
Slitherio membuka matanya, ia sekarang berada di tempat Guild Sevens berkumpul kemarin malam.
Di tempat itu hanya ada Zynga, Naze, Riana, Li, dan Atra. Sisanya masih belum terlihat.
“Oke, aku sudah menyelesaikan rancangan desa ini...” Slitherio mengeluarkan kertas yang berisi denah buatannya di dunia nyata yang berhasil ia ubah menjadi item.
Zynga, Naze, Riana, Li, dan Atra mendekati Slitherio dan ikut melihat rancangan itu. Mata mereka melebar saat melihat rancangan buatan Slitherio.
“Kau ingin membuat desa atau kota?” tanya Zynga sambil mendekatkan wajahnya ke gambar air mancur yang dibuat oleh Slitherio.
“Itu dia. Ideku ini mengalir begitu saja tanpa aku sadari.” Slitherio mengangkat bahunya, “Rancangan ini juga sudah kutambahkan dengan ide-ide dari kalian.”
Li mengangguk, Riana dan Naze masih memperhatikan rancangan itu, Zynga dan Atra menatap Slitherio dengan tatapan penasaran.
“Apa ada pertanyaan?” tanya Slitherio sambil tersenyum canggung, ia sudah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Atra dan Zynga.
“Siapa yang akan membangun desa sebesar ini, heh?” Atra yang pertama bertanya, jika hanya dengan bantuan ras Phoenix dan Werewolf, mungkin desa ini akan jadi setelah enam bulan bekerja
“Tentu saja yang akan membangun desa ini bukan hanya ras Phoenix dan Werewolf, tetapi juga semua ras yang akan tinggal disini.” Jawab Slitherio sambil mengangkat kedua tangannya dengan bangga.
“Dimana kita akan mencari ras yang mau tinggal di desa kita ini?” tanya Zynga.
“Tentu saja selama perburuan kita untuk memperkuat kita selama jeda menuju War Guild.” Li berkata sambil berdiri dan menatap Slitherio, Zynga, dan Atra bergantian, “Benar begitu, Slitherio?”
Slitherio tersenyum sambil mengangguk. Ia kemudian menatap Atra lalu berkata, “Kita berdua akan pergi menuju BloodThirsty Kingdom dan Phoenix Gold Kingdom bergantian. Sisanya jaga kertas itu dan berikan pada orang yang selanjutnya datang. Jika mereka menanyakan keberadaan kami, katakan saja kalau kita berdua akan pergi ke kerajaan masing-masing.” Slitherio menjelaskan hal yang harus yang lainnya lakukan saat ia dan Atra pergi.
“Naze, kembalikan Darkness Fire Swordku.” Slitherio meminta pedang yang dulu ia pinjamkan pada Naze. Naze mengangkat alisnya, tetapi ia tetap mengembalikan pedang Slitherio.
Slitherio menerimanya dan melambaikan tangannya kemudian melesat ke selatan bersama dengan Atra.
***
Slitherio berniat menggunakan dua pedang. Selama ini ia hanya menggunakan satu pedang, ia penasaran seperti apa rasanya menggunakan dua pedang sekaligus.
Atra yang mendengar alasannya saja hanya tertawa kecil sambil berkata, “Sensasi menggunakan dua senjata yang sama berbeda dengan menggunakan satu senjata saja. Pikirkan hal itu terlebih dahulu.”
Slitherio menghembuskan napas singkat kemudian berkata, “Dengan dua senjata yang sama dapat membuatmu menjadi Defender sekaligus Attacker, bukan?”
Atra mengerutkan alisnya, “Apa maksudmu?”
“Dengan dua pedang, aku dapat menahan serangan lawan dan kalian dapat menyerang disaat aku menahan serangan lawan. Dengan dua pedang juga, aku dapat memberikan serangan dua kali lipat dari biasanya.” Slitherio menjelaskan arti dari perkataannya tadi.
__ADS_1
“Aku yang memakai dua cakar saja STRnya terbagi ke dua cakarku ini dengan rata.” Atra berkata sambil melihat kotak kecil yang menyimpan cakarnya.
“Cakarmu itu sebenarnya satu senjata, bodoh! Punyaku ini dua senjata yang berbeda!” Slitherio memukul kepala Atra pelan.
“Itu kan pendapat dari pengguna dua senjata.” Atra mengelus kepalanya yang tidak sakit.
Sambil melesat, Slitherio mengeluarkan Darkness Fire Sword dan meletakkannya di pinggang kanannya. Dengan begitu, ia sekarang membawa Phoenix Flame Sword dan Darkness Fire Sword.
Seharusnya pergerakan mereka menjadi terganggu karena keberadaan satu senjata tambahan Slitherio, tetapi pergerakan mereka dihitung cepat juga karena saat ini mereka hanya menenteng senjata masing-masing, bukan rekan mereka.
Perjalanan menuju Phoenix Gold Kingdom dapat ditempuh dengan waktu dua belas jam dengan skill Wind Step tingkat Advance level 18.
Selama dua belas jam ini mereka hanya melesat dalam diam dan sesekali bertanya apa masih kuat. Slitherio yang pada dasarnya rasnya menekankan pada kekuatan dan kecepatan tidak akan merasa lelah dalam jangka waktu dua belas jam.
Ras Atra menekankan pada kekuatan, kecepatan, dan ketahanan membuat ras Werewolf menjadi ras dengan ketahanan yang luar biasa. Atra tidak akan merasa lelah hanya karena melesat selama dua belas jam.
Lain halnya jika Whu mereka ajak. Ras Whu yang hanya berubah menjadi Monkey memiliki kekuatan dan ketahanan yang luar biasa, hanya para Werewolf saja yang dapat dijadikan lawan para Monkey.
Whu yang sekarang memiliki kecepatan yang menyetarai Slitherio dan Atra disebabkan karena Whu yang terus menggunakan Wind Stepnya sampai menjadi Advance level 20, dua tingkat lebih tinggi dibanding Slitherio dan Atra.
Dua belas jam berlalu dan keduanya akhirnya sampai di Phoenix Gold Kingdom, tujuan mereka yang paling dekat dengan desa Havesta, menurut mereka berdua.
Slitherio sudah dikenali oleh para penjaga karena ia pernah berurusan dengan para penjaga yang sama. Slitherio dan Atra dibiarkan masuk tanpa mempertanyakan alasan kedatangannya.
Guldy yang menyambut keduanya dengan senyumnya yang Slitherio lihat amat sulit untuk dibuat oleh Guldy.
“Maklumilah aku, sejak kepergian Zon aku hampir tidak pernah tersenyum lagi.” Guldy menggaruk kepalanya sambil menuntun keduanya ke ruangan raja.
“Ah, Slitherio. Kukira kau sudah melupakan tanah kelahiran gurumu.” Chizui langsung menyambut Slitherio dan Atra ketika mereka bertiga telah sampai di ruangannya.
Slitherio menceritakan semua perjalanannya bersama teman-temannya, Atra menambahkan sedikit. Bagian dimana mereka membuat Guild tidak diceritakan.
“Begitu, ya? Kalian membuat desa dan membutuhkan bantuan kami, begitu?” Chizui menyimpulkan seluruh cerita Slitherio.
Slitherio dan Atra mengangguk cepat. Guldy terus memegangi dagunya dan terlihat seperti sedang berpikir keras padahal tidak.
“Kenapa kau tidak meminta bantuan melalui teknik Light of Help?” Chizui menarik telingan Slitherio pelan.
“Aku lupa...” Slitherio menggaruk kepalanya.
Guldy dan Atra hanya menggeleng sambil tertawa kecil. Guldy yang menyadari Atra tertawa kecil bertanya, “Kenapa kau tertawa?”
__ADS_1
“Anda merasa kejadian di depan ini tidak lucu?” Atra menghentikan tawanya.
“Tidak...”
Chizui melepaskan tangannya dari telinga Slitherio kemudian bertanya, “Ada lagi?”
“Apa rencana perdamaiannya jadi?” tanya Slitherio.
“Tentu saja, kau dan Guldy akan pergi kesana.” Jawab Chizui sambil tersenyum lebar.
“Apa?!” Guldy berseru kemudian menunjuk Atra, “Pergi ke sarang musuh? Mimpi apa aku semalam?”
“Ada Slitherio yang sudah mempelajari ilmu dari Zon, seharusnya ia sudah menjadi kuat.” Chizui mengangkat bahunya
“Dan juga aku ingin meminta satu teknik dua pedang.” Lanjut Slitherio yang dibalas dengan anggukan kecil dari Chizui.
“Kami tidak sepelit itu sampai tidak memberikan kesempatan bagi prajurit untuk belajar.” Chizui kemudian mengajak ketiganya ke perpustakaan Phoenix Gold Kingdom.
Chizui mengajak ketiganya ke perpustakaan dan mencarikan Slitherio skill dua pedang yang diinginkannya.
Slitherio menunggu dengan tenang, sedangkan Atra dan Guldy saling adu tatapan.
"Apa yang membuat mereka jadi seperti itu?" gumam Slitherio saat mengintip ke sebelah kanannya.
"Yang kutemukan hanya teknik ini saja, tidak ada yang lebih bagus dari teknik ini." Chizui datang dan memberikan sebuah buku yang judulnya 'Twin Flame Sword Technique'.
Slitherio menerimanya dengan tangan bergetar. Ini adalah skill series ketiganya setelah Flame Warmage Technique dan Flame Sword Technique.
"Nah, aku juga sudah memikirkan nama yang bagus untuk desa barumu itu..." Chizui kemudian mengatakan nama yang muncul di pikirannya saat mencari skill ini.
Hostix adalah nama yang Chizui sarankan untuk nama baru desa itu. Hostix berasal dari kata 'Host' yang berarti pahlawan dan 'Tixie' yang berarti rumah. Kata-kata ini berasal dari bahasa kuno Phoenix Gold Kingdom yang sekarang sudah jarang digunakan.
"Desa itu akan bermakna 'Rumah sang Pahlawan' jika kau menamainya dengan nama seperti itu." ujar Chizui sambil tersenyum lebar.
Slitherio mengangguk saat mendengar saran Chizui. Atra yang mendengarnya juga tersenyum tipis.
"Guldy, kau akan pergi dengan Slitherio dan Atra ke BloodThirsty Kingdom untuk menyetujui permintaan perdamaian mereka." ujar Chizui kemudian kembali ke ruangannya.
"Ayo kita keluar lewat gerbang utama..." Guldy berniat mengajak keduanya keluar lewat gerbang utama, tetapi wajahnya segera berubah saat melihat Slitherio dan Atra yang sedang berdiri di ventilasi perpustakaan.
"Tunggu apa lagi Jendral Guldy? Ayo kita pergi lewat sini..." seru Slitherio kemudian melesat dengan kecepatan tinggi menuju BloodThirsty Kingdom.
__ADS_1
Guldy yang ingin menjadi saksi dari perdamaian Phoenix Gold Kingdom dan BloodThirsty Kingdom segera mengembangkan sayapnya lalu ikut terbang dan keluar melalui ventilasi perpustakaan.