
"Jangan pergi."
Satu kata itu mampu membuat Xin Zhan merasa nyawanya telah kembali. Dia tak akan mungkin membiarkan adiknya bertarung sendirian di Medan perang yang begitu ganas ini. Meski dirinya baru saja mengeluh akan segala hal yang memberatkan pundaknya, bukan berarti Xin Zhan akan mengalah pada tugas yang memang harus diembannya.
Dengan segenap kekuatan yang tersisa Xin Zhan memegang tangan Xin Fai yang semakin erat mencekiknya. Dia melakukan segala hal hingga tangan ayahnya ikut berdarah, teriakannya terdengar. Sesak dan kesakitan.
Cengkraman Xin Fai terlepas. Sontak Xin Zhan mundur sejenak, dia harus mengumpulkan sedikit kekuatan jika ingin kembali berhadapan dengan laki-laki itu. Menghindar adalah satu-satunya jalan yang dipikirkan olehnya. Jika tidak, dirinya tak akan yakin mampu bertahan lebih lama dan justru hampir mati untuk yang kedua kalinya di tangan Sang Pedang Iblis.
Rasanya aneh. Dulu Xin Zhan selalu menang saat berduel dengan ayahnya dan dia begitu yakin akan kekuatannya sendiri. Laki-laki itu memang kuat, tapi dirinya percaya diri bisa menangani kecerdikan akal ayahnya. Karena di dalam tubuh mengalir darah yang sama. Xin Zhan hanya perlu berusaha untuk melampaui ayahnya. Dengan begitu dia akan lebih kuat dibandingkan Pedang Iblis.
Tapi mengapa, dirinya baru menyadari satu hal yang selama ini membuatnya merasa dibohongi.
Bahwa laki-laki itu selalu menahan kekuatannya. Dan mengalah agar Xin Zhan selalu bersinar. Di hadapan teman-teman seperguruan atau guru-gurunya. Agar kepercayaan dirinya terus ada dan membuat semangatnya membara. Xin Fai selalu memikirkan kebahagiaannya, lebih dari apa pun. Dan sebaliknya, Xin Zhan selalu merasa perhatian itu tak cukup dan berpikir bahwa adiknya lah yang disayangi.
Siapa pun yang melihatnya saat itu pasti berpikir bahwa Xin Zhan akan tumbang sebentar lagi. Lengan bajunya telah koyak, darah bercucuran di mana-mana. Sayatan terbuka lebar di sepanjang tubuhnya, dia tak ubahnya mayat penuh darah yang memaksa diri untuk berjalan di tengah kandang singa.
Tak apa. Satu kata yang terus diucapkannya. Xin Zhan akhirnya berhenti berjalan. Lututnya jatuh bertekuk, dia memegangi lengan yang satunya lagi. Menghirup udara pelan dan mengumpulkan energi alam semampunya.
Benar. Energi alam. Pikir Xin Zhan. Ayahnya telah mengajari banyak hal tentang cara pemulihan kekuatan yang cepat. Bahkan dirinya sampai teringat dulu, Xin Fai pernah mengajak mereka berdua untuk berliburan. Tanpa mengajak Ren Yuan yang akhirnya membuat wanita itu tak bicara sampai seminggu.
Latihan di bawah air terjun yang amat panas hingga membakar kulit. Lalu aliran tenang yang penuh dengan kekuatan. Energi alam yang melimpah ruah dan bagaimana sensasi saat panasnya air dapat menyembuhkan seluruh luka.
Namun di tempat penuh mayat dan hancur lebur seperti ini, di manakah Xin Zhan mendapatkan energi alam?
Xin Zhan menutup kedua matanya. Merasakan semuanya bercampur aduk. Hembusan napasnya melemah, degub jantung pemuda itu berdetak lebih lamban. Itu semua dilakukan agar dia dapat berkonsentrasi pada sekitarnya.
Dibandingkan mendapatkan energi alam. Xin Zhan merasakan energi kegelapan yang seperti tidak ada habisnya di tempat ini. Dia menggeleng pelan, kekuatan itu sama sekali tidak bisa dimanfaatkan untuk penyembuhannya. Xin Zhan harus bergerak cepat sebelum Xin Fai menemukannya.
Mata hitamnya kembali tertutup. Xin Zhan memperluas jangkauannya. Dan baru menyadari terdapat satu sumber kekuatan lain yang memiliki kemurnian tingkat tinggi. Kekuatan yang sama seperti yang adiknya miliki. Api Keabadian.
Tentu saja Xin Zhan tak akan bisa memiliki kekuatan itu. Bukan sembarangan orang dapat mengendalikannya. Tapi jika hanya mengubah kekuatan murni yang keluar di sekitar api tersebut, tampaknya teknik yang diajarkan Xin Fai akan bekerja. Meski hanya dugaan Xin Zhan.
Pemuda itu mendekat pada bara Api Keabadian yang takkan pernah padam itu. Dia duduk bersila. Melakukan meditasi tingkat lanjut yang biasa dilakukan untuk penyerapan energi alam. Konsentrasinya berada pada tahap tertinggi karena mengubah kekuatan Api Keabadian menjadi energi alam yang dapat diserapnya bukanlah hal mudah.
Sepuluh menit berlalu dan beruntungnya Xin Fai sama sekali belum menemukannya. Xin Zhan melakukan meditasi terus menerus. Caranya benar-benar berhasil, dan kekuatan Api Keabadian berubah menjadi sumber kekuatan untuknya.
Xin Zhan sempat memegangi tanda Bunga Api di keningnya. Tampaknya semua ini juga berkat karunia yang diturunkan dari ayahnya sejak lahir. Ayahnya bahkan pernah bercerita bahwa dirinya pernah nyaris mati dan diselamatkan oleh tanda Bunga Api tersebut. Tak pernah ada catatan sejarah mengenai Bunga Api di kening mereka. Data ataupun kekuatan apa saja yang diberikan oleh tanda tersebut. Sama sekali tak ada yang tahu pasti.
Dan untuk beberapa situasi seperti sekarang, Xin Zhan merasa memang tanda itu sedang menyelamatkan nyawanya. Mengubah kekuatan Api Keabadian bukanlah perkara mudah. Jika guru-gurunya dari Lembah Kabut Putih tahu akan hal ini mereka pasti akan langsung heboh dan mulai menyanjung-nyanjung dirinya secara berlebihan.
Meski pun Xin Zhan tak pernah nyaman dengan sanjungan itu. Ada begitu banyak orang yang lebih hebat daripada dirinya. Besar kepala hanya akan membuat dirinya tak berkembang. Justru, sosok yang dulu nyaris tak pernah mendapatkan pujian dari guru-guru di Lembah Kabut Putih kini telah menjadi sosok hebat.
Xin Zhan menatap cahaya biru yang berpendar dari birnya Api Keabadian. Entah mengapa, dirinya bisa merasakan bahwa api itu adalah api milik Xin Chen. Bukan milik Naga Kegelapan. Api itu begitu tenang, meski berada di dekatnya tergolong berbahaya. Salah-salah, tubuhnya bisa berubah menjadi abu.
Xin Zhan menatap lengan dan tubuhnya sendiri, bekas luka itu telah menghilang dengan sempurna. Kekuatannya kembali, nyaris seperti semula. Dua puluh menit dia nyaris tak mendapati gangguan apa pun. Aneh. Dia mulai mencemaskan ke mana perginya Xin Fai, apakah laki-laki itu menyerah untuk membunuhnya.
__ADS_1
Atau-saat ini Xin Fai sedang memburu adiknya.
Tak membiarkan hal itu terjadi, Xin Zhan lantas bergerak cepat ke tempat di mana terakhir kali dia melihat Xin Fai.
Xin Zhan berlari seperti dikejar-kejar, kepanikan tanpa alasan itu semakin menjadi-jadi saat dirinya sama sekali tak menemukan Xin Fai di mana pun.
Menoleh ke arah lain, kini kabut-kabut tampak akan menghilang sebab wujudnya bergerak lamban menyerupai bayang-bayang, tanpa menghiraukan Xin Zhan. Antara mereka yang semu atau Xin Zhan yang melepaskan diri dari waktu. Dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri. Bagaimana jika Xin Chen menghadapi Xin Fai dan Naga Kegelapan sekaligus?
Bagaimana jika terjadi sesuatu hingga adiknya terluka serius dan dirinya tak ada di sana. Semua itu berkelebatan di pikiran Xin Zhan. Dia menelan ludah. Tapi sebelum dapat menemukan Xin Fai, Xin Zhan justru bertemu dengan sesosok bermata jelaga yang tadi sempat ditemuinya.
Langkahnya terhenti beberapa saat. Lalu mulutnya berucap pelan.
"Ke mana Ayah ku?"
"Kau terlihat begitu panik tidak seperti biasanya. Apa gerangan?" Sekilas wajah lelaki itu mengembang, dia begitu tertarik untuk bertemu Xin Zhan. Tak biasanya dirinya menemukan seseorang dengan warna mata hitam yang sama pekatnya dengan bola mata miliknya. Seakan-akan ingin mengajak bicara Xin Zhan lebih lama lagi.
Karena semasa dulu, sosok itu tak pernah benar-benar mencari sosok teman selain mengabdikan dirinya menjadi alat Kekaisaran. Dia telah menyadari bahwa jiwa kesepiannya membutuhkan teman untuk berbagi. Dan sosok lain, bernama Xin Zhan yang dia ketahui sebagai Putra pertama Pedang Iblis memiliki warna mata yang sama. Dan cara pandang yang menarik.
"Tenang saja," ucapnya menenangkan. "Aku sedang menyuruhnya untuk berhenti. Kau takut dia menyerang yang lain?"
Xin Zhan tak menjawab tapi wajahnya terlihat jauh lebih tenang meski pun Xin Zhan tak bisa sepenuhnya percaya pada orang tersebut.
"Maaf sebelumnya aku tidak memperkenalkan diri. Namaku Dou Jin. Kau pasti sudah menduga klanku bukan?"
"Dou Jin. Berarti kau adalah salah satu dari Sepuluh Terkuat generasi sebelumnya."
"Padahal aku diperintahkan di sini untuk membunuhmu. Tapi tampaknya ayahmu sendiri tak mampu membuatmu mundur. Nyali kau dan adikmu memang benar-benar gila. Aku yakin Tuan pasti sedang meminum teh hangatnya dengan tangan gemetaran usai melihat perkembangan perang ini. Jauh di luar nalar."
Pujian atau sindiran, Xin Zhan tak bisa menentukannya.
"Kau datang kemari untuk pedang itu? Apakah kalian tidak bisa mendapatkannya dari ayah? Atau sedang mencari sandera agar ayah mau memberikan pedang itu? Di mana kalian menyimpan cincin ruangnya?"
"Woah, woah. Sangat antusias. Sabarlah, tidak perlu bertanya sekaligus." Dou Jin seperti sedang menertawainya. "Karena aku tidak akan menjawab satu pun pertanyaan itu."
Sudah Xin Zhan duga. Dia tak terkejut lagi.
"Jadi kau ke sini, karena takut aku menghabisi semua mata terkutuk itu. Dan memilih bertarung denganku langsung? Sepertinya benar katamu. Ayah saja tak akan cukup untuk membuat kami mundur."
"Kau tahu, aku sudah begitu tua untuk kau ajak bertarung. Tapi apa boleh buat. Aku hanya ingin melihat kemampuan mu dengan mataku secara langsung. Kau keberatan?"
"Aku Xin Zhan, Putra Pertama Pedang Iblis menerima tantangan mu untuk bertarung denganku."
Xin Zhan memasang sikap hormat seperti yang selalu dilakukannya saat seseorang mengajaknya berduel. Dan setelah dirinya melihat secara seksama, Dou Jin tampaknya merupakan seorang pendekar pedang sama sepertinya. Cara mereka berdiri dan mengambil sikap.
"Tunjukkan padaku bagaimana kekuatan mu yang sebenarnya."
__ADS_1
Dou Jin memasang kuda-kudanya. Tubuhnya menyamping dengan kedua tangan memegang pedang. Xin Zhan bersiap-siap untuk menerima serangan dari lawan. Mata dan pikirannya fokus ke arah musuh.
Hingga akhirnya Dou Jin melakukan penyerangan. Xin Zhan mengambil satu serangan dari bawah berlawanan dengan musuhnya yang mengarahkan senjata ke bagian leher. Beruntung Xin Zhan cukup sigap menghindar.
Sekilas Xin Zhan dapat melihat sebuah daun yang telah gosong jatuh pelan ke bumi, dan dirinya menyaksikan dengan takjub bagaimana pedang milik Dou Jin memotong rapi daun rapuh itu tanpa membuat abunya berpencar.
Sementara Dou Jin terhenyak saat mendapati bekas sobekan pada jubahnya. Dia yakin serangan Xin Zhan sama sekali tak mengenai tubuhnya. Dan dilihat dari arah serangan itu tampak berbalik arah dengan pedang Xin Zhan tadi.
Apa yang bisa ditangkapnya hanya Xin Zhan membalikkan serangan mengecoh sebelum dirinya menghindar sepenuhnya.
"Hei, " panggil Dou Jin yang telah memberhentikan serangannya. Sejenak Xin Zhan enggan menoleh ke arahnya. Masih tak percaya bahwa sosok pengguna Mata Terkutuk itu memiliki kemampuan berpedang yang jauh lebih hebat daripada Pilar Kekaisaran kelima.
"Sebenarnya aku mengajakmu bertarung karena aku merasa kau memiliki kemiripan dengan mantan muridku dulu."
Lalu sosok bermata jelaga itu tersenyum lagi. Memasukkan pedangnya ke tempat semula. Tatapannya semu, begitu semu inti jelaga di matanya meluas laksana darah dalam genangan. Dia seolah ingin memberitahu sesuatu yang tak dapat Xin Zhan mengerti. Matanya itu, menguasai putih dengan hitam, merajai cahaya dengan kegelapan.
"Xiao Long namanya. Parasmu jauh lebih rupawan dibandingkannya. Namun mata kalian sangat mirip. Dan kemampuan berpedang kalian ... Di umur yang hampir sama, kalian berimbang. Aku sempat berpikir bahwa kau adalah dia jika bukan karena gelarmu sebagai anak dari Pedang Iblis."
"Membunuh orang itu adalah satu-satunya misi yang tak pernah ku selesai kan. Dia dinyatakan tewas dalam satu perang dan menghilang tanpa ada yang mengenalnya."
Sesaat Dou Jin menatapnya lekat-lekat.
"Tapi aku tak begitu naif menjadikan mu seolah dirinya dan membunuhmu hanya karena dendamku. Biarlah rencana ini berjalan seperti yang Tuan pinta. Tugasku hanya mengawasi dari jauh."
Xin Zhan baru menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak. Sialnya dia lupa bahwa Dou Jin membawa nama klan Dou yang merupakan keluarga dengan kekuatan Mata Terkutuk. Dia bisa mati berdiri hanya karena menatap mata tersebut.
Tapi yang dilakukan Dou Jin justru sebaliknya. Laki-laki itu sangat membingungkan. Hingga membuatnya tak tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan laki-laki tersebut.
"Jika kita bertemu di waktu dan keadaan yang berbeda. Izinkan aku berduel secara serius denganmu."
"Kau menempatkan diriku sebagai Xiao Long agar dendammu tertuntaskan?" Xin Zhan berucap dan kemudian tertegun.
Terpaku. Tubuh Xin Zhan seperti membeku dilanda musim dingin penuh jarum, menusuk tepat dan beribu di dasar jantungnya. Bersama mata lawan bicaranya yang menghitam, hasrat keji dan murka bertumbuh dalam jiwanya.
Darah dan air mata bercampur menciptakan racun yang terus menitik mengisi kosongnya pupil mata. Dengan menatap mata itu saja, Xin Zhan merasakan rasa sakit yang sulit dijelaskan. Racun, remuk, dan sakit terasa di seluruh bagian tubuhnya. Tak berlangsung lama hingga semua itu menghilang.
Terhenyak Xin Zhan saat merasakan tubuhnya kembali, dia bernapas tersengal-sengal. Begitu tiba-tiba. Tangannya yang sekarang bahkan tak mampu memegang pedang dengan benar. Efek dari mata terkutuk benar-benar mengerikan. Dou Jin tidak serius menggunakan kutukan tadi. Andai dia bersungguh-sungguh entah apa yang akan terjadi pada dirinya sekarang.
Menanggapi keadaan mulai berangsur membaik, Xin Zhan sempat berbicara sebelum sosok bernama Dou Jin itu menghilang.
"Aku akan sangat menantikan ajakan duelmu itu."
Samar di balik kabut gelap yang pekat, Dou Jin menghilang bersama dengan senyuman yang masih terlihat jelas di kedua sudut bibirnya. Pertemuan yang aneh bagi Xin Zhan, dan cukup mengerikan. Dia sadar betul Dou Jin adalah musuhnya. Tapi melihat laki-laki itu tak membunuhnya secara langsung, Xin Zhan mengambil kesimpulan bahwa laki-laki itu sedang menjalankan tugasnya seperti yang diperintahkan. Dia di bawah perintah seseorang. Dan jelas sudah musuh yang harus dibunuhnya adalah 'Tuan' yang memperkerjakan mereka semua.
**
__ADS_1
A/N: Perang masih lamaa sabar yaa. Malah ini semua di luar dugaan author. Entah lah, yg awalnya berpikir buku ketiga ini bakal tamat di 300 bab malah jadi ke 600 bab. kenapa coba author bkin ceritanya sekompleks ini, gatau lagi ;)) gak diceritain ga srek, diceritain panjang macam kereta api.