Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 127 - Kota yang Menghilang


__ADS_3

Baik Xin Chen maupun Ye Long sama-sama terperangah. Seseorang yang wujudnya nyaris bersatu dengan udara, aura kekuatan besar tapi sama sekali tak terasa mengancam, jubah indah yang melewati batas kaki disertai sebuah tongkat dengan permata biru menyala di tengahnya.


Sosok itu bukanlah manusia.


Mata merah darah tersebut menatap Xin Chen lama, lebih ramah dari terakhir kali mereka bertemu.


"Sepertinya aku harus berterima kasih padamu."


"Roh Elemen Api?"


Xin Chen hendak berdiri, tapi Roh Elemen Api sudah lebih dulu duduk di sebelahnya, selayaknya teman lama. Bertahun-tahun lalu mereka berjumpa, kekuatan Roh Elemen Api yang nyatanya hampir habis telah pulih. Banyak yang ingin roh itu katakan pada manusia di sampingnya itu, tapi karena begitu senangnya dia tak tahu harus memulai dari mana.


"Kau menepati janjimu untuk menghabisi Naga Kegelapan." Mulanya mata merah darah itu menatap jauh ke pantai, dia melirik ke samping, membalas tatapan Xin Chen. "Aku berterima kasih padamu. Meski harus melawan hukum alam dengan memberikan kekuatan ini pada manusia sepertimu. Ternyata kau benar, Roh Elemen Petir tak salah mempercayai mu."


Xin Chen tak tahu-menahu apa yang terjadi antara para Roh Elemen, dia hanya tahu keadaan di sekitarnya telah damai. Tapi tak menutup kemungkinan para Roh Elemen juga damai satu sama lainnya. Sebab terakhir kali Roh Elemen Api bercerita, dia diasingkan oleh Roh Elemen lainnya karena kemunculan Naga Kegelapan yang menghancurkan dunia. Kekuatannya ditekan sampai titik terendah dan Roh Elemen Api dibuang di dasar laut, tempat pertama kali Xin Chen mendapat kekuatan Api Keabadian.


Meski tatapannya lebih bersahabat, masih saja Roh Elemen Api berbicara ketus.


"Yang tidak kau tepati adalah membawa kepala Naga Kegelapan padaku."


"Naga itu lenyap menjadi abu. Lagipula ukuran kepalanya saja sudah melebihi satu gunung. Bagaimana bisa aku membawanya padamu?" Xin Chen membela diri, disetujui oleh Ye Long. Roh Elemen Api mengangguk sedikit tak terima.


"Setidaknya, mereka memaafkanku dan mengembalikan kekuatan api padaku."


"Hm ..." Xin Chen berpikir, teringat sesuatu. "Berarti Roh Elemen Api ada dua?"


Roh Elemen Api menoleh sebentar lalu terkekeh kecil, "Kau memikirkannya?"


"Tiba-tiba saja kepikiran."


"Ha ..." Roh Elemen Api membuang napas panjang, "Ceritanya panjang. Intinya kekuatan Api Keabadian itu adalah kekuatan gabungan antara api, air dan udara. Jika kujelaskan di sini mungkin kau tak akan pulang-pulang ke rumahmu."


"Haha, aku mengerti. Berarti kekuatan ini bukan kekuatan murni? Seperti kekuatan Dewi Api dan Dewa Petir?"


"Kau paham juga," dengkus Roh Elemen Api. Jika dilihat-lihat sosok Roh Elemen Api yang penampilannya seumuran dengan Xin Chen sama sekali tak terlihat menakutkan. Atau memang Xin Chen selalu bisa mengakrabkan diri mereka.


"Pertanyaanku, kau mau menjadikanku penuntunmu? Kekuatan itu akan lebih besar jika pemilik asli bersamanya. Dan pemilik asli Api Keabadian adalah Roh Elemen Api, yaitu aku sendiri."


"Aku bisa mengendalikannya. Terlalu banyak mahluk di dalam diriku, termasuk Roh Dewa Perang. Takut-takut kalian berperang di dalam sana."


"Oh, Roh Dewa Perang? Cuma ikan teri saja bisa aku lempar jauh-jauh. Sekalian ku jemur di atap warga."


Xin Chen berkedip dua kali, sepertinya yang mereka sebutkan sedang sibuk tawuran di dalam pikirannya. Tak lama Roh Dewa Perang keluar, wajahnya sangat menyeramkan. Lebih menyeramkan dari Xin Zhan yang sedang marah.

__ADS_1


"Aku hanya diam, ya."


Roh Dewa Perang beralih menatap Roh Elemen Api, tatapan memancing perang itu diladeni lawannya dengan enteng.


"Ikan teri hendak melawan seekor hiu?"


"Ikan teri begini aku juga ikut turun tangan dalam perang! Bukan tahunya datang saat keadaan sudah membaik!"


Roh Elemen Api tertohok, matanya terbuka lebar-lebar.


"Boleh juga sindiranmu ya. Perang baru selesai kau mau memulai perang baru?"


"Oh boleh, hiu atau paus pun ku makan kalau cari masalah denganku!"


"Hei sudahlah kalian. Mau kelahi saja pakai bawa-bawa nama ikan. Mau jadi pelaut apa bagaimana."


Roh Dewa Perang dan Roh Elemen Api sama-sama diam sambil memalingkan muka. Xin Chen mengembuskan napas kasar.


"Aku belum menepati janjiku pada Roh Dewa Perang. Katamu kau ingin mengunjungi rumah hiburan, kan?"


Roh Dewa Perang yang semula kesal kini bahagia tak kira-kira, kepalanya mulai membayangkan gadis-gadis cantik.


"Kau akan ke sana?!"


"Hei, kau tidak ikut?"


"Tidak mau dan tidak ada waktu." Xin Chen membalas sekadarnya, sepertinya rumah hiburan bukan hal menarik untuknya.


"Aish, anak ini terlalu polos atau bagaimana," gerutunya.


"Pergilah bersama Shui dan Huo Rong, masa-masa damai seperti ini lebih baik dihabiskan dengan bersukacita."


Roh Dewa Perang terlihat ragu, sebenarnya dia tahu Xin Chen akan pergi ke mana tapi pemuda itu seakan memberitahu bahwa dirinya tak diajak ikut dalam misinya.


"Kau ingin ke Kekaisaran Wei tanpa membawa ku?"


Roh Elemen Api nyaris tertawa ngakak saat melihat Roh Dewa Perang yang kekar itu merengek dengan sekantong uang di tangannya.


"Aku memberikan tawaran yang bagus untukmu. Kapan lagi kau bisa bersenang-senang kalau bukan sekarang? Tunggu perang datang dan bumi rata dengan tanah? Yang ada kau bukan pergi ke rumah hiburan melainkan pemakaman."


"Bhahahha dibuang, sayang sekali!" Roh Elemen Api mengusap air matanya yang keluar dengan puas. "Drama macam apa ini, sungguh menggelikan."


"Ketawalah sampai sesak napas. Bukankah kau juga ditolak barusan? Apanya menjadi penuntun Api Keabadian? Hahaha kasian sekali, kau tidak dibutuhkan."

__ADS_1


Roh Elemen Api menarik kerah lawannya, yang tadi tertawa mulai naik darah lagi.


"Apa kau bilang?"


"Kau juga mengataiku apa?"


Xin Chen terlalu pusing melihat dua mahkluk itu berseteru. Dia bangun, ingin mengajak Ye Long untuk pamit.


"Mau ke mana?"


"Kembali, mungkin?"


"Tunggu dulu." Roh Elemen Api melepaskan Roh Dewa Perang sejenak, bergerak cepat ke tepi pantai.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu," ucapnya sedikit tergesa-gesa.


"Tempat ini sudah tak bisa ditempati oleh manusia lagi, jadi jika kau bisa jangan biarkan manusia itu datang kemari."


Roh Elemen Api menggerakkan tongkatnya, menciptakan lingkaran api di atas permukaan air. Sesuatu bergerak di bawah laut dan seketika gulungan lubang itu kembali muncul.


"Tanah ini sudah terkutuk. Api Keabadian sudah menggerogoti sampai ke dasar bumi dan menciptakan lubang-lubang berbahaya yang menarik apa pun di atas laut. Jika kapal berlayar di sini, lubang tersebut muncul dan langsung mengambil nyawa siapa pun di atasnya. Ini berbahaya."


"Sudah kuduga." Xin Chen mengamati gejolak di air itu memang abnormal.


"Mau diberi tahu pun yang namanya manusia isi kepalanya beda-beda. Aku melanggar mereka agar tak terjerumus bahaya pasti ada yang menyangka aku menyembunyikan rahasia."


Roh Elemen Api berpikir sejenak.


"Lebih baik tempat ini disegel. Dan juga ... Aku sebenarnya membutuhkan sebuah tempat untuk memulihkan sisa kekuatan yang belum kembali. Kau pun sepertinya tak membutuhkan Dewa Api untuk membantumu mengendalikan Api Keabadian."


Tak seperti Siluman Penguasa Bumi lainnya yang pasti diawasi oleh Roh Elemen masing-masing, Xin Chen merasa tak begitu membutuhkan untuk mengendalikan Api Keabadian. Roh Elemen Api paham pemuda itu tahu cara menggunakan kekuatannya.


"Kau akan tinggal di sini?"


"Mungkin. Tempat ini akan menjadi rumahku, kapanpun kau mau datang, bertamulah. Kupastikan hanya kau yang bisa melihat tempat ini."


Roh Dewa Perang sedikit bingung. Terlebih ketika melihat Roh Elemen Api mengangkat tongkatnya yang kini mengambang di atas udara.


"Roh Suci Surgawi - Pelindung Api."


Sebuah penjara Api Keabadian muncul, perlahan sebuah istana biru tercipta dengan indah. Roh Elemen Api mengubah Kota Renwu yang semula hanya hamparan tanah hitam menjadi sebuah tempat indah yang dikelilingi oleh nyala dari Api Keabadian.


"Pergilah. Para manusia di luar sana membutuhkan bantuanmu."

__ADS_1


Roh Dewa Perang mengikuti Xin Chen dan Ye Long. Mereka terbang tinggi menuju Kota Fanlu. Saat Xin Chen melihat ke tempat di mana Kota Renwu berada, pulau itu telah menghilang.


__ADS_2