Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 210 - Hingga Akhir


__ADS_3

Tiba di tempat persembunyian dengan susah payah, akhirnya Fu Hua menemukan Yu tengah berjaga di pintu depan dengan mata awas. Beberapa pagar didirikan tinggi, dalam tiga hari kepergiannya tanpa disangka jumlah Pembelot yang terkumpul juga bertambah banyak. Merek mengambil beberapa rumah yang masih layak pakai sebagai tempat bersembunyi.


Fu Hua berlari tergesa setelah Xe Chang dan kawan-kawan membukakan jalan. Yu melebarkan matanya, melihat gadis itu kembali membawa banyak orang.


"Fu Hua, apa yang kau lakukan? Kau menghilang tanpa mengatakan apa-apa, kami mencarimu!" jelas Yu panik, dia tak bisa kehilangan lebih banyak rekan di saat genting seperti ini. Matanya menangkap ke belakang di mana beberapa orang yang dikenalnya sebagai Fraksi Militer Pusat ikut bergabung dengan Fu Hua.


"Jika kau tak berkeberatan izinkan kami tinggal bersama kalian."


Yu membaca situasi, dia berpikirnya sejenak. "Masuklah dulu, tapi jujur saja kami tak punya banyak tempat. Tempat ini sudah cukup pengap menampung delapan puluh sembilan orang, aku tak yakin kalian bisa tidur dengan nyenyak."


Xe Chang tertawa singkat, "Kami akan memikirkannya nanti. Tapi di luar sini berbahaya."


Yu membukakan pintu. Memperlihatkan isi di dalamnya yang memang sudah sesak, entah sejak kapan tapi Fu Hua senang dengan itu. Semakin banyak yang selamat, semakin banyak pula pasukan yang mereka miliki.


"Fu Hua, aku ingin berbicara sebentar denganmu." Begitu sampai di salah satu rumah di mana Fraksi Militer Pusat diistirahatkan sementara, Yu membawanya ke lain tempat. Mereka tiba di satu kamar yang dijaga oleh Rubah Petir, Siluman itu tak bereaksi apa-apa ketika mereka sampai. Sementara Lian sibuk meracik obat di meja, cukup kaget melihat Fu Hua tiba.


"Kau berhasil?"


Dengan cepat Yu menjewer telinga Lian, menggediknya sampai remaja laki-laki itu meringis. "Jika bukan karenamu Fu Hua tak akan berada dalam bahaya! Lihat akibat perbuatanmu, dia terluka parah!"


Fu Hua melerai Yu dengan menurunkan tangan wanita itu dari telinga Lian. Berpaling ke arah seorang yang berumur hampir sama dengannya, melihat wajah itu begitu damai tertidur.


Sepertinya, Fu Hua tak pernah melihat wajahnya sedamai itu.


Yu tak mau banyak bertanya, dia memberikan ruang agar Fu Hua bisa melihat keadaan Xin Chen dan menarik Lian dari sana.


"Rawat dia dengan baik," pesan Yu sebelum pergi.


"Aku selalu memerhatikan langkahmu, dan bertanya-tanya apakah kau pernah tertidur dengan lelap tanpa merasa terancam ... Atau sekedar berjalan ringan tanpa merasakan beban berat di kedua pundakmu."


Tangannya yang lembut menyentuh urat nadi yang terus berdenyut di kedua lengan hingga ke wajahnya. "Aku juga selalu merasakan hal yang sama sepertimu. Terbangun dalam ketakutan ... Dan saat aku kehilangan seluruh keluargaku, aku merasa kesepian. Tapi entah mengapa, karena aku merasa kita sama, aku tak sendirian lagi."


Dia mengeluarkan sebuah jarum suntik yang dimasukkan dalam tabung kecil dengan penutup yang terbuat dari emas. Dibuat dengan khusus, kaca yang melindunginya tak akan bisa pecah meski dihantam oleh besi berat.


Rubah yang sedari tadi diam di tempatnya akhirnya bergerak, mendekat tanpa mengeluarkan sepatah kata. Dia menatap benda di tangan Fu Hua, memalingkan muka.


"Ada begitu banyak obat di luar sana yang dikatakan mampu menghentikan virus di tubuhnya, tapi nyatanya hanya menghentikan itu sementara."


Mata peraknya beralih pada kotak cokelat kayu yang tergeletak di sebelah Fu Hua, membukanya perlahan dan membaca sebaris kalimat yang ditulis dalam bahasa kuno yang masih bisa dibacanya.


"Hu Yaongi, Teluk Barat, 206 mil?"


"Ada apa, Rubah?"


Ingatannya berputar kembali ke saat di mana dia dan Xin Chen masih di luar Kekaisaran Wei. Muridnya mengeluarkan peta dan tanpa sengaja sebuah kertas terselip, Xin Chen tak mengatakan apa-apa dan menyembunyikan lagi kertas dengan tulisan yang sama itu.


"Aku pikir seseorang sedang berusaha memberikan sinyal dengan kode ini. Tapi apa hubungannya dengan pembuat obat ini?"


Sejenak Fu Hua menghentikan aktivitasnya, tak bisa menjawab kebingungan Rubah Petir karena dia sendiri baru tahu soal itu.


"Kita akan tanyakan itu pada Xin Chen."

__ADS_1


"Jika dia bangun," cela Rubah Petir. Dia tak bisa mempercayai lagi soal obat yang benar-benar manjur. Lang telah menceritakan padanya, Xin Chen sudah dua kali diobati dan hasilnya sama saja, penyakit itu berhenti sementara dan saat bangkit lagi kian mengganas.


"Kau harus percaya, Rubah. Xin Chen tak akan tumbang sebelum tugasnya selesai."


Diam sejenak, Rubah Petir sampai mengingat saat Xin Chen mengatakan satu hal mengerikan, bahkan hingga wajah pemuda itu masih diingatnya dengan jelas.


"Kau akan merangkak dari kerak neraka sekalipun, untuk membunuh musuhmu yang masih hidup?" Perlahan Rubah Petir mendekatkan wajahnya ke telinga Xin Chen, "Mana kata-katamu kemarin, Chen? Bangunlah, ada 52 pukulan ranting yang belum kau terima."


"Kau membuatnya tak mau bangun selama-lamanya."


Rubah itu membuang pandangan ke lantai, "Percaya, ya? Entah mengapa aku merasa tak berguna saat dia kesakitan. Tak ada yang bisa kulakukan," suaranya perlahan merendah dan hanya terdengar bisikan.


Dia menatap Fu Hua, "Kau berjuang mati-matian untuk menyelamatkannya. Aku rasa si bodoh kepala batu ini cukup beruntung bertemu denganmu."


"Dan dia sangat beruntung memiliki Guru yang baik sepertimu," sambut Fu Hua menyodorkan jarum suntik itu kepada Rubah. "Lakukan langkah terakhir untuk menyelamatkannya, kumohon."


Rubah itu ragu, tapi melihat ketulusan di mata Fu Hua dia tak menolak. Mengiyakannya sambil mulai mendorong cairan obat hingga ke dasar. Mereka menunggu lama, tak terjadi reaksi apa-apa.


Cemas dan khawatir yang semula mewarnai wajah keduanya perlahan surut, berubah menjadi kecewa besar. Mulai bertanya-tanya, apakah di tahap terakhir ini Xin Chen sama sekali tak bisa disembuhkan.


Satu jam berlalu, dua jam dan tiga jam. Sampai akhirnya Fu Hua mulai merasakan kantuk. Rubah Petir yang kecewa hanya kembali diam, memutuskan untuk mencari tempat lain. Fu Hua sendiri mulai mendengar kegaduhan di luar rumah, orang-orang Perkemahan Tenggara, Fraksi Militer Pusat dan Pembelot mulai melakukan persiapan.


Hingga malam tiba, orang-orang di luar bergerak mencari lebih banyak pasukan. Mereka bertambah menjadi 130. Dan semakin banyak. Kabar baik itu diselingi oleh kabar buruk yang Fu Hua terima.


Xin Chen tak bangun. Penyakit di tubuhnya tak menghilang dari sana. Wajahnya masih pucat seperti semula. Lantas matanya basah, Fu Hua tak sanggup lagi menerima itu. Dia menutup mata, menaikkan selimut ke tubuh Xin Chen. Lalu pergi sambil menahan tangisnya.


*


Merasakan kembali denyut menyakitkan di dadanya, dia sebenarnya tak sanggup lagi melihat Xin Chen terbaring seperti tak bernyawa. Gadis itu menguatkan diri, membuka pintu sambil berusaha tegar.


Namun seketika nampan berisi mangkuk kaca di tangannya terjatuh.


Mata biru yang tengah menatap jauh ke luar jendela berganti menatap mata safir miliknya, dia terbelalak. Tiga detik menahan napas, hingga suaranya yang bergetar mulai menghancurkan keheningan di antara keduanya.


"Xin Chen, kau ..." Kalimatnya buntu. Fu Hua tak bisa berpikir.


"Dua kali kau menyelamatkanku. Saat pertarungan di Lembah Para Dewa dan sekarang." Dia tersenyum meski wajahnya masih pucat, atau bahkan sangat pucat.


"Terima kasih."


Hangat kembali mata Fu Hua, tapi bukan seperti kemarin malam. Dia benar-benar lega Xin Chen kembali.


"Aku harus memanggil Rubah."


Fu Hua berlari ke lorong-lorong rumah, mencari Rubah dan membawanya ke tempat Xin Chen. Rubah itu datang, mengangkat kedua tangannya.


Xin Chen yang menyaksikan itu sedikit terharu. Sepertinya gurunya itu begitu kehilangan saat dia tidak ada, sampai-sampai ingin memeluknya. Itu sangat jarang terjadi, matanya bisa melihat kebahagiaan luar biasa di wajah gurunya itu.


Tangan yang dia pikir hendak memeluknya berganti arah mengeluarkan sebuah benda keramat mematikan yang langsung membuat Xin Chen ingin pingsan lagi. Pukulan yang luar biasa menyakitkan menghantam bahunya.


"Aduh!"

__ADS_1


"Sisa 51 pukulan lagi belum di bayarkan dari hukumanmu."


Sialnya, Rubah Petir memasang wajah yang sama sekali tak antusias dengan kesehatannya yang mulai membaik.


"Berapa kali aku tertipu, aish."


Fu Hua tanpa sadar tertawa melihat kelakuan guru dan murid itu. Ada bahagia yang menelusup di hatinya.


"Makanlah dulu, kau semakin kurus, tahu."


"Cih, sudah kurus tidak pakai baju. Tidak tahu malu," omel Rubah Petir sebelum meninggalkan Xin Chen yang tertohok di tempat. Karena luka di tubuhnya harus diperban dan dibaluri obat setiap saat pakaiannya terpaksa dilepas. Yu yang melakukan itu.


"Butuh bantuan?" Fu Hua melihatnya kesusahan berdiri, Xin Chen menolak halus.


"Aku bisa sendiri, tapi terima kasih."


Fu Hua tahu Xin Chen tak enak meminta pertolongannya lagi, dia langsung membantu tanpa banyak tanya. Membuat Xin Chen semakin segan, dia tak pernah sebanyak ini meminta pertolongan apalagi kepada perempuan, bahkan kepada Ibunya sendiri, Xin Chen pasti akan sangat segan merepotkan wanita itu.


"Hei, aku merepotkanmu?"


Sepanjang lorong rumah yabg saling berdempetan, mereka berbicara. Fu Hua menggeleng pelan. "Tidak."


"Kenapa kau selalu menolongku, padahal aku bukan siapa-siapa. Dan obat yang kau berikan padaku itu, aku melihat itu berasal dari Laboratorium Baru."


"Kau tahu?"


"Ada tulisan di kotak kayunya. Kau melakukan hal nekat itu untukku?"


Fu Hua tak tahu harus menjawab apa, dia membalas sekadarnya. "Jika kau mati sekarang, tidak yang bisa menghentikan Qin Yujin dan Kaisar Shi. Aku melakukan ini untukmu ... dan tentunya semua orang." Xin Chen tersenyum kecil.


"Aku tak pernah menemukan perempuan yang baik seperti ibuku. Tapi sekarang ada tahu lagi, siapa pun laki-laki yang hidup bersamamu pasti akan sangat bahagia. Sama seperti Ayah, dia selalu bilang kalau dirinya merasa beruntung memiliki ibu."


Tawa kecilnya terdengar, Fu Hua menatap wajahnya dari samping. Tak mengatakan apa-apa. Pujian itu membuatnya senang dan sedih di saat bersamaan.


"Kita sampai, aku akan membawakan makanan untukmu. Tunggulah sebentar."


Mereka di satu tempat yang dijadikan dapur, bahan makanan cukup terbatas sehingga wanita di sana memasak masakan yang sederhana. Xe Chang datang dari arah lain bersama Wen, Yu, Qiu pimpinan pembelot dan Rein sebagai wakilnya. Mendengar kabar Xin Chen bangun dari Rubah, mereka berencana melakukan diskusi kembali.


"Sudah baikan, kawan?" sapa Xe Chang ramah. Menyodorkan minuman keras kepadanya, Xin Chen menolak halus.


"Oh, jadi kau ya." Qiu mengambil tempat di sebelah Xin Chen dan langsung merangkulnya. "Senang bertemu denganmu, Xin Chen. Orang-orangku menaruh hormat besar padamu."


Rein dan Wen duduk di sebelah Xe Chang, membentuk lingkaran di antara mereka berenam. Yu tersenyum. "Senang melihatmu sehat kembali," katanya.


"Terima kasih, tapi bisa jelaskan apa yang terjadi selagi aku tidak sadarkan diri?"


Yu mengambil alih, menjelaskan semuanya kepada Xin Chen. Lalu Qiu dengan menggebu-gebu menceritakan rencananya menyerang istana Kaisar. Tiba di penjelasan Xe Chang dan Wen, tentang Fu Hua. Dia menatap gadis yang tengah memasak beras hitam di tungku api hingga terbatuk-batuk. Tak tahu lagi cara berterima kasih kepadanya.


"Aku berhutang nyawa padanya."


"Aih, tepikan dulu soal itu. Mari bicarakan tentang rencana kita besok. Seratus sembilan dua orang telah dikumpulkan, lengkap dengan senjata yang mereka rampas di markas Serikat Sentral Pusat. Ada beberapa orang lagi yang akan bergabung dengan kita. Aku telah membuat persiapan yang matang untuk membunuh Shi Long Xu b*ngsat itu. Dan Xin Chen!"

__ADS_1


Lelaki bernama Qiu itu menajamkan matanya, "Aku tahu kau baru sembuh. Tapi siap tidak siap, kau harus ikut dalam pertempuran ini. Kau sudah melibatkan diri di dalamnya dan kuharap kau masih bersama kami hingga akhir."


__ADS_2