
Kabar tersebar cepat, pemberontakan yang dilakukan sekelompok masyarakat Kekaisaran Wei menuaikan konflik yang semakin membuncah. Akibat itu banyak dari rakyat di bawah kepemimpinan Kaisar Shi yang mulai tak tunduk dan memulai aksi nekat. Markas-markas militer dihancurkan, prajurit dibunuh diam-diam.
Kekacauan yang terjadi di Kekaisaran Wei sudah menyebar ke Kekaisaran lain dan banyak yang menyetujui aksi tersebut. Kini Kaisar Shi akan sulit ditemukan, Xin Chen yang tengah menatap jauh ke kota yang berada di bawahnya mengepalkan tangan. Dari atas dia melihat beberapa pertempuran yang terjadi di malam itu.
Rubah muncul di balik pepohonan, yang penuh oleh coretan yang dibuat segelintir orang yang menyerukan perlawanan terhadap Kaisar Shi.
"Sentral Pusat akan tumbang sebentar lagi, dengan kekuatan dari banyak orang mereka bisa menciptakan perubahan dengan cara terakhir, berperang."
Rubah Petir tak menjawab, dia langsung melompat dari ketinggian. Xin Chen mengikuti setelahnya, memulai aksi kejar-kejaran seperti sebelumnya. Rubah Petir bergerak jauh lebih lincah, bahkan sekali berkedip saja Xin Chen pasti akan kehilangan jejak siluman itu.
"Di mana Fu Hua?"
Rubah Petir tiba-tiba menanyakan itu di tengah perjalanan, Xin Chen mengingat dia tak menemukan gadis itu di mana pun sebelum mereka berangkat.
"Mungkin dia tidak ikut?"
"Tidak mungkin dia tidak ikut."
"Dia pasti baik-baik saja," tandas Xin Chen. Jika Fu Hua tak ikut pertarungan ini, nyawanya lebih aman.
Sesaat mata sang rubah menangkap satu cahaya setelah memasuki Sentral Pusat yang telah dipenuhi oleh prajurit dan orang biasa yang datang untuk bertarung. Dia berkata cepat, "Orang-orang Yu mungkin sudah sampai di istana."
"Kita ke Laboratorium Baru lebih dahulu, aku yakin Yu bisa menangani yang di sana."
"Kalau begitu cepat. Kita tak punya banyak waktu"
Aroma pertumpahan darah menguar, membawa amis darah bercampur busuknya mayat. Bunyi pedang yang beradu, ledakan dan tembakan menciptakan irama yang terus-menerus terdengar di telinga. Harmoni yang berpadu bersama gelapnya malam berkabut. Rubah Petir berhenti ketika Xin Chen berhenti, mereka sampai di satu tempat besar. Bersebelahan dengan perbatasan Kota Weizu dengan sebuah sungai.
Ketika itu Xin Chen berencana masuk secara diam-diam tapi sesosok yang telah lama diincarnya memunculkan diri. Dia seperti hendak pergi, buru-buru sekali. Xin Chen tak mau melewatkan kesempatan itu dan segera mengejarnya.
*
"Apa yang kau lakukan, bodoh? Cepat, aku harus pergi dari sini!"
Orang yang bersamanya sepertinya masih memiliki beberapa urusan, membuat wanita itu berulang kali mencebik lalu menopang tangan di pinggang. Gelisah sendiri. Dia memalingkan muka ke tempat lain, beberapa detik kembali menyerocos dengan kesalnya tanpa melihat ke samping.
"Sudah siap?"
"Kau sendiri sudah siap?" balasan yang didapatkannya membuat wanita itu mengerutkan kening.
"Aku dari tadi siap!"
"Siap untuk mati, maksudku, Nyonya Ren Su."
Seketika Ren Su terdiam, saat menoleh ke sisinya dia menyadari bahwa laki-laki yang hendak mengawalnya telah ditusuk sampai mati.
Dan orang yang berada di sebelahnya sekarang adalah orang yang dihindarinya sejak tadi. Membeku, Ren Su sampai tak bisa berkutik di tempatnya.
"Kau-"
"Kenapa? Aku Xin Chen, anak seorang Ibu bernama Ren Su yang telah kau berikan racun mematikan dan hampir kau bunuh. Dua kali kau mencoba membunuhnya, sepertinya aku harus memastikan apakah otakmu masih ada apa tidak."
Ren Su melihat kanan kiri dan berteriak, "Penyusup, penyusup!! Penjaga tangkap dia!"
__ADS_1
Ren Su dengan mudahnya melarikan diri, dia melangkah kaki sekuat mungkin sampai tak menyadari seonggok batu besar membuatnya jatuh telungkup.
Ketika itu Ren Su tak menyadari kalau itu akan menjadi akhir hidupnya. Mati tergelincir.
Pedang Baja Phoenix menancap di tanah dengan mata pedang menghadap ke atas, bertepatan dengan saat Ren Su jatuh, ujung mata pedang menembus batang tenggorokan wanita itu. Ren Su tak bisa menghindarinya sama sekali. Dia mencium tanah dengan seluruh bilah pedang tembus di leher.
"Dengan begini aku tak akan merasa bersalah pada ibu, bukan aku yang membunuhmu. Kau jatuh dan mati karena perbuatanmu sendiri," ucapnya penuh arti. Xin Chen menatap wajah pucat pasi yang memelototinya antara marah dan terkejut.
"Xin Chen, aku pastikan akan menunggumu di neraka."
"Aku sudah punya tiket ke surga karena membunuh manusia busuk sepertimu."
Ren Su mati dengan kedua mata lentiknya yang masih terbuka. Xin Chen menyadari pertarungan telah dimulai oleh rubah yang sedang menghadapi ratusan penjaga Laboratorium Baru. Berkat Ren Su, semakin banyak dari mereka yang datang.
"Saatnya mengamuk." Rubah Petir tampak begitu semangat, Xin Chen bahkan baru tahu gurunya bisa seantusias itu.
"Tertidur selama tujuh tahun membuatku lupa dengan pertarungan yang sebenarnya."
Xin Chen tak menyangkal itu, tapi wajahnya mulai memburuk. "Ini sepertinya sedikit berlebihan, Guru."
Kekuatan yang luar biasa dahsyat membuncah di atas langit, awan-awan tipis bergerak sangat cepat membentuk sebuah lubang raksasa. Di sana kekuatan petir mengambang di awan, andai saja jatuh ke permukaan Xin Chen bahkan tak yakin bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Karena saat ini, Rubah Petir tengah memanggil kekuatan asli sang Dewa Petir.
Tangan mengerikan itu terlihat jelas saat kilat menyambar, Xin Chen bergidik ngeri. Rubah Petir merapalkan sesuatu, lalu dalam seketika kehancuran Laboratorium Baru dimulai. Petir jatuh meluluhlantakkan bumi, angin badai bertiup sangat kencang hingga menerbangkan puluhan pohon, topan menggulung dan perlahan bermunculan di berbagai sisi.
Ribuan manusia di Laboratorium Baru berlarian ketakutan, jeritan mereka terus terdengar ketika satu per satu petir itu membunuh puluhan orang di tempat. Xin Chen terpisah jauh dengan Rubah, dia berteriak.
"Masih ada orang yang disandera di dalam!"
"Tidak tahu, tapi mereka adalah bahan percobaan. Kendalikan kekuatanmu, aku akan menyelamatkan mereka lebih dulu."
Xin Chen berlari cepat ke dalam Laboratorium Baru, dua laki-laki menunggunya dengan senjata api. Xin Chen nyaris melewatkan satu serangan yang mengincar kakinya, mereka berniat membuatnya lumpuh agar bisa membunuh Xin Chen lebih mudah.
Tangannya menangkap peluru itu dengan tangan kosong, sama sekali tak berdarah. Xin Chen mengalirkan dua kekuatan dalam waktu bersamaan. Begitu cepat pemuda itu sudah berada di hadapan kedua musuhnya, tangan kanannya mencengkeram kepala salah satu dari mereka, begitu pun yang satunya lagi.
Dia membenturkan dua kepala itu, kekuatan petir dan api di kedua tangannya membuat kepala keduanya meledak. Xin Chen masuk ke dalam dengan langkah yang lebih cepat. Membakar seluruh ruangan yang dipenuhi oleh berbagai ramuan dan obat, menghanguskan bukti-bukti dan laporan mereka. Matanya mengawasi jeli sembari bertarung, mencari sesosok laki-laki yang tak ditemukannya di mana pun.
Hingga akhirnya Xin Chen masuk ke satu ruangan yang terbilang sangat luas, kurungan seperti penjara berjejer rapi. Manusia kurus kering ditahan di sana dengan pakaian yang seragam dan gelang yang memiliki perbedaan dengan ruang yang sebelumnya dia masuki. Warna merah, lalu Xin Chen melihat sebagian besar dari mereka sudah tak sadarkan diri atau sekarat. Dia mulai mencari cara untuk melakukan tugasnya dengan cepat sebelum kekuatan Rubah Petir menghancurkan semua tempat ini.
Sayangnya ketika berbalik badan, Xin Chen mendapatkan masalah lain yang sudah menunggunya.
**
"Tak kusangka di saat seperti ini pembunuh yang telah dicari-cari satu Kekaisaran seperti mu memunculkan diri." Dia menarik seulas senyum, sarat akan sindiran. "Sedang mencari tempat di hati rakyat untuk menjadi seorang pahlawan?"
"Pahlawan terlalu baik untuk disematkan dengan manusia berlumuran darah sepertiku," sambutnya. "Pahlawan itu orang yang bertarung dan melindungi semua orang, tapi yang ku lakukan hanyalah membunuh mereka para penghancur."
Tak ada nama selain nomor 12 yang tergantung di baju hitam laki-laki itu, sejenak senyumnya mengendur mendapatkan jawaban tadi. "Kau tidak menyebut dirimu pahlawan? Lelucon macam apa di malam hari begini."
Sebelah tangannya terangkat, mengisyaratkan pada lima puluh prajurit bersenjata lengkap dengan armor besi tebal maju. Mereka siap kapan saja melepaskan tembakan jika lelaki itu memberi perintah. Namun sebaliknya Xin Chen sama sekali tidak takut jika dirinya yang diincar.
"Menyerahlah, maka kami akan mengampunimu."
"Ucapan seorang yang sudah tahu dia akan kalah." Kata itu membuat lawan bicaranya tertawa terbahak sebentar, dia menghela napas sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
"Ohhh jadi kau tidak takut dengan ancaman ini? Baiklah, kau akan melihat konsekuensinya." Xin Chen sudah waspada di detik yang sama. Dan benar saja, salah satu tembakan dilepaskan dan membunuh dua orang sekaligus.
"Bagaimana? Kau ingin menyelamatkan mereka, bukan? Kau pastinya pahlawan untuk mereka semua!" gertaknya antusias, "Tunjukkan pada mereka kau bisa melindungi mereka semua, menyerahlah maka lima ratus orang ini akan selamat!"
Xin Chen bisa mendengarnya, suara memohon, meminta ampun dan mengharapkan belas kasihnya. Dia sama sekali tak menggubris itu.
"Aku datang ke ruangan ini bukan untuk menyelamatkan mereka." Birunya cahaya menerpa wajah lelaki itu, pantulan di matanya menunjukkan sesosok pemuda yang tengah menjalarkan kekuatan Api Keabadiannya.
"Tapi untuk membunuh mereka."
Dalam sekejap mata api itu menyebar ke seluruh kurungan, bercabang-cabang seperti tanaman menjalar yang mulai menghanguskan manusia-manusia malang yang dikurung seperti binatang. Mereka yang berada di ruangan itu notabenenya adalah kelinci percobaan yang gagal, gelang merah sebagai tanda bahwa mereka terjangkit.
Dan Xin Chen mulai berpikir untuk menghanguskan manusia-manusia itu sebelum berubah menjadi mayat hidup. Nasib mereka tak akan lebih baik selain dibunuh.
Serentak musuh di depannya terbelalak tak percaya, dalam sekelibat mata ratusan manusia dibakar tanpa ampun. Bagaikan dijungkir balik, lelaki yang tadinya berusaha menekannya kehilangan alasan untuk mendesak Xin Chen. Sekarang nasibnya tak akan beda dengan manusia dalam kurungan itu.
"Jangan katakan kau akan membunuh ku. Kita masih bisa mencari jalan keluar lain, aku bukanlah orang jahat asal kau tahu. Aku datang ke sini karena perintah atasanku-"
"Manusia-manusia di belakangku juga bukanlah orang jahat, tapi perbuatan busuk kalian membuat mereka terpaksa menerima semua ini."
Langkahnya begitu pelan mendatangi puluhan orang yang mulai mundur menjauh. Xin Chen mengangkat tangan, "matilah, kau hidup hanya untuk menyia-nyiakan udara yang kau hirup."
Seperti disapu angin, Api Keabadian bergerak cepat dan menyikat habis puluhan dari mereka, abu pembakaran menghilang di seret angin kencang dari luar. Kelihatannya kehancuran semakin dekat, Rubah Petir tengah bertarung dengan ratusan orang di luar sana.
Xin Chen menatap ke belakang untuk terakhir kalinya, masih ada beberapa jasad yang tak terbakar karena sebagian kecil telah bermutasi menjadi terinfeksi. Sulit membakar tubuh mereka dengan Api Keabadian. Xin Chen mencari ruangan lain di mana dia dapat mendengar suara jeritan yang sangat ramai. Sesampainya di sana yang didapatinya adalah ribuan manusia dalam satu ruangan lebar, saling berdempetan ke pintu keluar.
Di belakang mereka beberapa terinfeksi mulai menggigit dan menyerang. Kebanyakan dari mereka dipakaikan gelang berwarna hijau muda. Dan di tubuh mereka sendiri Xin Chen masih melihat aliran darah yang normal hingga ke bagian otak. Mereka masih manusia. Xin Chen membukakan pintu untuk tahanan itu.
Menyebabkan kekacauan selanjutnya, ribuan bahkan belasan ribu manusia berhamburan. Xin Chen sampai kaget. Tak pernah melihat tahanan sebanyak itu, apalagi untuk diuji coba dengan kemungkinan hidup di bawah lima puluh persen. Dia membunuh terinfeksi dengan panah peledak.
Memastikan mereka keluar dengan selamat dari Laboratorium Baru. Sementara itu tanpa diduga pula, terinfeksi yang paling mengerikan datang. Hanya satu, tapi dalam sekali jalan dia mampu membunuh dua puluh manusia dan itu terus terjadi di dalam kerumunan manusia tersebut.
Xin Chen menggunakan panah peledak, lima kali tembakan hingga dua puluh kalinya tak membuat mahkluk itu tumbang. Xin Chen tak melihat seberkas luka pun bertengger di kulitnya yang pucat kusam itu. Dia memiliki otot tubuh yang besar. Sama seperti terinfeksi tipe lainnya. Tinggi badannya sekitar tiga puluh meter. Serta berat badan yang bisa membuat puluhan manusia penyet.
Tak ada cara yang berhasil untuk membunuh makhluk itu, sedangkan dia telah menghabisi ratusan manusia begitu cepatnya. Xin Chen mencebik, makhluk ciptaan Qin Yujin bersama alkemis Kekaisaran Wei itu tak memiliki celah. Xin Chen dapat melihat tanduk di kedua kepalanya, tak bisa menarik kesimpulan atas apa sebenarnya mahluk tersebut.
Hingga akhirnya Xin Chen memutuskan untuk turun, sebelum itu terjadi terinfeksi itu sudah lebih dulu mengetahui sumber serangan yang sejak tadi mengenai kepalanya. Dia meraung sambil mengeluarkan cakarnya yang panjang.
Xin Chen yang memantau dari sisi lantai dua termundur seketika, dia bisa melompat dari lantai satu ke tempat di mana dirinya berada. Serangan brutal segera menyerbunya, Xin Chen mengambil jarak langsung.
Dia baru saja selesai dengan penyakit itu, tak akan mau lagi terkena gigitan yang membuatnya sekarat berulang kali. Xin Chen menggunakan kekuatan petir dalam tekanan yang jauh amat tinggi sampai bisa merasakan tangannya sendiri dibakar oleh kekuatan tersebut.
Gelang Petir mengikat tubuh makhluk itu, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kulitnya tak terluka, setruman dengan tekanan paling tinggi itu tak berpengaruh apa-apa. Hingga kekuatan tersebut dilontarkannya dengan amukan hebat. Gelang Petir terlepas, lalu begitu cepat setelahnya Xin Chen melihat mahluk itu sudah berada di depan matanya.
Dia menendang, hampir saja kakinya tergigit. Sebelum benar-benar jatuh, mahluk itu sudah kembali berdiri dan mengejarnya lagi.
Xin Chen menatap ke bawah, manusia-manusia di sana bisa menyelamatkan diri meski harus berhadapan dengan prajurit.
Dia belum mendapatkan cara untuk menghabisi terinfeksi tipe SSS ini. Akan lebih mengerikan jika dirinya tergigit sebelum mendapatkan jawaban, Xin Chen sudah cukup jera dan tak mau untuk kedua kalinya terkena.
Hantaman besar merontokkan sebuah pintu besi tebal, menghimpit seorang pria tua di lantai bawah. Sesaat setelahnya satu mimpi buruk bertambah menjadi mimpi buruk lainnya. Lima terinfeksi tipe SSS mulai berkeliaran dan membunuh.
Menghadapi satunya saja dia masih belum menemukan cara, dan sekarang Xin Chen harus memikirkan cara untuk membunuh mereka sebelum menghabisi lebih banyak manusia.
__ADS_1