
Sekelompok orang itu mengenalkan diri mereka sebagai Soul Knights, sekelompok orang yang namanya sudah diketahui oleh Slitherio.
Slitherio menarik pedangnya, ia mengetahui alasan kedatangan Soul Knights itu bukanlah hal yang baik. Geisha menarik pisaunya sementara Naze menarik pedang hitamnya.
“Kabar terbesar saat ini adalah pergerakan HeavenSoul memerangi beberapa kerajaan kecil, bahkan menengah. Kebanyakan bahkan hancur oleh kekuatan dahsyat Soul Knights.” Jelas Naze.
Posisi mereka sedang dikepung dari segala arah, menghilangkan kesempatan untuk melarikan diri. Tetapi nampaknya memang itu tujuan mereka kemari, pikir Slitherio.
Satu-satunya cara kabur hanyalah terbang, tetapi kemampuan terbang hanya dimiliki oleh Slitherio seorang. Cara kedua dengan Wind Step. Lagi-lagi cara ini hanya dikuasai oleh Slitherio dan dua temannya yang ikut pergi ke Altar of King.
Tidak ada pilihan selain bertarung. Slitherio sangat mengharapkan bantuan dari Atra dan Whu. Tetapi mungkin mereka akan memilih menunggu Slitherio mengerahkan skill terkuatnya yaitu Spirit Boom.
Di saat Slitherio bingung harus melakukan apa, suara dari pemimpin Soul Knights itu membuyarkan pikiran Slitherio.
“Kau harus menyerah untuk dijadikan tawanan di Heaven Mansion atau mati.” Ucapan pemimpin Soul Knights itu memang singkat, tetapi suaranya bernada tinggi. Seolah mengatakan bahwa Slitherio tidak boleh pergi hidup-hidup sekalipun.
“Kalau boleh tau Heaven Mansion ada dimana?” tanya Slitherio.
“Ada di balik hutan ini.” Pemimpin Soul Knights itu menunjuk sebuah bangunan yang menjulang tinggi.
Slitherio memejamkan matanya, setelah ia membuka matanya, ia melesat maju menyerang para Soul Knight itu dengan Flame Sword Techniquenya. Dengan Flame Phoenix Sword dan Murderous Aura, tidak sulit baginya untuk menghabisi Soul Knight itu.
Masalahnya hanya satu, jumlah mereka terlalu banyak!
Bahkan dengan kombinasi skill yang dimilikinya tetap hanya mampu membunuh seperempat dari jumlah awal pasukan itu.
Slitherio melompat mundur. Geisha yang tadi ikut bertarung bersama Naze juga ikut mundur. Terlihat napas keduanya tidak teratur, jelas keduanya tidak terbiasa dengan pertarungan jumlah besar seperti ini. Berbeda dengan Slitherio yang sudah pernah bertarung membela Sky Empire tiga hari lalu.
“Apa lagi yang bisa kita lakukan?” tanya Naze sambil berusaha mengatur napasnya. Jobnya sebagai Hunter tidak sekalipun memberikan keuntungan saat bertarung melawan manusia.
Geisha dengan job Rangernya dapat memakai berbagai senjata dan diuntungkan dalam pertarungan sendiri. Namun sayangnya, Slitherio belum membubarkan party yang tadi dibuat untuk menaklukan Hell Castle sehingga kemampuan Geisha menurun, walau tidak banyak tetapi tetap akan berpengaruh terhadap pertarungan.
__ADS_1
Secara tiba-tiba, tiga orang melesat dari arah hutan ikut membantu pertarungan berat sebelah itu. Dengan bantuan tiga orang tambahan membuat pertarungan terasa lebih mudah.
Apalagi dengan bantuan satu orang yang memiliki kemampuan mengendalikan senjata, sungguh membuat pertarungan lebih mudah.
Geisha memilih mengganti senjatanya dari pisau menjadi pedang, poin Sword Masterynya juga sudah mencapai tingkatan Intermediate saking seringnya ia pakai saat berburu.
Dua wajah berhasil Slitherio kenali dalam pertarungan itu, Atra dan Whu. Tetapi satu orang lagi tidak diketahui siapa namanya.
Yang jelas terlihat hanyalah seorang pria yang memakai Jirah yang tidak terlalu tebal, dengan lima sarung pedang diletakkan di punggungnya dan dua sarung pedang lagi di pinggang kana dan kirinya. Dirinya tidak menggenggam senjata apapun, hanya memakai perisai berbentuk lingkaran di tangan kirinya.
Melihat kemampuan enam orang itu membuat Soul Knights yang tersisa sedikit ragu untuk melanjutkan pertarungan. Tetapi salah satu Soul Knights memiliki satu ide.
Dengan mengirimkan satu Soul Knight yang memiliki kecepatan paling tinggi, ia diberikan sebuah tugas untuk menangkap salah satu dari enam orang itu untuk dijadikan sandera.
Soul Knight yang diperintahkan langsung melesat secepat ia bisa, menuju tempat Geisha sedang berdiri siaga. Dengan cepat meraih tubuh Geisha dan membawanya lari.
Setelah melihat rencananya berhasil, Soul Knight yang tersisa kurang dari seperempat jumlah awalnya yang sebesar seratusan orang melesat kabur ke bangunan yang disebut Heaven Mansion.
Mereka kembali ke lapangan luas itu sambil mempersiapkan diri. Bagaimanapun juga Mana kelimanya sudah terkuras hingga hampir habis saat pertarungan yang berat sebelah itu.
Si orang baru itu memilih ikut berkumpul. Ia tak lupa juga mengambil senjatanya yang tersebar di lapangan itu.
Slitherio, Naze, dan Atra merasa pernah melihat orang itu, terlebih saat seluruh senjatanya sudah tersarung rapi di tempatnya semula.
“Gaburon!” seru ketiganya bersamaan. Bagaimanapun, ketiganya pernah meluncur di dunia Physical And Magic dan mengenal satu Hero yang sangat OP di jamannya.
Gaburon terkenal karena kemampuannya yang dapat berganti senjata sebanyak lima kali. Ditambah dengan kemampuan skill Pasifnya yang berupa pengendalian jika seandainya ia mengubah senjatanya maka dapat menambahkan dua tambahan Physical Damage. Terlalu OP. Bahkan developer Physical And Magic terus berulang kali melakukan Nerf pada skillnya.
Sia-sia saja, Atra yang saat itu juga termasuk Top Global nomor dua Gaburon berhasil mempertahankan gelar OP Hero Gaburon itu.
Dan kini, di hadapan mereka muncul seorang yang diduga NPC memiliki penampilan seperti Hero Gaburon.
__ADS_1
“Ah, hai. Namaku adalah FastStone. Salam kenal dengan empat kawan sekalian.” Ujar pria itu.
FastStone tersenyum. Sungguh, sebuah kesempatan langka bisa bertemu dengan salah satu pemain yang nekat mempertaruhkan uangnya hanya untuk berpenampilan seperti ini.
“Kau... Gaburon?” tanya Naze sambil menunjuk FastStone.
“Tidak. Hanya kebetulan aku adalah mantan Player Gaburon dan bisa dibilang aku sangat terobsesi dengan Hero satu itu.” Ujar FastStone.
“Darimana kau mendapat tujuh pedang ini?” tanya Slitherio.
“Tujuh pedang ini aku dapatkan saat aku masih menjadi Swordman dan berlevel lumayan tinggi, menurutku. Aku mendapat set tujuh pedang ini setelah menyelesaikan sebuah Quest. Dan satu rewardnya adalah job baru.” Jelas FastStone.
“Job?” tanya Atra.
“Seven Sword Knight.” Jawab FastStone.
“Aku baru ingat. Kau adalah Top Global nomor sebelas, Seven Sword FastStone.” Ujar Whu.
“Benar. Aku bahkan tidak bisa tidur saat tau aku disejajarkan dengan pemain sekelas Slitherio dan dua temannya.” Ujar FastStone sambil memegangi dadanya.
“Baiklah, kita ulangi perkenalan kita. Namaku Slitherio, Flame King Slitherio.” Ujar Slitherio sambil membenarkan posisi pedangnya.
“Namaku Naze, Black Sword Naze.” Ujar Naze sambil mencari tempat duduk.
Mulut FastStone terbuka lebar. Ia tidak menyangka dapat bertemu dengan Slitherio, apa lagi membantunya.
“Namaku Atra dan kera disebelahku bernama Whu.”
“Tidak! Ini pasti mimpi!” FastStone menjambak rambutnya. Tak lernah dalam mimpinya sekalipun ia bertemu dengan Top Global nomor satu Slitherio, bahkan bertemu dengan tiga pemain yang menempati posisi sepuluh terbesar dalam daftar Top Global.
“Baiklah, lupakan keterkejutan ini. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyelamatkan Geisha...”
__ADS_1