau yakin soal itu?" Rubah itu bertanya sekali lagi, sedikit ragu. Semuanya akan berubah semakin buruk ketika Xin Chen mulai melakukan penyerangan berikutnya. Dia akan dijadikan buronan sepanjang masa, bahkan jika dia mengemis meminta pengampunan namanya akan selalu tercoreng.


"Aku sangat yakin soal itu." Kepala Xin Chen menunduk, tangannya terkepal. Ada rasa bersalah yang menelusup dalam hatinya. Dia tak pernah mendengarkan omongan ayahnya, entah mengapa pemikiran mereka selalu bertentangan. Dan kini mungkin semua itu terjadi karena dia tak mendengarkan omongan semua orang.


Lama matanya hanya menatap kosong rerumputan, suara Rubah Petir hanya terdengar samar-samar, "Kenali medan perangmu, Chen. Kau tak akan pernah menang dengan hati bimbang seperti itu."


"Aku tahu itu."


"Tapi kau tak pernah sungguh-sungguh mendengarkan."


Diam. Xin Chen menatap Rubah Petir yang melakukan hal sama, hanya saja mata rubah itu sangat intens kepadanya. "Kau tahu, terkadang orang tua menginginkan kau melakukan perintahnya karena mereka pernah melihat situasi yang hampir sama. Mereka pernah gagal karena mengambil keputusan salah."


"Cobalah, dengarkan. Kau tidak harus selalu menurutinya. Cukup dengarkan baik-baik dan pikirkan tanpa meninggikan egomu. Kau akan tahu maksud yang mereka tujukan, bukan untuk mengatur mu. Tapi untuk kebaikanmu."

__ADS_1


Xin Chen terdiam tanpa mengeluarkan kata-kata, dia hanya berpikir tentang apa yang telah dirinya lakukan. Semuanya terjadi begitu cepat. Sampai dirinya tak sadar bahwa telah berada di titik paling berbahaya. Menjadi buronan Kekaisaran Wei dan sebentar lagi senandung perang akan dikumandangkan.


"Saat aku merasa tak berdaya ..."


Bias cahaya matahari tembus dari celah pepohonan, cahaya itu berkilau di mata perak sang rubah yang hanya mendengarkan murid keras kepalanya itu berbicara.


"Aku akan melakukan apa pun untuk bisa membantu. Meski semua orang mengatakan tak mungkin."


Rubah Petir menambahkan, "Dan kau mendapatkan banyak masalah dari sana."


"Kau benar, Guru."


Rubah itu sedikit tertawa, "Akhirnya kau sadar. Tapi aku tak menyalahkanmu soal itu. Kau hanya mengejar setiap kemungkinan kecil yang ada. Karena itu sekarang kau harus menyelesaikan semua ini hingga tuntas."


Xin Chen tak pernah menyangka Guru Rubahnya itu peduli dengan keadaannya sekarang, di ingatannya makhluk itu sangat-sangat sinis dan berisik.


"Aku senang kau berada di sini, setidaknya aku tidak sendirian. Dan tumben sekali hatiku tenang saat kau berbicara, biasa seperti sedang dikejar setan."


Xin Chen tertawa, tapi segera berubah seram ketika melihat di sampingnya mata rubah berkilat. Lalu entah datang dari mana sebuah ranting muncul di tangan sang rubah.


"Sampai kau kembali ke wujud manusiamu, aku akan menghitung berapa kali pukulan untuk menghukum mulut laknat itu."


"Masih sama ganas ternyata," sungutnya. Membayangkan dilibas dengan kayu tipis dan tajam itu, sampai berair matanya kemarin dibuat Rubah.


Xin Chen berubah awas ketika langkah kaki berderap mendekat, menyisiri sekitar hutan dalam pasukan yang cukup banyak. Rubah Petir berbisik, "Aku mendengar di pelabuhan para prajurit Kekaisaran Wei diturunkan ke sini, untuk menangkapmu. Kau harus berhati-hati, mereka banyak."


Rubah itu memasang wajah kesal. Memang dibandingkan Xin Chen dirinya lebih mudah ditangkap, karena Xin Chen punya kekuatan roh untuk menyembunyikan wujudnya. Sedangkan dia tidak. Rombongan itu makin mendekat, lalu dalam tiba-tiba terdengar suara di ujung sana.


"Hei, aku melihat seseorang di balik pohon!"


"Segera temukan!"


Tak lama langkah kaki yang berat menyusul, mempersempit area sampai Rubah Petir tak bisa pergi ke mana-mana. Dia bisa saja menggunakan kekuatannya untuk membunuh semua prajurit itu, tapi resikonya adalah teriakan akibat tersengat dari mereka akan mendatangkan lebih banyak musuh.


Rubah baru berpikir untuk mengeluarkan kekuatan, tapi dalam sekejap mata terdengar suara pedang yang ditarik dari tempatnya. Rubah itu baru mengedipkan mata dan pemandangan berubah. Tubuh-tubuh itu berjatuhan dengan kepala tergeletak tak jauh dari mereka. Tujuh orang tewas tanpa suara. Masih seperti suasana siang yang damai. Tapi tempat itu tak ubahnya tempat pembantaian.


"Mereka akan datang lebih banyak lagi. Sebaiknya kita tidak perlu berurusan dengan mereka." Xin Chen mengembalikan pedang ke tempatnya, membuat Rubah Petir berpikir, "Kau mulai menggunakan pedang itu?"


Benar. Pedang Baja Phoenix yang telah retak sebagian kini digunakan oleh Xin Chen, pemuda itu menengok sekilas ke benda tersebut dan menjawab.


"Setelah di Kekaisaran Wei aku tak bisa menggunakan kekuatan roh. Itu akan membuat para roh milikku tak terkendali dan masuk ke tubuh kosong para terinfeksi. Jika itu terjadi, terinfeksi itu akan berubah menjadi makhluk yang lebih menakutkan."


Rubah mencoba memahami, dia mengulurkan tangan. Xin Chen memberikan pedang itu. "Memang kekuatan Api Keabadianmu tak bisa diandalkan."

__ADS_1


"Jika aku terlalu banyak menguras kekuatan, nasibku akan sama seperti yang kau lihat di halaman belakang istana."


Tentu saja Rubah sangat ingat saat itu terjadi. Dia menatap muridnya, "Kau mengamuk seperti orang gila. Walaupun memang orang gila."


"Omonganmu kejam sekali."


"Hahaha," tawa rubah. Mereka meneruskan perjalanan ke ujung perbatasan, tapi karena banyaknya prajurit yang berkeliaran butuh waktu lama untuk sampai ke sana. Xin Chen dan Rubah memutuskan untuk beristirahat sejenak saat malam datang, menunggu tengah malam agar bisa bergerak lebih leluasa.


Hanya bunyi ranting pohon yang tengah dilalap api menjadi bunyi di antara mereka. Malam menambah hening yang ada. Sang rubah berhenti menambah kayu ke dalam api unggun, akhirnya melihat Xin Chen yang masih hanyut dalam pemikirannya sendiri. "Kita butuh persiapan untuk pergi ke sana. Ceritakan padaku soal terinfeksi."


"Baiklah, dari mana aku akan memulainya ..."


Xin Chen akhirnya menjelaskan sedetail-detailnya tentang para terinfeksi, tiap tipenya, peneliti hingga ke Laboratorium tempat semua virus itu dibuat. Rubah tak begitu asing dengan hal itu, karena sebelum akhirnya memutuskan tinggal di Hutan Kabut dia telah berkeliling dunia. Menyaksikan begitu banyak manusia jenius yang lahir dan menciptakan ilmu-ilmu baru.


Tak bisa dipungkiri, bencana yang menimpa Kekaisaran Wei adalah penyakit terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Mereka masih mencari obat, sementara itu jumlah terinfeksi terus bertambah setiap harinya. Semakin hari pula, jumlah para peneliti terus berkurang.


"Tapi aku menemukan cara yang bagus untuk membunuh mereka."


Dia menadahkan sebelah tangan, sebuah cara biru muncul, Api Keabadian bersinar terang. Lalu Xin Chen menambahkan kejutan listrik di dalam. Tekanan kedua kekuatan yang saling berbanding terbalik menciptakan arus dari dua arah berbeda di dalam bola kekuatan itu.


Gesekan di antaranya menciptakan percikan api. Cabang petir yang kecil muncul di luar bola tersebut.


Xin Chen melemparkannya agak jauh, lalu ledakan terjadi menghanguskan rumput yang ada di dekatnya.


Rubah masih mencerna apa yang dilihatnya, "Reaksi itu sama seperti ledakan bom. Tapi kau bisa mengontrol kekuatannya, semakin besar maka ledakannya akan semakin hebat."


"Benar. Tapi bukan untuk menciptakan ledakan yang besar. Karena jumlah terinfeksi itu sangat banyak, aku membuat sekecil ini untuk meledakkan kepala mereka. Dengan begitu mereka langsung mati, dalam hitungan beberapa detik saja."


"Jenius." Rubah menjentikkan jarinya, melakukan hal yang sama setelah mempelajari apa yang dimunculkan Xin Chen.


"Pernah melihat pohon yang hangus karena terkena petir?"


Sembari mengatakannya rubah itu menciptakan kekuatan seukuran bola, begitu padat dan berisi. Arus di dalam kekuatan petir itu sangat kencang tapi stabil. Xin Chen tak heran lagi, Rubah Petir sangat-sangat ahli dalam mengendalikan kekuatannya, sebesar apa pun.


"Tentu."


"Maka tak perlu dua kekuatan berbeda untuk membuatnya meledak. Kau hanya perlu mengendalikan kekuatan ini, hingga saling bertubrukan dan ..."


Rubah Petir melempar lebih jauh dari Xin Chen, lalu ledakan dahsyat dari bola sekecil itu membuat tanah ikutan bergetar.


Sampai terdengar jeritan para lelaki yang berjaga di luar hutan. Mereka kaget mengira petir jatuh di atas kepala mereka. Xin Chen juga sama terkejutnya.


"Guru, itu kau bukan lagi membunuh terinfeksi, tapi seperti sedang membunuh gajah."

__ADS_1


"Lihat ini." Guru Rubah itu tak berhenti sampai sana sana, dia menciptakan sesuatu yang lebih besar lagi dari sebelumnya.


Kerlap-kerlip menghiasi pemandangan di sekitar Xin Chen, dia terpana, telah lama tak melihat seberapa hebat kekuatan gurunya itu.


__ADS_2